
Kediaman keluarga Wilson. Darel dan anggota keluarganya masih berkumpul di ruang tengah. Setelah Darel berbicara dengan Devon tentang permasalahan Dana Organisasi Kampus telah habis. Darel memutuskan untuk menyelidiki masalah tersebut ketika bersama dengan para sahabat-sahabatnya.
Sementara untuk anggota keluarganya yang mendengar pembicaraan Darel dan Devon di telepon seketika berubah khawatir. Mereka memutuskan untuk membantu permasalahan yang dihadapi oleh kesayangannya itu.
"Sekarang katakan pada Papa. Apa yang terjadi dengan Dana kegiatan kampus kamu itu?"
Darel menatap wajah ayahnya. Terlihat tatapan penuh harap dari ayahnya itu. Begitu juga dengan anggota keluarganya yang lain. Semuanya menatap dirinya penuh harap.
"Devon bilang padaku bahwa uang yang terkumpul untuk semua kegiatan sampai delapan bulan kedepan sudah habis. Sementara kegiatan yang baru terlaksana baru jalan 4. Masih ada 6 kegiatan lagi yang belum dilaksanakan."
"Apa?!" mereka semua terkejut ketika mendengar pengakuan dari Darel tentang dana kegiatan Organisasi Kampusnya.
"Bukan itu saja. Devon bahkan menggunakan uang pribadi untuk menutupi kekurangan ketika kegiatan dua hari yang lalu."
Mereka semua kembali terkejut ketika mendengar ucapan dari Darel yang mengatakan bahwa salah satu sahabatnya menggunakan uang pribadinya untuk menutupi kekurangan tersebut.
"Apa itu termasuk uang sumbangan dari Papa, sumbangan dari semua anggota keluarga Wilson dan juga sumbangan dari para orang tua dari sahabat-sahabat kamu?" tanya Arga.
"Iya, kak!"
"Apa kamu nggak curiga dengan anggota-anggota kamu dan juga anggota-anggota dari sahabat-sahabat kamu?" tanya Dirga.
"Kalau masalah curiga... eeemmm. Aku curiga sih! Nggak mungkin uang itu habis gitu aja. Padahal kegiatan yang baru dilaksanakan empat," jawab Darel.
"Kira-kira kamu curiga anggota dari tim mana?" tanya Evan.
"Yang paling aku curigai dari tim nya Devon. Ada yang mencurangi Devon melalui dana itu," jawab Darel.
"Apa tindakan yang akan kamu ambil untuk saat ini?" tanya Andre.
"Yang pertama, aku sama Devon yang akan memegang Dana untuk setiap jenis kegiatan di kampus ini. Sementara untuk catatan dan sebagainya, baru anggota-anggotanya Devon. Aku melakukan ini sembari ingin menjebak anggota-anggota Devon yang curang itu."
"Paman setuju dengan rencana kamu itu, Rel! Dengan kamu melakukan hal itu, kamu berusaha untuk menutupi aib anggota Devon yang curang itu. Jadi, hanya kamu dan Devon saja yang mengetahuinya. Begitu juga dengan sahabat-sahabat kamu yang lainnya!" William berucap sembari menyetujui dan dan mendukung rencana keponakannya tersebut.
"Papa juga setelah rencana kamu itu sayang!"
Darel tersenyum ketika mendengar ucapan dari Paman dan Ayahnya. Dirinya bahagia apapun rencana dan keputusannya yang dia ambil. Anggota keluarganya, terutama kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya langsung memberikan dukungan penuh padanya.
"Terima kasih Papa, terima kasih Paman!"
"Sama-sama sayang!" Arvind dan William menjawab bersamaan.
Davian menatap lekat adik bungsunya itu. Dapat Davian lihat bahwa adiknya seperti sudah lelah, namun adiknya itu berusaha menutupinya.
"Ya, sudah! Sekarang kamu pergilah ke kamar. Kakak perhatikan wajah kamu tampak lelah. Kakak nggak mau kamu sampai jatuh sakit," ucap Davian lembut.
"Baiklah."
Darel langsung berdiri dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan anggota keluarga untuk menuju kamarnya di lantai dua.
Sementara Davian, adik-adiknya yang lain, kedua orang tuanya dan anggota keluarganya tersenyum bahagia ketika melihat kepatuhan Darel.
__ADS_1
***
Plak..
"Akkhhh!" teriak seorang wanita yang terdengar menggema di sebuah sel tahanan.
"Berani kau melawanku, hah?!"
Bruukkk..
Wanita yang menjadi korban tamparan tersebut langsung memberikan balasan dengan cara mendorong kuat tubuh lawannya karena lawannya itu hendak kembali melayangkan tamparan kedua.
Wanita yang menjadi korban tamparan itu adalah Agatha Wilson, istri dari Mathew Wilson.
Agatha diperlakukan buruk oleh tahanan wanita lain karena Agatha tidak mau menuruti perintah mereka. Para tahanan wanita itu bergantian memberikan pukulan dan tamparan kepada Agatha.
Plak..
Bugh.. Bugh..
Bruk..
Dug..
Tiga tahanan wanita yang lainnya memberi tamparan dan pukulan kepada Agatha secara bersamaan sehingga membuat tubuh Agatha tersungkur ke lantai.
Kepala Agatha terbentur sudut lantai keramik sehingga mengakibatkan darah mengucur keluar.
Melihat Agatha yang tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur di kepalanya membuat tiga tahanan wanita itu seketika terkejut dan ketakutan. Begitu juga dengan empat tahanan wanita yang lainnya.
"Apa yang kita lakukan sekarang?"
Ketujuh tahanan wanita itu ketakutan ketika melihat Agatha yang tak bergerak sama sekali.
Ketika mereka tengah ketakutan, tiba-tiba datang polisi wanita menghampiri mereka. Dan seketika polisi itu berteriak ketika melihat salah satu tahanan wanita tergeletak di lantai dengan darah di kepalanya.
Polisi wanita itu berteriak memanggil rekannya agar ketika sel dibuka, para tahanan wanita lainnya tidak mencoba kabur.
Mendengar teriakkan dari polisi wanita itu, datanglah sekitar lima belas anggota kepolisian, baik laki-laki maupun perempuan.
"Buka sel nya. Itu nyonya Agatha tidak sadarkan diri dengan banyak darah keluar dari kepalanya. Nyonya Agatha harus segera dibawa ke rumah sakit."
"Baik!"
"Dan kalian. Cari tahu apa yang terjadi di dalam sel ini. Periksa mereka semua!"
"Baik."
Setelah itu, polisi-polisi itu melakukan tugasnya masing-masing.
***
__ADS_1
Di kediaman Rayyan dan keempat adiknya. Saat ini Rayyan dan keempat adiknya sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan berada di kamar masing-masing juga.
Jika Rayyan dan Kevin tengah mengerjakan pekerjaan kantor, Caleb dan Dzaky sibuk dengan perusahaan rekamannya yang baru bergerak dua tahun yang lalu. Sedangkan Aldan sang adik bungsu sedang mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.
Prang..
Seketika Aldan tak sengaja menyenggol gelas berisi air putih yang ada di sampingnya terjatuh dan pecah di lantai.
Aldan seketika merasakan hal aneh dalam diri ketika melihat gelas itu jatuh dan pecah. Pikiran dan hati Aldan seketika tertuju pada ibunya.
"Mama. Kenapa tiba-tiba aku merasakan tak enak tentang Mama?"
Cklek..
Pintu dibuka oleh seseorang. Orang itu adalah Caleb.
Setelah pintu terbuka, Caleb bersama kedua kakaknya dan satu adiknya melangkah masuk ke dalam kamar adik bungsunya.
"Astaga, Aldan! Kamu kenapa? Apa yang terjadi?"
Aldan langsung melihat kearah kakak-kakaknya tatapan khawatir dan takut. Dan detik itu juga, air matanya mengalir membasahi pipinya.
Grep..
Rayyan langsung memeluk tubuh adik bungsunya. Dan dapat Rayyan rasakan bahwa tubuh adiknya yang bergetar hebat.
"Ada apa? Katakan pada kakak."
"Mama."
"Mama!" seru Rayyan, Kevin, Caleb dan Dzaky bersamaan.
"Apa kamu merindukan Mama dan Papa?" tanya Dzaky.
"Bukannya baru kemarin kita mengunjungi Mama dan Papa di penjara," ucap Caleb.
"Aku... Aku merasakan sesuatu yang sedang terjadi terhadap Mama, kak!"
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Rayyan.
"Aku... Aku merasakan bahwa Mama sedang terluka," jawab Aldan.
Deg..
Rayyan seketika terkejut ketika mendengar jawaban dari adiknya. Begitu juga dengan Kevin, Caleb dan Dzaky.
Setelah Aldan mengatakan hal tentang ibunya, tiba-tiba ponsel milik Rayyan berbunyi menandakan bahwa sebuah panggilan masuk.
Rayyan langsung mengambil ponselnya yang memang dia selalu bawa kemana pun dan dia simpan di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah ada di tangannya. Rayyan melihat nomor yang dia memang kenal dan hafal. Nomor itu adalah nomor salah satu anggota kepolisian.
__ADS_1
"Semoga tidak terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap Mama dan Papa. Dan semoga apa yang ditakutkan dan dirasakan oleh Aldan tidak terjadi," batin Rayyan penuh harap.
"Tuhan, lindungi kedua orang tuaku di dalam penjara sana."