
Lucas saat ini berada di sebuah perusahaan Mr'tin Corp milik ayahnya. Dia berada disana karena memang ayahnya yang menyuruhnya untuk datang.
Lucas sudah berada di dalam perusahaan. Kakinya melangkah untuk menuju ruang kerja ayahnya. Ayahnya memintanya langsung menuju ruang kerjanya tanpa melapor dulu.
Ketika Lucas tengah melangkahkan kakinya menuju ruang kerja ayahnya, tiba-tiba langkah kakinya terhenti karena ada dua wanita yang menghalangi jalannya. Salah satu wanita itu menatap intens kearah Lucas.
Lucas menatap wajah wanita yang kini menatap intens dirinya. Dalam hatinya dia berkata bahwa wanita yang ada di hadapannya ini pernah dia jumpai, tapi dimana? Itulah yang Lucas pikirkan saat ini.
Apa yang dipikirkan oleh Lucas. Itu juga dipikirkan oleh wanita itu. Wanita itu berpikir bahwa dia pernah bertemu dengan pemuda di hadapannya ini.
Beberapa detik kemudian...
"Kamu... Kamu laki-laki kurang ajar itu kan?! Laki-laki yang ingin berbuat jahat kepada saya dengan alibi pura-pura menolong saya!" teriak wanita itu seketika.
Mendengar perkataan serta teriakan dari wanita itu membuat orang-orang yang ada di sekitarnya langsung melihat kearahnya dan Lucas.
Sementara Lucas menatap tajam wanita itu. Dia marah terhadap wanita itu yang sembarangan berbicara.
"Mau ngapain kamu kemari?!" bentak wanita itu.
"Apa ada masalah sama lo gue datang kesini?" tanya Lucas dengan wajah datar dan dingin.
"Kalau orang nanya itu dijawab bukan balik ngasih pertanyaan!" bentak wanita itu lagi.
"Kalau gue nggak mau, terus lo mau apa?! Secara lo bukan siapa-siapa disini selain karyawan. Jadi, jangan sok seakan-akan lo adalah pemilik perusahaan!" bentak Lucas.
Mendengar perkataan serta bentakan dari pemuda di hadapannya membuat wanita itu tak terima. Tatapan matanya menatap tajam kearah Lucas.
"Kamu berani sama saya, hah?!" bentak wanita itu.
"Iya, kenapa?!" tantang Lucas.
"Kamu......."
Srekk..
"Aakkhhh!" teriak wanita itu merasakan sakit di pergelangan tangannya.
Wanita itu hendak menampar wajah Lucas, namun dengan cepat Lucas menangkap tangannya lalu merematnya kuat.
"Lo nggak ada hak buat nampar gue. Lo bukan siapa-siapa gue, Lo bukan siapa-siapa di perusahaan ini selain karyawan rendahan dan lo juga bukan Bos disini. Jadi, jangan berlagak menjadi penguasa di perusahaan ini!"
Setelah mengatakan itu, Lucas menyentak kuat tangan wanita itu bersamaan dengan mendorong tubuh wanita hingga terhuyung ke belakang.
__ADS_1
"Satu lagi. Kalau bukan karena kemanusiaan. Saat itu gue jijik nolongin lo. Lo pikir gue pura-pura nolongin lo, hah! Asal lo tahu. Saat itu gue baru balik dari Australia. Sampai gue di bandara gue nggak sengaja lihat seseorang yang ngambil sesuatu dan gue yakin itu milik lo. Gue pengen kejar orang itu, tapi pas gue lihat lo yang sepertinya butuh pertolongan. Gue milih nolongin lo. Eh, tahunya! Lo seenaknya ngomong kalau gue mau nyakitin lo. Dan lebih parahnya lagi lo ngomong sambil teriak sehingga semua orang melihatnya. Dari pada gue mati dikeroyok, gue akhirnya milih kabur."
Lucas berbicara dengan nada yang sengaja dibesarkan agar semua orang yang ada di perusahaan ayahnya itu mendengarnya. Dan jangan lupa, tatapan matanya yang menatap tajam wanita yang ada di hadapannya.
Sementara orang-orang yang mendengar ucapan dari Lucas seketika terkejut. Sebagian dari karyawan dan karyawati menatap marah kearah wanita itu yang tak lain rekan kerjanya.
Sedangkan untuk wanita itu terkejut ketika mendengar ucapan dari pemuda yang ada di hadapannya yang mengatakan bahwa dia benar-benar tulus nolongin dirinya, namun dirinya malah salah sangka.
Namun wanita itu seketika tersadar. Dia tidak segampang itu percaya dengan apa yang dikatakan oleh pemuda yang ada di hadapannya.
"Kamu pikir aku percaya semua perkataan kamu itu. Jawabannya adalah saya tidak percaya sama semua perkataan kamu itu!"
"Lo pikir gue peduli sama lo? Jawabannya tentu tidak! Terserah lo mau percaya atau tidak. Itu bukan urusan gue."
Lucas menatap nyalang wanita yang ada di hadapannya sembari tersenyum menyeringai.
"Kalau misalkan gue ingin berbuat jahat sama seorang wanita. Gue bakal cari wanita yang lebih cantik, wanita yang lebih anggun dan wanita yang punya segalanya. Bukan wanita kayak lo. Lo bukan tipe gue. Lihat wajah lo aja gue udah jijik. Apalagi mau nyentuh lo. Yang benar aja."
Deg..
Wanita itu seketika tersentak ketika mendengar ucapan demi ucapan dari pemuda yang ada di hadapannya. Dia tidak menyangka jika pemuda itu berbicara seperti itu padanya.
Bukan hanya wanita itu saja yang terkejut akan perkataan Lucas. Orang-orang yang ada di perusahaan ayahnya juga terkejut.
"Udahlah. Gue males lama-lama berdiri disini. Apalagi sama lo."
Setelah mengatakan itu, Lucas pergi meninggalkan wanita itu dan rekan kerjanya untuk menuju ruang kerja ayahnya.
"Eh, lihat! Pemuda itu mengarang menuju ruangan Bos besar!" seru seorang karyawan perempuan.
Semuanya melihat kearah dimana Lucas berjalan. Dan benar, mereka semua melihat Lucas yang melangkah menuju ruang kerja pemilik perusahaan.
"Ada apa ini?!"
Semua karyawan terkejut ketika mendengar suara seseorang. Dengan kompak mereka semua melihat keasal suara.
"Bos Agustian!"
Yah! Laki-laki yang bersuara beberapa detik yang lalu adalah Agustian Alexandria. Kakak laki-lakinya Lucas Alexandria.
"Ada apa? Kenapa kalian tidak bekerja dan justru bergosip?"
"Maaf, Bos! Kami tadi melihat seorang pemuda yang menuju ruang kerja Bos besar. Ditambah lagi pemuda itu habis ribut dengan Sisil," sahut salah satu karyawan perempuan.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari salah satu karyawan perempuannya membuat Agustian terkejut lalu Agustian melihat kearah karyawan perempuannya bernama Sisil.
"Apa benar itu Sisil?"
"Benar Bos."
"Siapa dia?"
"Saya nggak kenal Bos. Saya kenal dia ketika bertemu di bandara saat itu. Dia yang ingin berbuat kurang ajar dengan saya."
Mendengar jawaban dari Sisil membuat Agustian seketika teringat akan cerita adiknya ketika baru menginjakkan kakinya di kota Hamburg. Adiknya itu mengatakan bahwa dia berniat menolong perempuan itu, namun justru perempuan itu menuduhnya ingin berbuat jahat sehingga beberapa orang mengejarnya.
"Apa wanita ini yang menyebabkan adikku mendapatkan masalah saat itu," batin Agustian.
"Bos, bagaimana dengan pemuda itu? Apa kita membiarkan pemuda itu masuk ke ruangan Bos besar?"
Agustian tidak langsung menjawab pertanyaan dari karyawan perempuannya itu. Justru Agustian mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah ada di tangannya. Agustian mencari satu foto adiknya di galeri foto miliknya.
Setelah mendapatkan satu foto adiknya. Agustian langsung memperlihatkan foto itu kepada semua yang ada di sekitarnya.
"Apa ini pemuda yang kalian maksud?"
Semuanya melihat kearah layar ponsel milik Agustian termasuk perempuan yang ribut dengan Lucas.
"Iya, Bos! Dia pemuda yang melangkah menuju ruang kerja Bos Besar!"
Seketika terukir senyuman di bibir Agustian ketika mendengar jawaban dari para karyawan dan karyawatinya.
"Kalian tidak perlu khawatir. Pemuda itu adalah adikku. Namanya adalah Lucas Alexandria!"
Deg..
Seketika semuanya terkejut ketika mendengar ucapan dari Agustian yang mengatakan bahwa pemuda tersebut adalah adiknya. Yang paling terkejut disini adalah wanita yang bernama Sisil.
Agustian menatap kearah Sisil. "Adikku sudah menceritakan semuanya tentang kesialannya ketika dia tiba di Hamburg. Semoga wanita yang sudah membuat adikku mendapatkan masalah di hari pertamanya di kota Hamburg bukan kamu Sisil. Jika aku mengetahui bahwa kamu orang yang sudah membuat adikku sial di hari pertamanya di kota Hamburg. Aku pastikan kamu tidak akan bisa bekerja lagi disini. Ditambah lagi kamu juga sempat ribut dengan adikku."
Deg..
Sisil seketika terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus ancaman dari Agustian.
Sementara Agustian, setelah mengatakan itu langsung pergi untuk menemui ayah dan adiknya itu.
__ADS_1