
Davian dan ke 11 adik-adiknya sudah berada di luar berkumpul dengan yang lainnya.
"Davian, apa yang terjadi? Siapa mereka?" tanya Arvind
"Mereka tangan kanannya Darel, Pa!" jawab Davian.
"Benarkan yang aku katakan tadi jika kedua pemuda itu tangan kanannya Darel," sahut Evita.
"Apa yang mereka lakukan di dalam, Nak?" tanya Adelina.
"Mereka membawa penawarnya. Dan sekarang keduanya sedang menyelamatkan Darel," jawab Nevan.
Mendengar perkataan dari Nevan membuat mereka semua terkejut dan juga bahagia.
"Benarkah itu sayang?" tanya Arvind.
"Iya, Papa!" seru putra-putranya yang lain bersamaan.
Beberapa menit kemudian...
Cklek!
Terdengar pintu dibuka. Mereka semua langsung menoleh kearah pintu itu.
Kedua pemuda itu menghampiri keluarga Wilson dan juga Dokter Fayyadh.
"Dokter silahkan periksa kembali keadaan Bos," ucap Johnny kepada Fayyadh.
"Ach, baiklah."
Fayyadh langsung pergi menuju ruang IGD dimana Darel berada.
Kenzi dan Leo menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya.
"Saya Kenzi. Ini rekan saya Leo. Kami berdua tangan kanan mendiang tuan besar Antoni. Dan sekarang kami menjadi tangan kanannya Bos Darel atas perintah tuan besar."
"Terima kasih kalian berdua sudah datang membawakan penawar itu," ucap Arvind lirih.
"Tuan tidak perlu berterima kasih kepada kami. Bagaimana pun ini sudah menjadi tugas kami," ucap Leo.
"Jika bukan Bos yang memberitahu masalah ini kepada Arzan. Maka kami semua tidak akan tahu akan masalah ini," ucap Leo.
"Maksudnya?" tanya Ghali.
"Bos Darel menghubungi Arzan dan meminta Arzan untuk mencari tahu latar belakang dan identitas perusahaan STATE GRID dan perusahaan SINOPEC GRUP," jawab Leo.
Mendengar perkataan dari Leo membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika Darel sudah menjalankan misinya.
"Apa kalian sudah mendapatkannya?" tanya Davian.
__ADS_1
"Sudah. Kami sudah mendapatkannya. Dan saat ini semua anggota keluarga dari dua perusahaan itu ada di markas. Bahkan kami juga sudah menangkap ketua mafia yang bekerja sama dengan dua perusahaan itu," jawab Kenzi.
Mendengar jawaban dari salah satu tangan kanannya Darel. Seketika ekspresi wajah Davian dan adik-adiknya berubah. Mereka tak sabaran untuk membalas apa yang telah mereka lakukan terhadap kesayangannya.
Kenzi dan Leo menatap wajah Kenzo dan Gavin.
"Tuan Kenzo, Tuan Gavin. Masalah yang menimpa Bos Darel ada hubungannya dengan permasalahan lama," ucap Kenzi.
"Permasalahan lama?" tanya Kenzo dan Gavin.
"Iya," jawab Kenzi.
Kenzo dan Gavin saling memberikan tatapan. Keduanya berpikir sejenak untuk mengingat akan perkataan dari salah satu tangan kanannya Darel.
Dan detik kemudian....
"Permasalahan lama. Apa ini ada hubungannya dengan musuh lama kami, Lian Jevera?" tanya Gavin yang langsung mengerti.
"Hanya dia dan teman-temannya yang menjadi musuh kami selama ini. Sekarang bajingan itu sudah mati. Sementara teman-temannya sudah berubah dan sekarang menjadi teman kami," ucap Kenzo.
Arvind, Adelina, para putranya dan yang lainnya langsung melihat kearah Kenzo dan Gavin.
"Iya. Ini memang ada hubungannya dengan Lian Jevera," jawab Leo.
"Brengsek! Sudah mati masih saja menyusahkan hidup orang lain," ucap Kenzo penuh amarah.
"Apa kedua orang tuanya yang melakukan hal keji tersebut terhadap Darel dan Paman Arvind?" tanya Kenzo.
"Ibunya tidak sendirian, tapi melainkan dibantu oleh kakak laki-lakinya yang tak lain adalah Paman Lian. Mereka dari keluarga Alaois." Leo berbicara sembari menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya.
"Pemilik dari perusahaan SINOPEC GRUP adalah milik dari Paman Lian yaitu Marcoz Alaois. Sementara perusahaan STATE GRID adalah saingan bisnis tuan Arvind yaitu Leonard Afraido," ucap Leo menambahkan.
"Brengsek! Jadi bajingan itu yang menerorku dan memintaku untuk berhenti dari dunia bisnis serta memintaku untuk menyerahkan perusahaanku padanya," ucap Arvind marah.
"Kedua pria itu kerja sama. Racun yang disuntikkan ke leher Bos itu ada dua jenis. Dan..." perkataan Leo terhenti.
"Jangan bilang jika kedua pria itu memiliki masing-masing satu racun, lalu mereka menggabungkan racun itu menjadi satu. Dan mereka juga membuat dua penawar. Mereka memegang masing-masing satu penawar," tutur Elvan.
"Iya, itu benar!" jawab Leo.
"Brengsek!" Davian dan ke 11 adik-adiknya benar-benar marah akan kebejatan dua pria itu.
Ketika mereka tengah membahas pelaku yang sudah menyakiti Darel, tiba-tiba Fayyadh datang.
"Bagaimana Fayyadh?" tanya Arvind.
Mereka semua menatap kearah Fayyadh penuh harap. Termasuk Kenzi dan Leo.
"Semuanya membaik berkat penawar itu. Racun yang ada di tubuh Darel sedikit demi sedikit hilang. Detak jantung dan denyut nadinya sudah kembali."
__ADS_1
Mendengar perkataan dari Fayyadh membuat mereka semua bernafas lega. Akhirnya kesayangan mereka semua dalam keadaan baik-baik saja.
"Ada tapinya!"
Mereka kembali dibuat terkejut ketika mendengar perkataan terakhir Fayyadh.
"Papa ini seenaknya saja menjatuhkan kami ketika kami semua sedang berada di atas," ucap Kenzo kesal.
Fayyadh menatap bingung putra bungsunya itu.
Melihat tatapan mata ayahnya membuat Kenzo bertambah kesal.
"Papa pasti mengerti maksud dari perkataanku barusan! Jadi Papa jangan pura-pura bodoh di depanku!" seru Kenzo.
Fayyadh seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan kejam dari putra bungsunya.
Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum melihat keduanya.
"Sekarang katakan apa maksud Papa tadi?"
"Hah!" Fayyadh menghela nafasnya mendengar perkataan dari putra bungsunya.
"Arvind, aku memang mengatakan Darel sudah dalam keadaan baik-baik saja dengan hilangnya racun-racun itu dari tubuhnya. Dengan kata lain, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."
"Dikarenakan kondisi tubuhnya belum benar-benar stabil. Darel saat ini dinyatakan koma."
"Kalian tidak usah khawatir. Secepatnya Darel akan sadar jika tubuhnya sudah benar-benar bersih dari racun-racun itu."
Mendengar penjelasan dari Fayyadh yang awalnya mereka khawatir dan takut berlahan menjadi sedikit tenang. Mereka semua berharap komanya Darel tidak lama.
^^^
Mereka semua sudah berada di ruang rawat Darel. Tatapan mata mereka menatap wajah Darel yang terlihat pucat, walau tertutup masker oksigen.
Arvind dan Adelina berdiri masing-masing di samping ranjang Darel dengan tangannya yang memegang tangan Darel. Keduanya mengusap lembut pucuk kepalanya dan tak lupa memberikan kecupan sayang di keningnya.
"Putra Papa yang tampan. Cepat bangun ya. Jangan lama-lama tidurnya."
"Putra Mama sayang."
Sedangkan para kakak-kakaknya saat ini tengah membahas pembalasan terhadap orang-orang yang sudah menyakiti kesayangannya. Kenzo dan Gavin juga ikut di dalamnya. Keduanya tampak marah ketika mengetahui bahwa ibu dari musuh lamanya yaitu Lian Jevera telah berani menyakiti sahabatnya.
Baik Kenzo maupun Gavin mengingat jelas bagaimana sikap ibunya Lian yang membela anaknya ketika dulu datang ke sekolah.
"Vin, sepertinya perempuan tua itu belum merasakan bagaimana rasanya di sembelih," ucap Kenzo.
"Yak! Kau pikir ibunya Lian itu sapi pake disembelih," jawab Gavin kesal akan ucapan dari Kenzo.
"Sebutan sapi tidak cocok untuk perempuan itu. Yang lebih cocok untuk perempuan itu adalah sebutan setan. Kenapa aku bilang setan karena di kepalanya itu ada dua tanduk merah. Di tambah lagi wajahnya yang seperti setan jika berhadapan dengan orang-orang."
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Kenzo membuat mereka semua hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.