Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Ketakutan Sang Pemilik Toko


__ADS_3

Darel saat ini berada di sebuah toko elektronik, toko yang menjual beberapa merek laptop bermerek. Darrel ingin membeli laptop baru untuk tugasnya sebagai ketua SENAT di kampus.


Darel membeli laptop baru bukan berarti dia tidak memiliki laptop atau laptop lamanya rusak. Alasan Darel membeli laptop baru agar tugas kuliah dan tugasnya sebagai ketua SENAT tidak tercampur. Jadi dengan begitu Darel bisa dengan mudah mengeceknya.


"Jadi laptop ini tuan?" tanya si pelayan toko tersebut kepada Darel.


"Iya. Saya ambil yang ini," jawab Darel.


"Baiklah, tuan! Kalau begitu saya cek dulu agar tidak ada kesalahan."


Sembari menunggu pelayan toko tersebut memeriksa laptop tersebut, Darel melihat-lihat kearah lain dimana terlihat banyak aksesoris laptop dan ponsel.


"Kak, saya mau itu. Bisa ambilkan!" seru Darel sembari menunjuk kearah dompet laptop untuk laptop lamanya.


Gadis itu langsung melihat kearah tunjuk Darel. Kemudian gadis itu pun langsung mengambil barang tersebut.


"Ini tuan!"


"Terima kasih, kak!"


"Sama-sama tuan!"


Dan detik kemudian, pelayan yang mengecek kondisi laptop yang akan dibeli oleh Darel datang dan langsung meletakkan laptop tersebut di hadapan Darel.


"Semuanya dalam kondisi baik-baik saja tuan!"


"Baiklah. Silakan rinci totalnya," pungkas Darel.


"Baik, tuan."


Pelayan wanita itu langsung membungkus laptop tersebut dengan baik dan hati.


Disaat pelayan wanita itu hendak memasukkan laptop tersebut ke dalam tas, tiba-tiba datang seorang wanita dan langsung menarik kotak berisi laptop tersebut dari tangan pelayan wanita itu.


"Aku mau laptop ini!"


Baik Darel maupun pelayan wanita itu menatap tak percaya kearah wanita tersebut.


"Maaf, nona! Ini punya tuan itu," ucap pelayan wanita itu dengan menunjuk kearah Darel.


Mendengar ucapan serta melihat arah tunjuk pelayan wanita itu membuat wanita itu langsung melihat kearah pemuda yang duduk di sampingnya.


Wanita itu menatap intens kearah pemuda di hadapannya itu. Begitu juga dengan Darel. Bahkan Darel menatap tajam kearah dirinya.


"Wanita busuk," batin Darel.


"Eeem.. Dia lagi. Ini saatnya aku membalas perlakuannya padaku tempo hari," batin wanita itu.


Yah! Wanita yang datang itu lalu merebut laptop incaran Darel adalah Paula, wanita yang menyukai pemuda yang bernama Ghali Wilson.


Paula kembali menatap kearah pelayan wanita itu dengan tatapan matanya yang menatap tajam. Dirinya melakukan itu agar keinginannya terkabul.


"Ini milikku dan kau harus memberikannya padaku!" bentak Paula.


"Tidak bisa begitu nona. Nona baru datang. Sementara tuan ini sudah sejak tadi disini. Dan laptop ini sudah dibeli sama tuan ini," jawab pelayan wanita itu dengan tangannya masih memegang kotak isi laptop tersebut.


Seketika Paula menggeram marah ketika mendengar ucapan serta penolakan dari pelayan wanita tersebut.


"Berani kau melawanku, hah?!" bentak Paula.


Beberapa pengunjung dan lima pelayan yang sedang melayani para pengunjung seketika terkejut ketika mendengar ucapan serta teriakan dari Paula. Mereka semua melihat kearah wanita itu yang sedang menatap tajam kearah pelayan wanita.


"Maaf, nona! Bukan maksud saya ingin melawan nona. Hanya saja nona terlalu memaksakan diri untuk mengambil barang yang sudah menjadi milik orang lain. Itu tidak baik, nona!" pelayan wanita itu menjawab perkataan dari Paula dengan wajah santai dan tanpa takut sama sekali.


Darel seketika tersenyum ketika melihat pelayan wanita itu melawan wanita busuk di hadapannya. Apalagi ketika mendengar ucapan demi ucapan dari pelayan wanita tersebut.


Beberapa detik kemudian..

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya seorang laki-laki yang datang menghampiri pelayan wanita itu.


"Ach, ini Bos! Nona ini baru datang lalu tiba-tiba meminta laptop ini dijual kepadanya. Padahal laptop ini milik tuan ini. Tuan ini yang sudah memilih, mengambil dan memesannya. Ketika hendak membayar, nona ini ingin merebutnya." pelayan wanita itu menjelaskan secara rinci kepada pemilik toko tersebut.


Laki-laki itu langsung melihat kearah wanita yang berdiri di hadapannya tanpa melihat kearah Darel yang saat ini menatapnya.


"Nona Paula. Anda datang lagi," ucap laki-laki itu menyapa Paula.


"Iya, tuan." jawab Paula lembut sembari tersenyum.


"Bos."


"Wanita ini adalah pelanggan setia toko kita. Dia sudah lama berbelanja disini. Jadi layani dia. Untuk laptop itu, berikan kepada nona Paula." laki-laki itu berbicara sembari menatap tak suka kearah Darel.


Sementara untuk Paula, wanita itu langsung tersenyum kearah Darel. Dirinya puas akan jawaban dari pemilik toko langganannya.


"Tidak bisa seperti itu, tuan!" seru Darel tiba-tiba.


Laki-laki itu menatap tajam kearah Darel. "Kenapa memangnya? Ini toko saya. Dan saya berhak menentukan apa saja disini," jawab laki-laki itu.


"Semua orang juga tahu kalau toko ini milik anda. Tapi saya disini tidak menanyakan tentang kepemilikan toko ini. Yang saya permasalahkan disini adalah cara anda itu sangat menjijikan. Saya yang terlebih dahulu memiliki laptop tersebut. Dan saya hendak membayarnya. Namun seenaknya anda memberikan kepada wanita menjijikan ini," ucap Darel dengan kata kejamnya sembari menatap rendah kearah Paula.


Seketika Paula mengepalkan kuat tangannya ketika mendengar ucapan kejam dari Darel. Paula menatap tajam kearah Darel dan dibalas dengan senyuman meremehkan dari Darel.


"Berani kau berbicara seperti itu padaku! Apa kau tidak takut jika aku melakukan sesuatu padamu disini dan hari ini?! ucap dan ancam Paula.


"Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan menjijikan sepertimu padaku, hum?" tanya Darel dengan seringai di bibirnya.


"Brengsek! Ternyata nyalimu besar juga!" bentak Paula.


Paula menatap Darel dengan tatapan penuh amarah. Dan kemudian Paula mengangkat tangannya hendak menampar pipi Darel.


Sreeekkk..


"Aakkhhh!" ringis Paula ketika merasakan sakit di pergelangan tangannya.


"Tidak semudah itu lo menyentuh pipi gue. Kedua orang tua gue, kedua belas kakak kandung gue belum pernah memberikan tamparan terhadap gue. Dan lo!" ucap Darel dengan menatap nyalang kearah Paula. "Lo yang bukan siapa-siapa gue mau nampar gue. Yang benar saja," ucap Darel dengan seringaiannya.


Sreeekkk..


"Aakkhhh!" teriak Paula ketika Darel melintir pergelangan tangannya ke samping.


"Lo udah salah meremehkan gue. Dan satu lagi. Jangan pernah mengklaim milik orang lain menjadi milik lo. Itu tindakan tak baik."


Darel seketika langsung mendorong kuat tubuh Paula sehingga membuat Paula tersungkur di lantai.


Setelah melakukan tindakan kekerasan terhadap Paula. Darel mengambil ponselnya di saku celananya. Dia ingin menghubungi salah satu kakaknya.


Sementara orang-orang yang ada di dalam toko tersebut seketika diam. Tidak ada yang bersuara, termasuk sang pemilik toko. Bahkan si pemilik toko tak berani menatap Darel secara langsung. Laki-laki itu hanya sesekali melirik kearah Darel.


Beberapa detik kemudian..


"Hallo, Rel! Kenapa?"


"Apa aku mengganggu kakak?"


"Tidak sayang. Ada apa?"


"Syukurlah! Begini kak. Aku sekarang berada di sebuah toko yang menjual berbagai macam merek laptop. Toko yang kakak rekomendasi padaku dan sekaligus toko langganan kakak selama 6 tahun."


"Oh, jadi kamu jadi membeli laptop baru?"


"Iya, kak!"


"Bagaimana?"


"Apanya?"

__ADS_1


"Pelayanan dari toko itu?"


"Pelayanannya baik. Hanya saja aku tidak suka dengan pemilik tokonya." Darel berbicara sambil menatap tajam kearah laki-laki itu.


"Kenapa dengan pemilik tokonya? Setahu kakak dia baik dan ramah."


"Pret!" Darel langsung menjawab perkataan dari kakaknya itu sehingga membuat kakaknya yang di seberang telepon seketika terkejut dengan membelalakkan kedua matanya. "Baik dari mananya. Kakak nggak tahu apa yang aku alami sekarang ini."


Ghali yang di seberang telepon langsung paham ketika mendengar nada bicara adiknya itu. Ghali meyakini bahwa telah terjadi sesuatu terhadap adik kesayangannya itu.


"Apa yang terjadi? Katakan!"


"Pemilik toko ini bersikap kasar padaku. Dia menghinaku dan juga memakiku demi perempuan yang saat ini tengah gencar mendekati kakak."


Mendengar jawaban dari adik bungsunya itu sembari menyebut perempuan yang gencar mendekati dirinya seketika Ghali tersenyum. Dia tahu siapa perempuan yang dimaksud oleh adiknya itu.


"Apa perempuan murahan itu datang ke toko itu?"


"Iya."


"Apa yang dia lakukan?"


"Dia merebut laptop yang seharusnya milikku. Dia merebutnya ketika aku ingin membayar laptop itu. Pelayan wanita itu berusaha mati-matian untuk mempertahankan laptop tersebut, namun usahanya gagal karena pemilik toko tersebut yang tak lain adalah atasannya datang. Laki-laki brengsek itu meminta kepada pelayan wanita itu untuk memberikan laptop tersebut kepada perempuan menjijikan itu."


"Apa?!"


Ghali seketika berteriak ketika mendengar penjelasan dari adik bungsunya mengenai sikap dari pemilik toko tersebut.


"Sekarang berikan ponsel kamu kepada dia. Kakak akan bicara padanya sekaligus ingin memberikan kejutan untuknya."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel ketika mendengar ucapan dari kakak ketiganya itu.


"Aku harap kakak memberikan kejutan yang indah untuknya sehingga dia tidak bisa tidur dengan nyenyak."


"Sesuai keinginan adiknya kakak."


Setelah mendapatkan jawaban yang memuaskan, Darel langsung memberikan ponselnya kepada sipemilik toko tersebut.


"Seseorang ingin berbicara denganmu."


"Siapa?"


"Kau akan tahu setelah mendengar suaranya," jawab Darel.


Laki-laki itu kemudian mengambil ponsel milik Darel, lalu segera berbicara dengan seseorang di seberang telepon.


"Hallo."


"Aku tidak menyangka jika pelayananmu begitu buruk terhadap adik kesayanganku, tuan Difta!"


Deg..


Seketika laki-laki yang dipanggil Difta oleh Ghali membelalakkan matanya sembari menatap kearah Darel yang sedang tersenyum menatap dirinya. Dia terkejut ketika mendengar ucapan dari Ghali.


"A-apa? Adik? Ja-jadi dia....?"


"Kenapa? Apa anda kaget tuan Difta. Seharusnya anda tidak bersikap seperti itu kepada adik saya. Seharusnya anda melayani adik saya dengan baik. Apa anda lupa kalau bukan berkat saya dan sahabat-sahabat saya, toko anda tidak akan menjadi toko favorit? Toko yang banyak dicari oleh orang-orang diluar sana."


"Dan apakah anda melupakan satu hal yang tidak saya sukai, tuan Difta? Saya paling tidak suka jika seseorang yang saya kenal dan orang yang saya bantu memiliki sifat suka merendahkan orang lain. Bahkan anda hanya melayani orang-orang tertentu saja. Dikarenakan anda sudah menghina adik kesayangan saya, maka hari ini juga saya akan buat toko anda sepi pembeli."


Setelah mengatakan itu, Ghali langsung mematikan panggilannya. Dia tidak ingin mendengar ucapan serta permohonan dari Difta.


Mengetahui panggilan terputus, Difta memberikan ponsel itu kepada Darel sembari mengatakan permintaan maaf, namun diabaikan oleh Darel karena Darel berbicara dengan pelayan wanita yang melayaninya tadi.


"Nona, ini kartu nama saya. Silahkan hubungi saya jika nona membutuhkan pekerjaan baru," ucap Darel sembari memberikan kartu namanya kepada pelayan wanita itu.


"Ini laptop tuan, bagaimana?" tanya pelayan wanita itu sembari tangannya menerima kartu nama tersebut.

__ADS_1


"Sudah tidak minat lagi. Berikan saja pada perempuan itu. Bukankah dia butuh laptop itu. Aku akan mencari di toko lain saja."


Setelah mengatakan itu, Darel langsung pergi meninggalkan toko itu dengan tersenyum penuh kemenangan karena sebentar lagi toko pemilik dari laki-laki sombong itu akan sepi pembeli.


__ADS_2