Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Mengingatkan Rapat Besok


__ADS_3

Saat ini Neylan sedang mengobrol dengan Darel. Mereka tengah membahas masalah tentang ibu tirinya Neylan.


"Jadi sekarang kamu sudah berada di rumahku?" tanya Darel.


"Iya. Aku tiba disana karena tuan Kenzi," jawab Neylan.


"Semoga kamu betah tinggal di rumahku."


"Aku berharap begitu."


"Bagaimana dengan kabar ayah kamu? Selama ayah kamu pergi dinas ke luar negeri. Apa ayah kamu itu ada menghubungi kamu?"


"Dua bulan Papi pergi. Hanya empat kali Papi menghubungi aku. Terakhir saat itu aku lagi di kampus. Pas saat itu aku lagi istirahat."


"Apa Papi kamu ada nyampein sesuatu sama kamu?"


"Ada."


"Apa?"


"Papi mengatakan padaku. Apapun yang terjadi di rumah. Apapun yang aku alami. Papi sepenuhnya percaya padaku."


Mendengar jawaban dari Neylan membuat Darel meyakini bahwa ayahnya Neylan begitu menyayangi Neylan.


"Apa itu alasan kamu bertahan selama ini tetap di rumah itu bersama ibu tiri kamu?"


"Iya. Papi juga bilang padaku kalau dia akan segera pulang jika apa yang dia cari sudah berhasil didapatkan. Papi memintaku untuk menunggunya."


Mendengar perkataan Neylan membuat Darel lebih yakin lagi bahwa ayahnya Neylan sudah mengetahui sifat asli istri keduanya. Hanya saja ayahnya Neylan ingin mencari lebih banyak bukti untuk membungkam istrinya itu.


Apa yang dipikirkan oleh Darel. Itu juga yang dipikirkan oleh seluruh anggota keluarga Wilson. Mereka juga meyakini bahwa ayahnya Neylan sedang mencari bukti tentang istri keduanya itu.


"Oh iya! Bagaimana keadaan Flufy? Nama itu adalah pemberian dariku untuk kucing kamu?"


Mendengar pertanyaan dari Darel membuat Neylan seketika menundukkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Kucing itu... Kucing itu sudah nggak ada lagi padaku."


Deg..


Mendengar jawaban dari Neylan membuat Darel terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarga Wilson. Terutama kakak-kakaknya.


"Kenapa? Apa yang terjadi?"


"Perempuan gila itu membunuhnya."


"Apa?!"


Baik Darel, kakak-kakaknya maupun semua anggota keluarga Wilson berteriak karena terkejut.

__ADS_1


"I-ibu tiri kamu itu membunuh kucing kamu?"


"Iya. Hanya gara-gara kucingku nggak sengaja buat dia kaget karena berlarian di dalam rumah membuat perempuan itu nekat menghabisi nyawa kucingku. Kedua tangan dan kaki kucingku diikat dengan kuat. Setelah itu, perempuan itu tanpa perasaan mencekik kucingku sampai mati."


Neylan menangis ketika menceritakan tentang kucingnya yang mati di tangan ibu tirinya. Dia tidak menyangka jika akan berpisah dengan kucing kesayangannya. Kucing itu adalah hadiah ulang tahun dari mendiang ibunya.


"Gila tuh perempuan. Nekat juga menghabisi nyawa seekor kucing," sahut Axel.


"Kerasukan setan apa tuh perempuan sehingga tega membunuh kucing itu?" tanya Keenan tak menyangka akan perbuatan ibu tiri Neylan.


"Jika aku mengetahui takdirku akan menjadi seperti ini, maka aku akan merelakan kucing itu bersama kamu. Seandainya kucing itu bersama kamu. Sampai detik ini aku masih bisa melihatnya, walau dia lebih memilih kamu."


Tes..


Darel seketika menangis ketika mendengar ucapan dari Neylan. Hatinya merasakan sakit ketika mendengar cerita dari Neylan yang mengatakan bahwa kucing yang nyasar ke balkon kamarnya telah mati akibat perbuatan ibu tiri Neylan.


Bukan hanya Darel saja yang menangis. Neylan juga menangis ketika menceritakan tentang kucing kesayangannya itu. Dia harus kembali mengingat bagaimana dia mati di tangan ibu tirinya. Begitu juga dengan anggota keluarga Wilson. Mereka semua juga ikut menangis.


"Oh iya, Rel!" panggil Evan tiba-tiba.


Mendengar panggilan dari salah satu kakak bontot nomor tiga. Darel langsung melihat kearah kakaknya itu.


"Iya, kak."


"Kakak hanya ingin memberitahu kamu. Ketika kamu belum sadar. Ada yang menghubungi kamu."


"Siapa?"


"Apa kakak jawab panggilan itu?"


"Tidak. Kakak tidak berani angkat karena kakak berpikir itu privasi kamu. Tapi panggilan itu Kenzo yang menjawabnya."


"Berarti kakak tahu apa yang dibicarakan oleh Kenzo dengan Paman Arkan?"


"Secara detail tidak. Tapi kakak dan kita semua mendengar Kenzo mengatakan bahwa salah satu rekan kerja dari perusahaan ayahnya Brian dan perusahaan ayahnya Damian bermain curang ketika rapat besok dan lusa."


"Setelah selesai berbicara dengan Paman Arkan itu. Kenzo langsung meminta Brian dan Damian langsung pulang ke rumah untuk memberitahu ayah mereka," ucap Raffa.


Mendengar penjelasan dari kedua kakaknya membuat Darel berpikir sejenak. Apakah masalah ini yang membuat Paman Arkan memintaku untuk menemuinya di rumah itu. Itulah yang di pikirkan oleh Darel.


"Darel, sayang!" kini Arvind yang memanggil putra bungsunya.


Darel langsung melihat kearah ayahnya. Dan dapat dilihat oleh Darel bahwa ayahnya itu ingin bertanya sesuatu.


"Iya, Pa!"


"Kalau Papa boleh tahu. Siapa itu Paman Arkan? Apa dia juga salah satu orang kepercayaan kakek kamu?" tanya Arvind.


Mendengar pertanyaan dari ayahnya membuat Darel menatap satu persatu wajah anggota keluarganya yang saat ini juga tengah menatap dirinya.


"Ayolah sayang. Beritahu Papa." Arvind memohon kepada putra bungsunya itu.

__ADS_1


"Iya. Paman Arkan itu orang kepercayaan kakek. Usianya sepantaran dengan Paman Sandy. Ada tiga orang kepercayaan kakek. Dan ketiganya memiliki pekerjaan berbeda-beda. Salah satunya adalah Pamannya kakak Arzan."


***


Di kediaman Charlez dimana Lucio, Elsa istrinya dan kedua putranya yaitu Darley Charlez dan Deslan Charlez sedang berada di ruang tengah. Sedangkan untuk Damian masih berada di kampus.


Damian sudah menghubungi ibunya bahwa pulang dari kampus dia dan sahabat-sahabatnya yang lain akan ke rumah sakit membesuk Darel.


"Pa," panggil Deslan.


"Iya, sayang!" jawab Lucio.


"Besok adalah hari dimana perusahaan Papa dan beberapa perusahaan lain akan mengadakan rapat besar-besaran. Dan juga rapat kerja sama. Ingat apa yang dikatakan Damian kemarin! Papa jangan menanda tangani berkas apapun setelah dua atau tiga jam," ucap Deslan.


"Iya, sayang! Papa ingat semua yang dikatakan oleh Damian kemarin. Papa tidak akan melakukan kesalahan dan Papa tidak akan membuat Damian kecewa sama Papa," jawab Lucio.


"Apa yang akan Papa lakukan jika rekan kerja Papa itu terbukti mencurangi Papa?" tanya Darley.


"Papa akan melakukan hal yang sama terhadap rekan kerja Papa itu. Papa akan menggunakan perusahaan cadangan yang baru berdiri enam bulan untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan itu. Setelah Papa mendapatkan tanda tangan bajingan itu, Papa akan merubah isinya. Papa akan membongkarnya ketika dia kembali berulah."


"Jadi dengan kata lain, senjata makan tuan. Dia berusaha merebut perusahaan Papa, tapi sebelum itu terjadi Papa sudah membocorkan langsung padanya tentang kepemilikan perusahaannya dan semua kekayaannya, begitukah?" ucap dan tanya Deslan.


"Tepat sekali sayang," jawab Lucio sembari menjentikkan jarinya di hadapan putra keduanya itu.


"Dan Mama rasa apa yang Papa kalian lakukan. Hal itu juga yang akan dilakukan oleh Rainart, ayahnya Brian!" seru Elsa.


"Sudah pasti Rainart akan melakukan hal itu juga sayang. Secara aku dan Rainart sudah merencanakan hal ini semua sejak Brian dan Damian menceritakan tentang kelicikan dua manusia busuk itu terhadap perusahaan kamu," sahut Lucio.


Mendengar penuturan dari Lucio membuat Elsa, Darley dan Deslan tersenyum penuh kebahagiaan dan juga kebanggaan.


"Oh iya! Nanti sekitar pukul 7 malam Papa mau ke rumah sakit menjenguk Darel. Bagaimana pun Darel sudah banyak membantu kita. Salah satunya membantu membalas dendam atas orang-orang yang sudah menyakiti Damian. Berkat Darel juga Damian bisa mengetahui kecurangan salah rekan kerja Papa."


Mendengar perkataan dari Lucio membuat Elsa, Darley dan Deslan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Lucio tentang Darel.


"Tentu kami mau ikut ke rumah sakit Pa!" seru Deslan.


"Secara Darel itu sudah kami anggap adik kandung kami sendiri. Jadi kami memiliki dua adik laki-laki," ucap Darley.


"Bukan hanya Darel. Semua sahabat-sahabatnya Damian termasuk adik sepupu kalian yaitu Razig. Mereka semua adalah adik-adik kalian!" sahut Lucio.


"Iya, Pa! Kami tahu hal itu," jawab Darley dan Deslan bersamaan.


"Damian, Brian, Azri, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin dan Darel. Mereka bersahabat sejak duduk di kelas 2 sekolah dasar. Persahabatan mereka berlangsung sampai sekarang. Mereka sudah seperti saudara." Elsa berucap sembari mengingat bagaimana hubungan persahabatan putra bungsunya dengan tujuh sahabat-sahabatnya. Elsa benar-benar bahagia dan juga bangga.


"Iya. Kau benar sekali sayang. Aku sebagai ayah dari putra bungsuku merasakan kebahagiaan yang luar biasa melihat hubungan persahabatan putra bungsuku dengan ketujuh sahabat-sahabatnya itu. Selama mereka bersahabat, aku belum pernah melihat dan juga mendengar mereka bertengkar hingga berlarut-larut. Tidak pernah sama sekali. Hubungan mereka begitu harmonis."


Mendengar perkataan dari sang suami/sang ayah membuat Elsa, Darley dan Deslan menganggukkan kepalanya setuju. Sama seperti suaminya/ayahnya. Elsa, Darley dan Deslan juga tidak pernah melihat atau pun mendengar pertengkaran Damian dan ketujuh sahabat-sahabatnya itu. Justru sebaliknya, hubungan persahabatan adiknya/putranya itu dengan ketujuh sahabat-sahabatnya makin kompak.


"Ya, sudah! Kalian bersiap-siaplah nanti. Sekitar pukul 6 kita sudah dalam keadaan rapi!" sahut Lucio.


"Baiklah!" jawab Elsa, Darley dan Deslan.

__ADS_1


__ADS_2