
Monica Shaquille Shamus yang sering disapa dengan panggilan Monic. Gadis itu baru keluar dari ruanga BK. Dia mengelap keringatnya karena beberapa menit yang lalu habis mendapatkan hukuman.
Monic berjalan menyusuri koridor Hendak menuju kelasnya, namun matanya tak sengaja melihat sosok laki-laki, ah tidak! Maksudnya adalah malaikat yang dia temui kemarin di sebuah supermarket.
Seketika Monic merubah haluannya yang tadinya ingin menuju kelas, kini berakhir menghampiri sosok pemuda tampan itu.
Pemuda tampan yang dilihat oleh Monic adalah Brian Andrean salah satu sahabatnya Darel Wilson.
^^^
Brian bersama dengan sahabat-sahabatnya kini tengah duduk di sebuah kursi panjang di depan kelas. Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bergabung dengan Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon. Mereka duduk di kursi panjang di depan kelasnya. Mereka semua tampak bahagia karena permasalahan selesai. Yang paling bahagia disini adalah Darel.
"Akhirnya kita semua terbebas dari Dosen gila itu!" seru Lucas dan Juan bersamaan.
"Bukan hanya terbebas dari Dosen gila itu saja. Bahkan para antek-anteknya juga ikut lenyap dari kampus ini!" seru Zelig.
Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum mendengar perkataan dari Lucas, Juan dan Zelig. Begitu juga dengan mahasiswa dan mahasiswi yang mendengarnya. Mereka juga bahagia karena Dosen tersebut tidak akan mengari mereka lagi.
Ketika mereka tengah mengobrol sembari menunggu Dosen datang, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seorang gadis.
"Hei," sapa Monica semanis mungkin dengan tatapan matanya menatap kearah Brian.
Mendengar sapaan seorang gadis membuat Brian dan sahabat-sahabatnya langsung melihat kearah gadis itu.
Brian seketika mengernyit heran ketika melihat gadis yang dia hari yang lalu dia tolong ketika di supermarket berada di kampus yang sama dengannya.
"Kamu cowok yang waktu itu nolongin aku di supermarket dua hari yang lalu kan? Kenalin namaku Monica. Panggil Monic aja." Monica mengulurkan tangannya di hadapan Brian sambil tersenyum.
Mendengar ucapan dan juga tindakan dari gadis itu membuat Darel dan sahabat-sahabatnya menatap kearah Brian yang saat ini hanya menatap dingin kearah tangan gadis itu.
"Brian."
Brian menjawab perkataan dari Monica tanpa menatap kearah wajah Monica.
Mendapatkan reaksi tak mengenakan dari cowok yang sudah menolong dirinya membuat berdecak dalam hati.
__ADS_1
"Untung lo ganteng. Dan gue sudah jatuh hati sama lo."
Brian menatap kearah gadis di hadapannya itu. "Jika lo nggak ada kepentingan apapun. Silahkan pergi dari sini. Jangan ganggu gue dan sahabat-sahabat gue!"
"Lah kok kamu gitu sih. Kan aku kesini baik-baik. Dan aku mau ngucapin terima kasih sama kamu," ucap Monica.
"Aku terima ucapan terima kasih dari kamu. Sekarang, silahkan pergi!" Brian berucap dengan wajah dingin dan datar.
Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Brian membuat hati Monica sakit. Dia tidak menyangka jika Brian akan memperlakukan dirinya seperti ini.
"Panas gue. Cabut ah!"
Darel seketika berdiri dari duduknya. Setelah itu, kakinya melangkah menuju kelasnya. Disusul oleh Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon. Mereka melangkah memasuki kelas.
Beberapa detik kemudian, Azri berdiri dari duduknya dan melangkah menuju kelasnya yang hanya beberapa kelas dengan kelas kesembilan sahabatnya. Diikuti oleh Damian, Evano dan Farrel. Dan terakhir Brian. Mereka menyusul Azri menuju kelas.
^^^
Di dalam kelas Juan, Razig dan Zelig yang penasaran akan gadis yang bernama Monica itu mengintip balik jendela. Mereka melihat bahwa gadis itu masih berdiri di depan kelasnya.
"Juan," panggil Zelig yang tatapan matanya melihat keluar jendela.
"Gue rasa gadis itu suka sama kakak sepupu lo, kak Brian!" Zelig berucap sambil tatapan matanya menatap kearah gadis itu.
"Gue juga berpikiran yang sama seperti Zelig. Gadis itu suka sama kak Brian," ucap Razig menambahkan.
"Gue berharap gadis itu tidak menyesal suka sama kakak sepupu gue. Dan gue juga berharap gadis itu tidak sakit hati," sahut Juan dengan tatapan matanya menatap kearah gadis itu.
Zelig dan Razig melihat kearah Juan. Begitu juga dengan Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Lucas, Charlie dan Devon.
"Maksud lo?" tanya Razig dan Zelig bersamaan.
"Gue tahu bagaimana sifat asli kakak sepupu gue itu jika berhadapan dengan orang baru. Bagi yang sudah kenal lama dengan kakak gue pasti tahu bagaimana sifatnya," jawab Juan.
Mendengar jawaban dari Juan. Seketika Razig, Zelig melihat kearah Darel, Kenzo dan Gavin. Begitu juga dengan Samuel, Lucas, Charlie dan Devon.
__ADS_1
Merasa dirinya ditatap membuat Darel, Kenzo dan Gavin balik menatap kearah sahabat-sahabatnya itu.
"Kak Brian itu sifatnya itu dingin kalau diluar, tapi lembut di dalam. Begitu juga dengan kak Azri, kak Damian, kak Evano dan kak Farrel." Darel berbicara terlebih dahulu.
"Kalau memang benar gadis itu suka sama kak Brian. Dia bakal terus memperjuangkan cintanya terhadap kak Brian. Dari situ kak Brian bisa menilai dan melihat apakah gadis itu baik untuk dia atau sebaliknya," sahut Kenzo.
"Kebanyakan gadis di dunia ini mendekati cowok-cowok ganteng bukan karena cinta, tapi karena harta!" Gavin berucap.
Mendengar ucapan seenaknya dari Gavin membuat para mahasiswi yang ada di dalam kelas tersebut menggeram marah.
Detik kemudian, mereka semua secara kompak melempari Gavin dengan bola-bola kertas sembari menyoraki Gavin.
Mendapatkan lemparan bola-bola kertas membuat Gavin berteriak dengan menatap kearah teman-teman perempuannya.
"Yak! Kenapa kalian melempariku dan menyorakiku?!" teriak Gavin.
"Kenapa juga kau menyebut kami para wanita yang mendekati para pria tampan hanya demi harta!" teriak kompak teman-teman perempuannya.
"Kan memang seperti itu kebanyakan wanita," jawab Gavin.
"Tapi tidak semuanya!"
"Jangan hanya kesalahan satu wanita kau malah menyalahkan wanita yang lainnya!"
"Karena itulah kenapa aku berbicara seperti itu karena aku tidak bisa membedakan mana wanita asli dan mana wanita palsu!" teriak Gavin.
"Yak! Kau pikir wanita-wanita di dunia ini bukan manusia?!"
"Apa kau pikir semua wanita-wanita di dunia ini adalah makhluk halus yang menyamar menjadi manusia?!"
Darel dan Kenzo berucap dengan suara yang sengaja dikeraskan dengan tatapan matanya menatap garang kearah Gavin.
Mendengar ucapan kompak dari Darel dan Kenzo membuat Gavin seketika membelalakkan matanya tak percaya. Dirinya seketika syok mendapatkan serangan secara bersamaan dari kedua sahabatnya.
Sementara Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon seketika tertawa keras ketika melihat wajah super syok Gavin. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
__ADS_1
"Hahahahahaha."
Suara tawa mereka semua terdengar sampai ke kelas lainnya. Hanya empat kelas yang mendengar suara tawa dari kelas Darel dan sahabat-sahabatnya. Dua kelas dari kanan dan dua kelas dari kiri termasuk kelasnya Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel.