
KEDIAMAN UTAMA WILSON
Suasana pagi hari di kediaman keluarga Wilson telah berkumpul semua anggota keluarga, kecuali Darel. Darel masih di dalam kamarnya.
Semuanya anggota keluarga sudah tampak rapi dengan pakaian yang melilit ditubuh mereka masing-masing.
Kini mereka semua sudah berada di meja makan untuk sarapan pagi bersama sebelum melakukan aktivitas masing-masing.
"Oh iya. Darel mana?" tanya Salma saat melihat keponakan manisnya tidak terlihat.
"Sepertinya Darel masih di kamarnya," ucap Alvaro.
"Bukankah hari ini Darel kuliah," sela William.
"Iya, Paman. Hari ini hari pertama Darel kuliah," Daffa yang menjawabnya.
"Biarkan aku yang ke kamar Darel!" seru Raffa.
Saat Raffa ingin berdiri, Evan menahannya. "Jangan, Raf!"
Raffa melihat kearah Evan dengan kedua alisnya ditautkan. Anggota keluarganya yang melihatnya tersenyum gemas.
"Jangan kenapa? Aku ingin membangunkan Darel," kata Raffa.
"Iya, aku tahu. Justru itu aku melarangmu," jawab Evan.
"Memangnya kenapa?" tanya Raffa bingung.
"Jika kau yang membangunkan sikelinci nakal itu yang ada akan terjadi perang dunia ketiga. Darel itu enek lihat wajah jelekmu itu. Jadi, aku sarankan jangan membuat mood kelinci nakal itu buruk pagi-pagi begini," sahut Evan dengan santainya.
Raffa membelalakkan matanya saat mendengar penuturan dari Evan. Sementara anggota keluarga yang mendengar penuturan Evan hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Dasar bantet sialan. Ngatain orang jelek. Padahal tubuhnya sendiri pendek," gerutu Raffa sambil menduduki kembali pantatnya.
"Apa kau bilang?" tanya Evan yang mendengar gerutuan dari Raffa.
Raffa melihat kearah Evan. "Aku bilang kau itu pendek alias manusia kerdil," balas Raffa lantang.
"Yak, Raf! Beraninya kau mengataiku pendek dan manusia kerdil?" tanya Evan kesal.
"Memangnya kenapa? Kau saja tadi mengataiku jelek. Kenapa sekarang kau marah padaku disaat aku mengataimu pendek, hah?!" ucap dan tanya Raffa yang menatap tajam Evan.
Evan dan Raffa saling memberikan tatapan horor mereka. Tanpa mereka sadari Daffa dan Vano yang duduk di samping mereka menatap kesal. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka semua hanya geleng-geleng kepala.
"Dasar alien sialan."
"Dasar bantet idiot."
"Alien tengik."
"Bantet sinting."
Mereka terus melempar umpatan satu sama lain tanpa mempedulikan anggota keluarganya yang sedang menatapnya sehingga Daffa dan Vano bertindak.
Daffa dan Vano langsung memasukkan satu potong ayam goreng tepat ke mulut adiknya yang sedang berkoar-koar sehingga mulut keduanya bungkam.
Raffa dan Evan sontak kaget dan kedua mata mereka membelalak. Bagaimana dengan anggota keluarganya. Sudah pastinya mereka semua tertawa.
"Hahahaha."
Raffa dan Evan mengambil ayam yang ada di mulutnya, lalu mereka menatap horor Daffa dan Vano. Sedangkan Daffa dan Vano hanya memperlihatkan cengiran khas mereka masing-masing.
"Apa masih mau dilanjutkan perang mulutnya, hum?" tanya Arvind.
Raffa dan Evan mengalihkan pandangannya dan melihat kearah sanga Ayah.
"Maaf, Pa!" jawab Raffa dan Evan bersamaan.
Arvind hanya tersenyum gemas melihat kedua putranya itu.
"Ya, sudah. Aku akan ke kamar Darel!" seru Elvan.
__ADS_1
Elvan pun langsung berdiri dari duduknya dan melangkah menuju kamar adik bungsunya di lantai dua.
^^^
Darel sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya. Dirinya sudah dalam keadaan rapi. Darel duduk sembari memegang bingkai foto dirinya dan ketujuh sahabatnya.
"Kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel, Kenzo, Gavin. Aku merindukan kalian. Hari ini adalah hari ketujuh kepergian kalian dan hari pertama aku masuk kuliah. Apa aku akan bisa semangat kuliahnya jika tidak ada kalian? Aku tahu di kampus ada kak Raffa, kak Evan, kak Melvin, kak Rendra, kak Aldan dan kak Dylan. Tapi itu akan sangat berbeda jika tidak ada kalian. Bagaimana pun mereka tidak akan bisa sepenuhnya selalu bersamaku dan menjagaku. Pastinya mereka punya kegiatan masing-masing. Jika ada kalian, setidaknya aku tidak begitu merepotkan mereka." Darel berucap lirih dan tanpa sadar air matanya sudah mengalir membasahi wajah tampannya.
Sementara diluar kamarnya sedari tadi Elvan telah mendengarkan apa yang diucapkannya. Elvan tidak sengaja menguping. Tujuan Elvan hanya ingin membangunkan adik bungsunya, namun saat ingin membuka pintu kamar adiknya, Elvan tidak sengaja mendengar ucapan sang adik dan Elvan juga melihat adiknya sudah dalam keadaan rapi.
"Darel," lirih Elvan.
"Kenzo, Gavin. Aku disini selalu berdoa untuk kalian. Semoga kalian baik-baik saja dimana pun kalian berada. Cepatlah kembali. Aku benar-benar merindukan kalian. Kalian tidak perlu khawatir. Aku sudah menyuruh Zayan dan beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan kalian. Bahkan aku mengatakan pada Zayan, jika belum mendapatkan kabar dari kalian. Aku melarangnya untuk menghubungiku. Aku juga menyuruh kak Arzan untuk mencari keberadaan musuh-musuh kita saat kita SMA dulu. Aku berjanji pada kalian untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Mereka harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan pada kalian!" Darel menangis ketika mengatakan kata-kata itu."
Setelah puas berbicara dan menatap wajah-wajah sahabatnya, walau hanya melalui foto. Darel pun memutuskan untuk turun ke bawah. Dirinya tidak ingin membuat anggota keluarganya, terutama kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya khawatir.
Melihat Darel yang akan beranjak meninggalkan kamarnya, Elvan yang masih berdiri didepan pintu kamar adiknya langsung bergegas pergi meninggalkan kamar sang adik. Dirinya tidak ingin ketahuan oleh adiknya itu.
^^^
Kini Elvan sudah berada di ruang makan. Saat Elvan datang, mereka tidak melihat si bungsu kesayangan mereka ikut bersamanya.
"Elvan. Mana adikmu? Kenapa tidak ikut turun bersamamu?" tanya Adelina.
"Sebentar lagi Darel akan turun, Ma! Saat aku ingin masuk ke kamarnya, aku melihat Darel sedang duduk di sofa sambil memegang foto sahabat-sahabatnya dan Darel juga sudah dalam keadaan rapi," jawab Elvan.
Baik Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya menatap wajah sendu Elvan. Mereka dapat mengartikan bahwa Elvan sempat mendengar ucapan Darel.
"Apa kau mendengar Darel mengatakan sesuatu, Elvan?" tanya Ghali.
Elvan melihat kearah Ghali. "Iya."
"Apa? Darel mengatakan apa?" kini Davian yang bertanya.
Saat Elvan ingin menjawabnya, tiba-tiba mereka mendengar suara seseorang.
"Pagi Ma, Pa, Paman, Bibi, kakak!" sapa Darel.
"Pagi sayang," jawab Arvind dan Adelina.
"Pagi Darel!" jawab para kakak-kakaknya.
"Pagi keponakan Paman yang paling tampan!" jawab Sandy, William dan Daksa.
"Pagi juga keponakan Bibi yang manis dan imut!" jawab Salma dan Evita.
Darel langsung duduk di kursi. Darel duduk diantara Raffa dan Evan.
"Maaf aku terlambat," ucap Darel.
"Tidak apa-apa, sayang!" jawab Adelina, Salma dan Evita.
"Darel tidak terlambat, kok!" seru Steven dan diangguki oleh kakak-kakaknya yang lain.
Mendengar jawaban dari anggota keluarga, Darel pun tersenyum.
"Karena semuanya sudah lengkap, lebih baik kita mulai sarapannya. Dari tadi perut Paman sudah berbunyi minta diisi!" seru Sandy yang mencairkan suasana.
"Hahahaha." mereka semua tertawa, kecuali Darel. Darel hanya tersenyum kecil
"Darel, kamu sudah siap kuliah hari ini?" tanya Nevan.
"Siap, kak!" jawab Darel disela makannya. Mereka semua tersenyum mendengar jawaban dari Darel.
"Baiklah kalau begitu. Sesuai janji kakak kemarin. Kakak yang akan antar kamu ke Kampus," ucap Davian.
"Hm!" Darel hanya menjawabnya dengan deheman.
"Dan selanjutnya, kamu boleh pergi ke Kampus sendiri. Tanpa diantar lagi!" seru Nevan.
Sontak Darel menghentikan makannya. Lalu berlahan Darel mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Nevan, kakak keduanya itu.
__ADS_1
Nevan yang melihat tatapan adiknya tersenyum gemas. Dan detik kemudian, Nevan mengangguk sebagai jawaban bahwa perkataannya barusan adalah kebenaran.
Darel mengalihkan pandangannya melihat kearah Davian, kakak tertuanya itu. Dirinya hanya ingin memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
Davian yang melihat tatapan mata adik bungsunya itu pun mengerti. Davian langsung mengangguk. Hal itu sukses membuat Darel menangis. Air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya.
Davian yang melihat adiknya menangis langsung berdiri dan menghampiri sang adik. Kemudian Davian memeluk adik bungsunya itu dari belakang.
Tangis Darel makin pecah saat mendapat pelukan tersebut. "Hiks..."
"Ka-kakak," lirih Darel.
"Kamu berhak mendapatkannya. Itu hadiah dari kakak karena kamu sudah menjadi adik yang baik untuk kakak. Mulai besok kamu sudah boleh pergi sendirian tanpa diantar. Terserah! Mau bawa mobil, motor atau pergi dengan Evan dan Raffa!" Davian berbicara dengan lembut. Dirinya masih memeluk tubuh adik kesayangannya.
Darel melepaskan pelukan Davian. Setelah itu, Darel berdiri dan menghadap kakaknya. Darel menatap manik hitam sang Kakak.
"Benarkah? Kakak tidak bohong?" tanya Darel.
"Kakak tidak bohong. Kakak dan kakak-kakak kamu yang lainnya sudah memberikan izin kepada kamu. Kamu boleh pergi kemana pun sendirian," balas Davian.
"Itu benar, Rel!." seru Ghali dan diangguki oleh Elvan, Andre dan Arga.
"Ka-kakak."
GREP
Darel seketika memeluk Davian dan menangis disana.
"Hiks.. Hiks... kakak."
Davian mengeratkan pelukannya. "Maafkan kakak yang selama ini tidak mengerti dan memahami keinginan kamu. Selama ini kakak terlalu egois."
Darel menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak kak. Kakak adalah kakak kesayanganku. Kakak adalah kakak terbaik yang aku miliki. Kakak sudah menjagaku, menyayangiku dan melindungi dari aku kecil hingga sekarang."
Davian tersenyum bahagia mendengar penuturan dari adik bungsunya. Dirinya benar-benar bangga akan adiknya itu.
"Terima kasih, sayang!" Davian menciumi pucuk kepala adiknya.
Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya tersenyum bahagia melihat interaksi Davian dan Darel.
Davian melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah tampan sang adik. Kemudian Davian menghapus air mata adiknya itu.
"Ya, sudah! Sekarang kamu lanjutkan sarapannya dan jangan ada yang tersisa. Setelah itu kakak akan antar kamu ke Kampus," ucap Davian lembut.
"Baiklah, kak!" Darel pun langsung kembali duduk dan mulai melanjutkan sarapannya.
Mereka semua tersenyum melihat Darel yang langsung menurut. Setelah itu mereka semua kembali melanjutkan sarapan yang sempat terhenti.
***
DI PERJALANAN
Sebuah mobil Mercedes-Benz Maybach Exelero berwarna hitam melintas di jalan raya. Di dalam mobil terlihat dua pemuda tampan yang tatapan matanya mengarah ke depan. Yang satu fokus menyetir sembari mengoceh tak jelas dan yang satunya lagi hanya bisa menghela nafas sambil terus telinganya mendengar ocehan dari yang lebih tua.
Pemuda itu mulai mengoceh dari berangkat meninggalkan rumah sampai saat ini di dalam perjalanan. Pemuda itu tak hentinya mengoceh. Dirinya itu benar-benar kesal. Sementara yang termuda hanya menjadi pendengar setia, walau dalam hati mengumpat kesal.
"Bisa tidak kakak berhenti mengomel?" ucap yang termuda.
"Berisik," balas yang lebih tua.
"Sebenarnya kakak kenapa sih?" tanya yang lebih muda.
"Kau masih bocah ingusan. Jadi diam saja. Kau tidak akan mengerti apa-apa," jawab yang lebih tua.
"Aish. Dasar orang tua."
"Apa kau bilang??"
"Tidak. Aku tidak bilang apa-apa."
Setelah mengatakan hal itu, keduanya memilih diam.
__ADS_1