Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Keusilan Darel Terhadap Evan Dan Raffa


__ADS_3

[KEDIAMAN Arvind Wilson]


[Ruang Tengah]


Arvind, Adelina dan para putra-putra tampannya sedang duduk santai di ruang tengah, kecuali Darel. Saat ini Darel masih berada di dalam kamarnya. Dirinya masih terlelap dalam tidurnya.


"Ini seperti mimpi. Aku tidak menyangka Darel sudah lulus dari sekolahnya dan besok adalah hari pertamanya Darel kuliah," Kata Axel.


"Bahkan Darel mendapatkan beasiswa kuliah di Amerika karena kepintarannya. Tapi Darel justru menolaknya. Darel lebih memilih kuliah di Kampus kak Alvaro dan kak Axel dulu," ucap Raffa.


"Tapi baguslah Darel menolaknya. Secara kakak belum rela Darel harus jauh-jauh dari pengawasan kita. Selama inikan Darel tidak pernah pergi sendirian. Kita selalu menemaninya saat Darel ingin keluar jalan-jalan. Bahkan kita secara bergantian menjemputnya dan mengantarnya ke sekolah. Kakak takut saja jika Darel menerima beasiswa itu. Apa yang akan dilakukan Darel di negara orang. Apalagi Darel saat ini hidup dengan satu ginjal," ucap Davian.


Mereka semua terdiam mendengar ucapan dari Davian. Diam-diam Arvind dan Adelina membenarkan apa yang diucapkan oleh putra sulungnya itu. Begitu juga dengan putra-putranya yang lain.


"Tapi kak Davian." Raffa berucap. Mereka semua melihat kearah Raffa, terutama Davian.


"Tapi apa, Raf?" tanya Davian.


"Darel itu sudah dewasa kak. Bagaimana pun kita semua harus memberikan kebebasan dan kepercayaan padanya. Buktinya aku dan Evan bisa melakukannya. Semenjak kita kuliah, kita pergi sendiri dan bahkan kita juga pernah pergi bersama. Kadang kita bawa mobil, kadang kita bawa motor," sahut Raffa.


"Aku tahu kekhawatiran kakak terhadap Darel. Disini bukan kakak saja yang khawatir akan kesehatan Darel. Kita semua juga merasakan hal sama seperti hyung. Kita semua ingin yang terbaik untuk Darel. Selama dua tahun belakangan ini Darel menjalani hari-harinya dengan baik. Dan kita juga tidak pernah melihat hal-hal aneh dari diri Darel atau pun mendengar keluhan-keluhan kesakitan dari mulut Darel. Bukankah itu sudah cukup untuk kita memberikan kepercayaan dan kebebasan untuk Darel." Evan ikut menyuarakan pendapatnya.


"Paling tidak kita memberikan hadiah terindah untuk Darel," sela Raffa.


"Papa setuju apa yang dikatakan oleh Raffa dan Evan. Kita harus memberikan kepercayaan dan kebebasan padanya. Bagaimana pun Darel berhak memiliki privasinya sendiri dimana kita tidak bisa masuk ke dalamnya. Tapi walaupun begitu kita akan tetap mengawasinya."


"Mama juga setuju. Lagian adik bungsu kalian itu sudah dewasa dan bukan bocah ingusan lagi. Dan adik kalian itu sekarang ini berstatus mahasiswa bukan pelajar lagi. Umurnya juga sudah 20 tahun. Jadi tidak ada salahnya kan kita memberikan kepercayaan dan kebebasan itu pada Darel. Mama yakin Darel pasti bisa."


"Hm. Baiklah." Davian langsung mengiyakan apa yang dikatakan oleh kedua adik dan kedua orang tuanya.


"Awasi dan jaga Darel selama Darel di kampus," kata Nevan.


"Pasti kakak Nevan. Di kampuskan bukan hanya ada aku dan Raffa saja. Di kampus itu juga ada sahabat-sahabatnya Darel. Ada Dylan, ada Rendra, ada Melvin, ada Aldan. Aku yakin mereka juga akan ikut menjaga Darel," kata Evan.


Mereka semua pun mengangguk setuju atas perkataan Evan. Untuk saat ini mereka sedikit lega.


Saat mereka sedang fokus membahas masalah kesayangan mereka. Tiba-tiba salah satu pelayan datang.


"Maaf Nyonya, Tuan. Sarapan paginya sudah selesai dan sudah ditata di meja."


"Ach. Baiklah, Bi!"


"Ya, sudah. Kita sarapan dulu,"" kata Arvind.


"Aku akan membangun Darel!" seru Ghali.


Ghali pun langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar adik kesayangannya itu.


^^^


[Kamar Darel]


Darel saat ini telah selesai membersihkan dirinya. Kini Darel sedang memakai kaos putih lengan pendeknya sambil berdiri didepan cermin. Tanpa Darel sadari seseorang membuka pintu kamarnya

__ADS_1


CKLEK!!


Saat pintu kamar tersebut terbuka, orang itu melangkah masuk. Lalu matanya melihat kearah Darel. Terukir senyuman manis di bibirnya.


"Sudah. Jangan lama-lama berdiri di depan cermin. Nanti cerminnya bisa pecah loh. Adiknya kakak udah ganteng kok," ucap orang itu menjahili adiknya.


Darel yang mendengar hal itu sukses terkejut. Tanpa membalikkan badannya, Darel sudah tahu siapa yang sudah mengganggunya. "Aish, kak Ghali. Kakak mengganggu saja. Ngapain sih?"


Ghali hanya tersenyum mendengar protesan dari adik bungsunya itu. Lalu kakinya melangkah mendekati sang adik.


Setelah berada disamping adiknya, kemudian tangannya bermain-main di kepala belakang adiknya itu. Mengelus-elusnya dengan lembut.


"Kakak kesini ingin melihat wajah tampan adik kakak ini. Sehari saja kakak tidak melihatnya, serasa seribu tahu lamanya," goda Ghali.


Darel mengalihkan pandangannya melihat kearah kakak ketiganya itu. "Sejak kapan kakak jadi lebai begini? Kita ini tinggal di dalam satu rumah. Dan lagian kakak tidak bertemu denganku sejak pukul sembilan malam hingga sekarang ini. Jadi mana ada satu hari," ucap Darel dengan bibir yang dimanyunkan.


"Hehehe. Oke.. Oke. Kakak kesini mau ngajak Darel sarapan. Semuanya udah nungguin di meja makan."


"Hm. Baiklah. Ayo, kita kebawa!"


Lalu Darel dan Ghali pun pergi meninggalkan kamar Darel untuk menuju lantai bawah.


^^^


[Meja Makan]


Kini mereka semua telah berkumpul di meja makan. Dan mereka semua pun memutuskan untuk memulai sarapannya.


"Bagaimana tidur kamu sayang?" tanya Arvind kepada putra bungsunya.


"Mama senang lihat kamu yang sekarang," ucap Adelina.


"Jadi selama ini Mama tidak senang liat aku?" tanya Darel dengan wajah sedih dan kedua pipi yang menggembung.


"Bukan.. Bukan begitu sayang." Adelina jadi kelabakan saat mendengar penuturan dari putra bungsunya. Apalagi saat melihat wajah sedih putranya itu. "Maksud Mama itu, Mama senang dan bahagia melihat kamu yang sekarang ini. Kamu makin dewasa. Ditambah lagi besok kamu sudah mulai masuk kuliah. Berarti kamu berstatus mahasiswa bukan pelajar lagi." Adelina berucap sambil tersenyum hangat pada putra bungsunya itu.


"Terima kasih, Ma! Ini juga berkat Mama, Papa dan kakak-kakak semua. Selama ini kalian selalu ada untukku, selalu memanjakanku, selalu menyayangiku, selalu peduli dan selalu perhatian padaku. I love you. You have the most beautiful treasure for me." Darel berucap dengan disertai senyuman tulusnya.


Mereka yang mendengar ucapan sayang dari Darel tersenyum bahagia. "I love you to. You are the light of happiness in this family." Mereka semua berucap secara bersamaan.


"Besok kamu udah kuliah tuh. Bagaimana? Bahagia tidak?" tanya Nevan.


"Ada bahagianya dan ada sedihnya juga," jawab Darel.


"Loh. Kok begitu?" tanya para kakak-kakaknya kompak. Mereka semua penasaran dengan jawaban dari sibungsu mereka.


"Setahu kakak. Biasanya seseorang yang akan masuk kuliah itu pasti merasakan kebahagiaan. Dan tidak ada yang namanya sedih," kata Alvaro dan diangguki oleh Axel.


"Itu benar," sela Axel.


"Kan itu mereka. Yang sekarang inikan aku, Darel Wilson! Kalian kan bertanya padaku," ucap Darel.


"Hah." mereka dengan kompak menghela nafas masing-masing mendengar jawaban dari kesayangan mereka itu.

__ADS_1


"Oke.. Oke!! Katakan kenapa kamu bisa mengatakan ada bahagianya dan ada sedihnya? Memangnya kenapa?" tanya Davian menyerah dan mengalah.


"Aku sangat bahagia akhirnya aku bisa kuliah di kampus tempat kak Alvaro dan kak Axel kuliah dulu. Dan sedihnya adalah........" Darel sengaja menghentikan ucapannya. Kini tatapan matanya tertuju pada Evan dan Raffa.


Evan dan Raffa yang ditatap oleh adik nakal kesayangan mereka itu sedikit menaruh curiga. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka juga melihat kearah tatapan mata Darel.


"Van. Perasaanku tidak ena," bisik Raffa di telinga Evan.


"Bukan kau saja. Aku juga," balas Evan berbisik.


Darel kembali fokus pada sarapannya. "Sedihnya aku harus satu Kampus dengan kak Evan dan kak Raffa."


Evan dan Raffa sontak membelalakkan kedua mata mereka saat mendengar ucapan dari Darel.


"Yak, Darel! Memangnya kenapa kalau ada kami disana?" tanya Evan yang masih menatap tajam kearah adiknya itu.


"Aku malu. Nanti teman-teman aku di kampus semuanya pada mengejekku," jawab Darel yang memperlihatkan wajah sedihnya.


"Kenapa kamu harus malu? Dan kenapa juga mereka harus mengejek kamu?" tanya Raffa kesal dan juga bingung.


"Eeemmm." Darel memanyunkan bibirnya. Hal itu sukses membuat mereka semua tersenyum melihatnya.


"Memangnya kenapa sayang? Kakak Evan dan kakak Raffa kan kakak-kakaknya kamu. Jadi kenapa kamu harus malu dan kenapa kamu bisa mengatakan bahwa teman-teman kamu akan mengejek kamu?" ucap dan tanya Adelina lembut.


Darel melirik sekilas kearah Evan dan Raffa. Lalu kembali berucap. "Karena kak Evan dan kak Raffa itu aneh."


"Yak!" teriak Evan dan Raffa bersamaan.


Sedangkan Arvind, Adelina, Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro dan Axel berusaha untuk tidak tertawa. Mereka semua tidak ingin membuat Evan dan Raffa bertambah kesal. Sekarang saja keduanya sudah benar-benar kesal akan ulah adik mereka.


"Memangnya aneh kenapa sih, hem? Kalau Papa lihat-lihat kedua kakak kamu itu wajahnya sangat tampan kok. Kalau mereka mau, mereka bisa mendapatkan seribu wanita cantik untuk mereka jadikan kekasih." Arvind berucap sambil memuji kedua putranya itu di depan putra bungsunya.


"Hm." Evan dan Raffa berdehem sembari menganggukkan kepalanya bangga.


"Papa tidak salah lihat? Coba dech Papa lihat baik-baik wajah mereka. Wajah kakak Evan memang tampan. Tapi.. tapi.. tapi tubuhnya pendek. Nah, sedangkan kakak Raffa lihatlah. Gak ada tampan-tampannya sama sekali. Wajahnya saja kayak alien yang berasal dari planet mars." Darel berucap seenak jidatnya tanpa rasa bersalah dan tanpa beban sama sekali.


Mendengar penuturan dari Darel membuat Evan dan Raffa melotot. Bagaimana dengan yang lainnya. Mereka semua justru tertawa. Mereka sudah tidak bisa menahannya lagi


"Hahahaha.."


Saat Evan dan Raffa hendak mengajukan protes. Darel sudah terlebih dahulu bertindak. "Kalau kakak berdua ingin marah atau mengajukan protes padaku, maka selama lima bulan aku bakal mengabaikan kakak berdua. Baik di rumah mau pun di kampus," sahut Darel dengan menatap kedua wajah kakaknya itu. Dan tak lupa senyuman manis di bibirnya.


Mendengar perkataan sekaligus ancaman dari adiknya. Hal itu sukses membuat Evan dan Raffa mengatup mulut mereka masing-masing dan mengurungkan niat mereka untuk memarahi atau pun protes pada adik kesayangan mereka yang menyebalkan saat ini. Mereka lebih memilih mengalah dari pada adik kesayangan mereka mengabaikan mereka selama lima bulan.


Melihat kedua kakaknya tak berkutik dan patuh begitu saja membuat Darel tersenyum lebar sehingga terlihat dua gigi besarnya itu. Darel tersenyum bak seekor anak kelinci yang manis di depan mereka. Mereka yang melihatnya memekik gemas.


"Sabar Evan, Raffa!" ucap Daffa.


"Orang sabar itu disayang Tuhan," ucap Vano.


"Untung sayang. Kalau tidak, sudah kutendang sikelinci buntel ini ke sungai Amazon," batin Raffa.


"Untung saja sikelinci buluk ini terlahir sebagai adik kesayanganku. Kalau tidak sudah kubuat sate tubuh bongsornya itu," batin Evan

__ADS_1


Arvind dan Adelina hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat ketiga maknae line mereka.


__ADS_2