Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Keinginan Darel


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan Kenzo di telepon. Darel menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Tatapan penuh harapan.


Anggota keluarganya yang ditatap juga menatap balik, tepat dimata coklat Darel. Mereka dapat melihat dan mengerti akan tatapan mata itu.


"Darel sayang. Ada apa, nak? Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" tanya Arvind.


Darel melihat kearah Ayahnya. Lalu kembali melihat kearah sarapannya. Darel kembali melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda tadi.


"Tidak ada, Pa." Darel menjawab pertanyaan dari ayahnya sembari mengunyah makanannya.


Mereka masih memperhatikan Darel sambil memakan sarapan mereka. Mereka bisa melihat dari tatapan mata itu. Ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh kesayangan mereka. Tapi kesayangan mereka itu memilih diam dan enggan untuk menyampaikannya.


"Pa, Ma, Kakak. Aku sudah selesai. Aku langsung ke kamar ya," ucap Darel.


Darel kemudian berdiri dan langsung pergi meninggalkan meja makan. Davian yang melihat adik bungsunya pergi, dirinya pun memutuskan untuk menyusul adik bungsunya itu. Namun ditahan oleh sang Ayah.


"Davian. Biarkan saja dulu. Jangan ganggu adikmu," kata Arvind.


"Tapi, Pa!"


"Papa tahu. Kau sangat mengkhawatirkan Darel. Tapi percuma saja. Darel tidak akan mau mengatakan apapun pada kita. Nanti saja kita bertanya nya," tutur Arvind.


"Baik, Pa." Davian pun kembali duduk di kursinya.


***


[KEDIAMAN ANDREAN]


[Kamar Alisha]


Alisha saat ini tengah sibuk membongkar isi lemarinya untuk mencari baju dan celana favoritnya yang biasa dipakainya saat sedang berada di rumah. Sejam lebih mencari, tapi Alisha tidak berhasil menemukannya.


"Aish. Dimana sih baju dan celana itu?" tanya Alisha sembari menggerutu.


CKLEK!!


Pintu dibuka oleh seseorang. Dan orang itu pun melangkah masuk ke kamar Alisha.


"Alisha. Apa yang kamu lakukan sayang? Kenapa pakaiannya dikeluarkan semua?"


"Papa!" Alisha terkejut saat tiba-tiba saja Ayahnya masuk ke dalam kamarnya. "Alisha sedang mencari baju sama celana yang biasa Alisha pakai, Pa! Tapi dari tadi Alisha nyari, tapi nggak ketemu."


Andrean hanya tersenyum mendengar jawaban dari Alisha. Lalu dirinya pun ikut membantu putri kesayangannya itu untuk mencari apa yang dicari oleh putrinya itu.


Tak butuh lama. Akhirnya Andrean pun berhasil menemukan apa yang sedang dicari oleh putrinya itu.


"Apa ini yang Alisha cari, hum?" tanya Andrean sembari menunjukkan kepada Alisha.


Alisha langsung mengalihkan pandangannya melihat kearah sang Ayah. Dan seketika senyumannya mengembang di bibir pink nya itu.


"Papa menemukannya dimana?" tanya Alisha langsung mengambil baju tersebut dari tangan Ayahnya dengan semangat.


"Papa mencarinya disana," tunjuk Andrean kearah keranjang gosokkan.

__ADS_1


Dalam keranjang itu semua pakaian Alisha yang telah disetrika oleh seorang pelayan di rumahnya. Tapi pakaian-pakaian itu belum sempat diletakkan di dalam lemari.


"Ya, sudah. Sekarang kamu bereskan lagi semua pakaian-pakaiannya. Susun yang rapi lagi," ucap Andrean lembut.


Andrean memang selalu mengajari putrinya untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya. Dan Alisha tidak pernah membantah sedikit pun apa yang disuruh oleh ayahnya itu. Dirinya selalu menurut apa kata Ayahnya.


"Baik, Papa!"


Setelah itu, Andrean pun pergi meninggalkan kamar putrinya untuk menuju ruang kerjanya.


"Papa," panggil Alisha.


Seketika Andrean menghentikan langkahnya. Dan membalikkan badannya untuk melihat putrinya itu. "Ada apa, sayang??"


"Eemm. Begini, Pa! Nanti pukul 12 siang. Apa Alisha boleh pergi main ke rumahnya kelima kakak laki-lakinya Alisha?" tanya Alisha.


Andrean tersenyum. "Boleh. Alisha perginya diantar sama sopir. Nanti pulangnya Papa yang akan jemput."


"Benarkah Pa?" tanya Alisha.


"Hmm!" jawab Andrean sembari mengangguk.


Alisha berlari dan langsung memeluk tubuh Ayahnya. "Terima kasih, Papa! Alisha sayang Papa."


"Papa juga sayang Alisha. Nanti kalau sampai disana. Alisha harus jadi adik yang baik. Dan jangan buat rusuh. Dan jangan menyusahkan kelima kakak laki-lakinya Alisha. Mengerti!"


"Baik, Pa! Alisha mengerti."


***


Saat ini seluruh anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah. Disana ada William Wilson bersama putra-putranya, ada Sandy Wilson dan putra-putranya.


Sedang Evita dan Daksa beserta putra-putranya sedang berada di rumah milik pribadi mereka.


"Aish! Gak asik kalau kayak gini. Sepi amir!" seru Marcel.


"Amir? Amir Khan maksudnya?" goda Erick.


"Amit kali maksud Marcel. Kalau ada Amir Khan disini bukan sepi lagi. Rumah ini bakalan rame," sela  Steven.


"Kangen sikelinci nakal itu," sahut Dirga.


"Kalian ini ngomongnya kangen. Kalau memang kangen, kenapa nggak datangin rumah Paman Arvind kalian itu?!" tanya William.


"Aish. Papa ini bagaimana sih. Kan baru dua hari yang lalu kita habis mengunjungi rumahnya Paman Arvind. Apa Papa lupa?" ucap dan tanya Keenan.


William hanya tersenyum mendengar penuturan dari Keenan. "Lalu kenapa kalian masih kangen dengan sikelinci nakal itu?" goda William.


"Wajahnya itu bikin ngangenin, Paman!" seru Dhafin.


"Sekalipun kita baru pulang mengunjunginya dua hari yang lalu. Tapi tetap saja kita semua sangat merindukannya," ucap Deon.


"Ya. Kau benar, kak Deon. Baru dua hari yang lalu kita mengunjunginya, tapi sekarang kita malah tambah merindukannya." Rendra berucap sembari membayangkan wajah adik sepupunya itu.

__ADS_1


"Coba kalau Paman Arvind dan keluarganya tetap menetap disini. Pasti rumah ini bakal ramai terus. Apalagi kalau mendengar suara teriakan dari Darel. Waah!! Rumah ini makin tambah ramai," sahut Marcel.


"Kalau ada Darel disini. Saat ini juga kita akan mendengar teriakannya. Ditambah lagi dengan suara teriakan Dylan. Rumah ini bakal benar-benar ramai," ucap Tristan sembari melirik adiknya.


"Aish. Apaan sih kak," protes Dylan dengan bibir dimanyunkan.


"Hehehe." Tristan terkekeh sambil mengacak-acak rambut adiknya gemas.


"Tapi kamu suka teriak-teriak juga kan di rumah?" tanya Dhafin sembari menggoda Dylan.


"Kakak," kesal Dylan.


"Oke.. Oke. Maafkan kakak," ucap Dhafin sambil memeluk adiknya.


Mereka semua tersenyum melihat kekesalan Dylan.


***


[KEDIAMAN KELUARGA ARVIND]


[Kamar Darel]


Darel berada di dalam kamarnya. Setelah selesai sarapan pagi, Darel lebih memilih masuk ke dalam kamarnya.


Kini Darel tengah duduk bersandar di kepala tempat tidur. Pikiran kini tertuju atas ucapan Kenzo saat dirinya berbicara dengan Kenzo di telepon.


"Kau kan sudah bukan pelajar lagi. Kau itu sudah berstatus mahasiswa. Apa kau akan tetap diantar jemput oleh para kakak-kakakmu??"


"Aku pengen kayak Kenzo dan yang lainnya. Pergi kemana-mana sendiri tanpa harus ditemani. Dan pergi ke Kampus juga sendiri. Tapi apa aku bisa kayak mereka? Apa mereka mau ngasih kebebasan dan kepercayaan padaku? Aku yakin merek tidak akan mau membiarkan aku pergi kemana-mana sendiri. Apalagi ke Kampus." Monolog Darel.


Tanpa Darel sadari. Di depan pintu kamarnya telah berdiri semua kakak-kakaknya. Kebetulan pintu kamarnya tidak terkunci sehingga salah satu dari mereka membuka pintu kamar tersebut dengan berlahan. Dan mereka pun dapat mendengar apa yang diucapkan oleh Darel adik bungsu kesayangan mereka.


Davian dan adik-adiknya saat mendengar penuturan dari Darel membuat hati mereka menjadi sesak dan sakit. Mereka benar-benar tidak tega melihat wajah sedih sang adik. Mereka tahu selama ini, adik bungsu kesayangan mereka itu selalu nurut apa yang mereka katakan. Tidak pernah sekali pun membangkang.


"Kak, bagaimana ini? Apa kalian tetap dengan keinginan kalian? Apa kalian tidak kasihan dengan Darel? Lihatlah wajahnya Darel. Darel benar-benar sedih. Darel benar-benar ingin sekali seperti sahabat-sahabatnya," ucap Raffa.


"Ya, kak. Apa yang dikatakan Raffa benar. Aku juga tidak tega melihat Darel seperti ini. Tidak ada salahnya kita mencobanya kak. Siapa tahu saja Darel bisa. Mau sampai kapan kita akan bersikap seperti terhadap Darel?" Evan juga ikut membujuk para kakak-kakak tertuanya.


"Aku setuju dengan Raffa dan Evan. Tidak ada salahnya kita memberikan kebebasan dan kepercayaan pada Darel. Darel sudah kuliah. Bukan pelajar lagi. Kesibukan dan kegiatannya pasti akan sangat banyak. Beda saat Darel masih sekolah dulu," ucap Alvaro.


"Dulu saat aku dan Alvaro kuliah. Kita sangat-sangat sibuk sekali. Bahkan kita juga pernah sampai pulang jam 7 malam. Kemungkinan Darel juga akan merasakan hal itu. Raffa dan Evan sudah merasakannya," ucap Axel.


"Dengan kita memberikan sedikit kelonggaran pada Darel. Berarti kita sudah memberikan satu kebahagiaan untuk Darel. Apa kakak tidak dengar tadi? Bagaimana keinginan terbesar Darel agar Darel bisa seperti Kenzo dan teman-temannya yang lainnya?" ucap Daffa sembari melihat kearah Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga.


"Iya, kak. Kami mohon," ucap Vano.


Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga masih terus melihat kearah Darel. Dalam hati mereka juga merasakan kesedihan dan rasa bersalah pada adik bungsunya. Mereka melakukan semua ini karena rasa sayang mereka pada sibungsu. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu padanya.


Bahkan sampai detik ini, bayangan tentang saat sang adik yang dinyatakan meninggal dunia saat di rumah sakit masih terngiang-ngiang di pikiran mereka.


Setelah puas melihat adik bungsu mereka. Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga langsung pergi meninggalkan kamar adik bungsunya mereka.


Sedangkan Daffa, Vano, Alvaro Axel, Evan dan Raffa hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Mereka juga tidak bisa berbuat banyak untuk membujuk keenam kakak mereka.

__ADS_1


"Darel. Maaf kami. Kami tidak bisa membujuk para kakak kita," batin mereka.


Setelah itu, mereka semua pun kembali menuju kamar mereka masing-masing. Dan tak lupa menutup kembali pintu kamar Darel.


__ADS_2