
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Di lokasi yang berbeda, namun di waktu yang sama dimana terlihat sekitar 100 seratus orang tengah menghajar orang-orang berpakaian hitam yang hendak menyakiti bahkan menculik salah satu anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya Darel.
Seratus orang yang menghajar para musuh yang hendak berbuat jahat terhadap anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya Darel adalah para anggota dari markas WHITE EAGLE.
Jika seratus anggota WHITE EAGLE yang dipimpin oleh masing-masing 4 tangan kanan dari Mikko, Kenzi dan Leo.
Sementara untuk Mikko, Kenzi dan Leo. Mereka bertiga dengan masing-masing tiga tangan kanannya kini berada di markas musuh yaitu markas BLOODS. Mereka saat ini juga sedang melakukan penyerangan terhadap markas BLOODS.
Penyerangan terhadap Marka BLOODS seharusnya dilakukan sekitar pukul 1 pagi, namun mereka mengubahnya menjadi pukul 10 malam sama dengan jadwal penyerangan para anggota musuh ke rumah-rumah para sahabat Darel.
Bugh.. Bugh..
Bagh.. Bugh..
Duagh.. Duagh..
Sreekkk.. Sreekkk..
Kreekkk.. Kreekkk..
Jleb.. Jleb..
Ctas.. Ctas..
Dari lokasi yang berbeda-beda terlihat pertarungan besar-besaran. Banyak anggota musuh yang tumbang. Bahkan terlihat para anggota WHITE EAGLE, baik yang berada di kediaman sahabat-sahabatnya Darel maupun yang berada di markas BLOODS menyerang para musuhnya dengan sangat mengerikan. Diantaranya adalah memukul, menendang, menusuk-nusuk senjata tajam ke seluruh tubuhnya, memukul dengan menggunakan cambukan, memelintir bagian anggota tubuh seperti kepala dan tangan hingga patah.
"Cari ketua dari kelompok BLOODS. Setelah itu, bawa dia ke hadapan kami!"
"Sudah waktunya dia pensiun!" teriak Leo.
"Dan sudah waktunya juga dia menghadap Tuhan!" teriak Kenzi.
Sekitar dua puluh anggota WHITE EAGLE mencari keberadaan ketua dari BLOODS yang mana saat itu pria tersebut sedang dalam keadaan luka parah akibat anak panah yang menancap di kakinya ketika berlari, namun terlihat oleh anggota WHITE EAGLE yang memegang sebuah panah lalu anggota WHITE EAGLE tersebut langsung melesatkan anak panahnya kearah kaki laki-laki itu.
***
Di kediaman utama keluarga Wilson tampak keadaan gusar, khawatir, panik dan ketakutan. Sampai detik ini dan sampai malam ini tidak ada satu pun dari mereka mendapatkan kabar tentang Darel. Mereka semua sudah menghubungi semua sahabat-sahabatnya Darel satu persatu, namun yang mereka dapatkan adalah berita yang tak mengenakan.
Seluruh anggota keluarga Wilson sudah mengetahui perihal yang terjadi pada anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya Darel. Mereka juga mengetahui bahwa malam ini adalah malam dimana ada pertempuran besar di masing-masing kediaman keluarga dari sahabat-sahabatnya Darel.
Namun rasa takut mereka sedikit berkurang yang mana semua anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya Darel dalam keadaan baik-baik saja. Pertempuran tersebut dilakukan oleh anggota dari WHITE EAGLE dan beberapa orang tangan kanan melawan serta membunuh orang-orang yang menyerang kediaman keluarga dari sahabat-sahabat Darel.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semua anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya Darel diserang? Siapa mereka?" tanya Nevan.
"Kak Davian! Kita tidak bisa seperti ini saja. Kita harus cari Darel kak. Ini sudah pukul 10 malam bahkan lebih. Tapi kita tidak tahu dimana Darel," ucap Vano yang benar-benar mengkhawatirkan adik bungsunya itu.
Baik Davian maupun anggota keluarga lainnya sudah mengerahkan beberapa orang untuk mencari keberadaan Darel, namun tidak ada hasilnya sama sekali. Bahkan Arjuna sahabat dari Davian juga tidak mendapatkan hasil sama sekali tentang penyelidikan tersebut.
Ketika mereka semua tengah memikirkan tempat selanjutnya untuk mencari kesayangannya, tiba-tiba ponsel milik Davian berbunyi.
Ting..
Terdengar sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel milik Davian.
Davian langsung melihat ke layar ponselnya. Disana terlihat sebuah pesan video. Dengan penuh penasaran, Davian langsung mengklik video tersebut.
Beberapa detik kemudian..
"Tidak! Darel!" seketika Davian berteriak histeris ketika melihat adegan demi adegan di dalam video tersebut dan disertai dengan air matanya yang mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Davian!"
Mereka semua mengerubungi Davian ketika mendengar teriakan histeris dari Davian serta air matanya.
Arvind merebut paksa ponsel milik Davian. Dia kemudian melihat video yang ada di layar ponsel putra sulungnya itu. Begitu juga dengan yang lainnya.
Beberapa detik kemudian..
"Darel!" Arvind serta yang lainnya berteriak ketika melihat apa yang dialami oleh kesayangannya.
Di dalam video itu terlihat mobil Darel yang didorong terus menerus oleh mobil yang ada di belakang. Ditambah lagi mobil yang berada di samping menuju pembatas jalan. Bahkan detik-detik dimana Darel yang berusaha untuk memundurkan mobilnya hanya sebuah angan-angan.
Detik kemudian..
Mobil yang dikendarai oleh Darel masuk dan melompat ke jurang dengan dorongan kuat dari dua mobil tersebut.
"Tidak! Darel!" Raffa seketika tak sadarkan diri ketika melihat video yang mana mobil adiknya jatuh ke jurang.
"Raffa!"
Andre dan Arga menggendong tubuh Raffa lalu membawanya ke kamarnya di lantai dua.
"Darel... Hiks," ucap mereka semua sembari terisak.
"Brengsek! Siapa mereka?!" teriak Davian.
"Apa mereka dari keluarga Bailey, keluarga Dawson dan keluarga Martin?" tanya Steven.
"Apa mereka yang melakukannya?" tanya Marcel.
Drrtt...
Drrtt..
"Nomor ini lagi," batin Davian.
Setelah itu, Davian langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo."
"Hallo, tuan Davian."
Deg..
Davian seketika terkejut ketika mendengar suara seseorang yang menyapa dirinya langsung menyebut namanya dengan ditambahi kata 'Tuan'.
"Siapa anda? Dari mana anda tahu nama saya? Dan kenapa anda memanggil saya dengan sebutan tuan?"
"Bukan saatnya anda mengetahui siapa saya dan dari mana saya mengetahui nama anda. Dengarkan saya, tuan Davian! Video yang anda lihat itu adalah semata-mata untuk memberitahu bahwa adik bungsu anda dalam keadaan tak baik-baik saja. Dan kemungkinan besar tuan dan seluruh anggota keluarga Wilson belum mendapatkan kabar mengenai tuan Darel. Dan video itulah kabar terbarunya. Untuk orang-orang yang mendapatkan pekerjaan untuk membunuh tuan Darel adalah dari kelompok MUNGIKI. Dan sebagai dalang yang memberikan perintah kepada kelompok MUNGIKI itu adalah seorang gadis. Gadis itu berasal dari keluarga Rocio."
Deg..
Seketika Davian terkejut ketika mendengar marga dari gadis yang disebutkan oleh pria di seberang telepon. Marga gadis itu sama dengan marga gadis yang menyukai adiknya Ghali.
"Anda pasti sudah bisa menebak nama gadis yang saya sebutkan nama marga keluarganya, tuan?!"
"Paula Rocio!"
"Benar sekali tuan. Nona Paula lah yang telah meminta kepada ketua kelompok MUNGIKI untuk mencelakai... Ach, maaf! Saya ralat. Maksud saya untuk membunuh tuan Darel."
__ADS_1
"Apa alasan perempuan murahan itu melakukan hal itu terhadap adikku?" tersirat amarah dari sorot mata Davian. Dan hal itu dilihat oleh semua anggota keluarganya.
"Dia tidak terima akan perlakuan yang diberikan oleh tuan Darel ketika dia berkunjung ke kediaman Wilson beberapa hari yang lalu. Saya dan dua rekan saya sudah menyelidiki masalah ini. Dan bahkan saya dan dua rekan saya juga sudah menyelidiki latar belakang keluarga Rocio. Salah satunya adalah kedua orang tuanya sangat amat setuju dengan ide dari putrinya itu. Mereka sama sekali tidak menyukai tuan Darel. Jadi mereka sepakat untuk menyingkirkan tuan Darel agar mereka bisa leluasa masuk ke kediaman keluarga Wilson tanpa diganggu oleh tuan Darel."
Davian mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan demi ucapan serta penjelasan dari pria di seberang telepon itu. Dia tidak menyangka jika Paula dan keluarganya akan melakukan hal sekeji itu terhadap adik bungsunya.
"Lalu bagaimana keadaan adik saya? Dimana dia dirawat?"
"Saya akan memberitahu anda dimana tuan Darel dirawat setelah anda dan keluarga anda menghancurkan musuh-musuh keluarga Wilson. Selama musuh-musuh keluarga Wilson masih berkeliaran, selama itu pula saya dan dua rekan saya akan terus merahasiakan keberadaan rumah sakit tempat tuan Darel dirawat."
Seketika Davian terdiam ketika mendapatkan jawaban yang tak mengenakkan dari pria di seberang telepon itu.
Namun detik kemudian, Davian seketika paham maksud dan tujuan dari pria tersebut tidak mau memberitahu rumah sakit tempat adiknya dirawat. Pria itu dan dua rekannya itu melakukan hal itu guna melindungi adiknya dari musuh-musuh keluarga Wilson.
"Baiklah. Demi adikku dan demi membalaskan rasa sakit adikku. Aku akan membasmi semua musuh-musuh keluarga Wilson. Aku pastikan mereka benar-benar pergi dari dunia ini."
"Bagus. Saya tunggu kabar bahagia tersebut dari tuan."
Tuttt..
Tuttt..
Setelah mengatakan itu, pria tersebut langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
"Davian, ada apa? Orang itu bilang apa? Katakan pada Papa, Davian!"
Davian menatap satu persatu anggota keluarganya. Setelah itu, Davian menatap wajah ayahnya yang kini tengah menatap dirinya.
"Darel berhasil diselamatkan oleh tiga orang. Dan kemungkinan tiga orang itu juga tangan kanannya Darel."
Mendengar ucapan dari Davian mengenai Darel membuat mereka semua tersenyum bahagia. Setidaknya kesayangan mereka selamat.
"Pria itu juga sudah mengetahui siapa yang sudah berniat untuk membunuh Darel. Lebih tepatnya pelaku itu memang ingin membunuh Darel."
"Siapa? Katakan pada Papa!" Arvind benar-benar marah saat ini. Dia tidak akan memberikan sedikit pun kata maaf untuk orang-orang yang sudah melukai kesayangannya.
"Kelompok yang menerima pekerjaan tersebut adalah kelompok MUNGIKI. Dan orang yang telah membayar kelompok tersebut adalah Paula Rocio."
"Apa?!"
Semuanya terkejut ketika Davian menyebut nama Paula Rocio gadis yang sedang gencar-gencarnya mendekati Ghali.
"Jadi perempuan murahan itu pelakunya?" tanya Nevan dengan mengepal kuat tangannya.
"Bahkan kedua orang tuanya juga ikut andil dalam rencana tersebut. Jika Paula melakukan hal keji itu terhadap Darel karena tidak terima akan perlakuan Darel padanya ketika dia datang berkunjung. Sementara kedua orang tuanya melakukan hal keji itu terhadap Darel agar Paula bisa dengan mudah masuk ke dalam keluarga kita, terutama ketika mendekati Ghali."
"Brengsek!" Ghali seketika marah mengetahui alasan Paula melakukan hal itu kepada adik kesayangannya. "Tidak terima akan perlakuan buruk Darel. Sementara dia seenaknya bersikap buruk terhadap Darel ketika berada di toko elektronik saat itu," sahut Ghali.
"Terus apa lagi yang dikatakan oleh pria itu padamu, nak?" tanya Adelina.
"Jika ingin mengetahui dimana Darel dirawat, kita semua harus terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaan tersebut yang mana kita harus membalas dan menghukum orang-orang yang sudah menyakiti Darel. Dengan kata lain, kita harus membunuh semua musuh-musuh keluarga Wilson tanpa ada yang selamat."
Mendengar jawaban dari Davian membuat Arvind mengepal kuat tangannya. Begitu juga dengan Sandy, William dan Daksa.
"Aku setuju apa yang dikatakan oleh pria itu. Tujuan pria itu merahasiakan keberadaan rumah sakit tempat Darel dirawat guna untuk melindungi Darel. Pria itu tidak ingin musuh-musuh keluarga Wilson mengetahui keberadaan Darel." Sandy berucap.
"Baiklah. Mari kita memulai merencanakan pembalasan terhadap orang-orang yang sudah berani mencelakai kesayangan kita!" seru Elvan.
"Hm!" mereka semua berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1