
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Di kediaman utama Wilson terlihat semua anggota keluarga telah berkumpul.
Mereka semua berkumpul di ruang tengah hanya untuk melepaskan rasa lelahnya seharian bertugas menyelesaikan tugas-tugasnya di kantor maupun yang di kampus.
Sementara untuk Darel masih berada di luar rumah. Evan dan Raffa sudah memberitahu anggota keluarganya bahwa Darel bersama semua sahabat-sahabatnya akan pergi ke toko buku. Dari toko buku mereka akan langsung jalan-jalan untuk menghabiskan waktu seharian ini.
"Aku ada kabar untuk kalian semua!" seru Daksa tiba-tiba.
Mendengar seruan dari Daksa. Semua anggota keluarga langsung melihat kearahnya.
"Ada apa Daksa?" tanya Arvind.
Daksa menatap wajah kakak ipar tertuanya itu, lalu beralih menatap wajah kakak iparnya yaitu Adelina. Setelah itu, beralih ke 12 keponakan-keponakannya.
"Informasi yang ingin aku sampaikan ini saling berhubungan. Jadi, jika kalian langsung emosi dan marah setelah mendengar apa yang aku sampaikan, maka akan ada yang tersakiti disini. Dan jika hal itu terjadi, kita semua tidak akan ada kesempatan lagi untuk memperbaikinya."
"Jika kalian menanggapinya dengan bijak dan dewasa, maka semuanya akan baik-baik saja tanpa ada yang tersakiti."
Daksa berbicara dengan penuh penekanan pada setiap katanya. Dan tatapan matanya juga mengartikan pengharapan.
"Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu Daksa. Kamu tahu kakak, Sandy dan William kan? Kami tidak semudah itu terpancing akan informasi apapun dari orang lain. Baik informasi baik maupun informasi buruk. Kami selalu menyikapinya dengan kepala dingin dan juga dengan bijak. Bukan sifat kami menyikapinya semua permasalahan dan semua informasi yang kami dapatkan dengan emosi," ucap Arvind.
Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari kakak iparnya itu membuat Daksa tersenyum lega. Dirinya sudah yakin, apalagi sahabatnya Radika juga sudah sangat yakin jika kakak iparnya itu bukan tipe orang yang suka mengandalkan emosi.
"Ini tentang Mathew dan Agatha!"
Seketika semuanya terkejut ketika mendengar Daksa yang menyebut nama Mathew dan Agatha.
"Ada apa, Daksa?" tanya Sandy.
"Kenapa kau menyebut nama Mathew dan Agatha? Bukankah mereka.....?"
"Mereka masih hidup. Dan sekarang mereka menjalani hukuman seumur hidup di penjara." Daksa langsung memotong ucapan William.
"Apa?!"
Semua anggota keluarga Wilson terkejut ketika mendengar ucapan dari Daksa yang mengatakan bahwa Mathew dan Agatha menjalani hukuman seumur hidup di dalam penjara.
__ADS_1
"Bagaimana bisa Papa?" tanya Naufal.
"Paman tahu dari mana?" tanya Davian.
"Radika, sahabatnya Paman yang kepala polisi itu."
"Daksa, katakan pada kakak. Pasti Radika tahu semuanya," ucap Arvind.
"Aku persingkat saja. Ini semua Darel yang melakukannya. Darel merubah keputusannya terhadap Mathew dan Agatha ketika melihat kak Arvind, kak Sandy dan kak William yang sudah memberikan kata maaf kepada Mathew. Bahkan kalian juga memberikan pelukan layaknya antara kakak dan adik. Bukan itu saja, Darel rela merubah keputusan tersebut demi kelima kakak sepupunya yaitu Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan agar bisa selalu melihat wajah ayahnya. Begitu juga dengan Mathew. Dengan Darel memberikan dia hukuman seumur hidup, dia akan bisa terus melihat wajah kelima putranya yang tidak pernah dia rawat sejak kecil."
"Apa Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan tahu masalah ini?" tanya Arga.
"Tahu. Mereka tahu setelah satu minggu Mathew dan Agatha menjalani hukuman tersebut," jawab Daksa.
"Kenapa mereka tidak memberitahu kita?" tanya Marcel.
"Ini karena permintaan dari Darel. Dan satu alasan yang membuat mereka tidak berani untuk jujur dengan kita semua," jawab Daksa.
"Apa itu Paman?" tanya Dario.
"Mereka semua takut jika kita mengetahui bahwa kedua orang tuanya masih hidup dan justru tengah menjalani hukuman seumur hidup di dalam penjara," jawab Daksa.
"Mereka takut jika kita akan membenci mereka dan menjauhi mereka karena orang tua mereka masih hidup. Seharusnya orang tua mereka itu sudah meninggal," sahut Daksa.
Deg..
Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Daksa akan ketakutan Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan.
"Ya, tuhan! Kenapa bisa mereka berpikir seperti itu. Padahal kita tidak punya pikiran seperti itu," sahut Salma.
"Terus Paman tadi bilang jika kita emosi dan marah ketika mendengar penjelasan Paman tentang Paman Mathew dan Bibi Agatha menjalani hukuman seumur hidup di dalam penjara akan ada yang tersakiti. Apa maksud apa itu? Dan siapa yang akan tersakiti?" tanya Axel.
"Tanpa Paman beritahu siapa yang akan tersakiti diantara kita ketika kalian emosi mendengar kabar ini. Kalian sudah tahu siapa orangnya," ucap Daksa.
Mereka terdiam sejenak. Lalu detik kemudian, Evan dan Raffa pun bersuara.
"Darel!" seru Evan dan Raffa bersamaan.
__ADS_1
Mereka semua langsung melihat kearah Evan dan Raffa.
"Disini Darel yang akan kembali terluka," ucap Evan.
"Dan jika itu terjadi, maka kita tidak akan bisa lagi untuk menggapainya," ucap Raffa.
Mendengar perkataan dari Evan dan Raffa seketika membuat Arvind, Adelina dan putra-putranya yang lain tersadar. Mereka semua menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan oleh Evan dan Raffa.
Jika mereka marah akan apa yang dilakukan oleh Darel terhadap Mathew dan Agatha. Jika mereka memarahi atau pun menyalahkan Darel, maka akibatnya akan sangat fatal untuk Darel. Dan itu akan merugikan mereka semua. Dan mereka akan kembali kehilangan permatanya.
"Ya! Evan dan Raffa benar. Jika seandainya kita memilih emosi ketika mendengar kabar dari Daksa, maka Darel yang akan tersakiti disini," sahut Arvind.
"Dan untungnya kita tidak memiliki sifat seperti itu kak Arvind. Kita masih selalu ingat akan ajaran Papa dan Mama untuk tidak emosional setiap menghadapi permasalahan. Baik di dalam maupun di luar. Baik kepada orang lain maupun kepada anggota keluarga sendiri." Sandy berbicara sembari mengingat bagaimana ajaran dari kedua orang tuanya terutama ayahnya.
"Radika juga bilang padaku bahwa Mathew dan Agatha memang benar-benar telah berubah. Perubahannya itu terjadi sebelum kedatangan Darel menemui mereka."
"Apa?!"
Mereka semua terkejut dan tak percaya bahwa Darel pergi menemui Mathew dan Agatha.
"Ja-jadi putra bungsuku menemui Mathew dan Agatha ke kantor polisi?" tanya Arvind.
"Bukan ke kantor polisi, melainkan Darel ikut bersama Radika untuk menemui para majelis hakim. Disana Darel menjelaskan semuanya. Di hari dimana Mathew dan Agatha akan menjalani hukuman mati. Darel datang bersama Radika dan para majelis hakim. Di sanalah Mathew dan Agatha terkejut dan syok saat mendengar keputusan hakim yang merubah hukuman tersebut. Yang membuat mereka lebih terkejut lagi adalah ketika hakim mengatakan bahwa semua itu adalah berkat Darel. Dan detik kemudian....."
Daksa menghentikan sejenak ucapan dengan matanya menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.
"Apa yang terjadi Paman?" tanya Daffa.
"Mathew dan Agatha langsung bersimpuh di hadapan Darel sambil menangis terisak. Bahkan mereka mengumandangkan beribu kata maaf di hadapan Darel. Mereka juga memeluk Darel dan memberikan ciuman di kening dan di kedua pipi Darel secara bergantian."
Mendengar cerita dari Daksa mengenai Mathew dan Agatha membuat Arvind, Sandy, William dan Evita menangis. Bagaimana pun Mathew masih saudara mereka dan keponakan dari ayahnya.
Bukan hanya Arvind, Sandy, William dan Evita saja yang menangis. Adelina, Salma dan putra-putranya juga ikut menangis. Mereka tidak menyangka jika Mathew dan Agatha yang sekarang sudah berubah. Mereka bukan lagi Mathew dan Agatha yang dulu.
"Darel sayang. Ini berkat kamu, nak! Mama bangga padamu," batin Adelina.
"Papa bangga padamu, sayang!" Arvind membatin.
__ADS_1
"Kakak bangga sama kamu, Rel!" batin para kakak-kakaknya, baik kakak-kakak kandungnya maupun kakak-kakak sepupunya.
"Kami menyayangimu, Darel sayang!" Daksa dan Evita, Sandy dan Salma, William membatin.