Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Susu Pisang


__ADS_3

Sesuai yang sudah direncanakan. Di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda kini Sandy, William dan Daksa berada di perusahaan milik keluarga Santino dan keluarga Alvarez.


Rencana awalnya mereka akan menghancurkan perusahaan tersebut, namun tiba-tiba saja Arvind dan adik-adiknya merubah rencana tersebut dengan cara mengambil alih perusahaan tersebut dengan bermodus menjalin kerjasama.


Ketika Sandy, William dan Daksa mendatangi perusahaan milik keluarga Santino dan keluarga Alvarez sang pemimpin tidak ada di tempat.


Perusahaan milik keluarga Santino ada tiga perusahaan dengan tiga pemilik perusahaan. Sedangkan untuk perusahaan milik keluarga Alvarez ada tiga perusahaan dengan tiga pemilik perusahaan.


Sandy, William dan Daksa mengubah sedikit penampilannya dengan mengubah penampilan rambut dan wajahnya agar tidak mudah dikenali wajah aslinya.


^^^


Di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda ketiga sudah berada di dalam perusahaan milik keluarga Santino dan keluarga Alvarez. Disana ketiganya melakukan penandatanganan perjanjian kontrak kerjasama. Sandy, William, dan Daksa memberikan berkas kerjasama miliknya kepada calon rekan kerjanya dan langsung disetujui oleh calon rekan kerjanya itu dengan membubuhi tanda tangan di kertas putih yang berisikan tulisan itu.


Melihat apa yang dilakukan oleh sang calon rekan kerjanya itu membuat Sandy, William dan Daksa tersenyum di sudut bibirnya. Rencana mereka berjalan sesuai rencana.


Berhasil di perusahaan satu. Sandy, William dan Daksa akan menuju perusahaan kedua milik keluarga Santino dan keluarga Alvarez.


Sandy menargetkan perusahaan pertama dan perusahaan kedua milik keluarga Santino, William menargetkan perusahaan ketiga dan keempat perusahaan milik keluarga Santino. Sementara Daksa akan menargetkan langsung empat perusahaan milik keluarga Alvarez.


Setelah ketiga selesai melakukan aksinya dalam mendapatkan tanda tangan dari pemilik perusahaan keluarga Santino dan keluarga Alvarez, tinggal menunggu waktu beberapa jam untuk mengubah isi berkas tersebut. Setelah itu, barulah dimulai aksi balas dendam keluarga Wilson terhadap keluarga Santino dan keluarga Alvarez.


***


Untuk Arvind dan Davian beserta beberapa anggotanya juga sudah berhasil dalam aksinya menculik dua anggota keluarga yang begitu berharga di keluarga Santino dan keluarga Alvarez. Kini keempat korbannya itu berada di markas Darkness milik Davian. Keempatnya dikurung di dalam penjara bawah tanah yang cukup gelap tanpa ada pencahayaan.


Keempat anggota keluarga Santino dan keluarga Alvarez kini dalam kondisi tak baik-baik saja karena mendapatkan beberapa pukulan dari anggota Davian dan anggota dari Arvind. Rencana awalnya Arvind dan Davian tidak akan melakukan kekerasan, namun dikarenakan keempatnya melawan sehingga membuat anggota Arvind dan Davian memberikan sedikit hukuman kepada keempat korbannya.


Dan pada akhirnya rencana pertama Arvind, Davian, Sandy, William dan Daksa berhasil. Kartu mati keluarga Santino dan keluarga Alvarez sudah ada di tangan mereka.


Rencana selanjutnya adalah tugas Ghali, Nevan, Steven dan Marcel serta dibantu dengan saudara-saudaranya.


***


Darel saat ini sedang berada di ruang tengah. Dirinya sedang mengerjakan beberapa tugas kampusnya dan beberapa jadwal kegiatan Organisasi Kampusnya.


Darel tidak sendirian, melainkan bersama dengan kakak-kakak kandungnya dan kakak-kakak sepupu-sepupunya.


Sementara para orang tua dan para kakak-kakak tertuanya baik kakak kandungnya maupun kakak sepupunya yaitu Davian, Nevan, Steven, Dirga dan Naufal masih berada diluar rumah. Sekitar pukul 5 sore mereka akan kembali.

__ADS_1


"Belum selesai juga?" tanya Arga ketika melihat adik bungsunya begitu fokus mengerjakan tugas-tugasnya.


Mendengar pertanyaan dari Arga membuat semua saudara-saudaranya melihat kearah Arga, lalu beralih melihat kearah Darel.


"Kalau nggak selesai hari ini, istirahat dululah. Jangan dipaksakan," ucap Ghali.


"Nanggung kak," jawab Darel yang tetap fokus pada tugas-tugasnya.


"Iya, nanggung! Tapi nanti kamu ujung-ujungnya tumbang juga," sindir Vano.


"Aish, apaan sih kak Vano! Bukannya didoain adek baik-baik aja. Ini malah doain adeknya tumbang," protes Darel dengan menatap Vano dengan mempoutkan bibirnya.


Mereka seketika tersenyum ketika melihat wajah merengut dan mendengar ucapan dari Darel atas ucapan Vano. Termasuk Vano sendiri.


"Bukan doain, tapi kan kamu memang seperti itu." Vano menjawab perkataan adik bungsunya.


"Iya, aku sadar akan hal itu. Tapi kan seharusnya kak Vano tetap doain aku agar aku baik-baik saja dan aku nggak tumbang habis mengerjakan semua tugas-tugas aku." Darel berbicara dengan wajah kesalnya dan bibir yang masih merengut masam.


"Dasar kakak yang nggak punya empatinya sama sekali terhadap adik kandungnya sendiri. Udah jarang senyum, pelit ngomong. Sekali ngomong bikin sakit hati orang."


"Hahahahahaha."


Sementara Vano seketika membelalakkan matanya tak percaya atas ucapan dari adik bungsunya itu.


Beberapa detik kemudian...


"Selesai juga semua tugas-tugasnya!" seru Darel.


Darel seketika menghempaskan tubuhnya di punggung sofa bersamaan dengan merentangkan kedua tangannya keatas.


Setelah beberapa detik merilekskan tubuh dan otot-ototnya, Darel menatap kakak-kakaknya. Tatapan matanya kini beralih menatap kearah Ghali dan Daffa.


"Kakak Ghali, kakak Daffa. Aku lapar."


Mendengar perkataan serta wajah memelas Darel membuat mereka semua tersenyum gemas. Wajah Darel seketika berubah menjadi sosok anak kecil berusia 5 tahun. Menggemaskan!


"Kakak Delivery, mau?" tanya Ghali.


"Mau... Mau!" Darel langsung mengangguk-anggukkan kepalanya brutal.

__ADS_1


"Mau pesan apa?" tanya Daffa.


"Apa aja yang penting enak dan bisa dimakan," jawab Darel.


"Baiklah!" seru Ghali dan Daffa bersamaan.


Setelah itu, Ghali dan Daffa mengeluarkan ponselnya masing-masing. Kemudian keduanya langsung memilih aplikasi Go Food untuk memesan beberapa makanan untuk adik bungsunya dan untuk saudara-saudaranya yang lainnya.


Darel tiba-tiba berdiri dari duduknya, lalu pergi meninggalkan ruang tengah.


Melihat Darel yang tiba-tiba pergi membuat mereka semua menatap bingung Darel.


"Rel, mau kemana?" tanya Andre.


"Ke dapur," jawab Darel tanpa membalikkan badannya.


"Ngapain?" tanya Axel dan Alvaro bersamaan.


"Haus. Mau susu pisang!" teriak Darel yang sudah berada di depan kulkas.


Sementara para kakak-kakaknya seketika tersenyum ketika mendengar jawaban dari adiknya itu. Mereka semua tahu bahwa adiknya itu paling suka susu pisang. Untung mereka dan orang tuanya selalu menyediakan stok susu pisang di kulkas.


^^^


Darel membuka pintu kulkas tersebut lalu keluar hawa dingin dari dalam kulkas tersebut. Darel seketika tersenyum ketika melihat deretan botol susu pisang kesukaannya tersusun rapi di dalam.


Darel memasukkan tangannya ke dalam kulkas lalu mengambil langsung dua botol susu pisang tersebut. Setelah mendapatkan dua botol susu pisang tersebut, Darel menutup kembali pintu kulkas itu.


Darel melangkahkan kakinya menuju meja makan dan duduk disana. Setelah tiba di meja makan, Darel membuka satu botol susu pisang kesukaannya itu, lalu langsung meneguknya sampai habis.


Sementara para kakak-kakaknya yang melihatnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Darel yang asyik dengan dunianya sendiri.


"Aish, tuh bocah! Jika sudah bertemu dengan susu pisang kesukaannya, dia sampai lupa diri!" seru Dylan.


"Tuh coba lihat bagaimana nikmatnya dia menikmati susu pisang kesukaannya. Langsung habis satu botol," sela Deon tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Darel.


Begitulah Darel jika sudah menikmati susu pisang kesukaannya. Dirinya melupakan keberadaan kakak-kakaknya yang kini menatap dirinya.


Ghali dan adik-adiknya tersenyum ketika melihat Darel yang begitu menikmati minuman kesukaannya. Mereka semua bahagia bisa membahagiakan Darel dengan memberikan apa yang memang diinginkan oleh Darel. Salah satunya adalah minuman kesukaannya.

__ADS_1


__ADS_2