Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Isak Tangis Darel


__ADS_3

[KEDIAMAN UTAMA WILSON]


Darel saat ini berada di kamarnya. Dirinya terduduk lemah di lantai kamarnya. Darel menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa ketujuh sahabatnya itu. Hari ini adalah hari ketiga dimana Darel benar-benar kehilangan sahabat-sahabatnya.


Darel sudah dua kali merasakan kehilangan. Kehilangan orang-orang yang selalu dekat dengannya. Pertama kakeknya dan sekarang sahabat-sahabatnya. Dan dua kali juga dirinya tidak ada disaat hari pemakaman. Hal itu sukses membuat Darel tertekan dan selalu menyalahkan dirinya.


Selama tiga hari ini, Darel selalu mengurung diri di kamarnya. Bahkan dirinya tidak ingin disentuh oleh siapapun.


"Hiks.. Hiks.. Hiks." Terdengar isakannya begitu menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.


"Kau jahat Darel. Kau jahat," ucap Darel pada dirinya sendiri.


Flashback On


[Pladys Hospital]


Darel mengalihkan pandangannya menatap kalung yang ada di tangannya. Lalu detik kemudian, ekspresi wajahnya berubah menyeramkan. Matanya yang memerah dan tajam saat menatap kalung tersebut. Mereka semua yang ada disana memperhatikan Darel, termasuk anggota keluarganya. Mereka dapat mengartikan dari tatapan mata Darel. Mereka meyakini bahwa Darel sangat mengenal pemilik kalung tersebut.


Darel menatap ke depan dengan sorot mata yang penuh amarah. "Ternyata kalian kembali lagi ke Jerman," gumam Darel.


"Aarrrggghhh! Brengsek! Kalian sudah berani menginjakkan kaki kembali ke negara ini lagi dan berani menyakiti sahabat-sahabatku. Bahkan kalian sudah merenggut nyawa kelima sahabatku. Tunggu saja, aku akan menghancurkan kalian semua beserta keluarga kalian!" teriak Darel dengan air mata yang masih mengalir membasahi wajah tampannya.


"Darel.. hiks." Evan dan Raffa memeluk tubuh Darel dan berusaha menenangkan adik mereka.


Arvind, Adelina dan orang-orang yang ada disana semua menangis. Mereka menangis akan Darel dan juga sahabat-sahabat Darel.


Lalu terlihat beberapa perawat yang keluar sembari mendorong lima brankar. Mereka yang melihat hal itu berteriak histeris.


"Tidak!" teriak Andrean dan Aleta, Ditto dan Carola, Lucio dan Elsa, Mateo dan Siska serta Ferino dan Indira orang tua dari Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel. Tak terkecuali Darel. Darel yang paling histeris.


*Darel kini sudah berada di dekat kelima brankar tersebut. Tangannya membuka satu persatu kain yang menutupi tubuh kelima sahabatnya itu. Saat melihat wajah kelima sahabatnya secara bergantian, tubuh Darel bergetar. Darel menggelengkan kepalanya, seakan-akan ini semua hanyalah mimpi. Atau kelima sahabatnya saat ini sedang mengerjainya.


Air matanya makin mengalir deras. Tangannya bergetar saat menyentuh wajah tampan kelima sahabatnya itu secara bergantian*.


"Hiks.. hiks.. hiks." Darel menangis terisak. "Kenapa? Kenapa kalian jahat padaku? Kenapa kalian mengingkari janji yang telah kalian buat? Bahkan kalian mengatakan padaku kalau kita akan berangkat kuliah bersama. Tapi kenapa justru kalian pergi meninggalkanku. Kenapa kalian tidak mengajakku bersama kalian?!" teriak Darel.


DEG!!


Mereka yang mendengar ucapan Darel menjadi takut dan khawatir. Adelina, Arvind dan para kakak kandungnya menangis saat mendengar penuturan dari Darel.


"Darel," lirih mereka semua.


"BRIAN ANDREAN, AZRI RAMERO, DAMIAN CHARLEZ, EVANO HASHIM, FARREL ALEXANDRIA! Bangunlah kalian. Tepati janji kalian padaku!" teriak Darel sembari menggoyang-goyangkan tubuh kelima sahabatnya secara bergantian.


"Darel!" Davian dan Nevan menahan tubuh adiknya agar berhenti menggoyang-goyangkan tubuh kelima sahabatnya itu.


"Lepaskan aku, kakak. Biarkan aku membangunkan mereka. Aku tahu... aku tahu mereka hanya pura-pura. Mereka itu hanya tidur kak. Kalian semua jangan percaya!" teriak Darel.

__ADS_1


Mereka semua menangis terisak mendengar penuturan Darel. Orang tua dari Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel melihat kondisi Darel benar-benar tidak tega. Mereka semua tahu bagaimana kedekatan mereka, hubungan mereka, kasih sayang mereka, kekompakan mereka selama 12 tahun ini.


Selama 12 tahun itu mereka selalu bersama-sama. Walau Darel tidak pernah merasakan pergi kemana pun sendirian. Setiap Darel ingin keluar rumah, Darel selalu diantar dan ditemani oleh para kakak kandungnya. Bukan berarti hubungannya dengan sahabatnya tidak dekat. Darel justru membagi waktunya untuk orang-orang yang disayanginya. Di rumah Darel disayangi oleh ke 12 kakaknya. Di luar rumah, Darel disayang oleh ketujuh sahabatnya.


Saat berada diluar rumah. Ketujuh sahabatnya itu selalu mengajak bermain. Kadang-kadang mereka membawa Darel ketaman hiburan, ke kebun binatang, ke bioskop dan tempat hiburan lainnya yang ada di Jerman. Bahkan mereka juga sering membawa Darel bermain ke rumah mereka. Walau begitu, Darel tetap memberitahu para kakaknya agar para kakaknya tidak khawatir.


Siska ibunya Evano melangkah mendekati Darel. Tangannya terangkat menyentuh wajah tampan Darel. Jangan lupa air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya saat menatap wajah Darel.


"Sayang. Bibi mohon. Ikhlas mereka. Mereka semua sudah tenang dan bahagia. Kamu tidak boleh seperti ini, nak!"


"Iya, nak! Apa yang dikatakan oleh ibunya Evano benar. Kita semua harus mengikhlaskan kepergian mereka. Bibi mohon sayang. Biarkan mereka pergi dengan damai," kata Indira ibunya Farrel.


"*Ikhlaskan mereka sayang," lirih Elsa ibunya Damian.


Sedangkan Aleta dan Carola ibunya Brian dan Azri ikut mengangguk*.


Bahkan para Ayah dari kelima sahabatnya itu juga ikut mengangguk. "Ikhlaskan para kakakmu, nak!" kata Rainart Ayahnya Brian.


Darel menggeleng-gelengkan kepalanya. Dirinya benar-benar tidak merelakan kepergian kelima sahabatnya itu.


"Aku sudah pernah kehilangan sekali. Orang itu adalah Kakek. Dan sekarang.. apa.. apa aku harus merasakan kehilangan untuk kedua kalinya. Dan bahkan aku harus kehilangan lima sekaligus," ucap Darel dengan suara bergetarnya.


"Masih ada Kenzo dan Gavin, nak! Paman sangat yakin kalau mereka berdua selamat dan saat ini mungkin berada di suatu tempat. Apa kau sama sekal tidak memiliki keyakinan itu? Apa kau tidak menyayangi mereka lagi?" Kini Fayyadh, Ayah dari Kenzo yang berbicara.


"Apa kau benar-benar melupakan dua sahabatmu itu, hum?" tanya Diego ayahnya Gavin.


"Kenzo, Gavin," lirih Darel.


Diego dan Livy serta Nuria ibunya Kenzo menangis melihat kondisi Darel.


GREP!!


Davian memeluk tubuh adiknya dan tangannya mengusap lembut punggungnya. "Ikhlaskan mereka. Dengan kamu mengikhlaskan mereka, berarti kamu benar-benar menyayangi mereka," ucap Davian lembut ditelinga adiknya.


Darel melepaskan pelukannya dari Davian. Kini tatapan melihat satu persatu wajah damai kelima sahabat-sahabatnya itu.


"Aku bersumpah dan aku berjanji pada kalian semua. Aku akan membalas perbuatan mereka. Nyawa dibayar nyawa," ucap Darel lantang.


Mendengar penuturan dari Darel membuat anggota keluarganya dan anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya terkejut.


Darel melihat kearah lima dokter yang menangani kelima sahabatnya itu.


"Siapa yang menemukan kalung ini?" Darel memperlihatkan kalung tersebut.


"Saya," jawab salah satu Dokter tersebut. Nama Dokter itu adalah Galang.


"Bisa kau tunjukkan siapa diantara kelima sahabatku ini yang memegang kalung ini?" tanya Darel lagi.

__ADS_1


Lalu Galang mendekat kearah Darel. Lalu tangannya menunjuk tepat pada Azri.


Baik Darel mau pun para anggota keluarga lainnya melihat kearah tunjuk Galang.


"Kakak Azri," lirih Darel dengan air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.


Darel menatap wajah Azri. "Terima kasih, kak. Dengan kalung ini, kau sudah memberitahuku tentang mereka. Aku tidak menyangka kalau mereka berani kembali lagi ke Jerman. Dan langsung menyerang kalian tanpa ada persiapan dari kita. Aku akan membalaskan kematian kalian," ucap Darel.


Setelah mengatakan hal itu, Darel menatap satu persatu wajah orang tua dari sahabat-sahabatnya itu.


"Paman, Bibi!"


"Ya, nak!" jawab mereka bersamaan.


"Boleh aku meminta sesuatu dari kalian?"


"Silahkan. Kau meminta apa sayang," ucap dan tanya Aleta.


"Ya, Darel. Kau mau meminta apa dari kami?" tanya Indira.


"Aku mau mereka berada di rumah duka yang sama. Mereka harus bersama-sama. Begitu juga saat dimakamkan."


"Baiklah," jawab para orang tua dari sahabatnya itu.


"Terima kasih Paman, Bibi!"


Darel menyentuh dan menggenggam jemari kelima sahabatnya secara bergantian. Lagi-lagi Darel menangis saat menatap wajah kelima sahabatnya itu.


Tiba-tiba Darel merasa sakit di kepalanya. Dikarenakan rasa sakitnya begitu menyakitkan, Darel meremas kuat rambutnya. Dan erangannya pun lolos dari bibirnya.


"Darel!" seru Davian dan Nevan yang saat ini berada di sampingnya.


"Apa kepala kamu sakit lagi?" tanya Davian.


"Sayang." Arvind menghampiri putra bungsunya.


Darel tidak menjawab pertanyaan dari Davian. Erangan kesakitan makin keras keluar dari bibirnya sehingga hal itu membuat mereka semua khawatir.


"Aakkhhh!"


"Bawa Darel ke ruanganku!" seru Fayyadh.


Davian dan Nevan memapah Darel untuk menuju ke ruangan Dokter Fayyadh. Baru beberapa langkah, tubuh Darel ambruk.


BRUUKK!!


Tubuh Darel jatuh di atas tubuh Davian. Davian menjadikan tubuhnya untuk melindungi tubuh adiknya agar tidak jatuh di lantai.

__ADS_1


__ADS_2