
Kini tubuh Mathew sudah dalam keadaan terikat di kursi. Arvind, Sandy dan William menatap nyalang Mathew.
BUGH! BUGH!
"Aakkhhh!" teriak Mathew.
Arvind memukul wajah Mathew secara bertubi-tubi dan brutal.
BUGH! BUGH!
"Aaakkkhhhh!" teriak Mathew merasakan nyeri di bagian dadanya.
Sandy juga tidak mau kalah. Dirinya lebih bringas dari sang kakak. Sandy memukul wajah dan dada kiri Mathew dengan sangat kuat secara bertubi-tubi.
William menatap nyalang kearah Mathew. "CUIH!" William meludahi wajah Mathew.
"Dasar menjijikkan!"
DUAGH!
"Aaakkkhhhh!"
William menendang tepat bagian dada Mathew dengan sangat kuat, sehingga membuat Mathew terjatuh.
***
Di dalam mobil Davian memeluk erat tubuh adik bungsunya. Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga menangis melihat wajah pucat sang adik. Nevan masih terus menekan luka di perut adiknya. Dua tembakan yang mengenai perut sang adik. Mereka terus menerus memberikan kecupan-kecupan sayang di pucuk kepala adiknya.
"Darel. Kakak mohon bertahanlah. Jangan menyerah, oke!" Davian berucap sambil terus membelai wajah adiknya.
"Darel jangan tidur ya. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," ucap Ghali.
"Ka-kakak," lirih Darel pelan.
"Ada apa, hum?" jawab mereka kompak.
"Di-ngin."
Ghali, Nevan dan Elvan membuka jacket mereka. Lalu membalut jacket itu ke tubuh adik mereka. Ditambah dengan pelukan Davian.
"Ka-kakak."
"Ya, sayang." mereka menjawabnya secara bersamaan.
"A-aku me-ngantuk, Ka-kakak. Aku m-mau ti-dur.."
"Hiks.. tidak Darel. Darel tidak boleh tidur. Darel harus tetap sadar, oke! Hiks.. Jangan pejamkan matamu ya, sayang. Kakak mohon." Davian makin terisak kala mendengar ucapan adik bungsunya.
Mereka sudah tidak bisa membendung kesedihan dan kekhawatiran mereka terhadap adik bungsu mereka. Mereka benar-benar takut akan terjadi sesuatu pada kesayangan mereka ini.
__ADS_1
"Ka-kakak.. a-aku menyayangi ka-lian. Ja-ga Papa dan Ma-ma.. aahhh.. aahhh.. aahhh.. aahhh." nafas Darel sudah mulai putus-putus.
"Darel."
"Darel."
Mereka terus memanggil nama adik bungsunya. Mereka tidak ingin adik mereka tertidur. Davian memeluk erat tubuh dingin adiknya itu.
"Hik.. Hiks.. Kakak mohon bertahanlah, sayang. Kami semua menyayangimu. Kami semua ingin kau selalu ada untuk kami.. hiks." Davian makin terisak melihat kondisi adiknya.
"Aaaahhhhhh."
Davian merasakan nafas Darel yang panjang. Dan seketika tubuh adiknya tak bergerak sama sekali.
"Darel.. Darel!" Davian menggoyang-goyangkan tubuh adiknya. Tapi tidak ada respon sama sekali dari adiknya.
"Hiks.. Darel.. hiks!" teriak Nevan dan Ghali bersamaan. Mereka sudah menangis terisak.
Elvan menepuk-nepuk pipi adiknya, siapa tahu adiknya tersadar. Tapi berulang kali Elvan melakukannya. Adiknya itu tak memberikan respon apapun.
Nevan memberikan nafas buatan pada adiknya. Dirinya berusaha untuk mengembalikan detak jantung sang adik. Kini posisi Darel sudah di baringkan. Darel tidur di kursi. Kakinya berada di paha Davian. Nevan menekan-nekan dada Darel. Siapa tahu dengan cara seperti ini, dirinya bisa mengembalikan detak jantung sang adik.
"Ayolah, sayang. Kakak mohon sadarlah," lirih Nevan
"Darel.. hiks."
"Rel. Kakak mohon, bertahanlah. Kalau kau mau bertahan. Kakak akan melakukan apapun untukmu," batin Dirga.
***
Agatha menangis sembari memeluk tubuh suaminya ketika William ingin menginjak kaki Mathew, Agatha menghalanginya.
"Aku mohon. Jangan sakiti suamiku. Aku.. aku akui aku salah. Aku sudah menyakiti putra-putramu dan juga keponakan-keponakanmu. Maafkan aku.. maafkan suamiku. Aku mohon." Agatha memohon pada William.
William menarik kasar rambut Agatha, sehingga membuat Agatha berteriak.
"Aaakkkhhhh!"
"Apa dengan kau dan suamimu meminta maaf bisa mengembalikan Istriku, Mamaku dan Papaku, hah?!" teriak William. "Seribu kali pun kau dan suamimu meminta maaf padaku, pada keluargaku, mereka tidak akan bisa kembali lagi!"
PLAAKKK!
BRUUKKK!
William menampar kuat pipi Agatha, lalu kemudian mendorong kasar tubuh Agatha hingga tersungkur di lantai.
Arvind dan Sandy melihat kemarahan di mata William, tapi mereka tidak berniat untuk ikut campur. Bahkan untuk melarang William pun, mereka tidak berniat sama sekali. Mereka membiarkan William menumpahkan semua rasa sakitnya dan amarahnya selama ini pada Agatha. Arvind dan Sandy fokus pada Mathew saat ini.
William mendekati Agatha. Lalu tangannya kembali menarik rambutnya, tapi Rayyan dan Kevin menghalanginya.
__ADS_1
"Papa. Kami mohon jangan sakiti Mama," ucap Kevin.
"Kami akui kesalahan Mama tidak bisa dimaafkan. Tapi tolong jangan sakiti Mama, Pa." Rayyan memohon kepada William.
Kelima putra-putra Agatha menangis. Mereka menangis saat melihat ibunya disakiti. Tapi mereka bersikap biasa saja saat Mathew disakiti.
"Minggir kalian. Kalian bukan putra-putraku. Jadi jangan pernah memanggilku dengan sebutan Papa!" bentak William.
"Pa.. hiks.. kami sadar. Kami bukan putra kandung Papa. Tapi satu hal yang harus Papa ingat. Papa yang sudah menjaga kami selama ini. Papa yang sudah merawat kami selama ini. Papa yang sudah menafkahi kami. Dan Papa juga yang sudah memberikan kami kasih sayang selama ini." Rayyan berucap dengan suara lirih.
"Pa. Kami tidak tahu masalah kalian orang dewasa. Sumpah. Kami tidak mengetahui apapun. Kami hanya seorang anak yang melakukan apa yang kami suka. Kami akui selama ini sikap kami sangat buruk. Kami selalu membuatmu malu di depan anggota keluargamu. Kami juga sering bersikap kasar pada anggota keluarga yang lainnya. Tapi.. semua yang kami lakukan karena kami tidak pernah dididik dan diajarkan tentang hal yang benar oleh Mama. Apa yang kami lakukan selalu benar di mata Mama dan selalu dibela oleh Mama?" Kevin berbicara sambil menatap wajah William.
"Mama tidak pernah mendidik kami seperti Bibi Adelina, Bibi Evita dan Bibi Salma mendidik putra-putra mereka. Mama selalu menanamkan kebencian di pikiran kami. Maafkan kami, Pa. Jangan hukum kami seperti ini." Dzaky ikut memohon kepada William.
"Selamanya Papa adalah Papa kami. Kau adalah malaikat kami. Jangan membenci kami atas kejahatan yang dilakukan oleh kedua orang tua kandung kami," Aldan.
"Pa. Selama ini kami benar-benar menyayangimu. Sekalipun kelakuan kami buruk. Kau adalah Papa kami yang terbaik. Kau adalah kebanggaan kami," ucap Caleb.
William terdiam mendengar penuturan dari Rayyan dan adik-adiknya. Di dalam hati William, dirinya membenarkan semua perkataan kelimanya. Selama ini dirinya yang telah merawat, menjaga dan membesarkan mereka. Dan selama ini mereka tidak pernah dididik dengan baik oleh Agatha.
Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan menatap sendu William. Mereka memang tulus menyayangi William. Hanya William lah Papa yang mereka kenal. Hanya William lah yang selalu ada di hati mereka. Tidak ada Papa yang lain. Walau kelakuan mereka selama ini buruk, tapi rasa sayang dan rasa hormat mereka pada William begitu besar.
"Pa. Aku tidak meminta Papa untuk memaafkan Mama karena aku tahu kesalahan Mama sudah terlalu besar. Aku memohon pada Papa untuk tidak menyakiti Mama, bukan semata-mata aku dan adik-adikku memaafkan kesalahan Mama. Tapi kalau Papa ingin menghukum Mama, serahkan saja Mama pada pihak kepolisian. Biarkan pihak kepolisian atau pihak pengadilan memberikan hukuman yang pantas untuk Mama. Aku tidak mau Papa mengotori tangan Papa untuk menyakiti Mama. Papa adalah orang yang baik. Sangat baik. Papa tidak pantas menjadi orang jahat hanya untuk menyakiti seorang perempuan seperti Mama." Rayyan berbicara dengan menatap wajah William dan disertai air matanya.
Hancur sudah pertahanan William. Akhirnya air mata William tumpah. William menangis. Dalam hatinya, William masih menyayangi Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan. Walau mereka bukan putra-putra kandungnya.
Arvind dan Sandy yang sedari hanya memperhatikan William, Akhirnya keduanya mendekati William.
PUK!
PUK!
Arvind dan Sandy menepuk pelan bahu William. William melihat kearah kedua kakaknya itu.
"Mereka tidak salah, William. Yang salah itu kedua orang tua mereka," sahut Arvind.
"Mereka juga sama sepertimu. Sama-sama korban kebohongan Agatha dan Mathew," ucap Sandy.
"Paman Arvind. Maafkan kesalahanku dan adik-adikku. Aku akui aku dan adik-adikku sudah terlalu banyak menyakiti Paman, Bibi Adelina dan lebih parahnya lagi Darel." Rayyan mengucapkan kata maaf dengan tulus kelasa Arvind.
"Maafkan aku juga Paman. Aku benar-benar menyesal. Aku mohon jangan hukum aku, Paman." Kevin berucap maaf kepada Arvind.
"Maafkan kami Paman Arvind, Paman Sandy. Kami akan melakukan apa saja. Asal Paman Arvind dan Paman Sandy mau memaafkan kami," ucap Caleb dan Dzaky bersamaan.
"Kami mohon, Paman." Aldan memohon pada Arvind.
"Semua itu tergantung Papa kalian. Kalau Papa kalian mau memaafkan kesalahan kalian. Maka Paman dan Paman Sandy juga akan memaafkan kesalahan kalian!" seru Arvind.
Rayyan dan adik-adiknya menatap sendu wajah William.
__ADS_1