Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 193 Cinta dan Dendam


__ADS_3

Shena tertegun melihat siapa orang yang berbagi payung dengannya. Orang itu adalah orang yang saat ini paling dibenci Shena, siapa lagi kalau bukan Leo. Mantan kekasih almarhum sahabatnya, Sasa.


Mata Shena hanya menatap wajah Leo yang tersenyum manis padanya, tapi Shena sama sekali tak tertarik melihat wajah tampan itu, yang ada malah Shena semakin membenci orang yang kini berdiri dekat didepannya ditengah derasnya hujan yang mengelilingi keduanya tengah malam. Tanpa suara, tanpa ekspresi dan tanpa berkata apa-apa, Shena berjalan meninggalkan Leo begitu saja.


"Pakailah payung ini, supaya kau tidak kedinginan." Leo mencegah langkah Shena.


Tanpa berbalik menatap Leo yang berdiri dibelakangnya, Shena berkata, "Lebih baik aku mati kehujanan dan kedinginan daripada harus satu payung denganmu. Jika kau masih mengikutiku, aku benar-benar akan membunuhmu." Shena melanjutkan langkahnya sambil berlari kencang agar Leo tidak mengikutinya lagi.


Wajah Leo memerah karena marah mendengar penolakan mentah-mentah dari Shena. Tangannya mengepal kuat menahan amarah yang bergejolak dalam tubuh cowok itu. Selama 3 tahun terakhir, tak ada satu wanita pun yang mampu menolak pesona Leo walau hanya dengan satu lirikan matanya saja, sedangkan gadis ini, jangankan terpikat oleh pesona Leo, melirik wajahnya saja Shena sama sekali tidak mau. Baru kali ini ada wanita seperti Shena yang benar-benar membencinya hanya karena reputasinya yang suka sekali gonta-ganti pacar.


Padahal Leo melakukan itu hanya karena ingin menemukan wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta seperti yang sekarang ia rasakan pada Shena. Sebab itulah akhir-akhir ini, Leo memutuskan semua hubungannya dengan wanita yang dekat dengannya karena ia ingin Shenalah yang menjadi kekasihnya.


"Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi," gumam Leo. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo, Roy ... dekati Laura dan pastikan Shena ikut dalam kompetisi kampus besok. Dapatkan semua biodata teman sekelas Shena semuanya. Cari kelemahan mereka dan berikan padaku. Sisanya biar aku yang urus," ujar Leo sampai nada suaranya bergetar.


"Kau sudah mulai melancarkan aksimu?" tanya Roy dari seberang sana.


"Bukan cuma aku, tapi kita berdua. Sudah saatnya kita memang harus beraksi. Aku tidak suka ditolak. Tembak Laura secepatnya dan dapatkan semua informasi kelemahan semua teman-teman Shena."


"Oke!" Roy menutup sambungannya dan mulai menyusun rencana untuk Laura. Sahabat terdekat Shena yang kebetulan tergila-gila padanya. "Aku suka permainan seperti ini," gumam Roy dengan kilatan mata mencurigakan.


Sementara Leo kembali masuk ke dalam mobil Jeep Canvasnya dan mulai menyalakan mesin mengikuti Shena. Ia tidak mungkin membiarkan gadis yang menjadi targetnya pulang malam sendirian apalagi ditengah hingar bingar kota metropolitan seperti yang ada di kota ini, dimana tindakan kriminalitas bisa terjadi kapan dan dimana saja.


Apa yang dikhawatirkan Leo memang benar terjadi. Dari kejauhan, ada beberapa preman sedang mengikuti Shena dari belakang dan hendak berniat jahat pada gadis itu. Leo yang tahu gelagat mereka langsung turun dari mobil dan menyerang mereka satu persatu secara halus dan sembunyi-sembunyi supaya Shena tidak menyadari kalau Leo sedang membasmi orang-orang yang berusaha mencelakainya.


Leo memiting leher salah satu preman yang berjalan paling belakang dengan kuat lalu menyeretnya ke balik pohon yang ada di pinggir jalan. Dengan cepat Leo memukuli wajah preman itu sampai bonyok hingga tak sadarkan diri lalu meninggalkan tubuh salah satu preman malang itu begitu saja.


Hal yang sama juga ia lakukan pada preman ke 2, 3, 4 dan seterusnya sampai tak lagi yang tersisa. Tentu saja hal itu ia lakukan dengan hati-hati dan rapi agar tak ada satupun orang yang curiga termasuk Shena yang sedang berjalan di tengah derasnya hujan.


Shena sendiri juga heran karena laki-laki aneh yang berjalan di belakangnya terus berkurang satu persatu. Tadinya ia senang karena yang berjalan di trotoar bukan cuma dia saja, tetapi masih ada banyak orang yang berjalan bersamanya tanpa Shena tahu bahwa orang-orang itu hendak berbuat jahat padanya. Untung saja ada Leo yang bersedia jadi pahlawan kemalaman Shena sehingga gadis itu tetap aman.


Semua preman itu tak sadarkan diri dan babak belur habis digampar habis-habisan oleh Leo. Lucunya, mereka semua pingsan di bawah pohon berbeda yang tumbuh di pinggiran trotoar.


Leo terus mengawal Shena dari belakang dan memastikan gadis itu pulang dengan selamat dikosannya. Begitu Shena masuk ke dalam kamar kosnya, Leopun pergi kembali ke mobil yang ia tinggalkan begitu saja dipinggir jalan. Leo menelepon seseorang yang tidak lain adalah para pengawal Leo.


"Bereskan semua orang yang ada di sini. Kirim mereka ke pulau tak berpenghuni, jangan sampai ada yang tahu." Leo menutup sambungan teleponnya dan pulang ke istana megahnya.


Sesampainya di kamar, Leo memandangi sebuah foto seorang gadis kecil yang terpajang rapi dalam pigora yang ada di meja samping tempat tidur Leo. Tak lupa ia mengecek kembali semua persiapan yang sudah ia siapkan untuk kelangsungan pernikahan kakaknya, yaitu Refald dan Fey. Beberapa hari lagi, kakak sepupunya itu akan pulang ke Indonesia dan Leo harus menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Tunggu saja Shena, kau akan segera jadi milikku!" gumam Leo sambil merebahkan dirinya di atas kasur sambil memeluk foto gadis kecil yang tidak lain adalah Shena sendiri.


***


Sementara di Swiss, Refald menemui pasukan dedemitnya yang menjaga goa tempat dimana raga ayah mertuanya tersimpan rapi didalamnya. Tempat ini sama sekali tidak berubah, tetap sama seperti 3 tahun yang lalu. Hanya saja semak belukar yang menutupi dinding goa ini semakin tumbuh lebat dan menjalar dimana-mana. Refald terpaksa harus memangkas habis semak belukar tersebut dengan menggunakan kekuatannya supaya bisa kembali membuka pintu goa untuk mengeluarkan ayah mertuanya.


Begitu pintu goa terbuka, Refald langsung masuk kedalam dan memeriksa keadaan disekitar. Udara di tempat ini benar-benar minus jauh dibawah nol derajat. Manusia biasa, tidak akan bisa tahan lebih lama berada di tempat seperti ini.


Penghalang yang dibuat untuk melindungi raga ayah mertuanya juga tetap masih ada, sama seperti saat terakhir Refald tinggalkan 3 tahun lalu. Sambil menunggu kedatangan jiwa ayah mertuanya, Refald membuka penghalang itu dan merapikan raga ayah mertuanya yang terbujur kaku. Hal itu ia lakukan untuk mengantisipasi ketika jiwa ayah mertuanya kembali, otot-otot tubuhnya tidak kaku lagi.


Setelah selesai menyiapkan semuanya, jiwa ayah mertuanya pun muncul dari balik dinding goa dan menyapa Refald. Refald menyambut kedatangan ayah mertuanya dengan memberi hormat dan membungkukkan badannya.


"Selamat datang kembali, Otousan," ujar Refald.


Ayah mertua Refald hanya tersenyum senang. Sebentar lagi, laki-laki luar biasa yang ada dihadapannya ini, akan benar -benar sah menjadi menantunya dalam ikatan suci yang murni.


Tak butuh waktu lama melakukan proses penyatuan jiwa ayah mertua Refald karena Refald sudah menyiapkan segalanya. Begitu prosesnya selesai, mereka berdua langsung bersiap-siap meninggalkan tempat ini.


"Pakailah baju tebal ini Otousan, supaya tubuh anda hangat." Refald memberikan pakaian hangat yang dititipkan Fey padanya supaya dipakai oleh ayahnya. Refald juga memberikan syal rajutan warna merah agar ayah mertuanya merasa jauh lebih hangat lagi.


"Apakah Fey yang membuat sendiri syal ini?" tanya Mr. Kinomoto sambil memakai syal pemberian Refald.


"Rajutannya rapi seperti ibunya. Fey memang sangat mirip dengan Nadeshiko." Ayah mertua Refald tersenyum senang. "Ayo kita pergi dari sini, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putriku."


Refald mengangguk dan menggunakan kekuatannya lagi untuk membawa pergi mertuanya dari tempat ini. Tak lupa Refald juga menutup kembali tempat goa tersebut agar tidak ada seorangpun yang tahu.


Dengan antusias, Fey menyambut kedatangan ayahnya. Gadis itu langsung berlari memeluk tubuh pria paruh baya berkacamata yang berdiri didepannya.


"Otousan!" isak Fey dalam pelukan ayahnya, ia benar-benar merindukan orang yang paling disayanginya ini.


"Kau semakin cantik mendekati hari pernikahanmu. Sepertinya, kalian berdua sudah benar-benar mempersiapkan diri lebih baik dari sebelumnya."


Fey tidak menjawab, ia melirik Refald yang berdiri dibelakang ayahnya sambil mengedipkan salah satu matanya. Gadis itu tersipu malu dan semakin membenamkan dirinya dalam pelukan ayahnya.


Selesai makan malam, ayah Fey membantu putrinya membersihkan dapur dan mencuci piring. Ia bahagia melihat putrinya sudah dewasa dan pantas menjadi ibu rumah tangga. Sementara Refald sibuk menyiapkan kepulangannya ke Indonesia segera setelah Ayah mertuanya pulih seperti sediakala.


"Kalian berdua hidup bahagia di sini, aku ikut bahagia untuk kalian berdua. Sepertinya, sudah tidak ada lagi yang ayah cemaskan karena kau dan Sakura sudah bahagia bersama dengan orang yang kalian cintai. Ayah hanya bisa berdoa, semoga pernikahan kalian berdua akan terus langgeng selamanya."

__ADS_1


Mendengar ucapan Ayahnya, Fey hanya diam dan jadi baper, tapi ia tidak ingin menangis lagi karena ia sudah berjanji pada Refald bahwa ia harus tetap tegar terutama saat ada ayahnya didekatnya.


"Sebaiknya, Ayah istirahat di kamar yang sudah aku siapkan. Kita akan segera kembali ke Indonesia. Sakura dan Sauran juga akan datang menyambut kedatangan kita, aku yakin ayah pasti akan terkejut saat melihatnya." Fey mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya? Kejutan ap?"


"Nanti ayah akan tahu sendiri!" Fey mendorong tubuh ayahnya, sampai masuk ke dalam kamar yang sudah ia siapkan untuk ayahnya. Begitu ayahnya masuk, Fey mengucapkan selamat malam untuk ayahnya.


"Istirahatlah, Ayah. Kalau butuh apa-apa ... panggil aku saja."


"Ehm, baiklah ... selamat malam juga, Sayang." ayah Fey menutup pintu kamarnya dan Fey pun melanjutkan aksi bersih-bersihnya di dapur.


Tiba-tiba Refald memeluk tubuh Fey dari belakang sambil berbisik pelan, "Ayah sudah tidur?"


"Sepertinya begitu, ayah sudah tidur terlalu lama. Aku tidak yakin apakah ayah bisa tidur dengan nyenyak."


"Aku sudah membuat otot-otot tubuh ayah lemas sehingga peredaran darahnya lancar. Aku rasa tidak ada masalah dengan tubuhnya. Ia tetap bisa tidur nyenyak layaknya manusia normal pada umumnya. Kau jangan khawatir. Kau juga butuh istirahat, Honey. Aku tidak ingin kau lelah. Istirahatlah dikamar, aku yang akan membersihkan sisanya." Refald semakin bergelendot manja di punggung istrinya.


"Sedikit lagi," ujar Fey dan Refald langsung menggendong istrinya tanpa peringatan lalu membawanya masuk ke dalam kamar mereka.


"Apa yang kau lakukan? Ada ayah di sini!" protes Fey.


"Aku tidak suka dibantah, kalau aku bilang berhenti, artinya kau harus berhenti, Honey. Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau malam ini menjadi malam pertama kita."


"Kau tidak akan melakukannya, jika kau mau ... kau sudah melakukannya dari dulu." Fey sudah tidak takut lagi dengan ancaman Refald.


Refald menyunggingkan senyumnya, "Honey, sepertinya kau lupa. Aku tidak perlu pesta mewah untuk menjadikanmu halal untukku di detik ini juga. Ayah sudah ada di sini. Aku hanya tinggal menyuruh pasukan dedemitku merasuki tubuhnya dan menjadi saksi pernikahan kita malam ini. Pasukanku juga bersedia menjadi penghulu yang akan menikahkan kita. Dalam waktu 15 menit, kau bakal jadi istriku dan aku berhak atas semua yang ada dalam dirimu. Bagaimana kalau kita lakukan sekarang." Refald menatap tajam manik mata Fey yang terlihat tegang. Wajah Refald benar serius, itu artinya, Refald tidak main-main dengan ucapannya.


Deg!


Gawat! Habislah aku sekarang! batin Fey dalam hati.


BERGABUNG


****


__ADS_1



__ADS_2