Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Resmi Bersahabat


__ADS_3

Darel sudah di bawa ke ruang kesehatan oleh Samuel, Juan, Lucas, Zelig dan Razig. Dan kini Darel sedang diperiksa dan diobati oleh Dokter yang memang diperkerjakan oleh Rektor di Kampus.


Samuel, Juan, Lucas, Zelig dan Razig menatap khawatir Darel.


Beberapa menit kemudian, Dokter itu pun selesai mengobati Darel.


"Dok. Bagaimana lukanya?" tanya Samuel.


"Lukanya gak dalam kan, Dok?" tanya Lucas.


Dokter tersebut tersenyum mendengar pertanyaan dari Samuel dan Lucas.


"Kalian tidak perlu khawatir. Lukanya tidak terlalu serius dan juga tidak terlalu dalam. Teman kalian baik-baik saja." Dokter itu menjawabnya.


Mendengar jawaban dari Dokter tersebut membuat Samuel, Juan, Lucas, Zelig dan Razig tersenyum bahagia.


"Nanti kalau teman kalian sudah sadar. Berikan obat ini kepadanya. Pastikan teman kalian itu meminumnya. Obat ini untuk meredakan rasa sakit dan juga menyembuhkan dari dalam. Dalam waktu satu minggu, lukanya sudah kering."


"Terima kasih, Dok." mereka berucap secara bersamaan.


Setelah selesai berbicara dengan Dokter tersebut. Samuel, Juan, Lucas, Zelig dan Razig menghampiri ranjang Darel. Mereka memperhatikan wajah Darel yang sedikit pucat, terutama Samuel.


FLASHBACK ON


Samuel saat ini berada di rumah kakak sepupunya yaitu Azri Ramero. Kini Samuel sedang berada di ruang tengah bersama kedua orang tuanya Azri.


"Samuel. Dia sangat special dalam kehidupan Azri, kakakmu. Begitu juga dengan sahabat-sahabat kakakmu yang lainnya. Mereka sangat peduli dan perhatian terhadap Dia. Dia itu berbeda dengan yang lainnya. Dia sulit untuk didekati. Tapi jika sudah dekat. Dia orang yang sangat asyik dan menyenangkan. Dia memiliki jiwa sosial yang tinggi, memiliki hati yang baik dan penuh cinta kasih." Carola berbicara sambil menatap wajah Samuel.


"Satu hal yang harus kau ketahui tentang Dia, Samuel!" seru Ditto.


"Apa itu, Paman?"


"Ini mengenai kesehatannya. Paman mengetahuinya dari kakakmu. Kakakmu menceritakan semuanya tentang sahabat kelincinya itu. Dia itu berbeda dengan kedua belas kakak-kakaknya. Dia tidak boleh kelelahan, Dia gampang jatuh sakit. Jika tubuhnya terluka maka Dia akan diserang demam. Dia mengalami geger otak ringan akibat terjatuh dari lantai dua akibat didorong oleh saudara sepupunya ketika masih duduk di bangku SMA. Akibat geger otak ringan yang dialaminya membuat Dia sering sakit kepala. Bukan itu saja. Dia bahkan harus hidup dengan satu ginjal akibat luka tembak." Ditto menceritakan semuanya kepada keponakannya.


"Sekarang kamu sudah tahu tentang sahabat kelinci hyungmu itu. Jadilah sahabatnya," ucap Carola.


"Baik, Bi! Siapa namanya, Bi?" ucap dan tanya Samuel.


"Itu tugasmu untuk mencari tahu siapa namanya dan seperti apa wajahnya," jawab Ditto.


"Baiklah, Paman. Aku mengerti!"


FLASHBACK OFF


"Rel," gumam Samuel.


"Apa kita beritahu kakak-kakaknya?" tanya Lucas yang tatapan matanya masih tertuju kepada Darel.


"Aku rasa begitu. Lebih baik kita beritahu kakak-kakaknya saja," ucap Razig mengiyakan pertanyaan dari Lucas.


"Baiklah. Biarkan aku yang memberitahu kakak-kakaknya Darel." Juan berucap.


Setelah itu, Juan pun pergi meninggalkan ruang kesehatan untuk mencari kakak-kakaknya Darel.


^^^


Di kelas Raffa sedari tadi tidak konsentrasi sama sekali mengikuti materi kuliahnya. Tiba-tiba saja perasaan Raffa menjadi tidak enak.


"Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu terhadap Darel? Kenapa bayangan-bayangan Darel berputar-putar di kepalaku." Raffa berbicara di dalam hatinya.


"Darel," batin Raffa.


Raffa berusaha membuang-buang jauh-jauh perasaan tak enaknya itu. Dirinya berharap adiknya baik-baik saja.


Sekeras apapun Raffa berusaha untuk konsentrasi dalam memperhatikan penjelasan Dosen di depan. Sekeras itulah perasaan tersebut mengganggu Raffa.


Dan pada akhirnya, Raffa menyerah. Raffa berdiri dari duduknya dan mengangkat satu tangannya. Dirinya benar-benar mengkhawatirkan adiknya.


"Maaf, pak!"

__ADS_1


"Iya, Raffa. Ada apa?"


"Saya izin ke toilet, pak!"


"Oh, silahkan."


"Terima kasih, Pak!"


Setelah mendapatkan izin dari Dosen pembimbingnya. Raffa langsung berlari keluar kelas. Dirinya ingin segera memastikan keadaan adiknya.


^^^


Di ruang kesehatan dimana Samuel, Lucas, Zelig dan Razig masih menemani Darel. Mereka menatap khawatir Darel karena Darel belum sadar juga.


"Rel. Bagaimana cara kami agar kami bisa dekat denganmu?" Lucas menatap wajah lelap Darel.


"Katakan pada kami cara untuk mendapatkan hatimu agar kami bisa menjadi sahabatmu." Razig juga menatap wajah lelap Darel.


Ketika mereka tengah memandangi wajah lelap Darel, tiba-tiba mereka mendengar lenguhan dari bibir Darel.


Mendengar lenguhan tersebut mereka sedikit lega. Dan kini mereka berharap mata itu terbuka.


Berlahan mata Darel terbuka. Melihat Darel membuka matanya membuat Samuel, Lucas, Zelig dan Razig tersenyum.


Darel menatap di sekitarnya dan tatapan beralih kearah empat pemuda yang berdiri di hadapannya.


Mereka saling menatap. Darel menatap keempat pemuda yang berdiri di hadapannya itu, begitu juga dengan keempat pemuda tersebut.


"Hei, Rel!" sapa Samuel. Sementara Darel masih terus menatap wajah keempat pemuda tersebut.


"Kenapa hanya empat? Bukankah mereka berlima?" Darel berbicara di dalam hatinya.


"Bagaimana lukamu?" kini Razig yang berusaha bertanya.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menerima mereka jadi sahabatku? Bagaimana jika mereka terluka kalau dekat-dekat denganku? Atau mereka suatu hari nanti akan pergi meninggalkanku karena tahu aku yang sudah membunuh kakak-kakak mereka." batin Darel.


Darel yang mendapatkan tepukan di bahu seketika tersadar. Darel langsung membuang wajahnya kearah lain.


"Terima kasih karena sudah menolongku." Darel mengucapkan terima kasih kepada Samuel, Lucas, Zelig dan Razig.


Mendengar ucapan terima kasih dari Darel membuat Samuel, Lucas, Zelig dan Razig tersenyum.


Darel berlahan bangun dari posisi tidurnya ingin duduk. Melihat Darel yang ingin bangun dari posisi tidurnya. Razig dan Samuel yang kebetulan berdiri dekat dengan ranjang Darel membantu Darel untuk duduk.


Sementara Darel yang dibantu oleh Razig dan Samuel tidak menolak sama sekali. Kini posisi Darel sudah duduk di atas ranjang.


Darel merasakan sesuatu. Ada perasaan aneh dalam dirinya. Perasaan yang sama ketika Darel bertemu dengan ketujuh sahabat-sahabatnya dulu. Bagaimana ketujuh sahabatnya itu berusaha untuk mendekatinya? Bagaimana ketujuh sahabatnya itu berusaha untuk menjadi sahabatnya? Darel memejamkan matanya dan seketika air mata Darel mengalir begitu saja setiap mengingat kenangan bersama ketujuh sahabat-sahabatnya itu.


Samuel, Lucas, Zelig dan Razig yang melihat Darel menangis menjadi iba. Mereka meyakini pasti saat ini Darel tengah mengingat ketujuh sahabatnya yang tak lain adalah kakak-kakak sepupunya. Mereka sudah tahu dari cerita Paman dan Bibi mereka bagaimana hubungan persahabatan kakak-kakaknya dengan Darel. Mereka bukan hanya sekedar sahabat, melainkan sudah seperti layaknya saudara.


Samuel memberanikan diri untuk memeluk tubuh rapuh Darel. Samuel tahu saat ini Darel membutuhkan pelukan untuk tempatnya bersandar dan juga menangis.


Kini tubuh rapuh Darel sudah berada di dalam pelukan Samuel. Darel yang mendapatkan pelukan tidak menolak sama sekali.


"Aku tahu kau saat ini tengah merindukan mereka, bukan! Jika kau ingin menangis. Menangislah, Rel! Keluarkan semua kesedihanmu. Keluarkan semua kerinduanmu terhadap mereka. Karena itu adalah hakmu."


Mendengar ucapan dari Samuel, seketika tangis Darel pun pecah di dalam pelukan Samuel. Mereka yang mendengar tangisan pilu Darel merasakan sesak di dada mereka masing-masing.


"Hiks... Aku merindukan mereka. Aku sangat merindukan mereka. Kenapa mereka pergi meninggalkanku ketika mereka membuat janji kepadaku untuk pergi kuliah bersama. Kenapa... Hiks," isak Darel.


"Bukan kemauan mereka untuk pergi meninggalkanmu, Rel! Mereka pergi karena sudah takdir dan juga kehendak Tuhan. Kau harus bisa merelakan dan mengikhlaskan mereka." Lucas mengusap-ngusap bahu Darel


Setelah puas meluapkan kesedihan dan kerinduan di pelukan Samuel. Darel berlahan melepaskan pelukan Samuel. Darel mengusap air matanya.


Darel menatap satu persatu wajah keempatnya yang juga tengah menatapnya.


"Jadi benar kalau kalian adalah adik sepupunya dari sahabat-sahabatku?" tanya Darel.


"Iya, benar!" Samuel, Lucas, Zelig dan Razig menjawab bersamaan.

__ADS_1


"Aku adik sepupunya kak Azri," ucap Samuel.


"Aku adik sepupunya kak Evano," kata Zelig.


"Aku adik sepupunya kak Damian," ucap Razig.


"Aku adik sepupunya kak Farrel," ucap Lucas.


"Sedangkan Juan adik sepupunya kak Brian," kata Samuel.


"Apa alasan kalian ingin menjadi sahabatku?" tanya Darel dengan menatap satu persatu wajah Samuel, Lucas, Zelig dan Razig.


"Tidak perlu ada alasan jika ingin menjalin sebuah hubungan persahabatan." Samuel menatap lekat wajah Darel.


"Tapi jika kau benar-benar ingin mengetahui alasan kami ingin menjadi sahabatmu. Hanya satu alasannya. Kau teman kami di dunia game. Dan kami ingin menjadikanmu teman kami di dunia nyata." Razig berbicara sambil menatap wajah Darel.


"Kami ingin dekat denganmu seperti di dunia game," ucap Lucas.


"Iya. Itu benar, Rel!" Zelig menambahkan.


Darel masih diam dan belum memberikan keputusan apapun. Darel menatap lekat keempatnya. Darel dapat melihat dari tatapan mata keempatnya ada ketulusan di sana.


"Kalian yakin ingin menjadi sahabatku? Apa kalian tidak marah padaku atas apa yang terjadi kepada kakak-kakak kalian? Mereka meninggal gara-gara aku. Mereka meninggal setelah pulang dari rumahku." Darel kembali menangis.


Lucas memegang kedua bahu Darel dan menatap tepat di mata Darel. "Dengarkan aku, Rel! Apa yang terjadi dengan kak Farrel dan yang lainnya itu semua sudah kehendak takdir. Tidak ada yang salah disini. Jika ingi mencari siapa yang salah. Yang salah itu adalah orang yang sudah membunuh orang-orang yang kita sayangi."


"Jadi kalian tidak marah padaku!" tanya Darel lagi.


"Tidak." mereka menjawab secara bersamaan.


"Jadi bagaimana?" tanya Razig.


"Apa status kami sekarang?" tanya Zelig.


"Kalian resmi menjadi sahabatku," sahut Darel.


Mendengar ucapan dari Darel. Samuel, Lucas, Zelig dan Razig tersenyum kebahagiaan.


"Benarkah?" tanya mereka bersamaan.


"Iya. Aku menerima kalian menjadi sahabatku." Darel tersenyum.


Beberapa detik kemudian, Zelig mengingat sesuatu.


"Astaga!" seru Zelig. Mereka melihat kearah Zelig.


"Ada apa, Zelig?" tanya Razig.


"Darel belum minum obat yang diberikan oleh Dokter tadi," jawab Zelig.


Mendengar jawaban dari Zelig. Samuel, Lucas dan Razig menepuk jidat mereka masing-masing.


Samuel mengambil obat yang diberikan oleh Dokter yang ada di atas meja di samping ranjang Darel.


"Ini minum dulu obatnya, Rel!" Samuel memberikan obat yang diberikan oleh Dokter kepada Darel berserta air segelas.


Darel menerima obat dan air dari tangan Samuel. Setelah itu, Darel langsung meminumnya.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Setelah itu mereka pun tertawa bersama, termasuk dengan Darel. Mereka yang melihat Darel yang ikut tertawa merasakan kebahagiaan tersendiri dalam diri mereka masing-masing. Mereka bahagia karena telah berhasil meluluhkan hati seorang Darel.


"Kakak. Kami berhasil mendapatkan hati sahabatmu ini," batin Samuel, Lucas, Zelig dan Razig.


Tanpa sepengetahuan mereka. Ada dua pasang mata yang melihat dan mendengar pembicaraan mereka. Dan salah satunya tampak begitu bahagia ketika Darel yang sudah mau menerima mereka menjadi sahabatnya.


"Kakak. Kami berhasil," batin orang itu.

__ADS_1


__ADS_2