Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Permasalahan Selesai


__ADS_3

Baik Andrean, anggota keluarganya maupun Rayyan dan adik-adiknya melihat kearah Darel yang saat ini berdiri tak jauh hadapan mereka semua dan didampingi oleh Davian dan Nevan.


"Aku Andrean Alexander dan ini putriku Alisha Alexander," sahut Andrean memperkenalkan dirinya dan putrinya.


"Aku tidak menanyakan namamu dan juga putrimu. Yang aku ingin tahu adalah siapa Paman dan kenapa Paman bisa mengetahui semua kejahatan yang dilakukan oleh kedua iblis itu," jawab Darel sembari menunjuk kearah Agatha dan Mathew.


"Jangan menyebut Mamaku iblis. Mamaku bukan iblis. Mamaku manusia!" teriak Alisha.


"Ya. Iblis berkedok manusia. Ibumu seorang pembunuh dan juga seorang penipu. Kau tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh ibumu kepadaku selama ini. Ibumu selalu menyakitiku, menghinaku, memakiku. Bahkan ibumu hampir membunuhku saat aku pulang sekolah!" teriak Darel yang tak kalah nyaringnya.


Alisha terdiam seketika. Dirinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Darel. Ibunya lah yang bersalah. "Aku tahu mamaku bersalah padamu dan keluargamu. Tapi Mama sudah mendapatkan hukumannya yaitu hukuman mati dari pengadilan dan kau masih menghinanya. Apa kau belum puas juga? Kau menghina Mamaku, jadi apa bedanya kau dengan Mamaku. Kalian berdua sama-sama suka menghina orang lain"


"Kau... Mmpptthh!"


Nevan membekap mulut Darel dengan tangannya. Dirinya tidak mau kalau adiknya sampai benar-benar bertengkar dengan gadis itu.


Darel membelalakkan matanya kearah Nevan. Sedangkan Nevan tak mempedulikan pelototan dari adik bungsunya itu.


Lalu tiba-tiba saja Darel menekan tangan Nevan sehingga Darel bisa menggigit tangan sang kakak.


"Aaakkkkhhhh!" teriak Nevan saat merasakan tangannya digigit oleh adiknya.


Davian dan Ghali tersenyum melihat kedua saudaranya. Begitu juga anggota keluarga lainnya.


Saat Nevan hendak protes, Darel sudah terlebih dahulu mengeluarkan taringnya. "Kalau Kakak berani memarahiku. Selama satu tahun aku tidak akan bicara dengan Kakak." Darel berbicara dengan menunjukkan wajah menantangnya.


Nevan membelalakkan matanya saat mendengar penuturan dari adik bungsunya itu. Bagaimana bisa adiknya memberikan ancaman seperti itu. Kalau hal itu benar terjadi, apa kata dunia. Seorang Nevan Wilson yang diabaikan oleh adik kelincinya yang manis dan imut. Bisa hancur dunia seorang Nevan.


"Hehehe. Tidak kok. Kakak tidak akan protes kamu gigit tangan Kakak," ucap Nevan sembari mengelus lembut rambut adiknya.


"Aku mau pulang. Kalau aku lama-lama disini, bisa-bisa aku mati muda. Ya, walau aku sudah mengalami apa itu kematian," ucap Darel lantang.


Darel pun melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Lalu langkah tiba-tiba terhenti sejenak dan menatap dua petugas. Darel tersenyum di sudut bibirnya.


"Lebih baik kalian bawa dua terdakwa itu segera. Jangan biarkan mereka berlama-lama di sana. Bisa-bisa nanti anggota keluarganya membawa kabur mereka lagi. Apalagi anak gadisnya itu," sahut Darel.


Setelah mengatakan hal itu, Darel pun pergi meninggalkan ruang sidang.


DEG!


Mereka semua terkejut mendengar penuturan dari Darel. Mereka tak menyangka Darel bisa berbicara seperti itu. Davian Nevan dan Ghali menyusul adik bungsunya yang sudah meninggalkan ruang sidang.


"Maaf. Kami harus membawa kedua terdakwa untuk kembali ke dalam tahanan," kata salah satu perugas.


"Mama.. hiks." Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan serta Alisha terisak.


Mereka memeluk tubuh Agatha dengan erat. Setelah puas, mereka punĀ  melepaskan pelukannya. Agatha memberikan kecupan pada putra dan putrinya secara bergantian.


"Terima kasih atas kasih sayang kalian untuk Mama. Jaga diri kalian baik-baik. Kalian semua harus hidup sehat dan juga menjadi anak-anak yang baik. Jangan lakukan apa yang telah mama lakukan. Mengerti!"


"Hiks.. hiks.. Mama. Kami akan mendengarkan apa yang mama katakan," jawab Rayyan dan keempat adiknya bersamaan.


"Alisah juga janji akan menjadi anak yang baik dan adik yang baik."


"Terima kasih, sayang."


Rayyan mengalihkan pandangannya melihat kearah Mathew. Tanpa pikir panjang lagi. Rayyan langsung memeluk tubuh pria itu. Dan hal itu sukses membuat Mathew terkejut dan juga bahagia. Terukir senyuman manis di bibirnya.


"Pa-papa," ucap Rayyan untuk pertama kalinya kepada Ayah kandungnya.


Setetes air mata jatuh membasahi wajah tampan Mathew. "K-kau bilang apa sayang? Apa Papa boleh mendengarnya lagi?"


"Papa.. Papa.. Papa." Rayyan menyebutnya berulang kali dengan lancarnya.


Mathew mengeratkan pelukannya pada Rayyan. Ini adalah kado terindah yang diberikan oleh Tuhan padanya. Bertahun-tahun dia berpisah dengan kelima putra-putranya karena ulahnya sendiri. Kini dirinya bisa mendengar secara langsung putra sulungnya memanggilnya dengan sebutan Papa.


Mathew melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan putranya itu. Kemudian memberikan kecupan sayang di seluruh wajah putranya itu.


"Terima kasih, sayang. Terima kasih banyak karena kau sudah mau memanggil Papa lagi. Hal itu yang Papa nanti-nantikan selama ini. Maafkan Papa.. maafkan Papa atas apa yang sudah Papa lakukan padamu dan adik-adikmu."


Anggota keluarga Wilson, Andrean dan Alisha yang melihat adegan itu sangat tersentuh. Mereka sangat bahagia melihatnya. Kerinduan seorang ayah dan anak terbayar sudah.


"Papa," panggil Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan.


GREP!


Keempatnya memeluk tubuh Mathew. "Papa maafkan kami. Maafkan kami yang telah jahat pada Papa. Kami menyayangi Papa.. hiks."


Mathew lagi-lagi meneteskan air matanya karena bahagia. Akhirnya sempurna sudah kebahagiaannya. Kini kelima putranya telah kembali padanya dan bersedia memanggilnya dengan sebutan Papa.

__ADS_1


"Papa menyayangi kalian. Dulu dan sekarang. Maafkan Papa yang telah membuat kalian menjadi seperti ini. Maafkan Papa yang tidak ada untuk kalian selama ini." Mathew memberikan kecupan sayang di seluruh wajah putra-putranya secara bergantian. Dimulai dari Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan.


"Jaga diri kalian baik-baik. Jadilah anak-anak yang baik. Jangan seperti Papa. Cukup Papa saja yang berbuat jahat kepada orang lain. Kalian jangan pernah melakukan kejahatan apapun. Jangan ikuti jejak kami orang tua kalian. Mengerti!"


"Baik, Pa. Kami berjanji akan menjadi anak-anak yang baik," jawab Rayyan dan adik-adiknya


"Mathew," panggil Arvind.


Mathew melihat kearah Arvind. Saat melihat wajah Arvind. Mathew langsung melihat wajah sang Paman di wajah Arvind. Wajah Arvind sedikit mirip dengan sang Paman.


"Maafkan aku Arvind. Ach.. maksudku Kak Arvind."


Arvind tersenyum. Lalu berjalan mendekati Mathew. Tanpa ada keraguan. Arvind memeluk tubuh Mathew. Setelah puas memeluk Mathew. Arvind pun melepaskan pelukannya.


"Aku tidak pernah membencimu, Mathew. Yang aku benci itu adalah sifat jahatmu. Aku tahu kau sebenarnya adalah pria yang baik. Kau melakukan semua ini hanya ingin membalas kematian Paman Ziggy. Tanpa kau berpikir terlebih dahulu untuk mencari tahu apa penyebab sebenarnya. Dan aku juga sangat yakin. Satu-satunya orang yang membuatmu berpikir kalau Papaku yang telah menyebabkan kematian Paman Ziggy adalah nenekmu yang tak lain adalah ibu tiri dari Papaku," ucap Arvind.


Mathew menatap wajah Arvind. Dapat dilihat olehnya wajah damai dan sorot mata yang memancarkan ketulusan dan kelembutan. Di dalam hatinya, Mathew membenarkan ucapan Arvind.


"Kau benar, Kak. Perempuan tua itu yang sudah mengatakan hal itu padaku. Dia mengatakan padaku bahwa Papa meninggal saat setelah bertemu dengan Paman. Dan dia juga bilang bahwa Paman telah melakukan sesuatu pada Papa. Dan saat itu juga, aku langsung termakan hasutannya. Tanpa mencari tahu kebenarannya. Maafkan aku.. maafkan aku."


Tanpa mereka sadari. Darel, Davian, Ghali dan Nevan mendengar semua yang dibicarakan di dalam ruang sidang. Mereka bertiga tampak sedih dan kasihan melihat Mathew. Terutama Darel.


"Apakah hukuman mati untuk mereka berdua terlalu kejam? Apakah aku bisa mencabutnya dan menggantikannya dengan hukuman lain?" batin Darel dan tanpa sadar air matanya mengalir membasahi wajah tampannya dan hal itu dilihat oleh Davian, Nevan dan Ghali.


"Maaf. Kami harus membawa kedua terdakwa sekarang." petugas itu membawa Agatha dan Mathew untuk pergi meninggalkan ruang sidang.


"Mama!" teriak Alisha.


"Ma, Pa." Rayyan dan adik-adiknya berucap lirih.


***


Semua orang berkumpul di kediaman Keluarga Wilson. Saat ini semuanya sedang berada di ruang tengah, termasuk Andrean, Alisha serta Rayyan dan adik-adiknya, kecuali Darel. Darel memutuskan untuk istirahat. Lebih tepatnya para kakak-kakaknya yang menyuruhnya untuk istirahat.


"Jadi kau belum ingat denganku, William Wilson?" tanya Andrean.


William terus memperhatikan wajah Andrean, tapi sungguh. William benar-benar tidak ingat dengannya.


"Aish. Dasar kancil bodoh tukang nyontek," sahut Andrean sambil mengumpat.


FLASBACK ON


"Yak! Kancil bodoh sialan. Bisa tidak kau mengerjakannya sendiri!"


"Dasar tukang nyontek."


"Marmut culun."


FLASBACK OFF


Terukir senyuman manis di bibir William saat dirinya sudah mengingatnya. Andrean yang melihatnya menjadi senang.


"Apa kau sudah ingat sekarang, tukang nyontek?"


"Iya. Aku sudah ingat. Kau itu si marmut culun kutu buku. Kemana aja kau? Aku pikir kau sudah mati ditelan bumi," ucap sarkas William.


"Hah!" Andrean hanya bisa menghela nafasnya saat mendengar ucapan dari William. "Dari dulu kau memang tidak berubah ya."


"Siapa bilang. Buktinya sekarang aku sudah memiliki Perusahaan dan aku juga memiliki putra-putra yang tampan."


"Perusahaan. Tidak salah tuh. Bisa jadi Perusahaan yang kau kelola sekarang pemberian dari Papamu. Iyakan?"


"Sialan kau."


BUGH!


William melempari Andrean dengan bantal sofa karena kesal.


"Hahaha. Jadi itu benar. Wah! Ternyata sifatmu sama saja seperti dulu. Mau enaknya saja. Dasar anak Papa," ejek Andrean.


"Yak, marmut! Diam kau. Apa tujuanmu datang ke Munich selain ingin bertemu dengan istrimu hanya untuk menghinaku dan membuka aibku, hah?!" teriak William.


"Hei, santai bung. Jangan teriak-teriak begitu. Ntar urat-urat lehermu pada putus semua." Lagi-lagi Andrean membuat William kesal.


Sedangkan anggota keluarganya yang melihat pertengkaran kecil antara Andrean dan William hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Andrean Alexander adalah sahabat dari William Wilson semasa di SMP dan SMA. Mereka berpisah saat lulus SMA. Awalnya mereka ingin satu Kampus. Namun takdir berkata lain. Kedua orang tua Andrean harus terpaksa pindah ke Amerika dan menetap di sana karena Perusahaan di Amerika dalam masalah.


"Papa. Kau lucu sekali," sahut Dylan.

__ADS_1


"Papa tidak lucu, sayang. Papa ini tampan. Ingat itu." William berbicara dengan percaya dirinya.


"Pa, sadar. Papa itu sudah tua. Tidak mudah lagi. Wajah Papa sudah banyak keriputnya. Jadi jangan kepedean mengatakan kalau Papa masih tampan," sahut Marcel seenak udelnya.


Mendengar penuturan dari Marcel membuat William membelalakkan matanya tak terima. Sementara anggota keluarga lainnya yang mendengar penuturan dari Marcel tertawa.


"Hahahahaha."


Andrean yanh tertawa paling kencang saat mendengar salah satu putra dari sahabatnya itu menghina dirinya.


Sedangkan William menatap tajam kearah Andrean. "Dasar marmut sialan," batin William.


"Hei, Nak! Siapa namamu?"


"Marcel, Paman."


"Paman setuju apa yang kau katakan barusan. Kalau Papamu itu sudah banyak keriputnya."


"Andrean Alexander. Jangan menghasut putraku. Kau mengerti!"


"Oke.. Oke."


"Kenapa kalian pada berisik sekali, sih?!" teriak Darel dari lantai dua.


Mendengar teriakan Darel membuat mereka yang berada di ruang tengah secara bersamaan melihat ke atas. Dan dapat mereka lihat Darel yang menatap mereka tajam.


"Sayang," panggil Adelina.


"Putranya, Papa." Arvind berucap sambil tersenyum kearah putranya.


"Darel," ucap semua kakaknya.


"Keponakan tampannya kami," ucap Evita, Salma, Daksa, Sandy dan William secara bersamaan.


"Memangnya kalian ngapainipsih? Kok ribut sekali. Kalian mengganggu tidurku, tahuuuu." Darel berbicara dengan mempoutkan bibirnya.


"Ayo, sayang. Mumpung Darel sudah bangun. Mari sini turun, Nak!" Adelina berbicara lembut.


"Males ah. Di bawah itu kumpulan para orang-orang yang sudah tua dan juga lanjut usia. Akukan masih muda," jawab Darel.


"Dareeellll!" teriak semua anggota keluarganya.


Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa diam-diam menaiki anak tangga. Mereka berniat untuk masuk ke kamar Darel lalu mereka akan menghukum adik mereka saat di kamar nanti. Tapi rencana dan niat mereka gagal dikarenakan Darel terlebih dahulu melihat mereka yang sudah menaiki tiga anak tangga.


"Kalian ngapain, Kak?" tanya Darel sembari melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap horor para kakak-kakaknya itu.


Sedangkan Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa seperti maling ketangkap basah oleh pemilik rumah.


"Hehehehe." mereka hanya terkekeh.


"Kalau kalian berniat ingin mengerjaiku. Kalian akan tahu resikonya."


"Hah!" mereka semua menghela nafas. Pada akhirnya mereka semua memilih mundur dan kembali ke ruang tengah.


Darel tersenyum kemenangan karena sudah berhasil menggagalkan rencana para kakaknya itu.


Darel itu memegang kartu as para kakak-kakaknya. Jadi sekali Darel mengeluarkan ilmu ancamannya, semua kakak-kakak tak berkutik.


Setelah puas berperang dengan anggota keluarganya. Darel kembali masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan anggota keluarganya termasuk Rayyan dan adik-adiknya bersama Andrean, Alisha melanjutkan pembicaraan mereka.


Alisha sudah mulai dekat dengan kelima kakak laki-lakinya. Begitu juga Rayyan dan keempat adiknya. Mereka juga sudah membuka hati mereka untuk adik perempuan mereka satu-satunya. Bahkan saat ini Alisha tengah bermanja-manja dengan Rayyan.


Dirga dan Marcel juga sudah kembali menyayangi Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan. Sebenarnya bukan kembali menyayangi. Tapi lebih tepatnya masih menyayangi mereka.


Tak jauh beda dengan Farras, Deon, Keenan, Tristan dan Dylan. Mereka juga menerima kehadiran Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan sebagai saudara mereka.


Bagaimana dengan Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga? Mereka juga sudah menerima dan memaafkan semua kesalahan Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan


Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan juga ikut berdamai dan meminta maaf kepada Steven, Dario, Erick, Dhafin, Rendra, Naufal, Aditya, Gilang, Satya dan Melvin. Mereka berdamai dengan semua saudara-saudaranya.


Mereka semuanya tampak bahagia. Keluarga mereka telah bersatu kembali. Semua masalah telah selesai. Semua kesalahan telah termaafkan.


Sementara untuk Darel sendiri. Darel tidak memiliki dendam apapun terhadap Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan. Sama seperti ayahnya, Arvind Wilson. Darel hanya membenci sifat mereka yang jahat.


Jika anggota keluarganya sudah mau menerima mereka. Otomatis Darel juga menerima mereka sebagai saudaranya. Bagi Darel, banyak saudara itu sangat menyenangkan. Apalagi dirinya yang berstatus sebagai saudara paling kecil diantara saudara-saudaranya yang lainnya. Pasti dirinya akan sangat-sangat disayangi, dimanja dan diperhatikan. Itu sungguh sangat luar biasa untuk Darel.


SEASON 1 SELESAI

__ADS_1


BERLANJUT SEASON 2


Yuk! Siapa yang antusias sama cerit ini. Silahkan Tinggalkan Komentar dikolom Komentar jika Cerita ini berlanjut ke Season 2.


__ADS_2