
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dan suasana masih suasana di rumah sakit. Saat ini yang menjaga Daffa dan Aditya di rumah sakit adalah Darel, Vano, Alvaro, Axel, Evan, Raffa, Erick, Dhafin, Rendra, Keenan, Tristan, Dylan, Gilang, Satya dan Melvin.
Mereka semua berada di ruang rawat Daffa, Dario dan Aditya. Sementara saat ini Darel ditemani Evan, Raffa, Dylan, Rendra dan Melvin sedang berada di ruang rawat Agatha.
"Daffa, kapan bangun."
"Kakak Dario, ini aku Erick. Kapan kakak akan bangun."
"Kakak Aditya, aku kangen omelan kakak. Bangun dong kak," ucap sedih Satya.
Mereka semua menatap dengan air mata kearah Daffa, Dario dan Aditya para kakak-kakaknya. Mereka ingin segera kakak-kakaknya itu membuka matanya.
^^^
Di ruang rawat Agatha itu ada Mathew dan kelima putranya yaitu Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan. Mereka semua sangat bahagia ketika melihat kedatangan Darel, Evan, Raffa, Rendra, Dylan dan Melvin.
Sesampainya di ruang rawat Agatha Darel langsung melangkahkan kakinya menghampiri ranjang Agatha. Dan berdiri di samping ranjang tersebut. Darel menatap wajah Agatha dengan tatapan sendu miliknya.
"Kasihan Bibi Agatha. Dia harus mengalami kejadian buruk ini," ucap Darel.
Mendengar ucapan dari Darel membuat mereka semua melihat kearah Darel yang tatapan matanya menatap kearah Agatha yang wajahnya di pasang masker oksigen.
"Kenapa mereka begitu jahat terhadap Bibi Agatha? Seharusnya mereka itu bertobat. Ini justru menambah masa hukuman."
Evan yang berdiri di samping adiknya itu berusaha untuk memberikan ketenangan dengan mengusap lembut punggungnya.
"Orang-orang seperti itu orang-orang yang nggak punya otak, Rel!" seru Melvin.
"Ya! Kalau mereka punya otak, maka mereka akan berpikir sebelum membully rekan satu sel nya," pungkas Rendra.
"Mungkin mereka udah anggap penjara itu sebagai rumah mereka sendiri dan mereka juga betah disana, makanya mereka membully teman satu sel nya itu agar masa kontrak mereka ditambah." celetuk Dylan.
Mendengar ucapan dari Melvin, Dylan dan Rendra membuat Evan, Raffa serta Mathew tersenyum. Bahkan di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Ketiganya, terutama perkataan dari Dylan.
Darel menatap wajah Mathew. "Bagaimana dengan Paman? Paman baik-baik saja kan?"
Mendengar pertanyaan dari Darel membuat Mathew tersenyum. "Paman baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat sekarang."
"Yakin Paman baik-baik saja?" tanya Darel dengan menatap intens Mathew.
Sementara yang lainnya seketika bingung ketika mendengar pertanyaan dari Darel.
"Rel, apa maksud kamu?" tanya Dzaky.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa Paman tidak lagi menyembunyikan sesuatu. Aku takutnya apa yang dialami oleh Bibi Agatha, hal itu juga yang dialami oleh Paman Mathew."
Mendengar ucapan dari Darel membuat mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Darel.
Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan bersamaan langsung melihat kearah ayahnya.
"Papa!"
Mathew tersenyum ketika melihat wajah panik kelima putranya.
"Papa baik-baik saja sayang. Sumpah! Tidak ada yang membully Papa."
Mendengar jawaban dari Mathew membuat mereka semua tersenyum lega
__ADS_1
^^^
Di ruang rawat Daffa, Dario dan Aditya terlihat semua anggota keluarganya telah tiba. Mereka tiba sekitar lima menit yang lalu. Ketika mereka tiba di rumah sakit. Mereka tidak melihat keberadaan Darel, Evan, Raffa, Rendra, Dylan dan Melvin.
"Mana Darel, Evan, Raffa, Rendra, Dylan dan Melvin?" tany Sandy.
"Mereka berada di ruang rawat Bibi Agatha," jawab Gilang.
"Oh iya. Bagaimana keadaan Agatha sekarang?" tanya Adelina.
"Dari cerita Aldan beberapa menit yang lalu dia kesini mengatakan bahwa belum ada kemajuan sama sekali dari Bibi Agatha," jawab Erick.
Mendengar jawaban dari Erick membuat Adelina serta yang lainnya.
"Aku berharap Agatha segera sadar dari koma nya," sahut Salma.
Cklek..
Seseorang membuka pintu ruang rawat Daffa, Dario dan Aditya sehingga orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut langsung melihat kearah pintu. Dan mereka semua melihat kedatangan salah satu kanan dari Darel.
"Maaf, tuan jika kedatangan saya mengganggu!"
"Ach, tidak apa-apa Mikko. Santai saja. Kamu tidak perlu terlalu formal seperti ini," ucap Arvind.
"Apa sudah ada janjian sama Darel?" tanya Sandy.
"Justru Bos tidak tahu kalau saya akan datang kesini," jawab Mikko.
"Apa perlu saya hubungi Darel untuk segera kesini?" tanya Elvan.
"Kalau saya boleh saya tahu. Memangnya Bos ada dimana?"
Elvan menghubungi adiknya dan meminta adiknya untuk segera kembali ke ruang rawat Daffa, Dario dan Aditya.
"Hallo, Rel."
"Hallo, kak! Ada apa?"
"Ini ada Mikko tangan kanan kamu."
"Udah lama ya datangnya?"
"Baru saja. Buruan kesini. Kasihan Mikko kalau nunggu lama."
"Baik, kak!"
Pip..
Setelah berbicara pada adik bungsunya, Elvan langsung mematikan panggilannya.
Beberapa detik kemudian...
Cklek..
Pintu dibuka oleh seseorang. Dan kemudian masuklah keenam pemuda tampan ke dalam ruang rawat Daffa, Dario dan Aditya. Mereka melangkah mendekati kearah sofa dimana anggota keluarganya berada.
"Mikko."
__ADS_1
"Bos."
"Ada apa? Kenapa kemari?"
"Apa Bos sudah mendapatkan panggilan dari Bos Arkan?"
"Hari ini saya belum mendapatkan panggilan dari Paman Arkan. Kenapa? Apa ada masalah?"
"Begini, Bos! Bos Arkan menghubungi saya dan Bos Arkan mengatakan bahwa nanti malam sekitar pukul 10 malam akan ada yang datang kesini untuk mencelakai tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya."
Deg..
Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan dari Mikko dengan mengatakan akan ada yang datang untuk mencelakai putranya/adiknya/kakaknya/keponakannya nanti malam.
"Tunggu dulu. Berarti Paman Arkan sudah mengetahui dalang dalam kecelakaan yang menimpa ketiga kakakku?"
"Sudah Bos!"
"Siapa?"
"Mereka adalah mantan calon rekan kerjanya tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya."
"Apa?!"
Mendengar jawaban dari Mikko tentang dalang yang sudah membuat Daffa, Dario dan Aditya celaka adalah mantan calon rekan kerjanya.
"Brengsek!" Darel benar-benar marah akan kelakuan ketiga mantan calon rekan kerjanya ketiga kakaknya. "Pasti alasan mereka melakukan ini karena ketiga kakakku tidak datang saat itu menemui mereka. Ditambah lagi ketiga kakakku sempat menghubungi mereka dan mengatakan untuk membatalkan kerjasama itu," sahut Darel.
"Anda benar, Bos! Mereka mencelakai tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya karena mereka marah akan pembatalan secara sepihak."
"Dan pasti Paman Arkan yang memintamu untuk datang kesini."
"Benar, Bos!"
"Rel," panggil Nevan.
"Iya, kak!"
"Pasti Mikko ini ketua dari kelompok White Eagle yang sekarang?" tanya Nevan.
Darel melihat kearah Mikko lalu kembali menatap kakak keduanya itu. "Iya, kak!
Mendapatkan jawaban dari Darel membuat mereka semua tersenyum menatap kearah Mikko. Sedangkan Mikko tersenyum malu ketika identitasnya terbongkar di depan semua anggota keluarga Wilson.
"Saya tidak menyangka jika kamu ketua dari kelompok White Eagle yang saat itu ikut menyerang kelompok yang ingin menguasai kota Hamburg dan juga kelompok yang sudah menahan Kenzo dan Gavin!" seru Davian.
"Dan saya juga tidak menyangka jika tuan Davian adalah ketuankelompok Darkness yang dikenal kejam itu," jawab Mikko.
"Jadi kamu tahu kalau itu saya?" tanya Davian.
"Iya, tuan. Saya tahu."
Mikko menatap kearah Darel. Dirinya ingin segera mendiskusikan untuk menjebak ketiga mantan rekan kerja Daffa, Dario dan Aditya.
"Maaf, Bos! Ada baiknya kita segera mendiskusikan untuk menjebak ketiga manusia busuk itu agar mereka yang masuk ke dalam perangkap mereka sendiri.
"Baiklah. Apa rencana kamu?" tanya Darel.
__ADS_1
Dan setelah itu, Mikko pun menjelaskan rencananya kepada Darel dan anggota keluarga Wilson.