
Setelah di rawat selama dua hari di rumah sakit. Kini Darel sudah berada di rumahnya.
Darel saat ini berada di ruang tengah bersama dengan semua sahabat-sahabatnya.
"Rel! Kita ada informasi mengenai dosen baru di kampus," sahut Juan.
"Dosen baru?" tanya Darel dengan menatap satu persatu wajah para sahabat-sahabatnya.
"Iya, Dosen baru!" seru semua sahabat-sahabatnya.
"Kapan mulai Dosen itu ngajar?" tanya Darel.
"Itu belum dipastikan kapan," jawab Samuel.
"Apa Paman Davi sudah tahu akan ada Dosen baru di kampus?" tanya Darel dengan menatap wajah Samuel.
"Sudah. Hanya saja Papa belum mengetahui sifat dan cara mengajar Dosen baru itu," ucap Samuel.
Mendengar perkataan dari Samuel membuat Darel menatap penuh selidik semua sahabat-sahabatnya.
"Apa kalian mengetahui sesuatu tentang Dosen baru itu?" tanya Darel.
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon saling memberikan tatapan matanya. Setelah itu, mereka kembali menatap wajah Darel yang kini masih memberikan tatapan penuh selidiknya.
"Iya! Kita mengetahui sifat dan cara Dosen baru itu mengajar," ucap Charlie.
"Maka dari itulah kenapa kita kesini," sahut Devon.
"Kita ingin membahas masalah Dosen baru itu kepada kamu," ucap Evano.
"Sekarang katakan kepadaku. Siapa dia, seperti apa sifatnya dan bagaimana cara dia mengajar?" tanya Darel dengan tatapan matanya menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya.
"Kami tidak tahu secara detail tentang Dosen baru itu. Tapi sebagian dari orang-orang tahu akan sifat dan cara dia mengajar," ucap Damian.
"Nama Dosen baru kita itu siapa?" tanya Darel.
"Luan Malachi!" seru Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.
"Namanya nggak asing. Seperti pernah mendengar," sahut Darel.
"Nah, itu dia Rel! Karena itulah kenapa sebagian orang mengetahui sifat dan cara mengajar dia," tutur Kenzo.
"Dan sebagian lagi beranggapan kalau orang berbeda. Hanya nama saja yang sama," ucap Gavin.
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menatap wajah Darel.
"Kamu pasti tahu kan siapa itu Luan Malachi?" tanya Zelig.
"Kenal secara pribadi nggak. Tapi kenal namanya, sifat dan cara mengajarnya aku sedikit tahu dari berita-berita di media sosial dan juga omongan dari mulut ke mulut."
"Salah satunya apa kalau kakak boleh tahu?" tanya Farrel.
"Eemm... Dia tuh gampang emosi ketika ada mahasiswa atau mahasiswi yang tidak menyimak ketika dia bicara di depan kelas. Lebih tepatnya dia itu ringan tangan dengan kata lain suka memukul," sahut Darel.
"Iya, kau benar Darel! Dosen baru kita itu memang suka memukul mahasiswa dan mahasiswi jika apa yang dia inginkan dan apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan rencananya!" Razig berucap.
"Dia juga akan langsung memarahi dan membentak mahasiswa dan mahasiswi jika ada yang terlambat mengikuti kelasnya. Apapun alasan yang diberikan oleh mahasiswa dan mahasiswinya. Dia tidak akan mau mendengarkannya," sahut Juan.
"Dia juga tidak menerima jika ada mahasiswa dan mahasiswi itu tidak masuk. Mau sakit atau mau izin sekali pun. Dosen itu tidak peduli. Jika kedapatan ada mahasiswa atau mahasiswi tidak masuk, maka besok habislah mahasiswa atau mahasiswi itu mendapatkan hukuman berat dari dia!"
"Gila," ucap Darel.
"Kan selama ini dia memang gila. Orang-orang bodoh saja yang masih mau menerima orang seperti dia untuk mengajar di kampus," ucap Lucas seenaknya.
Mendengar perkataan Lucas yang mengatakan orang-orang bodoh yang masih mau menerima Dosen gila itu membuat Samuel seketika menggeram kesal. Samuel menatap tajam kearah Lucas.
"Jadi lo ngatain Papa gua bodoh, hah?!" teriak Samuel dengan tatapan matanya menajam.
Sementara Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Razig, Juan, Zelig, Charlie dan Devon tersenyum.
Lucas seketika tersadar akan perkataan terakhirnya. Dirinya seketika melihat kearah Samuel yang saat ini menatap tajam dirinya.
__ADS_1
"Hehehehe. Sorry! Kebablasan ngomongnya. Nggak bermaksud kok, Sumpah! Kan kampus Papa kamu baru pembukaan nerima orang gila itu. Anggap aja tadi aku ngomongnya untuk kampus-kampus yang lain."
Mendengar perkataan dari Lucas. Ditambah lagi wajah memelasnya membuat Samuel menghela nafas pasrahnya.
Sedangkan Lucas seketika menghembuskan nafas kasarnya ketika melihat wajah sahabatnya itu sudah kembali normal.
"Terus apa yang akan kita lakukan jika dosen baru itu benar orang gila itu?" tanya Charlie.
"Lawan!" Darel, Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bersamaan.
Mendengar jawaban kompak dari Darel, Brian, Azri, Damian, Evano danĀ Farrel membuat Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon membelalakkan matanya.
"Kita nggak perlu takut sama Dosen gila itu," sahut Brian.
"Kita datang ke kampus untuk menerima ilmu. Bukan menerima bentakan atau pukulan," sahut Azri.
"Selama kita tidak melakukan kesalahan. Untuk apa kita takut. Kalau perlu kita lawan Dosen gila itu jika dia menyakiti salah satu teman kampus kita," ucap Damian.
"Jika Dosen gila itu hendak memukul atau menampar kita. Kita tinggal patahkan saja tangannya," ujar Evano.
"Kalau perlu kita kasih bogem mentah beramai-ramai biar bonyok sekalian wajahnya," pungkas Farrel.
"Jika masih belum berhenti. Dan masih melakukan apa yang dia lakukan selama ini. Kita buat mati aja dia sekalian. Bereskan!" Darel berucap sembari menatap satu persatu wajah semua sahabat-sahabatnya dengan alis yang di naik-naikan.
Mendengar perkataan Darel membuat mereka semua membelalakkan matanya. Mereka tidak menyangka jika Darel akan mengatakan itu.
Namun beberapa detik kemudian..
Mereka semua tersenyum di sudut bibirnya masing-masing. Mereka semua menyetujui usulan yang diajukan oleh Darel.
"Jika itu jalan satu-satunya. Aku siap jadi pembunuh. Lagian aku sudah mendapatkan gelar seorang pembunuh ketika menembak mati Lian," sahut Devon.
"Kita juga!" seru Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas dan Charlie bersamaan.
Mendengar ucapan dari Devon dan mendengar seruan kompak dari Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas dan Charlie membuat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel seketika menatap terkejut dan tak percaya.
"Ja-jadi maksud kalian....." perkataan Brian dan Azri terpotong karena Gavin sudah terlebih dulu menyela.
"Iya. Lian sudah mati di tangan kami. Aku, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon memberikan tembakan secara bertubi-tubi ke seluruh tubuh Lian ketika Lian hendak menembak Kenzo," jawab Gavin.
"Kita terpaksa melakukan itu karena Lian hendak menyakiti Kenzo. Ditambah lagi Lian sudah berhasil menyakiti Darel, walau nyatanya Darel pakai pelindung." Lucas menjelaskan alasan dirinya dan sahabat-sahabatnya membunuh Lian.
"Sudahlah. Ngapain juga dibahas masalah itu. Itu sudah lewat dan sudah selesai. Nggak usah diingat lagi!" seru Darel.
Mendengar seruan dari Darel. Akhirnya mereka pun berhenti membahas masalah Lian.
Ketika Darel dan sahabat-sahabatnya sedang mengobrol sembari melepaskan rasa lelahnya seharian di kampus, tiba-tiba ponsel milik Samuel berbunyi.
Samuel langsung mengambil ponselnya yang kebetulan di hadapannya. Tatapan matanya menatap ke layar ponselnya. Tertera nama 'Sarga' adiknya disana.
"Siapa Samuel?" tanya Azri.
"Sarga, kak!"
"Ya, udah! Angkat! Ngomongnya lembut sedikit. Jangan ketus," ucap Azri yang tahu kebiasaan Samuel jika sudah berhadapan dengan adiknya itu.
"Iya," jawab Samuel dengan memanyunkan bibirnya kesal akan perkataan kakak sepupunya itu.
Setelah itu, Samuel pun menjawab panggilan dari adiknya itu.
"Halloo."
"Kakak Muel... Hiks."
Deg..
Seketika Samuel terkejut ketika mendengar sapaan serta isakan dari Sarga adiknya.
"Kamu kenapa menangis? Apa yang terjadi?"
Mendengar perkataan dari Samuel membuat Azri langsung menatap kearah Samuel. Seketika Azri berubah panik. Apalagi ketika melihat wajah khawatir Samuel.
__ADS_1
"Kakak, bisa nggak kesini... Hiks."
"Kemana? Ngomong yang jelas Sarga!"
"Ke sekolah kak!"
"Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Para orang tua dari anak-anak yang aku pukuli sampai masuk rumah sakit bersikeras untuk tetap mengeluarkan aku dari sekolah. Kepala sekolah sudah berusaha untuk terus membantu dan membelaku, tapi para orang tua itu tidak peduli. Para orang tua itu membawa beberapa anak buahnya. Anak buahnya itu menyakiti kepala sekolah."
"Apa?!" Samuel berteriak ketika mendengar cerita dari adiknya.
"Kak, cepat kesini. Kasihan kepala sekolahnya. Aku... Aku tadi meminta kepada kepala sekolah untuk mengeluarkan aku dari sekolah biar anak buah dari para orang tua dari anak-anaknya yang aku pukuli berhenti menyakiti kepala sekolah, namun kepala sekolah nggak mau karena kepala sekolah mengatakan bahwa aku tidak salah. Dan kepala sekolah juga mengatakan bahwa dia harus bertemu dengan salah satu wali aku dulu."
"Kakak... Hiks."
"Kamu jangan khawatir. Kakak akan kesana. Dan untuk kamu, tetap di posisi kamu yang sekarang. Jangan kembali ke ruangan kepala sekolah. Mengerti!"
"Baik, kak!"
Setelah mengatakan itu, Samuel langsung mematikan panggilannya.
"Kenapa Sarga?" tanya Azri.
"Sarga ada masalah di sekolah," jawab Samuel.
"Masalah? Masalah apa?" tanya Azri.
"Nggak ada waktu untuk cerita kak! Sekarang aku harus ke sekolah Sarga. Sarga ketakutan sekarang."
"Kakak ikut dengan kamu!" sahut Azri.
Samuel menatap kearah Darel. Dirinya butuh bantuan Darel.
Melihat tatapan mata Samuel membuat Darel langsung paham.
"Katakan! Kau butuh bantuan apa?" tanya Darel langsung.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Samuel ketika mendengar pertanyaan dari Darel.
"Aku butuh beberapa orang untuk ke sekolah Gymnasium adikku. Para orang tua yang anak-anaknya disakiti oleh adikku membawa beberapa anak buah. Dan sekarang mereka tengah menyakiti kepala sekolah karena kepala sekolah masih mempertahankan adikku."
Mendengar perkataan dari Samuel membuat Azri seketika mengepal kuat tangannya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua marah.
"Baiklah. Aku akan menghubungi kakak Arzan."
Setelah mengatakan itu, Darel langsung menghubungi Arzan.
"Hallo, Rel! Ada apa?"
"Hallo kakak Arzan. Apa kakak sibuk?"
"Tidak. Kenapa?"
"Sahabatku Samuel butuh bantuan. Bisa tidak kakak kirim sekitar 25 anggotanya kakak untuk datang ke sekolah Gymnasium sekarang?"
"Baiklah. Kakak akan perintahkan anggota kakak untuk segera ke sekolah Gymnasium."
"Terima kasih kak."
"Sama-sama, Rel!"
Setelah mengatakan itu, baik Darel maupun Arzan sama-sama mematikan panggilannya.
"Sekarang pergilah. Tolong adikmu. Nanti sampai disana kamu akan bertemu dengan beberapa anggotanya kakak Arzan. Mereka langsung kesana," ucap Darel.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Samuel ketika mendengar ucapan dari Darel. Begitu juga dengan Azri.
"Terima kasih, Rel! Kalau begitu aku pergi dulu."
"Kakak juga!" seru Azri.
__ADS_1
"Hati-hati!"
"Iya!"