Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Obrolan Darel Dan Kenzo


__ADS_3

Darel berada di kamarnya. Dirinya menangis kala mendengar pembicaraan anggota keluarganya. Dan terlebih lagi ketika mendengar ucapan ayahnya yang ingin menyerahkan Perusahaan Hyundai kepada orang lain hanya untuk menyelamatkan hidupnya dari obat yang di suntikkan ke tubuhnya lewat lehernya.


"Aku tidak akan membiarkan kalian merebut Perusahaan papaku. Perusahaan papaku itu adalah hidup matinya papaku. Dan papaku adalah kebahagiaanku." Darel berbicara dengan wajah terlihat marah.


"Aku tidak bisa diam saja sementara anggota keluargaku tertekan akan masalah ini. Mereka menangis karenaku. Mereka semua mengkhawatirkanku. Aku harus melakukan sesuatu."


Darel mengambil ponselnya lalu menghubungi Arzan untuk melakukan suatu pekerjaan. Darel mencari nama kontak 'Kak Arzan' didaftar kontaknya.


Setelah mendapatkannya. Darel langsung meredialnya. Beberapa menit kemudian, terdengar suara seseorang di seberang telepon.


"Hallo, Rel."


"Hallo, kak. Aku butuh bantuanmu."


"Apa itu? Katakan saja. Kakak siap melakukannya."


"Cari tahu siapa nama pemilik dari Perusahaan STATE GRID dan Perusahaan SINOPEC GROUP. Setelah kakak mendapatkan nama pemilik dari dua Perusahaan itu. Kakak cari tahu juga tentang anggota keluarganya."


"Baik. Kakak akan melakukannya."


"Butuh berapa lama kak mencari tahu tentang mereka?"


"Tak lama. hanya butuh dua hari. Jika hari ini kakak melakukannya. Besok kamu sudah mendapatkan kabar dari kakak."


Darel tersenyum mendengar jawaban dari Arzan. Dirinya bangga kepada Arzan dan juga tangan kanannya yang lainnya.


"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu sudah mendapatkan semua itu?"


"Aku mau kakak menculik semua anggota keluarga mereka dan bawa ke markas BLACK SHARK. Kurung mereka di penjara bawah tanah yang gelap dan pengap."


"Baiklah, Rel! Kakak akan melakukan dengan sangat baik. Dan secepatnya kakak akan mengabarimu."


"Baiklah, kak. Terima kasih."


Setelah selesai berbicara dengan Arzan. Darel pun mematikan teleponnya.


"Kalian sudah berani mengusik ayahku. Kalian mencari titik kelemahan ayahku dan menyerangnya. Serta kalian menekan ayahku untuk mau menyerahkan Perusahaannya kepada kalian. Kita lihat! Siapa yang akan hancur?" batin Darel.


Darel sedang duduk sendirian di sofa yang ada di kamarnya. Tubuhnya menyender di punggung sofa serta kepala di miringkan ke samping.


Kemudian Darel memejamkan matanya sejenak hanya untuk menghilangkan rasa pening di kepalanya. Darel merasakan pusing di kepalanya.


Dan beberapa detik kemudian, terdengar pintu kamarnya di buka. Setelah itu, masuklah beberapa orang ke dalam kamarnya. orang-orang itu adalah para kakak-kakaknya dan kedua orang tuanya.


Mereka menatap dengan senyuman hangat ketika melihat Darel yang tertidur di sofa.


Namun tidak bisa dipungkiri. Rasa khawatir begitu kuat mereka rasakan. Mereka belum siap dan belum ikhlas jika hal itu benar-benar terjadi. Mereka berharap ada keajaiban untuk kesayangan mereka tanpa ada yang dikorbankan.


Ketika mereka ingin mendekat, tiba-tiba mereka mendengar ponsel milik kesayangan mereka berdering.


Darel seketika membuka kedua matanya saat mendengar ponselnya berdering. Darel bangkit dari posisi menyandarnya, lalu mengambil ponselnya yang ada di atas meja.


Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika melihat nama 'Kenzo' di layar ponselnya.


Melihat senyuman manis dari Darel membuat hati kedua orang tuanya dan para kakak-kakaknya merasakan kehangatan di hati masing-masing.


"Hallo, Kenzo."


"Oh. Ternyata Kenzo yang menghubunginya. Pantas saja terlihat begitu ceria dan berseri wajahnya," batin mereka.

__ADS_1


"Hallo, Rel. Aku dengar kamu sakit lagi ya? Apa karena reaksi obat itu? Apa reaksi obatnya makin kuat menyerang tubuhmu? Sekarang bagaimana? Apa udah mendingan? Maaf ya aku nggak datang jenguk kamu."


Darel tersenyum ketika mendengar perkataan dari Kenzo.


"Iya, Zo. Aku memang kembali jatuh sakit dan ini semua gara-gara obat sialan itu. Aku benar-benar nggak sanggup, Zo! Ini benar-benar menyiksa."


Mendengar jawaban dari Darel membuat hati Kenzo sakit. Tanpa Darel ketahui, Kenzo menangis. Dirinya benar-benar tidak tega mendengar kabar atau melihat sahabat kelincinya itu jatuh sakit. Apalagi alasan Darel sakit adalah reaksi dari obat yang disuntikkan di tubuhnya.


"Apa perlu aku dan yang lainnya ke rumah kamu? Sekalian kita bawakan makanan dan minuman kesukaan kamu."


Darel kembali tersenyum ketika mendengar perkataan dari Kenzo. Dari dulu sahabatnya itu tidak pernah berubah selalu merasa bersalah jika tidak atau terlambat mengetahui salah satu sahabatnya sakit.


"Gak apa-apa, Zo! Lagian aku juga yang salah disini karena nggak kabarin kamu, Gavin dan yang lainnya tentang kondisi aku. Kamu jangan merasa bersalah gitu ya! Sekarang kamu dimana?"


"Aku sekarang lagi di toilet. Dan mumpung disini. Aku langsung menghubungi kamu. Dari kemarin susah banget menghubungi kamu tahu."


"Hehehehe. Maaf aku lupa menghidupkan kembali ponselku saat terakhir aku pergi ninggalin kalian dalam keadaan marah."


"Dasar. Belum tua sudah pikun."


"Hei, aku bukan pikun. Hanya lupa. Ingat! Lupa. L-u-p-a." Darel mengeja satu persatu huruf tersebut.


Anggota keluarganya yang mendengar perkataan dari Darel tersenyum geli. Mereka geleng-geleng kepala mendengarnya.


"Itu sama saja Rel," batin para kakak-kakaknya tersenyum.


"Sama saja bodoh. Gak ada bedanya."


"Beda ogeb. Bunyi dan dan tulisannya jauh berbeda. Pikun itu kita tidak ingat sama sekali atau kurangnya daya ingat. Sementara kalau lupa itu kita hanya melupakan apa yang kita lakukan dan yang kita pelajari kemarin. Seperti yang aku lupa menghidupkan kembali ponselku. Mengerti tuan Kenzo!"


"Bagi aku sama aja. Bunyinya gak jauh beda."


"Terserah anda tuan tiang listrik."


Seketika mereka terdiam tanpa ada suara. Melihat Darel yang tiba-tiba diam membuat kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya menatap khawatir dirinya.


"Rel."


"Zo."


"Hahahahaha."


Darel dan Kenzo tertawa secara bersamaan. Mereka tertawa ketika menyebut gelar untuk mereka masing-masing.


Mendengar tawa dari Darel membuat hati mereka terasa sejuk. Seakan-akan masalah yang sedang mereka hadapi hilang begitu saja.


"Hei, tuan siluman kelinci. Kami akan ke rumahmu. Kau mau dibawakan apa?"


"Eemmm. Apa ya?"


"Jangan terlalu lama berpikirnya tuan siluman kelinci."


"Bawakan aku pizza empat kotak, susu pisang satu kotak, spageti sepuluh porsi dan ciki kentang dua puluh bungkus yang jumbo." Darel tersenyum licik.


Baik Kenzo maupun kedua orang tuanya dan para kakak-kakaknya terkejut dengan permintaan Darel yang begitu banyak.


"Rel! Kau yakin sanggup untuk memakan semuanya?"


"Kenapa? Nggak mau belikan? Tadi gaya-gayaan nawarin. Giliran udah disebutin. Malah protes."

__ADS_1


"Bukan nggak mau siluman kelinci sialan. Itu banyak banget. Sanggup nggak habisin semuanya?"


"Dasar tiang listrik, bodoh, kurus, tengil. Siapa juga yang sanggup habisin semuanya itu. Tujuan aku nyuruh kamu bawain banyak makanan ya untuk kita makan bersama nanti karena aku tidak akan menyiapkan makanan untuk kalian, kecuali air putih doang."


"Dasar sahabat pelit."


"Bodo."


"Ya, sudah. Pulang dari Kampus kami ke rumahmu."


"Ya. Jangan ngaret. Sekarang pukul 11 siang. Berarti kalian keluar dari kelas sekitar pukul 1 siang. Waktu yang kalian butuhkan hanya sekitar satu setengah jam untuk sampai di rumahku."


"Yak, Rel! Bagaimana bisa? Terus kapan kita akan membeli semua pesanan kamu itu, hah?!"


Darel tersenyum bahagia ketika mendengar teriakan dari Kenzo. Dirinya sangat yakin jika Kenzo sudah benar-benar kesal.


"Pandai kamulah mengaturnya. Pokoknya sesuai dengan waktu yang aku kasih ke kamu."


Setelah mengatakan itu, Darel langsung mematikan panggilannya. Dan seketika tawanya pun pecah.


"Hahahaha."


Darel tertawa sambil membayangkan wajah kesal Kenzo yang saat ini lagi di toilet.


"Eehhem."


Darel menghentikan tawanya ketika mendengar suara deheman.


Berlahan Darel mengalihkan perhatiannya kearah samping kirinya. Dapat Darel lihat, kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya sudah ada di dalam kamarnya.


Seketika Darel tersenyum melihat orang-orang yang begitu disayanginya.


Mereka semua mendekati Darel. Dan mengerubunginya.


"Papa senang melihatmu seperti saat ini sayang. Jangan pernah hilangkan senyuman manis kamu ini," ucap Arvind dan langsung memberikan kecupan sayang di kening putra bungsunya.


"Papa," lirih Darel dengan menatap wajah ayahnya.


"Ada apa, hum?" Arvind mengusap lembut pipi putih putranya.


"Jangan lakukan itu. Aku mohon. Jika Papa benar-benar menyayangiku, maka Papa tidak akan melakukan hal itu."


"Tapi sayang..."


"Papa... Hiks."


GREP!


Arvind menarik tubuh putranya ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap lembut punggung putranya.


"Baiklah. Papa tidak akan melakukan itu. Tapi dengan satu syarat."


"Apa?"


"Bertahanlah demi Papa, Mama dan kakak-kakak kamu sampai kami berhasil mendapatkan penawar itu. Bagaimana?"


Mereka semu menatap Darel dan menunggu jawaban darinya. Mereka berharap Darel menyetujui syarat yang diajukan oleh ayahnya.


"Baiklah. Aku akan bertahan demi kalian semua."

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Darel membuat hati mereka sedikit lega. Setidaknya kesayangan mereka mau bertahan untuk mereka semua.


"Terima kasih sayang." Arvind mengecup kening putra bungsunya.


__ADS_2