Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S3. Amnesia


__ADS_3

LIMA HARI KEMUDIAN..


Sudah lima hari Darel dinyatakan koma. Dan sudah lima hari juga Darel masih setia menutup mata bulatnya itu. Darel masih enggan untuk membuka kedua matanya itu.


Selama lima hari Darel koma semua anggota keluarga besarnya, baik dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya serta keempat belas sahabat-sahabatnya selalu setia menemaninya di rumah sakit. Bahkan anggota keluarga dari keempat belas sahabat-sahabatnya itu juga ikut datang berkunjung mengunjunginya.


Kini di dalam ruang rawat Darel tampak ramai dimana Arvind, Adelina, putra-putranya, anggota keluarga Wilson dan anggota keluarga Johnson serta keempat belas sahabat-sahabatnya kembali datang mengunjunginya. Mereka semua berharap mata bulat itu segera terbuka.


"Sayang, ini mama! Kapan kamu akan membuka matamu, Nak?" Adelina menangis ketika mengatakan itu bersamaan tangannya mengusap lembut pipi putihnya.


"Papa juga disini, Sayang! Setiap hari papa datang mengunjungimu. Kapan bangun, Sayang?" Arvind tak kalah menangis ketika melihat putra bungsunya tak kunjung membuka kedua matanya.


"Darel sayang!" seru Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa bersamaan. Mereka juga menangis melihat adik kesayangannya yang belum mau membuka kedua matanya.


"Rel," ucap lirih keempat belas sahabat-sahabatnya.


Beberapa detik kemudian..


Adelina yang saat ini menggenggam tangan putra bungsunya seketika terkejut karena merasakan tangannya digenggam oleh putra bungsunya itu.


"Sayang," ucap Adelina dengan tatapan matanya menatap wajah tampan dan sedikit pucat putranya itu.


"Sayang, ada apa?" tanya Arvind kepada istrinya.


"Barusan putra bungsu kita menggenggam tanganku," jawab Adelina dengan senyuman bahagianya.


Mendengar jawaban dari Adelina membuat Arvind seketika tersenyum. Tangannya mengusap-usap lembut kepala putra bungsunya itu. Dan tak lupa membubuhi dengan satu ciuman di keningnya.


Bukan hanya Arvind saja yang tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan Adelina, melainkan putra-putranya, anggota keluarganya dan para sahabat putra bungsunya juga ikut tersenyum bahagia.


"Sayang, ini papa. Buka dong matanya."


Berlahan Darel membuka kedua matanya. Dan hal itu membuat semua orang yang ada di dalam ruang rawat Darel tersenyum bahagia. Bahkan mereka sampai meneteskan air matanya.


"Sayang!"


"Darel!"


Mereka berucap bersamaan dengan penuh kebahagiaan. Tatapan mata mereka begitu berbinar-binar ketika melihat Darel yang membuka kedua matanya.


Arvind dan Adelina secara bersamaan mencium pipi dan kening putra bungsunya. Mereka begitu bahagia ketika melihat kedua mata putranya itu kembali terbuka.


Sementara Darel menatap keduanya dengan tatapan bingung. Kemudian Darel melihat kearah orang-orang yang berada di sekelilingnya yang kini tengah menatap dirinya.

__ADS_1


"Sayang, mama bahagia akhirnya kamu membuka mata kamu."


"Papa juga bahagia, Sayang!"


Darel menatap wajah Adelina dan Arvind secara bergantian yang kini menatap dirinya dengan senyuman manis di bibirnya.


"Ka-kalian siapa?"


Itulah kata yang keluar dari mulut Darel untuk pertama kalinya setelah koma selama lima hari.


Deg..


Seketika semuanya terdiam dan tubuhnya membeku di tempat ketika mendengar ucapan dari Darel.


Arvind dan Adelina seketika menangis ketika mendengar pertanyaan dari putra bungsunya. Putranya itu tidak mengenalinya.


"Sayang, ini mama."


"Ini papa, Nak!"


"Ma-maaf. Aku tidak mengenali kalian." Darel berucap lirih.


Adelina seketika menutup mulutnya tak percaya. Tubuhnya seketika terhuyung ke belakang dan disertai air matanya yang berlomba-lomba keluar membasahi pipinya.


"Kak," ucap Salma yang bersamaan menahan tubuh kakak perempuannya.


"Rel, ini kakak. Kakak Davian," ucap Davian dengan tangannya mengusap lembut kepala adiknya itu.


"Ini kita, Sayang!' seru Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga bersamaan.


Darel menatap wajah kedua belas pemuda-pemuda tampan yang berdiri di samping kiri dan kanan tempat tidurnya. Dapat Darel lihat semua pemuda-pemuda itu menangis menatap dirinya. Bahkan Darel juga melihat semua orang yang ada di hadapannya dan juga di sekitarnya dalam keadaan menangis.


"Rel, ini kakak!" Raffa berucap lirih.


"Ma-maaf, aku benar-benar tidak mengenali kalian."


Setelah mengatakan itu, tiba-tiba kepala Darel terasa sakit sehingga membuat Darel mengerang dan meremat rambutnya.


"Aakkhh!"


Semuanya terkejut, khawatir dan ketakutan ketika mendengar erangan kesakitan Darel. Ditambah lagi Darel yang meremat kuat rambutnya.


"Sayang!"

__ADS_1


"Darel!"


Sandy yang berdiri tak jauh dari ranjang Darel langsung menekan tombol merah secara brutal. Air matanya mengalir membasahi pipinya ketika mendengar erangan kesakitan keponakan manisnya.


Beberapa detik kemudian..


Cklek..


Seketika terdengar suara pintu dibuka.


Setelah pintu tersebut terbuka, masuklah Dokter dan dua perawat ke dalam ruang rawat Darel.


"Fayyadh, putraku!" Arvind berucap lirih.


Fayyadh tersenyum menatap wajah Arvind bersamaan tangannya menepuk pelan bahu sahabatnya itu.


"Aku akan periksa putramu. Lebih baik kau dan yang lainnya menunggu diluar."


"Ach, baiklah!"


Setelah itu, Arvind serta yang lainnya pun keluar dari ruang rawat Darel dan menunggu diluar dengan perasaan takut.


Cklek..


Pintu kembali dibuka. Kali ini dari dalam ruangan rawat Darel.


Arvind dan semua orang-orang yang menunggu diluar langsung melihat keasal suara tersebut.


"Bagaimana Fayyadh?" tanya Arvind.


"Kondisi putra bungsumu tak baik-baik saja, Arvind. Dengan kata lain putra bungsumu mengalami Amnesia. Amnesia yang diderita oleh putra bungsumu akibat benturan keras di kepalanya belakangnya saat kecelakaan tersebut."


Deg..


Seketika tubuh Arvind terhuyung ke belakang bersamaan dengan air matanya mengalir membasahi pipinya ketika mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Fayyadh mengenai kondisi putra bungsunya.


Bukan hanya Arvind saja yang merasakan kesedihan mendalam ketika mendengar penjelasan dari Fayyadh mengenai kondisi Darel. Adelina, putra-putranya, anggota keluarga Wilson lainnya, keempat belas sahabat-sahabatnya Darel beserta anggota keluarganya juga terkejut dan syok.


"Berapa lama adikku akan sembuh dan kembali mengingat kami keluarganya, Paman?" tanya Davian.


"Paman tidak bisa memprediksi kapan adikmu itu akan sembuh dari Amnesia nya. Namun kau tidak perlu khawatir. Amnesia adikmu itu hanya sementara. Bukan permanen. Adikmu akan kembali mengingat dirimu dan semua orang terdekatnya."


"Apa yang harus kami lakukan untuk mengembalikan ingatan adik kami, Paman?" tanya Axel.

__ADS_1


"Kalian cukup ajak adik bungsu kalian berbicara dengan cara kalian mengulang kembali masa-masa kalian kecil dulu. Tapi jangan terlalu dipaksakan. Jika adik kalian merasakan pusing, kalian harus berhenti."


"Baiklah, Paman! Kami mengerti!" Davian dan adik-adiknya berucap bersamaan.


__ADS_2