Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Memulai Permainan


__ADS_3

Mereka semua telah berada di meja makan. Dan telah duduk di kursi masing-masing. Saat Mathew ingin duduk di kursi yang kosong dimana kursi itu adalah milik Arvind dan kebetulan di sampingnya telah duduk Adelina. Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang menuruni anak tangga.


"Jangan duduk disitu!" teriak Darel.


Semuanya melihat kearah Darel. Dan mereka terkejut saat melihat Darel dengan wajah yang menatap tajam kearah Mathew. Darel melangkahkan kakinya menuju meja makan.


"Sayang," panggil Adelina.


"Tidak ada yang boleh duduk di kursi Papa," sahut Darel


"Hei, kau..." ucap Agatha.


"Aku tidak ingin mendengar ucapan kotormu malam ini, Nyonya. Jadi diamlah." Darel berucap ketus kepada Agatha.


"Baiklah, Darel. Paman tidak akan duduk di kursi Papamu." Mathew memilih mengalah. Lebih tepatnya memilih untuk bersabar. Lalu Mathew berpindah untuk duduk di kursi Antony.


Saat melihat Mathew yang hendak duduk di kursi Kakeknya, Darel membelalakkan matanya tak suka.


"Aku melarangmu duduk di kursi Papa, bukan berarti aku mengizinkanmu untuk duduk di kursinya Kakek!" teriak Darel.


"Tapi Darel. Disini hanya ada dua kursi kosong. Kalau kamu tidak mengizinkan Mathew untuk duduk disalah satunya. Lalu Mathew mau duduk dimana?" tanya Sandy lembut


Sandy tahu bahwa Darel sangat amat menyayangi Ayah dan kakeknya.


"Aku tidak peduli. Dia hanya tamu disini. Kalau dia ingin duduk. Kenapa dia tidak cari sendiri kursi untuk dirinya sendiri?" jawab Darel.


"Brengsek!" batin Mathew.


"Begini saja ya sayang. Bagaimana kalau Paman Sandy yang duduk di kursi Kakekmu. Lalu Davian yang duduk di kursi Papamu. Dan..." ucapan Salma terpotong.


"Dan orang itu yang akan duduk di kursinya Kak Davian, begitu." Darel berucap ketus.


"Bukan, sayang. Yang akan duduk di kursi Davian adalah Paman Sandy," jawab Salma lembut.


"Jadi dengan kata lain, orang itu yang akan duduk di kursi Paman Sandy?" tanya Darel.


"Iya, sayang." Salma menjawabnya.


"Tidak," jawab Darel.


Mereka lagi-lagi terkejut mendengar jawaban dari Darel.


"Aku juga tidak mengizinkan orang itu duduk di kursi Paman Sandy karena Paman Sandy adalah Paman kesayanganku. Wajah Paman Sandy selalu mengingatkanku dengan Papa. Sifat Paman Sandy sama seperti sifat Papa. Selama Papa tidak ada, Paman Sandy selalu ada untukku. Saat Paman Sandy memelukku, seakan-akan aku dipeluk Papa. Paman Sandy adalah Papa kedua untukku." Darel berbicara dengan nada bergetarnya dan disertai air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.


Sandy yang mendengar penuturan dari Darel tertegung. Tanpa sadar, Sandy juga ikut menangis. Begitu juga dengan yang lainnya, kecuali si para iblis. Mereka menangis mendengar penuturan Darel.


BRAAKK!


"Kau benar-benar tidak tahu diri ya. Kita disini mau makan. Kenapa kau malah membuat kacau keadaan? Apa susahnya sih kau biarkan Mathew duduk di kursi Papamu atau Kakekmu itu. Toh, orangnya juga gak ada!" bentak Agatha.


Darel menatap nyalang Agatha. "Hahahaha. Hei, Nyonya Agatha. Kenapa anda yang marah, hah?! Sedangkan saudara Mathew saja tidak marah. Bahkan anggota keluargaku yang lainnya juga tidak ada yang marah. Kenapa anda yang lebih galak disini dibandingkan saudara Mathew?" tanya Darel.


"Hei, Nyonya! Yang harus sadar diri itu adalah anda dan putra-putra anda. Bukan aku. Apa anda sudah lupa bahwa aku adalah pemilik dari semua kekayaan milik Kakek Antony Wilson. Kalau aku mau hari ini juga aku bisa mengusirmu dan putra-putramu dari rumah ini. Jadi aku minta pada anda untuk bersikap sopan selama berada di rumah ini!" teriak Darel

__ADS_1


Mendengar penuturan Darel, Agatha langsung terdiam. Dirinya merutuki kebodohannya sendiri.


"Ach, Sial." Agatha membatin.


Darel menatap wajah William. "Paman William. Apa Paman tidak curiga dengan sikap istri Paman ini, hum? Coba lihatlah kelakuannya. Di depan Paman dia berani membela orang lain. Aku curiga jangan-jangan istri Paman ini ada hubungan special dengan saudara Mathew yang tak lain adalah saudara sepupu Paman sendiri." Darel berbicara sembari memanas-manasi suasana


"Tutup mulut, sialan!" bentak Agatha. "Kau jangan memitnahku sembarangan. Apa kau punya bukti?" tanya Agatha yang tanpa sadar menantang Darel.


Darel tersenyum lebar sembari matanya menatap Agatha. "Kalau aku memiliki buktinya, lalu aku perlihatkan bukti-bukti itu di depan semua anggota keluargaku, hari ini juga. Apa yang akan kau lakukan, Nyonya?" tanya Darel balik.


Agatha diam membeku. Dirinya tidak tahu mau menjawab apa? Sedangkan anggota keluarga yang lainnya, termasuk William menatap wajah tegang Agatha. Darel jangan ditanya lagi. Dirinya yang melihat wajah tegang Agatha tersenyum puas.


"Mampus! Rasain! Kau tidak bisa jawabkan!" batin Evan. 


"Skakmat! Bagus, Rel!" batin Dirga.


"Aku datang kesini hanya ingin mengambil air minum saja," sahut Darel.


Darel menatap wajah cantik ibunya. "Ma. Malam ini aku ingin makan sereal saja. Aku gak mau makan. Boleh?"


Adelina tersenyum gemas melihat wajah tampan putra bungsunya itu.


"Tentu boleh dong, sayang."


"Oke. Nanti suruh pelayan saja yang mengantarkan sereal itu ke kamarku. Dan Mama tetap lanjutkan makan malamnya," ucap Darel.


"Siap, kapten." Adelina berucap lembut.


Darel kembali menatap satu persatu wajah-wajah anggota keluarganya.


Setelah mengatakan hal itu, Darel langsung pergi meninggalkan meja makan dengan sebotol minuman di tangannya.


^^^


Semua anggota keluarga Wilson sudah berkumpul di ruang tengah. Tinggal menunggu Darel saja.


"Sebenarnya apa yang akan dibicarakan oleh Darel kepada kita?" tanya Naufal.


"Yang jelas ada sesuatu yang ingin disampaikan Darel pada kita," sela Steven.


"Alah. Palingan cari perhatian. Dasar menjijikkan," sahut Agatha.


"Agatha, jangan buat masalah lagi. Apa belum puas kau membuat masalah saat di meja makan tadi?!" bentak William.


"Brengsek, kau William. Berani sekali kau membentak istriku," batin Mathew.


"Maaf. Lama menunggu ya!" seru Darel yang datang menghampiri anggota keluarganya dengan beberapa map di tangannya


"Tidak apa-apa, sayang." Daksa menjawabnya.


Darel langsung mendudukkan pantatnya, tepatnya ditengah-tengah Davian dan Nevan.


"Baiklah. Aku langsung saja. Begini, mulai besok Paman William akan aku percayakan untuk mengelola CJ GRUP bersama Kak Dirga. Dan untuk Kak Davian, Kak Steven dan Kak Naufal tidak akan mengurus Perusahaan itu lagi."

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Darel membuat Agatha dan Mathew tersenyum bahagia karena Darel mempercayakan Perusahaan utama keluarga Wilson tersebut pada William dan Dirga.


Saat Darel ingin melanjutkan perkataannya. Davian sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Kenapa begitu, Rel? Ada apa ini sebenarnya?" tanya Davian.


Darel menatap wajah kakak tertuanya itu. "Kakak Davian, tenanglah. Kakak dengarkan aku bicara dulu. Setelah ini kita akan membahasnya."


"Baiklah."


"Ini." Darel memberikan map warna biru pada William.


"Apa ini, Rel?" tanya William sembari menerima map tersebut.


"Baca saja. Nanti Paman akan tahu. Setelah Paman membacanya, jangan lupa tanda tangan disitu. Setelah itu berikan pada Kak Dirga." Darel berucap.


William membuka map tersebut. Saat William membacanya, William tertegung akan isinya. Lalu William menandatangani berkas tersebut. Setelah selesai, William memberikan pada Dirga. Sama hal dengan William. Dirga juga tertegung pada isi berkas itu. Lalu Dirga juga menandatangani berkas itu. Setelah Dirga selesai, Dirga memberikan map itu pada Darel.


Dirga menatap wajah Darel. "Ini pasti rencanamukan, Rel?? Kau sengaja memberikan Perusahaan itu pada Papa dan juga padaku. Tujuannya adalah ingin memancing iblis betina itu mendekatiku dan memanfaatkanku. Kalau itu benar, permainan akan segera dimulai, Rel. Kakak berjanji padamu akan melakukan yang terbaik untuk keluarga kita. Dan Kakak akan buat seolah-olah iblis betina itu berhasil dengan rencananya." Dirga berbicara di dalam hatinya.


"Oke. Urusanku dengan Paman William dan Kak Dirga sudah selesai. Sekarang urusanku dengan Paman Sandy, Bibi Evita dan para kakak-kakakku semua, tak terkecuali. Kita bicarakan masalah ini di kamarnya Kakek karena kamarnya Kakek kedap suara. Jadi tidak akan ada yang bisa mendengar pembicaraan kita."


Darel bangkit dari duduknya dan langsung menuju kamar sang kakek. Lalu disusul oleh yang lainnya di belakang.


^^^


Saat ini Darel, Sandy, Evita dan para kakak-kakaknya sudah berada di kamar Antony.


"Jadi begini. Aku mau Kak Davian, Kak Nevan Kak Ghali dan Kak Elvan bertanggung jawab di perusahaan HYUNDAI GRUP. Selama Papa tidak ada, kalianlah yang bertanggung jawab. Dan untuk Kak Andre, Kak Arga, Kak Daffa dan Kak Vano mengurus Perusahaan AW CORP." Darel berbicara sambil menatap para kakak-kakaknya.


Saat Darel ingin melanjutkan, Arga sudah terlebih dahulu bertanya. "AW CORP? Perusahaan siapa itu, Rel?"


"Aish, Kak Arga. Aku belum selesai bicara. Jadi jangan dipotong," protes Darel sembari mempoutkan bibirnya kesal. Mereka semua tersenyum gemas melihatnya.


"Oke... Oke! Baiklah," jawab Arga.


"Dikarenakan Kak Alvaro dan Kak Axel masih kuliah. Kak Evan, Kak Raffa dan aku sendiri masih sekolah. Maka kami fokus pada pendidikan. Setelah kami selesai, kami akan bergabung di perusahaan tersebut." Darel berucap.


"Untuk Kak Steven, Kak Dario, Kak Erick, Kak Dhafin dan Kak Rendra. Kalian akan mengurus Perusahaan SW CORP. Tapi kalau salah satu dari kalian ingin membantu Paman Sandy di Perusahaan J. TUNE ENTERTAINMENT juga tidak apa-apa. Itu masalah pribadi kalian. Yang jelas SW CORP aku serahkan pada kalian." Darel berucap dengan menatap kelima kakak sepupunya.


"Terakhir untuk Kak Naufal, Kak Aditya, Kak Gilang, Kak Satya dan Kak Melvin. Kalian mengurus Perusahaan EW CORP. Perusahaan itu aku serahkan pada kalian." Darel berbicara sambil melihat kelima kakak sepupunya.


Darel menatap wajah Sandy dan Evita. "Paman dan Bibi mengertikan maksudku menyerahkan tiga Perusahaan itu pada mereka semua?"


Sandy dan Evita tersenyum dan kemudian keduanya mengangguk. Sandy dan Evita kemudian menatap satu persatu wajah putra-putranya dan keponakan-keponakannya.


"Tiga Perusahaan itu adalah Perusahaan yang telah disiapkan oleh Kakek kalian," sahut Sandy.


"Lebih tepatnya diberikan untuk kalian cucu-cucunya," ucap Evita  menambahkan.


"Sebenarnya Perusahaan Kakek kalian itu ada empat, termasuk CJ GRUP. Tapi tiga perusahaan tersebut disembunyikan oleh Kakek kalian. Hanya beberapa perusahaan saja yang kenal dengan tiga perusahaan itu. Dan ditambah lagi, Kakek kalian juga menyembunyikan identitas nama Direktur dari tiga perusahaan tersebut. Setiap ada pertemuan, rapat dan lain-lainnya, Kakek kalian menyerahkan pada tiga kaki tangannya," kata Sandy.


"Lalu bagaimana dengan Paman William?" tanya Aditya.

__ADS_1


"Kakek, Papa kalian, Paman dan Bibi sepakat untuk menyerahkan CJ GRUP pada William. Dan Paman kalian itu yang akan memimpin perusahaan tersebut. Tapi saat Kakek kalian ingin menyerahkan semua tanggung jawab Perusahaan pada William, tiba-tiba Kakek kalian pulang dalam keadaan marah-marah. Kami saat itu benar-benar tidak mengerti dan tidak mengetahui apapun. Kakek kalian tidak pernah bercerita apapun pada kami, anak-anaknya. Maka akhirnya kakek kalian membuat keputusan untuk mewariskan semua kekayaan miliknya pada Darel." Sandy berbicara dengan menatap wajah putra-putranya dan keponakan-keponakannya.


__ADS_2