
Rayyan sekarang berada di Perusahaan MTW CORP milik Ayah kandungnya. Akhirnya Rayyan dan Kevin memilih untuk menerima keputusan sang Ayah yang memberikan Perusahaan tersebut untuknya dan adik-adiknya. Dirinya sadar, sejahat-jahatnya Ayahnya. Ayahnya tetap memperhatikan dirinya dan adik-adiknya selama ini. Ayahnya sudah menyiapkan semuanya untuknya dan untuk adik-adiknya. Ayahnya tidak ingin dirinya dan adik-adik hidup susah.
Tapi apapun alasannya, Rayyan dan adik-adik tetap tidak bisa menerima perbuatan Ayah dan Ibunya itu. Bagaimana pun perbuatan mereka itu sangat tidak manusiawi.
Rayyan dan adik-adiknya benar-benar marah dan kecewa pada kedua orang tua mereka. Keadilan tetap harus ditegakkan dan hukuman harus tetap dijalankan. Rayyan dan adik-adiknya siap dengan semua itu. Anggap saja semua itu adalah pembelajaran berharga untuknya dan untuk adik-adiknya agar bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.
TOK!
TOK!
Rayyan tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan dari luar.
"Masuk!"
CKLEK!
"Kak," panggil Kevin.
"Kau, Kevin. Duduklah. Ada apa?"
"Kakak tidak lupakan?" tanya Kevin.
Rayyan tersenyum hangat pada Kevin. Dirinya tahu arti dari pertanyaan adiknya itu. "Tentu. Kakak ingat kalau hari ini adalah persidangan Mama dan pria itu."
Rayyan belum bisa menyebut kata 'PAPA' untuk Mathew. Lidahnya terasa keluh dan berat untuk menyebut kata itu. Selama ini yang selalu menjaganya, merawatnya adalah William Wilson.
Kevin yang melihat perubahan wajah dari sang Kakak menjadi tidak tega.
"Kak," panggil Kevin.
Rayyan terkejut. "Ach, kau ini mengagetkan Kakak saja."
"Habis siapa suruh Kakak melamun. Makanya aku mengagetkan Kakak. Aku tidak mau Kakak kesurupan disaat sedang asyik melamun," ledek Kevin.
"Aish, kau ini."
"Hahahaha." akhirnya mereka pun tertawa.
"Ya, sudah. Lebih baik kita pulang sekarang. Kasihan Dzaky, Caleb dan Aldan. Dan sebelum pulang, kau hubungi mereka dulu untuk bersiap-siap. Jadi saat kita sampai di rumah, tinggal kita berdua saja yang akan bersiap-siap." Rayyan berbicara sembari membereskan pekerjaannya.
"Baik, Kak."
Kevin pun langsung menghubungi Dzaky.
***
Sesuai permintaan Raffa dan sesuai janji para kakaknya. Kini Raffa sedang bermanja-manja ria dan bermain bersama adik kesayangannya. Darel pun tidak masalah kalau dirinya jadi bahan adonan oleh kakak aliennya itu. Lagian Darel juga merasakan apa yang dirasakan oleh kakak aliennya. Darel rindu kejahilan dari kakaknya itu.
Arvind, Adelina, para kakak kandungnya dan anggota keluarga lainnya tersenyum hangat melihat interaksi Raffa dan Darel.
"Kakak. Sudah hentikan. Apa kakak tidak bosan menciumi wajahku terus?" protes Darel.
"Tidak. Kakak tidak pernah bosan untuk mencium seluruh wajah kamu karena kakak sayang kamu. Bagi kakak kamu itu bayi kelinci kakak yang manis dan imut," jawab Raffa.
"Yak, Kak! Aku ini manusia bukan kelinci," sahut Darel kesal, lalu...
SREETT!
Darel memberikan cubitan di pinggang kakaknya. Cubitannya tak main-main.
"Aaakkkhhh." Raffa berteriak saat merasakan sakit di pinggangnya. Raffa mengelus-elus pinggangnya itu.
Sedangkan anggota keluarga yang melihatnya makin tersenyum dan bahagia melihatnya. Mereka tidak ada niat untuk menghentikan keduanya. Kalau mereka sudah lelah, keduanya akan berhenti dengan sendirinya.
"Kenapa kamu mencubit kakak. Sakit tahuu." Raffa menatap adiknya horor.
"Siapa suruh ngatain aku kelinci?" Darel tak kalah menatap horor kakaknya.
Keduanya saling tatap dan tidak ada yang mau mengalah. Anggota keluarganya terus memperhatikan mereka berdua. Bahkan mereka berbisik satu sama lain.
"Ayo. Kira-kira siapa diantara keduanya yang nyerah duluan?" batin para kakaknya dan saudara-saudara. sepupunya
"Dasar kelinci kurap."
__ADS_1
"Alien bodoh."
"Kelinci gembul."
"Alien bau tai ayam."
"Kelinci cengeng."
"Alien otak karatan."
"Kelinci dodol."
"Alien tolol.."
"Gila."
"Sinting."
"Jelek."
"Kakak yang jelek."
"Kamu."
"Kakak."
"Kamuuuuuu."
"Kakaaaaaakkk."
Keduanya sama-sama membuang wajah dan menatap ke depan sembari tangan yang dilipat di dada. Jangan lupa bibir mereka yang manyun.
"Akhirnya kelar juga peperangan antara kelinci dan alien," batin mereka semua ketika melihat Darel dan Raffa berhenti.
"Hahaha. Keduanya milih menyerah."
"Yaaah. Gak seru. Kita pikir salah satunya yang akan menyerah."
"Kalau salah satunya ada yang menyerah. Kitakan bisa meledek salah satunya."
Baik Arvind, Adelina maupun anggota keluarga lainnya tersenyum gemas melihat kearah Darel dan Raffa
"Sudah selesai perangnya?" tanya Arvind menggoda kedua putranya.
"Apa mau dilanjutkan lagi, hum?" Adelina juga ikut menggoda kedua putranya itu.
"Aish, Mama!" seru Darel dan Raffa bersamaan. Lalu tanpa sengaja keduanya saling melirik. Kemudian...
"Apa liat-liat," ucap Raffa kesal.
"Yeeeeyy! Siapa juga yang ngeliat Kakak. Tuh! Aku ngeliat Kak Nevan yang duduk di sana," jawab Darel mengelak.
Raffa menolehkan wajahnya melihat kearah Nevan dan benar, kakak keduanya itu duduk tepat tak jauh dari dirinya dan Darel duduk. Darel tersenyum kemenangan saat melihat wajah Raffa yang malu.
Raffa yang melihat senyuman di bibir adiknya itu sedikit curiga. "Kenapa senyam senyum gitu? Ngejek Kakak ya?"
"Aish. Bukan wajah saja yang kayak alien. Tapi otak juga. Bodoh dan karatan. Sekarang nambah satu lagi yaitu berburuk sangka terhadap orang lain. Mending sama orang lain. Nah, ini sama adek sendiri. Apa isi otaknya kakak cuma dua itu saja? Apa gak ada yang lain?" ucap dan tanya Darel yang begitu kejam.
Mendengar penuturan dari Darel membuat anggota keluarganya tidak bisa menahan tawa mereka. Mereka semua pun tertawa.
"BHAHAHAHAHA."
Tapi tidak dengan Raffa. Raffa menatap horor pada adiknya itu. Saat Raffa ingin membalas perkataan Darel. Tiba-tiba ponsel Darel berbunyi.
DRTT!
DRTT!
Darel mengambil ponselnya yang memang diletakkan di atas meja ruang tengah. Dan dapat darel lihat nama 'Kak Arzan' di layar ponselnya. Tanpa membuang waktu. Darel langsung menjawabnya.
"Hallo, Kak Arzan. Ada apa?"
"Hallo, Bos. Bos tidak lupakan kalau hari ini pukul 12 siang akan ke pengadilan. Sidangnya dimulai pukul 1 siang."
__ADS_1
"Iya. Aku tidak lupa. Hanya itu?"
"Tidak, Bos. Ada hal yang lain yang ingin saya katakan pada Bos."
"Apa? Buruan katakan."
"Anak perempuan dan selingkuhannya Agatha akan datang ke Pengadilan. Mereka sudah tahu tentang apa yang menimpa Agatha. Bahkan selingkuhannya itu sudah mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh Agatha dan Mathew."
"Apa?" Darel sedikit berteriak dan tanpa sadar Darel berdiri dari posisi duduknya. Dan hal itu sukses membuat anggota keluarganya menjadi khawatir. Mereka juga ikut berdiri.
Adelina menatap wajah Arvind, suaminya. Arvind yang melihat wajah khawatir istrinya pun berusaha menenangkannya dengan memberikan senyuman dan anggukan kepala.
"Apa Kakak yakin?"
"Aku yakin, Bos. Aku dan Zayan sudah mencari tahu semuanya."
"Dari mana dia mengetahui hal itu? Siapa dia sebenarnya?"
"Saya juga tidak tahu, Bos. Tapi sepertinya selingkuhan Agatha itu memiliki beberapa anak buah. Bisa saja dia menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki masalah ini."
"Hm. Kakak benar. Apa kakak dan Zayan juga akan datang?"
"Iya, Bos. Kami akan datang. Aku dan Zayan akan datang dengan beberapa anak buah kami, Bos."
"Ach, baiklah kalau begitu. Apa ada lagi?"
"Tidak, Bos. Hanya itu saja."
"Ya, sudah. Kalau begitu aku tutup."
PIP!
Darel langsung mematikan panggilannya. Setelah itu, Darel memikirkan selingkuhan Agatha tersebut.
"Siapa dia? Kenapa dia mau datang ke Pengadilan dan menampakkan wajahnya di depan Agatha dan Mathew? Apa yang sudah direncanakan olehnya?" batin Darel.
Arvind mendekati putra bungsunya itu. Lalu menepuk pelan bahunya.
PUK!
Mendapatkan tepukan di bahunya membuat membuat Darel terkejut.
"Aish, Papa." Darel mempoutkan bibirnya kesal.
Arvind hanya tersenyum. "Ada apa, hum?"
"Maksud Papa?"
"Ditanya malah balik nanya." Arvind memperlihatkan wajah pura-pura kesalnya.
"Hehe. Maaf."
"Mau cerita? Papa tahu Darel mengetahui sesuatu. Itu yang menelepon Darel barusan adalah salah satu anak buah Darel kan?"
Darel mengangguk. "Iya."
"Dia bicara apa?"
Darel menatap manik hitam sang Ayah. "Selingkuhan dan anak perempuan Agatha akan datang ke Pengadilan nanti."
"Apa?" Mereka semua terkejut saat mendengar ucapan Darel.
"Dan..." Darel menundukkan kepalanya.
"Dan apa sayang?"
Darel mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Ayahnya. "Dia.. dia juga sudah tahu semuanya. Semua yang telah terjadi. Termasuk apa yang dilakukan oleh Agatha dan Mathew."
"Dari mana orang itu tahu, Rel?" tanya Davian.
"Aku tidak tahu, Kak. Tapi menurut pengakuan Kak Arzan barusan. Orang itu tahu dari anak buahnya. Kemungkinan orang itu menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki masalah ini," jawab Darel.
"Pa."
__ADS_1
"Iya, sayang. Ada apa, hum?"
"Aku benar-benar takut saat ini. Apa akan datang masalah baru dikeluarga kita? Aku benar-benar lelah, Pa. Aku tidak mau ada masalah lagi," lirih Darel