
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Semua anggota keluarga sudah berada di ruang tengah. Sementara Darel masih tertidur lelap di kamarnya.
Setelah kemarin seharian penuh menghabiskan waktu bersama dengan sahabat-sahabat di markas RED BULL. Darel dan sahabat-sahabat itu berkumpul di sana dan menghabiskan waktu sampai malam. Dan sekita pukul 9 malam mereka semua pun memutuskan untuk pulang.
Kenzo dan Gavin ikut merasakan kebahagiaan ketika melihat Darel yang sudah diperbolehkan untuk membawa kendaraan sendiri. Tapi lagi-lagi mereka bertiga kembali bersedih disaat mereka mengingat kelima sahabatnya yang telah pergi.
Darel, Kenzo dan Gavin bersedih karena kelima sahabatnya itu tidak bisa menyaksikan Darel yang sudah diperbolehkan untuk membawa kendaraan sendiri. Keinginan Darel terpenuhi ketika kelima telah pergi.
"Kak Adelina. Aku senang dan bahagia sekali melihat perubahan Darel saat ini!" seru Salma.
"Ya, Salma! Kakak juga bahagia melihat perubahan putra bungsuku," ucap Adelina.
"Kembalinya Kenzo dan Gavin. Ditambah lima sahabat barunya dan kedua sepupunya Kenzo dan Gavin membuat hidup Darel sempurna!" seru Sandy.
"Iya. Putra bungsuku kembali tersenyum seperti dulu. Tapi..." Arvind tiba-tiba menghentikan ucapannya. Mereka semua menatap wajah Arvind.
"Tapi apa, Kak Arvind?" tanya Evita.
Arvind menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. "Aku takut jika Darel mengetahui tentang lima sahabatnya yang sebenarnya masih hidup dan belum meninggal. Dan kelima sahabatnya itu berada di rumah sakit Amerika dalam keadaan koma."
Mendengar ucapan dari Arvind mereka semua terdiam. Bukan hanya Arvind saja yang takut jika Darel mengetahui fakta bahwa kelima sahabatnya itu masih hidup dan sedang koma di rumah sakit Amerika. Mereka juga merasakan ketakutan yang sama seperti Arvind. Jika Darel tahu akan hal itu. Sudah di pastikan Darel akan sangat-sangat kecewa dengan mereka semua.
"Jika Darel tahu kita selama ini membohonginya. Maka Darel akan benar-benar kecewa dengan kita," ucap Alvaro.
"Selama ini kita meminta Darel berkata jujur kepada kita. Tapi justru kita malah berbohong kepadanya. Apalagi ini menyangkut kelima sahabatnya," ucap Axel.
__ADS_1
Mereka semua diam dan sedang berpikir. Mereka memikirkan untuk mencari kata yang pas untuk mereka sampaikan kepada Darel jika sewaktu-waktu Darel mengetahui fakta tersebut.
***
Seminggu semenjak kematian Lian membuat seluruh anggota keluarga Jevera belum menerima semuanya terutama ibunya. Ibunya Lian tidak terima akan kematian putra bungsunya. Dirinya benar-benar dan mengutuk orang yang sudah membunuh putranya. Tak jauh beda dengan keluarga Moxa, keluarga dari pihak ibunya Lian.
"Aku tidak terima putra bungsunya meninggal dengan cara seperti ini," sahut ibunya Lian.
"Terus kamu maunya apa sayang?" tanya ayahnya Lian Jevera kepada istrinya.
"Setidaknya kita harus membalaskan rasa sakit yang kita rasakan saat ini," jawab Ibunya Lian.
"Jadi maksud Mama. Kita harus membunuh si pelaku yang sudah membunuh Lian. Begitu?" tanya Kakak kedua Lian.
"Iya. Nyawa dibayar nyawa. Kita sudah kehilangan Lian. Berarti mereka juga harus kehilangan salah satu anggota keluarga mereka," jawab ibunya Lian.
"Kalau itu yang Mama mau. Maka kita semua akan pergi menyusul Lian sehingga tidak akan ada yang tersisa dari kita," ucap Kakak pertama Lian.
Mendengar ucapan dari putra pertamnya membuat wanita itu diam. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa yang dikatakan oleh putra pertama kita itu benar sayang? Disini putra kita yang bersalah. Disini putra kita yang sudah bertindak jauh dan sudah banyak melakukan hal-hal buruk diluar sana. Ini semua tak lepas dari kita orang tuanya. Kita selama ini terlalu sibuk dengan pekerjaan tanpa ada waktu untuk putra bungsu kita." ayahnya Lian berucap sambil berusaha menenangkan dan bujuk istrinya.
"Kau tidak lupakan apa penyebab putra kita disuruh pergi meninggalkan negara Jerman? Kau tidak lupakan apa yang dilakukan oleh Lian tiga tahun yang lalu di sekolahnya yang lama? Sayang, Lian sudah banyak menyakiti teman-temannya. Apa yang dilakukan Lian itu sudah sangat keterlaluan. Mereka masih berbaik hati kepada Lian dan meminta pihak sekolah untuk menyuruh Lian meninggalkan negara Jerman. Jika tidak begitu, Lian pasti akan dihukum selama 25 tahun di dalam penjara."
"Ketika Lian meminta kepada kita untuk balik ke Jerman. Dengan senang hati kita menuruti keinginannya. Saat itu Lian berjanji kepada kita kalau dia akan berubah menjadi orang baik dan tidak akan menyakiti orang-orang lagi ketika kembali ke Jerman. Dan kita percaya!"
__ADS_1
"Tapi nyatanya kita kembali kecolongan. Lian tidak benar-benar berubah. Lian telah berbohong kepada kita."
Mendengar perkataan Ayahnya/Suaminya membuat istri dan kedua putranya terkejut. Mereka terkejut akan perkataan ayahnya/suaminya.
"Maksud Papa apa?" tanya Kakak pertama Lian.
"Dua hari Lian berada di Jerman. Lian langsung bertindak. Lian bergabung dengan sebuah kelompok yang dibilang selalu mencari keributan di tengah jalan. Kelompok itu selalu melakukan kekerasan dan tak segan-segan menyakiti orang yang tak bersalah. Dan saat Lian memulai aksinya bersama kelompok itu Lian bertemu dengan ketujuh sahabatnya dari Darel Wilson. Kalian masih ingatkan dengan Darel Wilson?"
Baik ibunya dan kedua kakaknya Lian mengangguk. Mereka masih ingat dengan murid yang bernama Darel Wilson.
"Apa yang terjadi, Pa?" tanya Kakak kedua Lian.
"Lian membawa kelompok itu untuk menyerang ketujuh sahabatnya Darel. Kebetulan ketujuh sahabatnya Darel itu baru keluar dari sebuah pertokoan. Ketika mereka sampai di luar. Lian dan kelompok itu menyerang ketujuh sahabatnya Darel. Dan pada akhirnya terjadilah perkelahian itu. Dikarenakan kelompok Lian banyak yang menggunakan senjata tajam. Mau tidak mau ketujuh sahabatnya Darel memutuskan untuk pergi meninggalkan Lian dan kelompoknya."
"Ketujuh sahabatnya Darel berhasil meloloskan diri dari Lian dan kelompoknya. Namun sayangnya, mobil yang mereka tumpangi mengalami pecah ban sehingga mobil mereka oleng dan berulang kali hampir terbalik. Ketika dijalan yang penuh liku dan mobil hendak berbelok, tiba-tiba mobil mereka terbalik dan menghantam pembatas jalan. Dari kejadian itu, dua dari mereka terlempar keluar. Sementara limanya langsung tak sadarkan diri di dalam mobil."
Mendengar cerita dari ayahnya/suaminya membuat mereka terkejut. Mereka tidak menyangka jika Lian tega melakukan hal itu.
"Papa tahu dari mana masalah itu?" tanya kakak kedua Lian.
"Dari anak buah Papa. Papa memberikan tugas kepada empat anak buah Papa untuk mengawasi dan memata-matai Lian selama berada di luar rumah. Apa yang dilakukan oleh Lian sehingga berakhir kejadian naas itu terekam jelas di kamera anak buah Papa itu. Bahkan saat perkelahian itu terjadi. Salah satu sahabatnya Darel berhasil menarik kalung yang biasa Lian pakai. Dan kemungkinan kalung itu sudah diberikan kepada Darel. Makanya saat kematian Lian. Kita tidak menemukan kalung itu di leher Lian."
Ayahnya Lian menatap wajah istrinya. "Jadi sekarang kau sudah pahamkan sayang. Apa yang terjadi pada Lian? Itu kesalahan Lian sendiri. Jika Lian tidak menembak Darel dan sahabatnya. Makan sahabat-sahabat Darel yang lainnya tidak akan menyakiti Lian, walau mereka memang berniat untuk membunuh Lian karena sudah menyebabkan kematian lima sahabatnya."
"Kau tahu sayang. Ketujuh sahabatnya Lian ketika di SMA dulu. Sekarang ini mereka benar-benar telah berubah. Mereka berubah menjadi anak-anak yang baik. Aku dapat kabar dari anak buahku. Mereka kini berkuliah dengan baik di Kampus yang sama dengan Darel. Bahkan hubungan ketujuh sahabatnya Lian dengan Darel, dua sahabat lamanya Darel ditambah tujuh sahabat barunya Darel sudah membaik. Mereka sekarang menjadi satu tim. Jika saja Lian seperti itu. Aku adalah orang pertama yang akan berucap syukur kepada Tuhan akan perubahan Lian."
__ADS_1
Ayahnya Lian menangis. Dirinya menangis karena telah gagal mendidik putra bungsunya. Dirinya gagal membuat putranya berubah menjadi anak yang baik dan penurut.
"Lian, sayang! Maafkan Papa. Papa terlambat menyadari jika selama ini kau sangat membutuhkan Papa. Selama ini Papa tidak pernah ada waktu untukmu. Papa hanya sibuk dengan pekerjaan Papa. Begitu juga dengan Mama dan kedua kakak-kakakmu. Papa selalu memaksamu untuk terus belajar. Papa selalu menuntutmu untuk menjadi anak yang baik dan anak yang bisa dibanggakan. Papa meminta semua itu darimu, tapi Papa tidak memberikan dan tidak membantumu untuk memujudkan semua itu. Lian... Maafkan Papa." ayahnya Lian menangis mengingat bagaimana dulu dirinya tidak pernah ada waktu untuk putra bungsunya itu.