
Untuk beberapa saat aku masih bingung dengan apa yang terjadi di belakang kami. Cahaya yang tadinya bersinar juga berangsur-angsur mulai memudar. Ingin rasanya berbalik arah tapi Refald masih kuat menghalangiku agar aku tetap tidak bergeming dari tempatku. Dia masih memeluk tubuhku dari belakang seolah-olah sedang melindungiku dari sinar cahaya itu.
“Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Cahaya apa itu?” tanyaku dengan panik.
“Tenanglah, Honey dan kita tunggu saja sampai cahaya itu menghilang dengan sendirinya. Aku sendiri juga tidak tahu tapi firasatku mengatakan bahwa kita tidak boleh melihat langsung cahanya itu. Aku merasa cahaya itu bisa membutakan mata kita jika melihatnya langsung.”
“Firasat?”
“Iya, firasatku tidak pernah salah.” Refald semakin erat mendekapku, bahkan hembusan napasnya terendus kencang ditelingaku. “Diam dan jangan bergerak ya, Honey. Ini demi kebaikan kita berdua.”
Aku terdiam dan sedikit merasa tenang ketika Refald memelukku. Cahaya yang bersinar terang tadi juga sudah mulai menghilang. Perlahan, Refald merenggangkan pelukannya. Tubuhku serasa kaku saat Refald melepaskan pelukannya. Entah karena aku yang terlalu panik atau karena aku merasa Refald terlalu lama memelukku. Namun, aku jadi terpaku ketika melihat Refald berdiri mematung didepanku saat aku berbalik badan menghadapnya.
“Ada apa?” tanyaku mulai kembali panik saat melihat ekspresi Refald yang terlihat terkejut.
“Lihatlah disekeliling kita,” ucapnya datar.
Aku memerhatikan sekelilingku dan betapa terkejutnya diriku saat tahu bahwa kami sudah berpindah lokasi lagi. Aku sangat yakin saat ini kami sedang tidak berada di atas pohon lagi, melainkan ada di sisi sungai tak jauh dari pemukiman warga, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah banyak sekali warga berlarian dan berlalu lalang melewati kami tanpa menghiraukan keberadaan kami berdua. Aku sangat bingung dengan semua situasi yang aneh ini. Bagaimana bisa kami ada di tempat seperti ini kecuali kami baru saja melewati lintas waktu.
“Kenapa dengan mereka? Apa mereka tidak bisa melihat kita? Apa kita sudah mati?” pikiranku sudah kacau kemana-mana melihat orang-orang yang cuek-cuek saja dengan kami.
Kalau diperhatikan, sebenarnya mereka tidak benar-benar cuek sih. Justru wajah-wajah mereka terlihat panik dan sedih serta takut yang amat sangat.
Sedangkan Refald, ia hanya diam dan tidak berkata apa-apa. Sepertinya ia sendiri juga bingung sama sepertiku. Aku dan Refald sama-sama mengawasi orang-orang yang berlarian kesana-kemari. Mereka terlihat cemas dan sibuk sendiri. Aku menduga pasti sedang terjadi sesuatu.
Saat ada seorang pemuda yang berlari ke arah kami, Refald langsung mencegahnya, “Permisi,” ujar Refald pada pemuda yang langsung berhenti ketika Refald menghadangnya. “Apa terjadi sesuatu? Sepertinya kalian panik sekali?”
“Ada mayat di sana, Mas?” jawab pemuda itu tergesa-gesa.
__ADS_1
“Mayat? Mayat siapa?” tanya Refald lagi. Aku pun terkejut mendengar jawaban dari pemuda itu.
“Nggak tahu, Mas. Ini mau lihat juga, denger-denger sih sepasang sejoli mas?”
“Apa?” teriakku dan Refald bersamaan, kami pun saling memandang.
“Saya permisi dulu, Mas. Mau lihat juga ... mari.” Pemuda itu mohon pamit sambil menganggukkan kepala.
“Iya, mari ... mari, silahkan. Terimakasih informasinya,” jawab Refald membalas anggukan pemuda itu.
Aku memerhatikan pemuda itu sedang berlari mendekati kerumunan orang-orang yang berlalu lalang sejak tadi. Dalam hati aku agak sedikit lega karena pemuda tadi mematahkan dugaanku yang ternyata salah. Aku kira aku dan Refald sudah mati tapi ternyata kami berdua masih hidup karena msih bisa berkomunikasi dengan seseorang. Namun, lagi-lagi aku kembali panik saat pemuda itu mengatakan bahwa mayat itu merupakan pasangan sejoli. Pikiranku jadi kemana-mana lagi.
“Apa kau tahu mayat siapa yang dimaksud pemuda tadi, Sayang?” tanyaku pada Refald.
“Sepertinya aku tahu.” Refald masih menatap kerumunan orang-orang yang terlihat sedang membopong sesuatu beramai-ramai.
“Kau yakin kau ingin tahu? Aku takut kau akan syok bahkan pingsan jika kau tahu mayat siapa itu. Apa sebaiknya kita pergi saja dari sini?” Refald terlihat cemas, raut wajahnya suram sekali seperti sedang menahan sesuatu.
“Tidak, aku sudah cukup syok tiba-tiba saja kita berada di sini. Aku tidak ingin mati penasaran dengan apa yang terjadi di sini. Kau tahu sendiri, kan? Aku tidak suka misteri!” nadaku agak meninggi saat berbicara. Bukan karena aku marah pada Refald, tapi karena aku sudah terlalu lelah dihadapkan dengan begitu banyak misteri dan teka-teki yang berada di luar nalar manusia.
Refald memelukku untuk menenangkanku. “Honey, ini sudah menjadi takdir kita, kenapa kau mengatakan seolah-olah kau tidak terima dengan apa yang ada dalam duniaku saat ini? Apa kau ingin mencari penggatiku? Dan juga hidup normal seperti yang lainnya?” saat mengatakan itu Refald masih saja memelukku. Aku jadi merasa bersalah padanya.
“Bukan begitu, ini sangat baru bagiku, masuk keduniamu yang selama ini tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Rasa panik, syok, terkejut dan panik terus saja menyerangku. Bukan masalah bagiku kau ini siapa dan seperti apa? Aku bahagia, meski di sisi lain aku sangat ketakutan. Bukankah wajar jika aku mengalami panic syndrome seperti ini?”
“Aku tahu, karena itu kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun saat bersamaku.”
“Bukan bersamamu yang aku takutkan, tapi aku takut kehilanganmu ataupun terpisah darimu dan yang paling membuatku takut adalah ruang dimensi lain seperti yang baru saja kita alami. Aku takut suatu hari nanti ruang itulah yang juga akan memisahkan kita, dan aku tidak mau itu terjadi.”
__ADS_1
Refald langsung mendaratkan ciuman mautnya di bibirku yang gemetar karena panik dengan lembut dan agak lama dari biasanya. “Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi.” Refald menyudahi ciuman lembutnya sambil terus menatapku. “Sekalipun itu dimensi lain, aku tetap bisa menemukanmu jika dimensi itu coba-coba menculikmu, dan aku tidak akan membiarkan apapun atau siapapun menyakitimu. Jangan khawatirkan itu lagi, oke!”
Aku mengangguk dan Refald memelukku lagi.
“Kita pergi sekarang? Teman-temanmu saat ini pasti sedang mengkhawatirkanmu. Kau juga sangat ingin bertemu dengan Yua dan yang lainnya, kan?”
Belum sempat aku menjawab ajakan Refald tiba-tiba kerumunan orang yang membopong jenazah dua sejoli yang dibicarakan pemuda tadi melintas disampingku. Aku terkejut dan langsung terhuyung ke belakang, untung saja Refald sigap menangkap tubuhku yang oleng dan menyangganya. Refleks aku menutup mulutku dengan kedua tanganku setelah melihat apa yang baru saja melintas didepanku.
“Mereka ... tidak mungkin.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Ini sungguh tidak mungkin, bukankah mereka itu ....” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.
“Mereka yang tadi kita lihat saat mereka sedang asyik berbuat mesum.” Refald membantu melanjutkan kata-kataku. Spontan aku menoleh ke arah Refald yang juga menatapku.
“Apa yang terjadi dengan mereka?” tanyaku merinding membayangkan apa yang terjadi pada dua sejoli tadi.
“Mereka menuai apa yang sudah mereka tanam, mereka sudah menodai alam dan itulah hukuman yang mereka dapat. Mereka berdua mati mengenaskan dengan kondisi si pria masih menggenjot si wanita. Alat vital mereka menempel satu sama lain. Sepertinya sudah tidak bisa dilepas. Pasti sulit sekali memisahkannya. Rasanya seperti ....”
"Haruskah kau menjelaskan sedetail itu padaku?" aku memotong kata-kata Refald karena sangat risih dengan cara Refald menjelaskan pertanyaanku yang kuajukan padanya.
"Kau bertanya jadi aku jelaskan supaya tidak ada pertanyaan lagi." ekspresi Refald sama sekali terlihat tidak merasa bersalah.
"Tapi tidak harus sedetail itu, kan?" aku geram juga dengan Refald yang tidak bisa memahami situasiku.
Tubuhku langsung lemas dan serasa mati rasa mendengar penjelasan Refald, bahkan mulutku masih menganga tak percaya. Pikiranku sudah tidak bisa lagi merasakan syok ataupun terkejut. Terlalu banyak kejutan yang sudah kudapat beberapa hari ini sehingga untuk terkejut lagi aku sudah tidak bisa, apalagi kejadian ini sepertinya adalah puncak dari keterkejutanku.
"Ayo pergi, aku ingin sekali pulang!" cetusku dan Refald kembali menggendong tubuhku.
****
__ADS_1