Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 100 Flashdisk


__ADS_3

“Honey, jika aku berteriak, lari. Cepatlah lari bersama dengan mbak Kun begitu dia muncul sebentar lagi,” bisik Refald tanpa menoleh ke arahku agar ucapannya tidak di dengar orang-orang yang ada di belakang kami. Beruntung suara Refald tersamar oleh bisingnya suara binatang serangga yang mulai berkoar-koar ketika matahari hampir terbenam.



“Bagaimana denganmu?” tanyaku tak kalah pelan dari suaranya. Pandanganku juga tetap lurus ke depan agar tidak ada yang curiga kalau kami sedang berbicara.


“Aku dan pak Po, akan mengurus mereka. Tunggu aku di hilir sungai, mbak Kun akan menunjukkan jalannya untukmu dan juga melindungimu. Jika aku tidak ke sana dalam waktu satu jam. Hubungi nomer yang tertera di telapak tangan mbak Kun. Kau mengerti, Honey.”


“Tapi ...,”


“Tidak ada pilihan lain lagi, Honey. Ikuti saja apa yang aku bilang tadi.”


“Aku tidak bisa meninggalkanmu, kita harus pergi bersama-sama.”


“Harus ada seseorang yang mengalihkan perhatiannya, Honey. Jika kita berlari bersama, mereka akan dengan mudah menangkap kita. Percayalah padaku, kita akan baik-baik saja. Aku janji padamu, selama aku masih hidup, tidak akan ada yang berani menyakitimu, oke!”


Aku tidak setuju jika lagi-lagi, aku harus berpisah dengan Refald. Entah kenapa suasana hatiku selalu buruk jika tidak ada dia disampingku. Membayangkannya saja, dadaku sudah terasa sesak. Aku benar-benar takut kali ini, aku takut Refald tidak bisa memenuhi janjinya. Ingin rasanya menolak keinginannya tapi sepertinya ia sudah keukeuh pada pendiriannya. Percuma juga berdebat dengan Refald saat ini, di tambah lagi sikon kami sama sekali tidak mendukung.



Rembang petang sudah datang menandakan malam mulai tiba. Kami semua masih menyusuri hutan tetapi penjaga perhutani itu mulai curiga pada kami.


“Hei! Kalian berdua! Apa lokasinya masih jauh? Kenapa aku merasa kita hanya berputar-putar? Apa kau mencoba membodohi kami, ha?” teriak penjaga itu.


Refald tidak langsung menyahut teriakan penjahat itu, “Bersiaplah, Honey!” gumam Refald. Dia menghitung waktu dengan jarinya saat menggandeng tanganku. “Sekarang! Lari!” ia melepaskan genggamannya dan aku melihat sosok mbak Kun muncul didepanku sambil melayang jauh ke depan supaya aku mengikutinya.


Sementara Refald juga berlari ke arah berlawanan denganku mengikuti Pak Po yang juga tiba-tiba saja muncul di samping Refald. Entah aku salah lihat atau apa, tapi aku yakin wajah pak Po itu, benar-benar tampan, sama seperti wajah mbak Kun yang cantik nan rupawan.

__ADS_1


Hal itu tentu saja membuatku bingung sendiri di tengah kepanikan yang menyerangku saat ini. “Apa semua hantu pasukan Refald berwajah bening dan glowing.” Pikirku sambil terus berlari dan sesekali menoleh ke arah Refald yang sudah tak terlihat lagi dan menghilang dibalik hutan rimba.


Samar-samar aku mendengar suara teriakan penjaga perhutani untuk mengejar kami berdua. Suara tembakan juga terdengar menggelegar dimana-mana disertai umpatan kekesalan si penjaga hutan karena kami berhasil mengelabuhinya.


“Kejar mereka!” teriak anak buah penjaga perhutani itu.


Aku kehabisan napas karena terlalu kencang berlari, aku membungkuk untuk mengatur kembali napasku. Mbak Kun yang tadinya jauh didepanku tiba-tiba saja sudah melayang-layang dihadapanku.


“Kau tidak apa-apa, Putri?” tanya sosok hantu cantik menakutkan itu.


Aku agak terkejut mbak Kun tiba-tiba memanggilku dengan sebutan ‘putri’. Namun, sekarang bukan saatnya untuk mempermasalahkan panggilan itu.


Aku masih belum bisa menjawab karena napasku masih terasa berat. “Aku ... sudah tidak ... kuat lari ... lagi.” Akhirnya aku bisa bicara juga meski dengan napas tersengal-sengal.


“Bersembunyilah di balik pohon besar itu. Aku akan mengusir mereka semua.” Mbak Kun menunjuk sebuah pohon beringin besar yang ada di samping kiriku. Perlahan, aku paksakan sisa tenagaku untuk berjalan ke sana dan bersembunyi dibalik batang besar pohon beringin ini.


Selang beberapa menit, para anak buah penjaga perhutani yang terdiri kurang lebih dari lima orang tiba di lokasi tempatku bersembunyi. Karena panik, aku sampai lupa bernapas. Ketegangan menyelimuti seluruh pikiranku. Saking takutnya, aku sampai tidak berani mengintip ke arah mereka. Kelimanya saling menodongkan senjata dan siap menembak jika ada pergerakan sedikit saja.


Dor!


“Keluar! Percuma saja kau sembunyi!” teriak salah satu orang itu.


“Siapa di sana!” sahut yang lainnya dan lagi-lagi terdengar suara tembakan lebih dari satu kali.


Dor! Dor! Dor! Dor!


Aku menutup telingaku agar tidak bisa mendengar suara bising itu. Aku yakin, mbak Kun sedang mempermainkan mereka. Mana ada hantu bisa ditembak, yang ada mereka malah membuang-buang peluru mereka saja.

__ADS_1


“Itu! di sana!” teriak salah satu penjahat itu. “Jangan di tembak! Itu kayaknya bukan manusia!”


“Apa maksudmu?” Tanya yang lainnya.


“I-itu ... kun-kuntilanaaaaakkkkk!” teriak salah satu penjahat yang sudah mulai menyadari sosok mbak Kun ada di sekeliling mereka. Sepertinya orang itu langsung lari tunggang langgang meninggalkan teman-temannya yang lain.


Mereka semua menganga tak percaya melihat aksi salah satu temannya. Sebagian besar dari mereka bahkan tidak percaya kalau ada hantu di hutan seperti ini.


“Dasar penakut! Kebanyakan nonton film Susana sih, makanya dia jadi berhalusinasi seperti itu!” komentar salah satu temannya disusul dengan gelak tawa yang lainnya.


Tiba-tiba saja suasana horor kembali mencekam dan mbak Kun mulai menunjukkan suara khasnya yang bikin bulu kuduk semua orang merinding ketakutan, termasuk juga aku. Untuk suara hantu fenomenal ini, tidak ada yang menandingi, sangat sangat sangat menakutkan.


Aku bisa mendengar dari suara mereka bahwa para penjahat yang sedang mengejarku itu sedang gemetar ketakutan. Dari situ aku mulai memberanikan diri untuk mengintip mereka dari balik pohon tempatku bersembunyi untuk mengetahui situasi seperti apa yang sedang terjadi.


Dan benar dugaanku, tanpa mereka sadari, mbak Kun sudah berdiri melayang di belakang mereka dan membuat bulu kuduk mereka berdiri. Setelah menoleh ke arah belakang dan benar-benar melihat sosok mbak Kun yang menurutku menawan, para penjahat itu malah berteriak sekencang-kencangnya seperti temannya tadi dan bahkan sampai ada yang terkencing-kencing dicelana saking takutnya melihat sosok hantu paling fenomenal di Indonesia.


Mereka pun lari terbirit-birit kesana kemari sampai jatuh bangun tak karuan melihat wajah ayu mbak Kun. Tapi dimata mereka, mungkin sosok mbak Kun yang mereka lihat memang benar-benar menakutkan sehingga bisa saja menimbulkan trauma yang mengerikan. Mbak Kun tertawa terpingkal-pingkal melihat para penjahat itu melarikan diri setelah melihatnya.


Setelah dirasa aman, aku pun keluar dari tempat persembunyianku dan menghampiri mbak Kun yang masih standby melayang ditempatnya.


“Haahahaaa, lihatlah! Badan meraka aja yang gede! Bertato, tapi sama hantu aja takut! Dasar cemen mereka! Enak juga jadi Kunti, hahaha.” mbak Kun terlihat senang karena sudah berhasil membuat kabur para penjahat itu. Namun, tiba-tiba saja dia mengerjap tanpa sebab dan pandangannya fokus lurus ke depan. “Ayo, Putri! Kita harus bergegas ke hilir sungai!” ajak mbak Kun tiba-tiba.


“Apa Refald sudah ada di sana?” tanyaku penuh semangat membayangkan aku akan segera bertemu lagi dengan Refald.


“Tidak!” jawab mbak Kun dengan cepat.


“Kenapa? Apa yang terjadi dengannya?” tanyaku mulai was-was. Ada sedikit kecewa juga karena aku tidak tahu apakah bisa bertemu dengan Refald lagi atau tidak. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi meski aku tidak tahu apa itu.

__ADS_1


Mbak Kun tidak langsung menjawab pertanyaanku, ia berhenti melayang seolah sedang ada yang dia pikirkan.


***


__ADS_2