
Kini semuanya sudah berada di ruang rawat Darel. Mereka menatap Darel dengan tatapan sedih masing-masing. Mereka mengerubungi ranjang Darel sembari mengeluarkan kata-kata semangat dan rasa rindunya terhadap Darel.
Arvind Wilson dan Adelina Wilson berdiri masing-masing di sisi kiri dan kanan ranjang Darel. Lalu keduanya mengusap lembut kepala putra bungsunya sehingga memperlihatkan kening putihnya. Arvind dan Adelina secara bersamaan memberikan kecupan disana.
Arvind dan Adelina memberikan kecupan tak hanya di kening Darel, melainkan keduanya juga memberikan kecupan di pipi putih Darel.
Setelah itu, baik Arvind maupun Adelina mengusap lembut pipi putranya itu. Dan tanpa diminta, Arvind dan Adelina menangis. Keduanya menangis harus kembali melihat kesayangannya terbaring di tempat tidur rumah sakit.
"Sayang, cepat bangun ya. Jangan tidur lama-lama," ucap Arvind.
"Kamu harus cepat ya sayang. Mama tidak akan kuat jika melihat kamu tidurnya terlalu lama," ucap Adelina.
Setelah keduanya selesai, kini giliran para kakak-kakaknya. Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa mendekati ranjang Darek. Mereka secara bergantian memberikan kecupan sayang di kening putih Darel. Air mata mereka jatuh membasahi wajah tampan Darel.
"Adek kesayangannya kakak. Cepat bangun ya sayang," ucap Davian Wilson lirih.
"Adiknya kakak Nevan. Semangatnya kakak. Cepat bangun ya. Jangan lama-lama tidurnya," ucap Nevan.
"Kamu jangan buat kakak nangis lagi ya. Kamu harus bangun. Kamu nggak boleh tidur lama-lama," ucap Daffa yang tangannya bermain-main di kepala adiknya.
Seketika air mata Daffa kembali menetes membasahi wajahnya seketika mengingat kejadian dimana dirinya menemukan adiknya yang tak bergerak sama sekali. Detak jantungnya dan denyut nadi berhenti. Nafas tidak terasa, tubuh kaku dan wajah yang pucat pasih. Daffa benar-benar takut saat itu.
Namun kini dirinya bersyukur adiknya selamat dan kembali lagi padanya. Dirinya benar-benar bersyukur bahwa Tuhan masih baik pada adiknya dengan tidak mengambil adik kesayangannya.
"Terima kasih kamu sudah mau kembali sayang. Jika misalnya kamu lebih memilih menyerah, maka hidup kakak benar-benar hancur," ucap Daffa yang memberikan kecupan di kening Darel cukup lama.
Davian yang berdiri di belakangnya, tangannya langsung mengusap-usap lembut punggungnya. Davian tahu bahwa adiknya itu masih teringat kejadian dimana adik bungsunya tak bernyawa di tempat tidur.
"Kakak tahu perasaan kamu. Semuanya sudah lewat. Sekarang di tubuh Darel tidak ada lagi racun yang akan membuat adik kita kesakitan. Kamu jangan sedih lagi oke!"
"Iya, kak! Aku mengerti!"
***
Keesokan harinya di kediaman utama Wilson terlihat ramai dimana anggota keluarga Wilson dan beberapa anggota dari Davian, beberapa tangan kanannya Darel beserta kelompoknya, beberapa anak buah dari Arvind dan Sandy.
Mereka saat ini merencanakan untuk melakukan pembalasan terhadap keluarga Alaois, keluarga dari ibunya Lian dan keluarga Afraido. Serta menyerang perusahaan SINOPEC GRUP dan perusahaan STATE GRID sampai kedua perusahaan tersebut hancur.
"Baiklah. Yang akan pergi ke markas Black Sharks adalah aku dan keenam putra tertuaku. Sandy, kau bertugas untuk menghancurkan perusahaan STATE GRID."
"Baik, kak Arvind!"
"Kenzi, Leo. Aku percayakan tugas untuk menghancurkan perusahaan SINOPEC GRUP."
"Baik tuan," jawab Leo dan Kenzi bersamaan.
"William, Daksa! Kakak titip anggota keluarga Wilson terutama Darel yang masih koma di rumah sakit pada kalian berdua. Selama kami melakukan misi, tanggungjawab keluarga ada di tangan kalian," ucap Arvind.
"Baik kak Arvind," sahut William dan Daksa bersamaan.
Setelah membagi tugas mereka semua pun pergi meninggalkan kediaman Wilson.
***
Arvind dan yang lainnya sudah berada di markas Black Sharks. Setibanya disana, mereka disambut oleh beberapa anggota Black Sharks.
__ADS_1
"Dimana para tahanan?" tanya Arzan.
"Mereka semua ada di ruang penyiksaan Bos."
"Baiklah."
Setelah itu, mereka semua berjalan menuju ruang penyiksaan.
^^^
Di ruang penyiksaan sudah ada Zayan, Mikko, dan Lucky. Sejak tadi mereka tidak berhenti memberikan penyiksaan terhadap Marcoz Alaois, Leonard Afraido beserta keluarganya. Serta ketua mafia yang dibayar oleh keluarga Alaois dan Afraido.
Bagh.. Bugh..
Pukulan demi pukulan diberikan oleh Zayan, Mikko dan Lucky kepada ketua mafia, Leonard dan Marcoz.
Sementara untuk anggota keluarga Afraido lainnya para anggota yang melaksanakan penyiksaan itu.
"Brengsek kalian! Hentikan!" teriak Leonard Afraido.
"Siapa kalian?"
"Lepaskan kami!"
Zayan, Mikko dan Lucky tak mengindahkan teriakan dan teriakan kesakitan para musuh-musuhnya. Mereka terus melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.
"Zayan, Mikko, Lucky. Hentikan!" seru Arzan yang datang bersama keluarga Wilson.
Mendengar seruan dari Arzan. Zayan, Mikko dan Lucky langsung menghentikan kegiatannya. Lalu ketiganya melihat kearah Arzan dimana Arzan datang bersama ayah dan keenam kakak laki-laki tertua sang Bos.
Arzan berjalan menghampiri Zayan, Mikko dan Lucky. Diikuti oleh Arvind dan keenam putranya.
Arvind menatap penuh amarah orang-orang yang ada di hadapannya. Begitu juga dengan Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga.
"Hallo tuan Leonard Afraido!" Arvind berucap dengan datar dan dingin.
Deg..
Leonard seketika terkejut ketika mendengar suara serta wajah orang yang dia kenal.
"Tu-tuan Arvind."
"Iya. Ini saya. Kenapa? Kaget, hum?"
Arvind menatap wajah Leonard lalu beralih ke sebelahnya. Orang itu adalah Marcoz Alaois lalu beralih kearah kursi dimana seorang wanita yang dalam keadaan terikat.
"Marcoz Alaois!"
"Jadi kau yang meneror adikku, hah?!" teriak Davian menatap nyalang kearah Marcoz Alaois.
"Kalian benar-benar menjijikkan!" teriak Arga.
Davian, Nevan dan Ghali berjalan menuju kearah Marcoz Alaois yang saat ini sudah dalam keadaan babak belur.
"Akhirnya kita bertemu," ucap Davian tersenyum di sudut bibirnya
__ADS_1
Baik Davian maupun Nevan dan Ghali menatap penuh amarah laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Dan detik kemudian, Davian memberikan pukulan pertama lalu disusul oleh Nevan dan Ghali.
Sementara Arvind kini sudah berdiri di hadapan Leonard Afraido saingan bisnis yang selalu mencari masalah dengan dirinya dan perusahaan miliknya.
"Aku tidak menyangka jika kau mempunyai ide murahan untuk menyingkirkanku dari dunia bisnis. Kau tega menyakiti putra bungsuku demi ambisimu!" bentak Arvind.
Arvind benar-benar dendam saat ini terhadap orang yang sudah menyakiti kesayangannya.
"Itu untuk setiap air mata putra bungsuku!" Arvind memberikan pukulan keras di wajah Leonard Afraido sehingga membuat sudut bibirnya terluka.
Bugh..
Arvind memberikan pukulan keras di wajah Leonard Afraido sehingga membuat sudut bibirnya terluka.
"Ini untuk setiap kesakitan putra bungsuku!"
Bugh..
"Ini untuk pertama kalinya putraku bersikap kasar terhadap keluarganya!"
Bugh..
"Dan ini untuk putra bungsuku yang dua kali mencoba melukai dirinya sendiri!"
Duagh..
Arvind memberikan tendangan kuat tepat di perut Leonard sehingga membuat Leonard kesulitan bernafas.
"Kau benar-benar keterlaluan Leonard!" teriak Arvind dengan berlinang air mata mengingat bagaimana menderitanya putra bungsunya.
Tak jauh beda dengan Arvind. Saat ini Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga sedang memberikan hukuman kepada orang yang sudah menyakiti adiknya, yang sudah menyuntikkan adiknya dengan racun, yang sudah membuat adiknya kesakitan, yang sudah membuat adiknya berubah jadi orang lain.
Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga menatap penuh amarah kearah Marcoz Alaois yang tak lain adalah Paman Lian Jevera.
"Cara balas dendammu sangat menjijikkan!" bentak Andre.
"Kau balas dendam kepada adikku atas kematian keponakanmu. Padahal disini sudah jelas keponakanmu itulah yang bersalah," bentak Arga.
"Jika keponakanmu tidak mengusik adikku dan ketujuh sahabat-sahabatnya, maka keponakanmu akan baik-baik saja sampai detik ini!" bentak Elvan.
Melihat kakak laki-lakinya dihajar oleh keenam kakak laki-laki dari Darel membuat wanita paruh baya itu menangis. Dirinya tidak tega melihat sang kakak.
"Sudah cukup. Hentikan!"
Mendengar teriakkan dari Ciara Alaois ibunya Lian seketika Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga langsung melihat kearah Ciara.
Davian berjalan mendekati Ciara dengan tatapan matanya menatap tajam kearah wanita tersebut.
Kini Davian sudah berdiri di hadapan Ciara. Dan detik kemudian...
Sreekk..
"Aakkhhh!" teriak Ciara merasakan sakit di kepalanya akibat tarikan kuat yang dilakukan oleh Davian.
__ADS_1
"Anda juga ikut andil menyakiti adik kesayanganku, walau tidak langsung menggunakan tanganmu!" bentak Davian.
Setelah mengatakan itu, Davian melepaskan tangannya dari rambut Ciara. Davian kembali bergabung dengan keenam adiknya untuk memberikan hukuman kepada orang yang sudah menyakiti adik kesayangannya.