
Adam sudah berada di Kampus, begitu juga dengan kedua kakaknya dan keempat kakak sepupunya. Mereka adalah Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan.
Sebelum masuk ke dalam kelas, mereka menemui adik manis mereka. Mereka hanya ingin memastikan bahwa adik mereka itu baik-baik saja.
Saat ini mereka ada di parkiran tempat memarkirkan kendaraan mereka masing-masing.
"Darel," panggil Evan.
"Hm." Darel menjawab sembari melepaskan helm yang menutupi kepalanya.
"Ada apa?" tanya Darel ketika melihat kedua kakaknya menatap dirinya.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Raffa.
"Memangnya aku kenapa?" tanya Darel balik.
"Tadi kamu pergi buru-buru. Kakak..." ucapan Raffa terpotong.
"Aku baik-baik saja, kakak Raffa!" Darel menjawabnya dengan nada lembut.
"Kamu yakin? Kamu lagi tidak berbohong kan?" tanya Evan.
"Iya, kakak Evan. Aku baik-baik saja. Percayalah!"
"Baiklah. Kakak percaya padamu." Evan dan Raffa berucap bersamaan.
"Ya, sudah. Kakak dan yang lainnya mau ke kelas. Kamu jaga diri selama tidak ada kami. Jika ada apa-apa kamu harus segera kasih tahu kami. Mengerti!" Evan berucap dengan penuh penekanan.
"Aku mengerti," jawab Darel.
"GOOD BOY." Raffa berucap sambil membelai lembut kepala adiknya.
***
Darel saat ini sedang melangkahkan kakinya menuju kelas. Namun, ketika Darel sedang melangkahkan kakinya, tiba-tiba beberapa orang yang menghadangnya. Dan itu membuat Darel terkejut. Darel menatap tajam orang-orang yang ada di hadapannya.
"Kalian lagi. Mau apa lagi? Aku tidak punya urusan dengan kalian." Darel berucap dengan wajah dinginnya.
Orang-orang yang menghadang Darel itu adalah kelompok Blok B. Mereka semua menatap tajam Darel.
"Kau memang tidak punya urusan dengan kami, bocah. Tapi kami yang ingin punya urusan denganmu." Korry menjawab perkataan Darel.
"Dan kami juga ingin buat perhitungan denganmu masalah kemarin," sela Nardy.
"Hahaha." Darel tertawa. "Jadi maksud kalian itu kalau kalian mau balas dendam kepadaku karena kalian tidak bisa melawanku. Hei, bukankah kalian yang mencari masalah terlebih dahulu denganku. Kenapa sekarang kalian mau balas dendam, hum?" Darel berbicara dengan nada mengejek.
"Brengsek! Jangan kau pikir kami tidak bisa melawanmu!" bentak Torra.
"Kemarin itu kami belum kalah. Kami bisa melawanmu. Bahkan membunuhmu kami juga mampu." Kim Yolly berbicara sembari mengancam.
Darel hanya menatap santai dan tidak mempedulikan ucapan keenam pemuda yang ada di hadapannya itu. Dirinya tidak ingin memiliki urusan dengan mereka.
"Tapi aku tidak punya urusan dengan kalian. Permisi." Darel pun pergi begitu saja dan meninggalkan keenam pemuda tersebut.
Ketika Darel ingin melangkah pergi, tiba-tiba tangannya dicekal oleh Nardy.
"Kau tidak akan bisa pergi kemana-mana!" bentak Nardy.
"Lepas!" bentak Darel.
"Kalau aku tidak mau. Kau mau apa, hah!" Nardy menatap tajam Darel begitu juga dengan Darel.
__ADS_1
Darel memegang tangan Nardy, kemudian merematnya kuat sehingga terlihat Nardy menahan sakit di wajahnya. Setelah itu, Darel langsung melepaskan tangan Nardy dan menghempaskannya kuat.
"Kau bukan tandinganku," ucap Darel dengan tatapan dinginnya.
"Brengsek! Serang!" teriak Nardy. Dan akhirnya terjadilah perkelahian di lapangan Kampus.
***
Di sisi lain, terlihat lima pemuda tengah berjalan menyusuri koridor Kampus. Mereka adalah Juan, Razig, Samuel, Lucas dan Zelig. Mereka sedang menuju kearah Perpustakaan. Mereka berniat untuk bermain Game CHINESE GHOST STORY.
"Kita jadi ke Perpustakaan?" tanya Juan.
"Aku kayaknya gak semangat untuk bermain Game CHINESE GHOST STORY lagi. Nggak seru kalau gak ada Darel. Di Game itu Darel peran utamanya. Masa iya, peran utamanya hilang gitu aja." Razig berbicara dengan nada sedih dan kecewa.
"Iya. Kau benar Razig. Tidak seru jika tidak ada Darel," sela Zelig.
Mendengar ucapan dari Razig dan Zelig. Samuel, Juan dan Lucas seketika berubah menjadi sedih. Mereka merasakan hal yang sama seperti Razig dan Zelig. Beda rasanya bermain Game CHINESE GHOST STORY jika tidak ada tokoh utamanya.
Mereka terus melangkahkan kakinya menyusuri koridor Kampus sembari membayangkan ketika bermain Game saat masih bersama Darel. Dan mereka juga membayangkan ketika pertama kali bertemu dengan Darel, terutama Samuel, Lucas dan Juan.
Ketika Samuel dan keempat sahabatnya sibuk dengan pikiran masing-masing dengan terus melangkah, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara teriakkan. Mereka dengan kompaknya melihat kearah suara teriakkan tersebut.
Sontak mereka semua terkejut ketika melihat Darel yang sedang bertarung dengan kelompok Block B. Tanpa pikir panjang lagi. Mereka berlari untuk membantu Darel.
***
Darel kini tengah bertarung dengan kelompok Block B. Enam lawan satu. Perlawanan tak seimbang. Sampai detik ini, Darel masih mampu dan selalu berhasil memberikan pukulan dan tendangan untuk keenam musuhnya.
BUGH! BUGH!
DUAGH! DUAGH!
Darel berhasil membuat Herry dan Yolly tersungkur akibat tendangan kuat yang diberikannya sehingga membuat keduanya berteriak kesakitan di bagian pinggangnya.
"Aakkhhh!"
"Brengsek!"
Nardy dan ketiga sahabatnya yang lainnya kembali menyerang Darel. Mereka tidak ingin kalah dari Darel yang hanya sendirian.
BUGH! BAGH!
BUGH! DUAGH
BUGH! BAGH!
Pukulan Darel mengenai wajah Donny dan Torra sehingga mengakibatkan sudut bibir keduanya berdarah.
Keduanya menatap tajam Darel dan kembali menyerang Darel secara membabi buta. Ketika Darel tengah bertarung dengan Nardy, Korry dan Sargy. Tanpa Darek sadari, Herry dan Yolly bangkit dan menyerang Darel dari belakang.
DUAGH! DUAGH!
"Aakkhh!" teriak Yolly dan Herry. Lagi-lagi mereka kembali tersungkur akibat tendangan kuat.
Samuel dan Lucas memberikan tendangan kuat tepat di punggung Yolly dan Herry sehingga membuat keduanya tersungkur.
Samuel, Juan, Razig, Lucas dan Zelig datang membantu Darel.
"Hanya orang pengecut yang melawan musuhnya dari belakang," ejek Razig.
"Dan hanya orang pecundang yang main keroyokan." Lucas ikut mengejek kelompok Block B.
__ADS_1
"Cuih! Jangan ikut campur urusan kami!" bentak Torra.
"Jika kalian tidak mengganggu dan menyakiti sahabat kami. Kami juga ogah untuk mengganggu urusan kalian." Samuel menjawabnya dengan suara lantang.
Mendengar ucapan dari Samuel membuat tubuh Darel memegang. Pasalnya, Samuel menyebut dirinya adalah sahabatnya.
Darel menatap satu persatu kelima pemuda yang sudah sepuluh hari ini selalu berusaha mendekatinya.
Ketika Darel sedang bermain dengan hati dan perasaannya. Tanpa Darel sadari, Nardy mendekatinya dengan sebuah pisau di tangannya.
JLEB!
"Aakkhhh!" teriak Darel.
Mendengar teriakan Darel. Samuel, Juan, Razig, Lucas dan Zelig langsung mengalihkan perhatiannya kearah Darel. Mereka semua terkejut ketika melihat Nardy berhasil melukai Darel.
"Darel!" teriak Samuel, Juan, Razig, Lucas dan Zelig. Mereka pun menghampiri Darel.
Ketika kelimanya ingin menghampiri Darel. Torra dan sahabat-sahabatnya langsung menyerang kelimanya.
Darel meringis di bagian perutnya. Melihat hal itu, Nardy menyeringai puas karena sudah berhasil melukai Darel.
Darel memegang kuat tangan kanan Nardy menggunakan tangan kirinya. Dengan gerakan cepat, Darel mencekik leher Nardy dengan tangan kanannya.
SREEKK!
"Aakkhhh!" Nardy meringis ketika Darel mencekik kuat lehernya.
Darel mencekik kuat leher Nardy sehingga membuat Nardy kesulitan bernafas.
Darel berhasil merebut pisau yang ada di tangan Nardy ketika Nardy ingin menusuknya kembali untuk yang kedua kalinya, lalu membuang jauh pisau itu. Sementara tangan kanannya masih mencekik kuat leher Nardy.
"Da-sar pe-ngecut. Hanya i-ni ke-mampuanmu, hah? K-kau tidak ada apa-apa dibandingkan a-ku." Darel berucap terbata sembari tangannya makin mencekik kuat leher Nardy.
Darel mendorong kuat tubuh Nardy sehingga tubuh Nardy jatuh lemah di tanah.
BRUUKK!
"Uhuukk." Nardy terbatuk.
Darel memegang perutnya. Kini keadaannya sudah berlumuran darah di bagian perutnya.
"Darel!" teriak Samuel, Juan, Razig, Lucas dan Zelig.
Mereka datang menghampiri Darel setelah berhasil mengalahkan kelima sahabat-sahabatnya Nardy.
"Rel. Kau tidak apa-apa?" tanya Samuel.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya."
Lucas berbicara lembut kepada Darel. Di tambah lagi Lucas yang benar-benar khawatir akan keadaan Darel saat ini. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka menatap khawatir Darel.
"Jangan bawa aku ke rumah sakit," lirih Darel.
"Tapi, Rel. Kau sedang terluka." Razig berbicara sambil menatap khawatir Darel.
"Ka-kakak," lirih Darel.
Setelah mengatakan itu, seketika tubuh Darel ambruk. Dan dengan sigap Samuel dan Zelig menahan tubuh Darel agar tidak jatuh ke tanah.
"Bagaimana ini?" tanya Juan.
__ADS_1
"Kita bawa ke ruang kesehatan saja. Bukannya pihak Kampus mempekerjakan seorang Dokter umum untuk membantu jika ada para mahasiswa atau mahasiswi yang sakit, bahkan terluka sekali pun!" seru Razig.
Mendengar ucapan dari Razig, mereka pun membawa Darel ke ruang kesehatan agar bisa segera ditangani.