
Dunia Darel seakan-akan runtuh saat mendengar penuturan dari Dokter Fayyadh yang tak lain adalah ayah dari salah satu sahabatnya. Air matanya mengalir membasahi wajah tampannya. Darel menangis tanpa suara dan juga isakan.
"Darel, ada apa?" tanya Davian.
"Sayang," lirih Adelina.
"Darel sayang. Jawab, nak! Ada apa kepada Papa?" Arvind menangis melihat putra bungsunya lalu kedua tangannya menyentuh bahu dan wajahnya.
Tapi mereka sama sekali tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Darel. Darel diam membeku dengan tatapan kosongnya.
Arvind langsung merebut ponsel putra bungsunya tersebut.
"Hallo, Fayyadh. Ini aku Arvind. Ada apa? Apa yang barusan kau sampaikan pada putra bungsuku?"
"Hiks... Arvind... hiks."
"Ada apa, Fayyadh?"
"Putra bungsuku bersama keenam sahabatnya mengalami kecelakaan. Sekarang mereka ada di rumah sakit. Putraku Kenzo dan Gavin hilang dalam kecelakaan tersebut. Brian dan Azri meninggal di tempat. Keadaan mereka sangat-sangat parah. Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel saat ini berada di ruang operasi."
"Apa?" teriak Arvind syok. "Kapan terjadinya, Fayyadh?"
"Kecelakaan itu terjadi setengah jam yang lalu, Arvind!"
"Baiklah, Fayyadh. Kau yang sabar, oke! Aku dan keluargaku akan kesana."
"Terima kasih, Arvind"
"Kau sahabatku, Fayyadh.Jadi jangan ucapkan hal itu padaku."
Setelah mengatakan hal itu, Arvind langsung mematikan panggilan tersebut. Dan menatap wajah putra bungsunya yang saat ini masih diam membeku.
"Sayang. Ini Papa, nak! Sadarlah. Papa mohon.. sadarlah." Air mata Arvind kembali jatuh ketika melihat keadaan putra bungsunya. Tangannya memegang kedua wajah tampan putranya itu
Darel akhirnya memberikan responnya pada sang Ayah. Lalu kemudian terdengarlah isakan yang keluar dari bibirnya.
"Hiks.. Hiks.. Hiks..!!" tangis Darel pun pecah.
GREP!!
Arvind menarik tubuh putra bungsunya itu ke dalam pelukannya. "Menangislah, sayang. Menangislah.. jangan ditahan." Arvind benar-benar sakit dan hancur saat melihat keadaan putra bungsunya yang tak baik-baik saja.
"Pa-pa! Hiks.. Ken-zo, Ga-vin, kak Bri-an..... hiks...... kak Az......." ucapan Darel tersangkut di tenggorokan.
"Papa tahu sayang. Papa tahu. Kamu harus kuat, oke!"
"Pa," panggil Davian. Arvind melihat kearah putra sulungnya.
__ADS_1
"Ada apa, Pa? Apa yang terjadi?" tanya Davian.
"Kenzo dan sahabat-sahabat Darel yang lainnya kecelakaan. Brian dan Azri meninggal di tempat. Kenzo dan Gavin hilang saat kecelakaan itu. Sedangkan Damian, Evano dan Farrel berada di ruang operasi."
"Apa?"
Mendengar penuturan dari Arvind membuat Adelina dan putra-putranya yang lainnya terkejut dan juga syok.
"Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit. Kemungkinan anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya Darel sudah berada disana," kata Adelina
Lalu mereka semua pun pergi meninggalkan kediaman untuk menuju rumah sakit. Evan dan Raffa mengambil alih tubuh Darel dari sang Ayah. Mereka menggenggam kedua tangan Darel dengan erat. Mereka semua menangis melihat kondisi sang adik saat ini.
***
[PLADYS HOSPITAL]
Darel dan keluarganya sudah berada di rumah sakit. Terlihat raut kesedihan dibwajah mereka, terutama Darel. Darel dan anggota keluarganya berjalan menuju ruang operasi. Saat tiba disana, dapat dilihat seluruh anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya sudah memenuhi didepan ruang operasi dengan keadaan kacau.
"Fayyadh," panggil Arvind.
Baik Fayyadh maupun orang-orang yang ada disana menolehkan wajahnya melihat kearah Arvind dan keluarga.
Dokter yang melakukan operasi tersebut adalah dokter lain, bukan Dokter Fayyadh. Saat ini keadaan Dokter Fayyadh dalam keadaan kacau. Mengingat putra bungsunya juga termasuk korban kecelakaan. Yang membuat keadaannya yang kacau, dikarenakan putra bungsunya tidak ditemukan saat kecelakaan itu.
"Bagaimana?" tanya Arvind.
"Aku tidak tahu, Arvind. Pikiranku kacau saat ini. Aku menyuruh Dokter lain yang melakukan operasi itu," sahut Fayyadh.
Dikarenakan tidak mendapatkan jawaban dari Dokter Fayyadh, Darel melangkah menuju kearah kedua orang tua Brian dan Azri. Darel menatap secara bergantian kedua orang tua dari kedua sahabatnya itu.
"Paman, Bibi. Dimana kak Brian dan kak Azri?"
Ibu dari Brian dan ibunya Azri yaitu Aleta dan Carola mengelus lembut wajah tampan Darel dan jangan lupa air mata yang menganak sungai jatuh membasahi wajah cantik mereka.
"Kedua kakakmu itu sudah bahagia diatas sana, sayang." Carola ibunya Azri berucap dengan nada lirihnya.
"Dimana mereka?" tanya Darel dengan wajah sedihnya.
"Mereka masih di ruang operasi. Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel mereka dimasukkan secara bersamaan ke ruang operasi. Walau saat dibawa kesini, Brian dan Azri sudah tidak bernyawa lagi. Tapi kami tetap menginginkan keduanya diperiksa," jawab Aleta ibunya Brian.
Darel menatap pintu ruang operasi. Air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.
"Kak Damian, kak Evano, kak Farrel... aku mohon. Bertahanlah. Jangan menyerah. Kak Brian, kak Azri. kembalilah kepadaku.Jangan pergi," batin Darel.
Setelah dua jam di ruang operasi. Akhirnya pintu ruang operasi dibuka.
KLiK!!
__ADS_1
Terlihat lima orang Dokter keluar dengan peluh yang membasahi wajah tampan mereka. Serta keadaan mereka yang tampak kacau.
Para anggota keluarga yang melihat lima orang Dokter yang keluar dari ruang operasi langsung menghampiri mereka, termasuk Darel.
"Bagaimana keadaan mereka, Dokter?" tanya Ayah dari Evano yaitu Mateo Hashim.
Lima Dokter tersebut tidak langsung menjawabnya. Mereka saling lirik satu sama lainnya. Kelima Dokter itu bingung dan juga takut harus memberikan jawaban apa kepada anggota keluarga dari pasien yang mereka tangani.
"Apa kalian semua tuli, hah?! Bagaimana keadaan sahabat-sahabatku di dalam?" teriak Darel.
"Rel." Raffa yang kini berdiri di sampingnya berucap sembari mengelus lengan adiknya.
"Ma-maafkan kami. Kami sudah semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa mereka. Tapi.. tapi." salah satu Dokter tersebut berucap dengan suara bergetar.
"Tapi apa? Katakan pada kami. Tapi apa?!" bentak Ayah dari Damian yaitu Lucio.
"Kelima pasien dinyatakan meninggal dunia. Kami tidak berhasil menyelamatkan mereka," sahut Dokter yang lainnya.
"Dua diantara mereka memang sudah tidak bernyawa lagi saat dibawa kesini. Tapi kami berusaha untuk menyelamatkan mereka. Tapi kami gagal. Maafkan kami," ucap Dokter tersebut dengan menyesal.
Seluruh anggota keluarga menangis saat mendengar penuturan dari kelima Dokter tersebut tentang kondisi putra-putra mereka. Tak terkecuali Darel.
Darel benar-benar syok saat Dokter mengatakan bahwa kelima sahabat-sahabatnya itu telah meninggal. Dunia seorang Darel hancur seketika saat mendengar hal itu. Tubuhnya jatuh merosot dilantai rumah sakit.
Arvind, Adelina dan para kakaknya yang melihatnya benar-benar tidak tega. Hati mereka sesak melihat kondisi kesayangan mereka saat ini.
"Darel!" para kakaknya mengerubunginya.
Darel menggeleng ribut. Dirinya tidak percaya akan apa yang dikatakan oleh kelima Dokter tersebut. Air matanya berlomba-lomba jatuh membasahi wajah tampannya.
"Tidak.. Tidak. Mereka tidak mungkin meninggalkanku. Mereka.. mereka sudah janji padaku untuk selalu bersamaku. Bahkan.. bah-kan mereka berjanji akan pergi kuliah bersamaku. Mereka akan menjemputku."
"Darel. Jangan seperti ini. Kakak mohon," lirih Evan.
GREP!!
Evan dan Raffa langsung memeluk tubuh adiknya itu. Kedua tidak bisa menahan kesedihannya. Baik Evan dan Raffa menangis.
"Saat di dalam ruang operasi. Kami menemukan kalung yang digenggam oleh salah satu dari mereka!" seru Dokter tersebut sembari menunjukkan kalung itu pada mereka semua.
Fayyadh mengambil kalung itu. Lalu Dokter Fayyadh menunjukkan kalung itu pada Darel.
Dokter Fayyadh berjongkok di depan Darel. "Darel. Salah satu Dokter itu menemukan kalung di tangan salah satu sahabat-sahabatmu. Ini kalungnya," ucap Dokter Fayyadh, lalu meletakkan kalung itu ditangan Darel.
Evan dan Raffa langsung melepaskan pelukannya dari Darel. Keduanya melihat kearah kalung yang ada di tangan Darel. Begitu juga dengan Darel.
Darel mengalihkan pandangannya menatap kalung yang ada di tangannya. Lalu detik kemudian, ekspresi wajahnya berubah menyeramkan. Matanya yang memerah dan tajam saat menatap kalung tersebut.
__ADS_1
Mereka semua yang ada disana memperhatikan Darel, termasuk anggota keluarganya. Mereka dapat mengartikan dari tatapan mata Darel. Mereka meyakini bahwa Darel sangat mengenal pemilik kalung tersebut.
Darel menatap kendepan dengan sorot mata yang penuh amarah. "Ternyata kalian kembali lagi ke Jerman," gumam Darel.