Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Merencanakan Untuk Masuk Ke Keluarga Wilson


__ADS_3

"Kakak Nevan! Kakak Marcel! Kakak Kakak Steven!" Darel berteriak memanggil ketiga kakaknya dengan suara yang begitu nyaring.


Mendengar panggilan serta teriakan dari Darel membuat semuan anggota keluarganya keluar dari tempat mereka masing-masing. Ada yang keluar dari dalam kamarnya, ada yang keluar dari ruang kerjanya dan ada yang datang dari arah dapur.


Kini semuanya sudah berada di ruang tengah dengan tatapan mata menatap kearah Darel. Sementara Darel masih duduk anteng di sofa.


"Yak, Rel! Kenapa teriak-teriak sih?" kesal Vano melihat kelakuan adik bungsunya.


"Yeeyyy! Suka-suka aku dong. Mulut-mulut aku. Kalau kakak Vano merasa terganggu. Kakak Vano tinggal pergi dari rumah ini lalu tinggal di hutan belantara," jawab Darel asal dengan tatapan matanya fokus menatap ke layar ponselnya.


"Hahahahahaha."


Semua saudara-saudaranya baik saudara kandungnya maupun saudara-saudara sepupunya tertawa nista ketika mendengar ucapan dari Darel.


Sementara Vano seketika membelalakkan matanya menatap adik bungsunya yang seenaknya saja berbicara seperti itu padanya dengan mulutnya mengeluarkan sumpah serapahnya untuk adik bungsunya itu.


Sedangkan para orang tua hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari Darel dan melihat wajah kesal Vano.


"Oh iya! Tadi kamu manggil kakak, kak Steven dan kak Nevan ada apa?"


"Tuh, di depan. Ada yang nyariin kalian," jawab Darel.


"Siapa?" tanya Steven.


"Calon masa depan kalian sekaligus kehancuran kalian," jawab Darel seenak jidatnya.


Mendengar jawaban yang tak mengenakkan dari Darel membuat Nevan, Marcel dan Steven mendengus kesal. Hari masih pagi, namun adiknya itu sudah berulah.

__ADS_1


"Sekarang mereka ada dimana?" tanya Marcel.


"Masih diluar. Aku menyuruh mereka untuk menunggu kalian diluar. Menunggu diluar saja mata mereka sudah besar ketika melihat bentuk rumah ini. Apalagi kalau aku bawa masuk ke dalam rumah. Bisa-bisa nanti bola mata mereka makin keluar ketika melihat isi perabotan di dalam rumah."


Mendengar ucapan dari Darel membuat mereka semua tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka tak habis pikir aka pola pikir Darel.


Darel melirik sekilas kearah kakak keduanya dan kedua kakak sepupunya yaitu Marcel dan Steven. Setelah itu, Darel kembali menatap layar ponselnya.


"Ngapain kalian masih disini? Buruan samperin calon masa depan kalian yang masih menunggu diluar," sahut Darel sembari tangannya mengibas-ngibas ke udara bermaksud mengusir ketiga kakaknya itu untuk pergi.


Nevan, Steven dan Marcel seketika membelalakkan matanya melihat kelakuan adiknya itu.


Tak..


Nevan seketika memberikan jitakan gratis di kepala adik bungsunya itu. Setelah itu, Nevan pergi dengan senyuman mengembang di bibirnya. Begitu juga dengan Steven dan Marcel. Setidaknya, kekesalannya terhadap adik sepupunya itu sudah terbalaskan oleh Nevan.


Sementara Darel menatap dengan tatapan kesal dan bibir manyunnya kearah kakak keduanya yang sudah menjauh.


Cup..


Seketika Adelina memberikan ciuman sayang tepat dibekas jitakan putra keduanya itu sehingga membuat putra bungsunya itu tersenyum senang.


"Hilang tidak sakitnya?"


"Belum. Satu lagi."


Cup..

__ADS_1


"Udah hilang. Udah nggak sakit lagi. Terima kasih Mamaku sayang."


"Sama-sama anakku sayang."


Sementara Arvind, putra-putranya yang lain serta anggota keluarga lainnya tersenyum bahagia ketika melihat wajah bahagia kesayangannya itu. Mereka berharap senyuman itu tidak hilang sekali pun masalah selalu datang.


***


Di sebuah cafe terlihat dua pria paruh baya yang mana ketiga pria itu adalah ayah dari tiga anak perempuan yang sedang mendekati tiga keturunan keluarga Wilson.


"Bagaimana? Apa kalian sudah bergerak untuk masuk ke dalam keluarga Wilson?" tanya Xavier Bailey ayah dari Mika Bailey.


"Sudah!" Richard dan Stephen menjawab bersamaan.


"Bagaimana denganmu?" tanya Stephen dengan menatap kearah Xavier.


"Sama seperti kalian. Putriku Mika sudah bergerak. Kemungkinan sekarang ini putriku sudah berada di kediaman Wilson," sahut Xavier dengan tersenyum bangga.


"Mungkin juga putriku Marnella juga sudah berada di kediaman keluarga Wilson saat ini," sahut Richard.


"Begitu juga dengan putriku Laudya," sela Stephen.


"Kita biarkan putri-putri kita menjalin hubungan dulu dengan keturunan keluarga Wilson untuk beberapa bulan ke depan. Kita pastikan dulu bahwa tiga korban kita itu sudah jatuh lebih dalam dengan putri-putri kita. Dengan kata lain, kita pastikan ketiganya sudah sangat-sangat mencintai putri-putri kita sehingga tidak ingin lepas dan tidak ingin berpisah dengan putri-putri kita. Setelah itu, barulah kita keinti rencana kita." Xavier berucap sembari memperjelas rencananya kepada dua sahabatnya.


Sementara Richard dan Stephen langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Xavier.


"Rencana yang begitu sempurna. Aku suka dengan rencana tersebut. Biar tidak ketahuan. Kita biarkan putri-putri kita menjalin hubungan dengan keturunan keluarga Wilson selama enam bulan. Setelah enam bulan, baru kita buat keluarga itu hancur! Jangan terlalu buru-buru." Stephen berucap sembari memberikan ide tambahan.

__ADS_1


"Aku juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Stephen," sahut Richard.


"Baiklah kalau begitu. Aku juga setuju hal itu," ucap Xavier.


__ADS_2