Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Pengakuan Jujur Khary, Leo Dan Fahri


__ADS_3

Darel terus menatap tajam kearah sosok ketiga pemuda itu. Sementara disisi lain, Samuel, Razig, Juan, Lucas dan Zelig serta para kakak sepupunya yaitu Rendra, Melvin, Aldan dan Dylan masih terus memperhatikan Darel yang sedang menatap kearah tiga pemuda itu.


"Ternyata kalian masih memiliki keberanian yang cukup besar untuk kembali lagi ke negara ini." seru Darel


Mendengar seruan dari Darel. Khary Darka, Leo Xavier dan Fahri Carney terkejut lalu mereka melihat kearah Darel.


Ketika ketiganya melihat kearah Darel, tatapan ketiganya berubah tajam.


"Hei, Rel. Kita bertemu kembali." seru Fahri.


"Sudah lama tidak bertemu. Dan kau masih sama seperti dulu. Hahahaha," ucap Khary sembari tertawa.


"Ooh! Ada yang kurang nih," ejek Leo dengan senyuman di sudut bibirnya.


Mendengar ucapan dari Leo. Fahri dan Khary pun mengerti. Mereka melihat Darel yang sendirian tanpa ketujuh sahabatnya.


"Hei, Rek. Tumben kau sendirian kali ini. Kenapa ketujuh kacung-kacungmu itu, hah?!" teriak Khary.


"Apa mereka sudah bosan bersahabat denganmu sehingga mereka meninggalkanmu sendiri?" ejek Leo.


"Hahahahaha," ketiganya tertawa.


"Apa kalian sudah selesai bicaranya, hum?"


Khary, Leo dan Fahri saling lirik lalu kemudian kembali menatap tajam wajah Darel.


Melihat ketiga musuhnya hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya, Darek tersenyum menyeringai.


"Sepertinya kalian sudah selesai bicara. Kalau begitu giliranku sekarang." Darel berucap sembari menatap remeh ketiga musuhnya.


"Aku hanya mengingatkan kalian saja tentang kejadian saat kita masih di SMA dulu. Aku harap kalian masih ingat dan tidak melupakannya," sahut Darel.


Khary, Leo dan Fahri geram melihat dan mendengar perkataan Darel. Seketika kejadian saat mereka di SMA dulu terekam dipikiran mereka.


Khary, Leo dan Fahri mengingat kejadian dimana mereka yang melawan Darel dan ketujuh sahabatnya. Darel menghajar mereka habis-habisan karena sudah membully dua teman satu kelas dengan Darel dan ketujuh sahabatnya sehingga membuat mereka harus meninggalkan negara Jerman.


Mengingat kejadian itu membuat Khary, Leo dan Fahri menatap marah kearah Darel.


"Bagaimana? Kalian sudah mengingatnya?" tanya Darel dengan menatap tajam ketiganya


"Apa yang sedang kau rencanakan, Darel?" teriak Khary.


Teriakan Khary mengundang semua perhatian para mahasiswa dan mahasiswi. Tatapan mereka tertuju pada Darel, Khary, Leo dan Fahri sedang berdebat.


Sementara keempat kakak sepupunya, Samuel, Razig, Lucas, Juan dan Zelig masih terus memperhatikan mereka.


"Apa ketiga pemuda itu musuh dari Darel dan kakak-kakak sepupu kita?" tanya Juan.


"Sepertinya, iya. Mereka bertiga adalah musuh saat Darel dan kakak-kakak sepupu kita di SMA." sela Zelig


"Dan sepertinya Darel mencurigai mereka atas apa yang terjadi pada kakak-kakak kita" ucap Lucas.


"Sebenarnya mereka itu siapa sih?" tanya Dylan.


TAK..

__ADS_1


"Aww! Dylan mengusap-usap keningnya.


Aldan menjitak kening Dylan sehingga membuat Dylan mendengus kesal.


"Yak, Aldan! Kenapa kau menjitakku, hah?"


"Salah sendiri. Dari tadi kita memperhatikan Darel dan juga mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi kau sama sekali gak nyambung." jawab Aldan.


Sementara Melvin dan Rendra hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat perdebatan Dylan dan Aldan.


"Hei, saudara Aldan. Bukan aku tidak nyambung atau tidak mengerti apa yang aku dengar. Maksudku itu apa mereka dalang dari kecelakaan yang dialami ketujuh sahabatnya Darel. Secara dilihat dari tatapan mata Darel tersirat amarah dan dendam disana."


Mendengar ucapan dari Dylan. Rendra, Aldan dan Melvin membenarkan perkataan Dylan. Memang terlihat dari tatapan matanya Darel, jika Darel memang memiliki dendam terhadap ketiga pemuda yang saat ini berdiri dihadapannya.


Darel tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari Khary. "Seperti yang sudah kalian ketahui sebelum kalian pergi meninggalkan Jerman." saut Darel.


"Jangan coba-coba kau menyentuh keluarga kami, Darel Wilson.!" bentak Leo.


"Mereka tidak salah dalam hal ini. Jadi menjauhlah dari mereka!" bentak Fahri.


"Jika kau dendam pada kami, maka lawan kami, tapi jangan libatkan anggota keluarga kami." teriak Khary.


"Tapi sayangnya, aku sedang tidak ingin bernegosiasi dengan kalian. Kalian tahu sendirikan seperti apa sifatku yang sebenarnya. Bukankah kalian sudah mengenalku sejak lama." saut Darel.


"Lagian aku hanya menjalankan apa yang telah aku ucapkan dulu. Seorang pria harus bisa menepati perkataannya. Bukankah begitu saudara Fahri, saudara Leo dan saudara Khary." ucap Darel dengan menatap remeh ketiganya


"Kau tidak akan berani melakukan itu, Darel! Dan kau juga tidak akan bisa melakukannya sendiri." ucap Fahri.


"Bahkan saat ini kau hanya sendirian tanpa ketujuh sahabat-sahabatmu yang bodoh itu." kata Leo.


"Kau tidak akan bisa apa-apa tanpa mereka. Selama ini, baik kau dan ketujuh manusia busuk itu hanya berani saat bersamaan. Tapi jika sendirian, kalian hanya segerombolan pengecut." ucap Khary.


"Kalian terlalu percaya diri. Saat ini aku memang sendirian dan tidak bersama dengan sahabat-sahabatku. Tapi bukan berarti aku tidak mampu untuk mengalahkan kalian yang hanya berjumlah tiga orang." ucap Darel.


"Oh, iya. Kemana teman-teman kalian yang lainnya? Bukankah kalian itu selalu pergi bersama-sama dan tidak pernah berpisah. Kalian itu sudah seperti sekumpulan itik yang keluar dan masuk kandang secara bersamaan." ucap Darel sembari mengejek Leo, Fahri dan Khary.


Mendengar penuturan dari Darel. membuat Fahri, Leo dan Khary menjadi marah. Sementara Samuel, Juan, Razig, Lucas dan Zelig tertawa mendengar ucapan dari Darel. Begitu juga dengan keempat kakak sepupunya, mereka tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Darel.


"Tutup mulutmu, Darel!" bentak Fahri.


"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku, hum? Bukankah memang seperti itu ya kalian dulunya." jawab Darel.


"Darel Wilson!" teriak Khary.


Khary, Leo dan Fahri berlari dan menyerang Darel secara bersamaan. Dan pada akhirnya terjadilah perkelahian diantara mereka. Keempat kakak-kakak sepupu menjadi panik saat melihat Darel yang bertarung sendirian.


BUGH.. BUGH..


DUAGH.. DUAGH..


Khary, Leo dan Fahri terkapar di tanah. Mereka tidak menyangka melihat Darel yang berhasil mengalahkan mereka sendirian.


Darel menatap nyalang Leo, Khary dan Fahri. Tatapan matanya yang memerah menahan tangisannya.


"Nyali kalian itu hanya di mulut doang. Tapi disaat bertarung, kalian tidak ada apa-apanya. Kalian berani disaat bersamaan!" teriak Darel.

__ADS_1


"Kalian sudah salah bermain denganku. Kalian benar-benar banci, licik dan pengecut. Kalian berani menyerang ketujuh sahabat-sahabatku, disaat mereka sedang lengah. Kalian sudah berani menyakiti mereka sehingga membuat mereka pergi meninggalkanku untuk selamanya." teriak Darel disertai air matanya yang mengalir membasahi wajah tampannya


DEG..


Khary, Leo dan Fahri terkejut saat mendengar ucapan dari Darel.


"Apa? Pergi untuk selamanya? Apa maksudnya?" batin Leo.


"Apa maksud dari perkataanmu itu, Darel?" tanya Khary.


"Kami benar-benar tidak mengerti arah ucapanmu itu." kata Fahri.


"Hahahaha. Apa kalian pikir aku akan percaya dengan ucapan kalian itu? Jawabannya adalah tidak!" bentak Darel.


"Tapi kami benar-benar tidak mengerti dengan perkataanmu itu, Darel Wilson." teriak Fahri.


Darel mengeluarkan sesuatu dari lehernya. Sebuah kalung yang dipakainya, kalung miliki Lian.


"Kalian pasti mengenal kalung ini bukan?" tanya Darel sambil memperlihatkan kalung itu di hadapan Leo, Khary dan Fahri.


Khary, Leo dan Fahri terkejut dan juga mengenali pemilik dari kalung itu.


"Lian." ucap mereka bersamaan.


"Jadi kalian mengenali pemilik kalung ini. Berarti kalian masih ingat kejadian malam itukan?" tanya Darel.


"Apa maksudmu, Darel? Kejadian apa?" tanya Leo yang memang benar-benar tidak mengetahui apa-apa.


"Sejak pihak sekolah mengusir kami dan menyuruh kami meninggalkan Jerman. Kami tidak pernah bertemu dengan Lian atau punĀ  berkomunikasi dengannya. Bahkan kami juga tidak bertemu dengan Rafif, Agra, Reymon dan Ronald!" sahut Khary.


"Jangan bohong kalian!" bentak Darel.


"Kami bicara apa adanya, Darel." jawab Leo.


"Kami memang berandalan saat kami di sekolah dulu. Tapi untuk membunuh kami tidak ada kepikiran sampai kesana." kata Khary.


"Kau pasti sudah tahu, siapa diantara kami yang paling kejam dan tidak punya hati disaat membully teman-teman sekolahnya?" sela Fahri.


Mendengar penuturan dari Fahri. Darel terdiam. Dirinya tahu hanya ada satu orang yang begitu kejam saat membully teman-teman sekolahnya dulu. Orang itu adalah Lian. Darel ingat sekali kejadian saat sebelum mereka diusir dari Jerman. Kedua temannya yang jadi korban bully sampai dirawat di rumah sakit.


Khary, Leo dan Fahri melihat kearah Darel. Dapat mereka lihat ada kesedihan, amarah, dendam dan juga kerinduan di manik mata Darel.


Sejujurnya, tujuan mereka kembali ke Jerman karena mereka merindukan negara Jerman. Bagaimana pun Jerman adalah tempat kelahiran mereka. Sebelum mereka kembali menginjakkan kaki ke negaranya lagi. Khary, Leo dan Fahri sudah tahu akan konsekuensinya. Mereka terus mengingat perkataan Darel sebelum mereka pergi meninggalkan Jerman.


Ditambah lagi, kepulangan mereka ke Jerman juga sudah mendapatkan ancaman dari keluarganya, terutama kedua orang tua mereka. Mereka diperbolehkan kembali ke Jerman tapi dengan satu syarat. Jangan pernah melakukan apa yang pernah mereka lakukan saat di SMA dulu. Dan mereka pun dengan tulus mematuhi syarat tersebut.


"Rel." panggil Leo.


Darel menatap nyalang Leo. Dan jangan lupa air matanya masih mengalir membasahi wajah tampannya.


"Aku berani bersumpah, Rel! Aku tidak tahu menahu masalah ketujuh sahabat-sahabatmu itu. Apalagi saat kau mengatakan bahwa mereka telah pergi untuk selamanya." ucap Fahri.


"Iya, Rel! Begitu juga denganku. Aku tidak tahu apa-apa. Aku kembali ke Jerman bersama kedua orang tuaku. Saat sampai di Jerman, aku dilarang untuk keluar selama dua minggu. Dan aku diperbolehkan keluar saat dua minggu waktu kuliahku dimulai. Bahkan sampai saat ini aku masih terus dipantau oleh keluargaku. Mereka masih terus mengawasiku. Mereka juga melarangku untuk keluar malam!" ucap Khary menjelaskan


"Sama sepertiku, Rel! Semenjak kejadian di sekolah dulu. Kedua orang tuaku dan kedua kakak-kakakku. Bahkan Paman, Bibi dan saudara-saudara sepupuku selalu mengingatkanku. Mereka tidak ingin aku melakukan hal-hal bodoh itu lagi." kata Fahri.

__ADS_1


Saat mendengar pengakuan dari Leo, Khary dan Fahri, akhirnya tangis Darel pun pecah. Seketika tubuh Darel jatuh lemah di tanah.


"Darel."


__ADS_2