
Di kediaman utama keluarga Wilson terlihat anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah setelah seharian beraktivitas di luar rumah. Mereka saat ini tengah mengobrol dan bercerita tentang kesehariannya ketika berada di luar rumah.
"Oh, iya! Kenapa Darel belum pulang? ini sudah pukul 5 sore loh," sahut Salma.
Mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Salma membuat semua anggota keluarga terutama Arvind, Adelina dan putra-putranya seketika sadar bahwa kesayangannya belum kembali sejak pukul 9 pagi.
"Eh, iya! Ini sudah pukul 5 sore. Kenapa Darel belum pulang. Tidak biasanya," ucap Adelina.
"Wah! Keenakan tuh anak sampai lupa waktu," pungkas Vano.
"Aku akan coba hubungi Darel!" seru Arga.
Arga langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah itu, dia pun menekan nomor adiknya di layar ponselnya.
Detik kemudian..
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar area." terdengar suara operator di seberang telepon.
"Hah!' Vano seketika menghela nafas pasrahnya ketika mendengar suara operator di seberang telepon.
"Kenapa Vano?" tanya Arvind.
"Ponselnya Darel tidak aktif, Pa!"
Sama halnya dengan Vano, mereka semuanya menghela nafas pasrahnya ketika mendengar jawaban dari Vano.
Drrtt..
Drrtt..
Ponsel milik Davian berdering menandakan panggilan masuk. Davian mengambil ponselnya lalu melihat nama 'Arjuna' di layar ponselnya.
"Kenapa Juna menghubungiku? Apa ada masalah?" batin Davian.
Setelah berperang dengan pikirannya, Davian pun langsung menjawab panggilan dari sahabatnya itu.
"Hallo, Juna! Ada apa?"
"Aku ada informasi untukmu."
"Informasi apa?"
"Ini tentang adik bungsumu dan sahabat-sahabatnya."
Seketika tubuh Davian menegang ketika Arjuna menyebut nama adiknya dan sahabat-sahabat adiknya. Pikiran Davian sudah traveling kemana-mana.
Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya yang melihat reaksi Davian seketika berpikir jika terjadi sesuatu.
"Kenapa dengan adik bungsuku dan sahabat-sahabatnya?' tanya Davian yang suaranya sedikit terdengar bergetar.
Deg..
Seketika semua anggota keluarga Wilson mendadak takut. Pikiran mereka tertuju pada Darel dan sahabat-sahabatnya.
"Hei, tenanglah. Aku memberikan informasi tentang adikmu dan sahabat-sahabatnya itu padamu bukan hal yang buruk."
Mendengar ucapan dari Arjuna seketika Davian bernafas dengan lega. Dia pikir jika Arjuna ingin menyampaikan hal buruk mengenai adiknya dan juga sahabat-sahabat adiknya.
"Sekarang katakan Arjuna! Jangan buat aku penasaran."
"Baiklah... Baiklah! Begini, aku mendapatkan informasi dari salah satu anggota kita yang mana dia yang bertugas mengawasi Darel selama diluar rumah. Anggota kita itu mengatakan padaku bahwa Darel dan sahabat-sahabatnya beberapa menit yang lalu bertarung dengan empat puluh laki-laki berpakaian hitam. Darel dan sahabat-sahabatnya itu sampai bertarung melawan keempat puluh laki-laki berpakaian hitam itu karena menyelamatkan dua pria paruh baya yang berstatus sebagai ayahnya Evano dan ayahnya Farrel.
"Apa?!" Davian terkejut ketika mendengar ucapan dari Arjuna.
__ADS_1
"Jika saja Darel dan sahabat-sahabatnya tidak datang tepat waktu, besar kemungkinan ayahnya Evano dan ayahnya Farrel akan tewas karena mereka memang disuruh untuk membunuh keduanya."
Davian terkejut ketika mendengar penjelasan Arjuna mengenai empat puluh laki-laki berpakaian hitam yang hendak menghabisi nyawa Mateo dan Ferino.
"Apa kau sudah tahu dari kelompok mana mereka? Dan apa tujuan mereka menyakiti dan ingin membunuh Paman Mateo dan Paman Ferino?"
Deg..
Seketika Arvind terkejut ketika putra sulungnya menyebut dua nama sahabatnya yaitu Mateo dan Ferino. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka juga ikut terkejut.
"Masih dalam penyelidikan. Tapi kau tenang saja. Hanya butuh dua hari kita mendapatkan identitas diri dari kelompok tersebut bahkan kita juga bakal tahu siapa dalangnya."
"Baiklah.'
"Apa kau mau tahu bagaimana nasib dari keempat puluh laki-laki berpakaian hitam itu?"
"Aku tidak ingin main tebak-tebakan. Lebih baik kau katakan sekarang?!"
"Baiklah. Mereka semua mati. Tidak ada yang selamat. Darel dan sahabat-sahabatnya begitu mengerikan ketika menghajar keempat puluh laki-laki berpakaian hitam itu. Mereka menyerang tepat dititik mematikan seperti leher dan dada kiri. Dengan kata lain, Darel dan sahabat-sahabatnya bertarung dengan mencekik leher musuhnya dan memukul secara brutal bagian dada kiri musuh. Bahkan mereka mematahkan leher dan tangan mereka."
Davian seketika terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan sekaligus penjelasan dari Arjuna tentang bagaimana cara Darel dan sahabat-sahabatnya melawan keempat puluh laki-laki berpakaian hitam itu.
"Ya, sudah kalau begitu. Aku tutup teleponnya."
"Oke!"
Setelah selesai berbicara dengan Arjuna. Davian kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Dia saat ini memikirkan perkataan Arjuna yang mengatakan tentang Darel dan sahabat-sahabatnya ketika melawan keempat puluh laki-laki berpakaian hitam itu.
"Davian!" panggil Arvind.
"Iya, Pa!"
"Ada apa? Apa yang dikatakan oleh Arjuna? Terus tadi Papa dan kita semua mendengar bahwa ada yang ingin membunuh Mateo dan Ferino?" tanya Arvind.
"Ada sekelompok laki-laki berpakaian hitam yang ingin membunuh Paman Mateo dan Paman Ferino. Kelompok itu berjumlah empat puluh, sedangkan Paman Mateo dan Paman Ferino kemungkinan hanya bersama asistennya atau sopirnya. Ditengah-tengah pertarungan tak seimbang itu, Darel dan sahabat-sahabatnya datang dan membantu Paman Mateo dan Paman Ferino."
"Disini yang membuat aku terkejut adalah ketika Arjuna mengatakan padaku kalau Darel dan sahabat-sahabatnya menyerang keempat laki-laki berpakaian hitam itu sangat mengerikan."
"Mengerikan bagaimana kak Davian?" tanya Alvaro.
"Intinya! Darel dan sahabat-sahabatnya itu tidak membiarkan mereka hidup setelah apa yang mereka lakukan terhadap Paman Mateo dan Paman Ferino."
"Jadi maksud kak Davian kalau keempat puluh laki-laki berpakaian hitam itu tidak ada yang selamat alias semuanya ma-mati?" ucap dan tanya Naufal.
"Iya."
Deg..
Mereka semuanya terkejut ketika mendengar jawaban dari Davian mengenai Darel dan sahabat-sahabatnya.
Ketika mereka semua tengah membahas tentang Darel dan sahabat-sahabatnya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara deru motor yang memasuki perkarangan rumah.
"Nah, itu Darel pulang!" seru Evita.
Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa langsung berdiri. Kemudian mereka berjalan menuju jendela. Setelah itu, mereka mengintip di balik gorden untuk melihat kesayangannya. Dan dapat mereka lihat bahwa adiknya itu tengah berbicara dengan seseorang di seberang telepon sembari berjalan menghampiri pintu masuk.
Setelah puas melihat adiknya. Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa kembali bergabung dengan anggota keluarganya.
"Apa benar yang pulang itu adik kalian?" tanya Adelina.
"Iya, Ma!" Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa menjawab bersamaan.
Darel melangkahkan kakinya memasuki rumah sembari terus berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Ucapan demi ucapan dari Darel didengar oleh semua anggota keluarganya.
__ADS_1
"Jadi mereka juga mengincar keluarga dari sahabat-sahabatku?"
"...."
"Brengsek! Apa mereka tidak punya pekerjaan lain selain mengusik kehidupan orang lain. Apa dengan mereka mengincar kekayaan milik orang lain hidup mereka akan bahagia?"
"...."
"Tidak ada cara lain. Sebelum mereka mengusik milik keluarga dari sahabat-sahabatku, kita yang akan terlebih dahulu melakukan hal itu."
"...."
"Iya, kau benar! Mereka melakukan hal itu kepada keluargaku dan sekarang mereka mengincar keluarga sahabat-sahabatku. Cara kita menghentikan mereka adalah kita akan melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda dan sedikit berbahaya."
"...."
"Wah! Ide yang bagus. Baiklah! Kau urus semuanya."
"...."
Setelah selesai berbicara dengan salah satu tangan kanannya, Darel pun langsung mematikan panggilannya itu. Kemudian Darel melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya di lantai dua.
Namun tiba-tiba langkah kakinya terhenti ketika mendengar panggilan dari kedua belas kakaknya.
Darel langsung melihat kearah kedua belas kakak-kakaknya yang berada berada di ruang tengah. Disana juga ada semua anggota keluarganya.
^^^
Darel sudah bergabung dengan anggota keluarganya di ruang tengah. Dia duduk di samping kakak tertuanya yaitu Davian.
"Kemana aja? Kenapa telat pulangnya?" tanya Davian lembut sembari tangannya mengusap lembut kepala belakang adiknya itu.
"Aish! Tanpa aku jawab pun. Kakak sudah tahu jawabannya. Yang namanya orang jalan-jalan dan menghabiskan waktu seharian pasti dia akan melakukan banyak hal diluar sana." Darel menjawab pertanyaan dari kakaknya itu dengan wajah manyunnya.
Mendengar jawaban dari Darel membuat mereka semua tersenyum gemas. Mereka bahagia ketika mendengar jawaban dari Darel.
"Terus ini kenapa?" tanya Davian sambil menunjuk kearah luka lebam di pipi kiri adiknya.
Semua mata menatap kearah Darel. Mereka ingin mendengar langsung dari mulut Darel, walau mereka sudah tahu.
"Biasalah. Aku dan sahabat-sahabat aku lagi uji nyali dan uji kekuatan dengan empat puluh laki-laki busuk dan bau di tengah jalan," jawab Darel dengan wajah kesalnya.
Mereka kembali tersenyum ketika mendengar ucapan seenaknya dari Darel. Mereka sangat tahu dan paham akan sifat Darel. Jika Darel sudah kesal, maka dia akan menjawab dengan seenaknya plus kata-kata indahnya.
"Apa kamu bahagia jalan-jalan sama sahabat-sahabat kamu, hum?" tanya Arvind.
"Sangat bahagia Papa. Aku dan sahabat-sahabatku mengunjungi banyak tempat. Bahkan kami juga mengunjungi beberapa cafe untuk makan. Awalnya kita pulangnya pukul 3 sore. Dikarenakan waktu kita banyak terbuang akibat bermain-main sama para manusia-manusia busuk itu. Akhirnya kita menambah waktu. Jadinya kita pulang pukul 5 sore."
Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Darel membuat mereka semua akhirnya mengetahui alasan Darel pulang terlambat.
Darel seketika berdiri dari duduknya, kemudian Darel menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.
"Kalau begitu aku ke kamar ya. Aku lelah sekali hari ini."
"Iya, sayang. Pergilah. Kamu harus istirahat. Papa tidak mau kamu jatuh sakit akibat kurang istirahat."
"Jangan lupa bersih-bersih dulu sebelum istirahat!"
"Baik, Ma!"
Setelah itu, Darel pergi meninggalkan anggota keluarganya di ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua.
"Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi adikku dan juga keluarga dari sahabat-sahabat adikku. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi terhadap adikku dan keluarga sahabat-sahabatnya." Davian berbicara di dalam hatinya dengan tatapan matanya menatap kearah adik bungsunya yang saat ini tengah menaiki anak tangga.
__ADS_1