Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Obrolan Razig Dan Ibunya


__ADS_3

Selesai makan malam, Darel langsung pergi menuju ruang tengah. Dirinya saat ini ingin mengerjakan beberapa tugas dari Dosennya.


Sedangkan para anggota keluarganya sudah berada di dalam kamar masing-masing. Dan ada juga di ruang kerjanya.


Setelah beberapa jam Darel mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, akhirnya semua tugas-tugas kuliahnya itu selesai.


"Ach, selesai juga!" seru Darel sambil merentangkan kedua tangannya keatas.


Darel tiba-tiba merasakan kantuk. Berulang kali dia menguap lebar.


"Ih, kok cepat banget ngantuk nya. Padahal baru pukul 8 malam," gumam Darel.


Darel berusaha untuk menghilangkan rasa kantuknya. Dia masih belum ingin tidur. Darel berencana malam ini akan bermain game CHINESE GHOST STORY bersama dengan kelima sahabatnya. Baik Darel maupun Samuel, Razig, Juan, Zelig dan Lucas sudah membuat janji akan bermain game CHINESE GHOST STORY sekitar pukul setengah sembilan malam setelah selesai mengerjakan semua tugas-tugas kuliahnya.


Darel bolak balik dari ruang tengah menuju dapur guna untuk mengambil minuman kesukaannya dan beberapa cemilan di dalam lemari.


Kini diatas meja sudah tersusun enam botol susu pisang kesukaannya yang sudah dalam keadaan kosong. Dan lima bungkus keripik kentang yang juga sudah dalam keadaan kosong.


"Aish! Kenapa ngantuk nya nggak hilang juga sih? Malah makin parah rasa ngantuk nya," ucap Darel kesal. "Ayolah, ngantuk! Kerja samanya dong! Gue mau main game nih. Jika gue nggak nongol. Gue bisa diamuk sama lima manusia jelek itu," ucap Darel sembari jari tangannya membuka lebar matanya.


Tanpa Darel ketahui, sejak tadi kedua orang tuanya, ke 12 kakak-kakaknya dan semua anggota keluarganya melihat dirinya. Mereka semua tersenyum gemas ketika melihat Darel yang berusaha melawan rasa kantuknya dan mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulutnya.


"Sampai segitunya Darel yang berusaha untuk menghilangkan rasa kantuknya agar bisa main game kesukaannya itu," sahut Dhafin.


"Begitulah Darel. Dia akan berusaha sekuat tenaganya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan," sahut Axel.


"Tapi aku kasihan lihat Darel. Coba lihat deh bagaimana Darel yang mati-matian menahan kantuknya," ucap Tristan.


"Apalagi aku. Aku nggak tega lihat Darel. Pengen deh nemenin dia. Tapi ntar ujung-ujungnya aku bakal jadi obat nyamuk karena Darel bakal fokus sama permainan game nya," ucap Gilang.


Mereka semua masih terus memperhatikan Darel tanpa ada niat untuk mereka menghampiri Darel di ruang tengah.


Mereka semua sepakat ingin melihat seberapa lama Darel akan tahan menahan rasa kantuknya itu. Apakah Darel berhasil melawan rasa kantuknya itu? Atau justru kalah sebelum berjuang?


"Yah, yah! Mata gue. Nggak... Nggak! Ayo, buka! Ayo, Rel! Jangan tidur... Jangan tidur!"


Dan detik kemudian...


Bruk..


Seketika Darel tertidur dengan tangannya sebagai alas kepalanya. Yah! Darel akhirnya kalah.


"Akhirnya!" seru para anggota keluarganya ketika melihat Darel yang sudah tertidur.


"Rasa kantuk mengalahkan segalanya!"

__ADS_1


Mereka semua tersenyum ketika melihat Darel yang gagal melawan rasa kantuknya.


Setelah puas memperhatikan Darel. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk menghampiri Darel yang sudah tertidur dengan posisi duduk dan kepala di tidurkan di atas pergelangan tangannya.


Arvind dan Adelina secara bergantian mengusap lembut kepala dan pipi putih putra bungsunya, lalu kemudian keduanya memberikan ciuman di pipi putih putranya.


"Sehat terus ya sayangnya Papa/Mama." Arvind dan Adelina berucap secara bersamaan.


Setelah selesai kedua orang tuanya bersama adik bungsunya. Davian beserta adik-adiknya mendekati adik bungsunya.


Sama seperti kedua orang tuanya. Davian dan ke 11 adik-adiknya secara bergantian mengusap lembut kepala dan pipi putih adiknya. Dan kemudian Davian dan ke 11 adik-adiknya secara bergantian memberikan ciuman di kening adik bungsunya.


"Apa tidak sebaiknya Darel dipindahkan ke kamarnya. Kasihan kalau Darel terlalu lama tidur disini!" William tiba-tiba berseru.


"Ya, Paman William. Kami akan membawa Darel ke kamarnya," sahut Elvan.


Setelah mengatakan itu, Elvan dibantu oleh Ghali dan Andre berlahan mengangkat tubuh Darel lalu meletakkannya di atas punggung Davian yang saat ini sudah dalam posisi jongkok.


Setelah tubuh Darel di atas punggung Davian. Berlahan Davian berdiri agar adiknya tidak bangun. Kemudian Davian membawa adiknya ke kamarnya yang berada di lantai dua, diikuti oleh semua adik-adiknya yang lain.


***


Keesokan paginya di kediaman Charlez terlihat sepasang suami istri sudah dalam keadaan rapi. Mereka adalah Marcio Charlez, adik laki-laki pertama dari Lucio Charlez dan Esmee Charlez.


Sementara untuk kedua putranya masih berada di dalam kamar masing-masing.


"Terima kasih sayangku."


"Minumlah dulu tehmu. Aku mau ke kamar anak-anak untuk membangunkan mereka," ucap Esmee.


"Usahakan Razig ikut sarapan pagi sayang. Semalam dia tidak ikut makan malam!"


"Baiklah!"


^^^


Esmee sudah berada di kamar putra bungsunya. Dia tersenyum ketika memandangi wajah tampan putranya itu, walau sedikit terlihat lebam di pipi kiri putranya itu.


Esmee kemudian menyentuh bekas lemban itu, kemudian mengusapnya lembut.


Tes..


Seketika air mata Esmee mengalir membasahi wajah cantiknya. Dirinya menangis karena bahagia memiliki putra-putra yang baik, putra-putra yang penyayang, putra-putra yang kompak dan putra-putra yang selalu menjaga kehormatan keluarganya.


"Mami sayang kamu. Mami bangga punya kamu dan kakak Maico di dalam kehidupan Mami. Kalian berdua harta Mami."

__ADS_1


Esmee berbicara sembari tangannya terus mengusap-usap bekas lebam di wajah putra bungsunya itu.


Merasakan sentuhan di wajahnya berlahan membuat Razig seketika membuka kedua matanya.


Setelah kedua matanya terbuka sempurna, Razig melihat ibunya yang sudah ada di hadapannya dengan menatap wajahnya.


"Mami," sapa Razig dengan suara seraknya.


Esmee tersenyum ketika mendengar sapaan dari putra bungsunya itu.


"Selamat pagi sayangnya Mami."


Berlahan Razig bangun dari tidurnya. Dan menduduki tubuhnya. Setelah itu, Razig menatap wajah cantik ibunya itu.


"Aku menyayangi Mami. Selamanya!"


Esmee tersenyum hangat ketika mendengar ucapan tulus dan indah yang keluar dari mulut putranya itu.


Tangannya kembali terangkat untuk memberikan usapan. Kali ini Esmee mengusap lembut kepala putranya sehingga memperlihatkan kening putih putranya itu. Kemudian Esmee memberikan ciuman disana.


"Mami sayang kamu. Mami bahagia punya kamu dan kakak kamu dalam kehidupan Mami. Terima kasih selama ini kamu sudah menjadi anak baiknya Mami, anak kebanggaannya Mami dan anak penurutnya Mami. Dan terima kasih sudah membela Mami dan Papi."


Razig seketika tersenyum ketika mendengar ucapan demi ucapan dari ibunya. Dirinya bahagia ketika mendengar bahwa ibunya itu bangga padanya.


"Itu sudah menjadi tugasku, Mi! Anak mana yang akan diam saja ketika mendengar orang tuanya dihina. Jika hanya satu kali, aku masih bisa terima. Tapi jika berulang kali, aku tidak akan diam lagi. Mami dan Papi adalah malaikat yang dikirim Tuhan untukku. Dan aku akan jaga kedua malaikat itu. Begitu juga dengan dengan kakak Maico. Kalian adalah hartaku."


Tes..


Esmee menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan yang begitu indah dari putra bungsunya. Hatinya hangat, nyaman dan damai ketika mendengar ucapan dari putranya.


Esmee kembali memberikan ciuman di kening putranya itu. "Apapun yang kamu lakukan. Selama itu positif dan tidak merugikan orang lain. Mami selalu mendukungmu."


"Terima kasih Mami."


"Ya, sudah! Sekarang kamu bangun lalu mandi. Kita sarapan pagi bersama. Papi kamu sudah menunggu di meja makan."


"Kalau kak Maico, bagaimana?"


"Habis dari kamar kamu ini Mami akan ke kamar kakak kamu itu."


"Baiklah."


Setelah itu, Rafig langsung turun dari tempat tidurnya. Kemudian melangkah menuju kamar mandi dan tak lupa menarik handuk yang dijemur di jemuran handuk yang berada di depan kamar mandinya.


Melihat putra bungsunya sudah masuk ke dalam kamar mandi. Esmee merapikan tempat tidur putranya itu.

__ADS_1


Setelah selesai merapikan tempat tidur putranya, Esmee pun pergi meninggalkan kamar putra bungsunya untuk menuju kamar putra sulungnya.


__ADS_2