
Di kediaman keluarga Wilson dimana anggota keluarga masih berada di ruang tengah. Mereka mengobrol banyak hal dan sesekali membahas masalah yang dihadapi Darel dan sahabat-sahabatnya.
Darel yang saat ini berada di dalam kamarnya terbangun akibat terganggu bunyi ponselnya. Berlahan dia menduduki tubuhnya bersamaan pandangan matanya menatap kearah dimana ponselnya berada.
Setelah tubuhnya dalam keadaan duduk Darel meraih ponselnya itu. Dirinya penasaran siapa yang mengganggu waktu istirahatnya.
"Lucky," ucap Darel pelan.
Setelah itu, Darel langsung menjawab panggilan dari Lucky. Dia ingin segera tahu apa yang akan disampaikan oleh Lucky padanya
"Hallo, Lucky."
"Hallo, Bos! Saya ingin menyampaikan sesuatu mengenai nyonya Agatha."
Deg..
Seketika perasaan Darel menjadi tak enak. Dirinya berubah menjadi takut. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Dan apa yang terjadi terhadap Agatha? Itulah yang dipikirkan oleh Darel.
"Apa yang terjadi?"
"Begini, Bos. Nyonya Agatha dilarikan ke rumah sakit beberapa jam yang lalu."
Seketika Darel berdiri dari tempat tidurnya bersamaan dengan teriakannya sehingga teriakannya itu terdengar oleh semua anggota keluarganya.
"Eh, itu Darel kenapa?" tanya Daksa.
Dan pada akhirnya semuanya berlari meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar Darel yang berada di lantai dua. Mereka semua mengkhawatirkan Darel terutama Arvind, Nashita dan putra-putranya.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Bibi Agatha bisa dilarikan ke rumah sakit?"
"Dari laporan salah satu anggotaku mengatakan bahwa nyonya Agatha dapat perlakuan buruk dari tahanan wanita yang satu sel dengan nyonya Agatha. Permasalahan tersebut timbul karena nyonya Agatha tidak mau menuruti perintah rekan-rekan satu sel nya itu sehingga membuat mereka menyakiti nyonya Agatha."
"Brengsek! Sudah menjadi Napi bukannya tobat. Ini malah makin menjadi-jadi. Justru malah sok menjadi penguasa di dalam penjara," ucap Darel dengan nada kesal.
Tanpa Darel dasar, semua anggota keluarganya sudah berada di dalam kamarnya. Mereka terkejut ketika mendengar ucapan dari Darel. Mereka penasaran apa yang terjadi dengan Agatha.
"Bagaimana dengan Paman Mathew? Apa Paman Mathew sudah tahu bahwa istrinya di larikan ke rumah sakit?"
__ADS_1
"Sudah, Bos. Dan saat ini tuan Mathew dikawal beberapa anggota kepolisian menuju rumah sakit."
"Lalu bagaimana dengan kak Rayyan, kak Kevin, kak Caleb, kak Dzaky dan kak Aldan? Apa mereka sudah tahu?"
"Mungkin juga sudah Bos! Salah satu anggota polisi yang biasa menghubungi tuan Rayyan sudah menghubungi tuan Rayyan."
"Baiklah. Terima kasih. Ach, iya! Satu lagi. Usut masalah tersebut. Pasti para tahanan wanita itu mendapatkan hukuman mati jika nyawa Bibi Agatha tidak selamat. Jika bibi Agatha dinyatakan koma, buat para tahanan wanita itu mendapatkan hukuman seumur hidup di penjara."
"Baik, Bos!"
Setelah selesai berbicara dengan Lucky. Darel langsung mematikan panggilannya. Seketika Darel menangis memikirkan kondisi Agatha dan kelima kakak sepupunya.
"Kenapa Bibi Agatha mendapatkan hukuman seperti ini? Aku sudah mati-matian merubah hukuman untuk bibi Agatha dan Paman Mathew agar mereka bisa terus bertemu dengan kelima putranya. Tapi kenapa para tahanan wanita itu menyakiti Bibi Agatha hanya karena Bibi Agatha tidak mau menuruti perintah mereka?"
"Mereka benar-benar biadab. Bukannya berubah agar bisa mendapatkan hukuman ringan atau mendapatkan kebebasan. Ini malah makin menjadi-jadi dengan menyakiti rekan satu sel nya."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darel membuat mereka semua merasakan sesak di dadanya. Mereka semua bahkan menyumpahi para tahanan wanita itu yang sudah menyakiti Agatha. Bagi mereka semua, dengan mereka menyakiti Agatha. Berarti mereka juga menyakiti kesayangannya.
Arvind dan Adelina berlahan mendekati putra bungsunya itu dan diikuti oleh semuanya. Mereka sudah tidak tahan melihat keadaan Darel saat ini.
Puk..
Darel langsung melihat kearah ayahnya dengan wajah sedihnya. Dan jangan lupa air mata yang tanpa diminta sudah meluncur keluar.
"Papa." Darel seketika menundukkan kepalanya. Darel berpikir bahwa ayahnya dan semua anggota keluarganya belum mengetahui masalah Agatha dan Mathew.
Sementara Arvind seketika langsung paham melihat putranya langsung menunduk dan tak berani menatap dirinya. Baik Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga lainnya meyakini bahwa Darel saat ini sedang ketakutan karena masalah Agatha dan Mathew.
"Sayang, lihat Papa!"
"Maafkan aku. Maaf, karena aku merahasiakan hal ini... Hiks. Paman Mathew dan Bibi Agatha... Hiks....." ucap Darel disela isakannya.
Grep..
Arvind langsung memeluk tubuh putranya. Dirinya tidak kuat mendengar ucapan dan isakan putranya itu.
"Papa... Hiks... Maafkan aku."
__ADS_1
Arvind tersenyum gemas mendengar ucapan maaf serta isak tangis putra bungsunya. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lainnya.
"Hiks... Papa!"
"Papa tidak akan marah sama kamu. Papa tidak akan pernah sedikit pun untuk memarahi kamu. Seperti yang sudah pernah Papa katakan padamu. Apapun yang kamu lakukan. Apapun yang kamu perbuat diluar sana. Selama semuanya itu tidak merugikan orang lain, tidak mengusik orang lain, tidak menyakiti orang lain. Justru apa yang kamu lakukan itu membuat semua orang bahagia. Papa akan mendukungmu sepenuhnya. Bahkan Papa akan berada di depan untuk membela kamu jika ada orang yang tidak menyukai kamu dan hendak menyakiti kamu."
Mendengar ucapan demi ucapan tulus dari ayahnya membuat Darel seketika tersenyum. Kemudian Darel melepaskan pelukannya dan menatap wajah ayahnya.
"Masalah Paman Mathew dan Bibi Agatha. Papa, Mama kamu, kakak-kakak kamu dan semua anggota keluarga Wilson sudah tahu kalau mereka dihukum seumur hidup bukan hukuman mati. Dan kamu yang merubah hukuman itu."
Darel seketika membelalakkan matanya tak percaya ketika mendengar ucapan dari ayahnya. Sementara Arvind tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Ja-jadi Papa....?"
"Iya, sayang. Papa dan kita semua sudah tahu." Arvind berucap sembari tangannya mengusap lembut kepala putranya. "Papa bangga sama kamu. Tidak ada alasan Papa untuk marah sama kamu atas apa yang kamu lakukan itu. Justru hal itu membuat Papa bahagia karena putra bungsu Papa memiliki hati seperti malaikat. Dia dengan mudah memaafkan orang yang sudah membuat hidupnya menderita dan berulang kali kehilangan nyawanya."
Grep..
"Aku sayang Papa. Terima kasih karena Papa selalu ngerti aku," ucap Darel di dalam pelukan ayahnya.
"Selamanya Papa akan selalu ngertiin kamu. Dan akan selalu ada untuk kamu setiap menghadapi masalah."
Arvind melepaskan pelukan putranya. Dirinya ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Agatha sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.
"Sekarang katakan pada Papa. Kenapa dengan Bibi Agatha?"
"Rekan-rekan satu sel Bibi Agatha menyakiti Bibi Agatha sampai tak sadarkan diri. Mereka marah karena Bibi Agatha tidak mau mematuhi perintahnya."
"Dasar keji mereka semua," ucap Farraz.
"Benar apa yang dikatakan Darel. Bukannya mereka berubah agar mendapatkan hukuman ringan atau kebebasan. Ini malah menambah hukuman. Dasar otak bodoh!" Dylan berucap kesal.
"Mereka bukan bodoh. Mereka itu nggak punya otak. Jika orang yang nggak punya otak berakhir nggak bisa mikir," celetuk Melvin.
"Sudah terbukti sekarang. Ingin syok menjadi penguasa di dalam penjara berujung penderitaan dengan bertambahnya masa tahanan," sela Rendra.
Mendengar ucapan dari Dylan, Rendra dan Melvin membuat mereka semua tersenyum.
__ADS_1
"Sudah, sudah! Lebih baik kita semua ke rumah sakit sekarang. Siapa tahu Rayyan dan keempat adiknya sudah disana. Kasihan mereka. Mereka butuh kita," ucap Sandy.
"Hm." mereka semua berdehem sembari menundukkan kepalanya.