Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 69 Pemandangan tak Terduga


__ADS_3

Refald sedang berlari sambil menggendongku. Ia melesat secepat kilat bagaikan hembusan angin tanpa arah. Meski sedang berlari, napasnya tetap saja seperti sedang tidak berlari. Ia bahkan tidak ngos-ngosan. Aku sendiri nyaman-nyaman saja berada dipunggungnya. Guncangannya juga tidak terlalu kentara, malah terasa seperti sedang naik wahana roller coaster.


“Waktu kalian kemah di hutan kemarin, memang banyak yang berusaha mengganggu kalian.” Refald memulai penjelasannya, suaranya terdengar tenang meski sekarang ia dalam kondisi berlari. “Untungnya kalian sudah memasang pagar, jadi mereka tidak bisa melewati pagar itu. Namun, berbeda denganmu yang waktu itu tanpa sadar telah menerobos penghalang yang sudah dibuat sehingga mereka, para makhluk astral yang tidak aku kenal hampir saja membawamu pergi, beruntung aku masih bisa menyelamatkanmu.”


Aku agak terkejut mendengar penjelasan Refald mengenai misteri yang terjadi padaku saat aku masuk ke dalam lubang hitam itu bersama Refald. Begitu mengingat kejadian itu, bulu kudukku langsung merinding dan tanpa sadar aku mengeratkan pelukanku pada Refald.


“Jadi, yang kualami saat itu bukanlah mimpi? Aku benar-benar masuk ke dalam dunia lain?”


“Iya, dan disaat yang tepat, para pasukanku membantu kita ke luar dari lubang hitam yang aku sendiri tidak dapat menjelaskannya padamu.”


“Lalu, banjir itu? Dan tas hitam yang kubawa ini bagaimana?”


“Kalau tas itu aku tidak tahu milik siapa, pasukanku juga tidak tahu. Tapi, kalau bencana itu ....” Refald tidak meneruskan kata-katanya.


“Ada apa dengan bencana itu?” aku berusaha mendesaknya.


“Bencana itu diakibatkan karena amukan makhluk astral atas perilaku salah satu temanmu. Dan juga beberapa orang yang berusaha merusak hutan ini.”


Aku sangat terkejut dengan jawaban Refaldz tapi aku juga tidak mengerti apa maksud kata-katanya. “Jelaskan padaku Sayang, aku sama sekali tidak mengerti arti ucapanmu? Memangnya apa yang dilakukan temanku? Dan temanku yang mana yang kau maksud? Terus beberapa orang yang kau bilang itu ... siapa? Apakah aku mengenal mereka? Dan kerusakan apa yang mereka lakukan sehingga penghuni hutan ini mengamuk?” aku membrondongi Refald dengan banyak pertanyaan tapi, tunanganku ini hanya diam saja dan terus fokus berlari.


“Sebentar lagi kita akan sampai di desa.” Refald tidak menjawab semua pertanyaanku, ia malah mengalihkan pembicaraan. “Teruslah memelukku seperti ini, Honey. Aku sangat menyukainya,” ucap Refald sambil tersenyum.


Aku tersentak karena baru sadar kalau pelukanku pada Refald terlalu erat, dengan malu aku mulai merenggangkan pelukanku tapi Refald malah menarik tanganku sehingga pelukanku kembali erat lagi.


“Sudah kubilang teruslah memelukku seperti ini, kau ini bandel sekali, ya? Kalau sampai kau kendorkan lagi aku tidak segan-segan menciummu.”


“Kau mengancamku?”


“Tidak, itu hukuman!”


Aku mendengus kesal, “Mana ada hukuman seperti itu? Itu namanya mesum.”


“Terserah,” jawab Refald singkat lalu ia kembali melaju pesat menerobos rimbunan semak-semak dan ranting pohon. Sesekali ia melompat tinggi dan mengayun di udara. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan cara Refald berlari, aku bahkan mulai menikmati saat-saat seperti ini.

__ADS_1


Tidak ada gunanya berdebat dengan Refald, karena sudah pasti akan membuang-buang tenaga saja. Jelas-jelas ia tidak mau dikalahkan.


Aku memikirkan kembali apa yang terjadi di hutan saat kami berkemah waktu itu. Kini aku mulai memahami misteri yang terjadi selama ini karena sudah terkuak satu persatu. Saking seriusnya aku memikirkan misteri-misteri yang terjadi, tidak terasa kalau sebentar lagi kami akan sampai disebuah desa, yaitu desa di mana tempat kami datang beberapa hari lalu.


Dalam hati aku merasa senang sekali, karena setelah ini aku dan Refald bisa menjalani hari-hariku seperti biasanya dan kembali kekehidupanku yang normal lagi, tanpa ada misteri atau hal-hal yang terjadi di luar nalar. Namun, aku belum puas karena Refald masih belum menjawab pertanyaanku.


“Kau masih belum menjawab pertanyaanku, Sayang.” Aku sudah mulai tidak sabar lagi menunggu jawaban dari Refald.


“Aku akan jawab tapi, kita tunda dulu pergi kedesanya, akan aku tunjukkan apa yang aku maksud dengan penjelasanku tadi. Dengan begitu, kau akan tahu sendiri semua jawaban yang kau minta.”


Tanpa menunggu aku bilang ‘iya’ atau ‘tidak’ Refald berbelok arah menuju ke arah lain, berlawanan arah dengan desa yang sebelumnnya kami tuju. Refald langsung mengubah haluannya dan melesat pergi sekencang mungkin ke sebuah tempat wisata air terjun yang sangat eksotis di daerah ini.


"Lah kita mau kemana lagi ... hhuaaa ... itu desa udah dekat ... kenapa malah masuk ke hutan lagi?" aku merengek dalam gendongan Refald.


"Diamlah Honey, atau aku akan menciumku sekarang juga!" ancam Refald. Dengan wajah cemberut akut, akupun menurutinya.


Perlahan aku mengamati sekeliling area karena Refald melambatkan lajunya. Sedikit demi sedikit aku bisa mengingat tempat ini dan aku tahu lokasi ini. Aku dan teman-teman pencinta alamku sering datang kemari saat latihan susur sungai. Tempat ini adalah tempat wisata air terjun yang terkenal di desa ini. Lokasinya memang berada di sebuah perbukitan yang dikelilingi oleh hutan lebat dan jauh dari desa.


“Aku mengenal tempat ini.” ucapku lirih. “Kenapa kau membawaku kemari?”


“Apa? kenapa kau mengajakku ke sana? Memangnya kita tidak bisa melihat air terjun ini dari bawah? Bukankah sangat bagus sekali pemandangannya?”


“Siapa yang mengajakmu melihat air terjun?”


“Lah, terus? Untuk apa kita datang ke tempat ini kalau bukan untuk melihat air terjun?”


“Sudah, ikuti saja jika kau memang ingin tahu jawaban semua dari pertanyaanmu yang kau ajukan padaku tadi. Jika kau masih saja protes aku akan menciummu seharian!”sepertinya, kata ciuman akan menjadi senjata Refald untuk mengancamku jika aku tidak menuruti kemauannya.


Aku langsung diam seribu bahasa dan tidak berani bersuara atau mengucap sepatahpun kata, daripada dicium, mending cari aman.


“Good, that’is my girl. Refald langsung melompat tinggi ke arah sebuah pohon paling besar dan rimbun diantara pepohonan yang lain. Hanya dalam hitungan detik kami sampai di dahan pohon. Refald menurunkanku dengan hati-hati supaya aku tidak tarjatuh. Ia mengamati sekeliling area yang ada di bawah.


Aku sendiri ketakutan karena mendadak berada di ketinggian. Butuh waktu lama untuk bisa memercayai aku berada di atas pohon dengan tangan kosong tanpa pengaman apapun. Aku bahkan bisa melihat daratan yang ada di bawah kaki gunung meskipun pandanganku terhalang oleh rimbunan dedaunan yang tumbuh lebat mengelilingi pohon-pohon ini. Namun, disisi lain ada rasa kagum dan takjub dengan keajaiban yang aku dapat saat ini, karena sekali lagi aku merasa seperti berada di dunia fantasi yang di ciptakan oleh Stephenie Mayer saat ia membuat tokoh Edward dan Bella berada di atas pohon berduaan saja, ketika difilmkanpun para tokoh yang memerankannya juga terlihat sweet and romantic.

__ADS_1


Sungguh aku bahagia meski sebenarnya aku sangat ketakutan. Namun, ini bukanlah mimpi atau dunia fantasi. Ini benar-benar nyata. Bahkan aku masih bisa merasakan nyeri dikakiku yang sempat terkilir.


“Lihatlah ke bawah, Honey,” ucap Refald yang langsung membuatku dongkol karena ia telah merusak suasana romantis yang ada dalam bayanganku.


“Apa?” aku agak sensi dengannya.


Refald menundukkan kepalaku ke bawah dan betapa terkejutnya aku setelah tahu apa yang aku lihat di bawah sana. Hampir saja aku berteriak tetapi Refald langsung membekap mulutku.


Mereka ... mereka berdua ... bergumul di tengah semak-semak? Dasar tidak tahu malu! Apa mereka tidak punya tempat lain untuk memuaskan nafsu bejaat mereka? Kenapa harus hutan yang suci ini yang mereka nodai dengan perbuatan tercela? Apa mereka tidak punya uang untuk pergi ke hotel?


Aku sangat terkejut melihat apa yang dua sejoli itu lakukan di tempat seindah ini.


“Apa mereka sudah gila, ha? Bisa-bisanya mereka melakukan hal tak senonoh itu di sini?” aku sangat emosi dan berusaha melepaskan bekapan tangan Refald, dan juga tidak ingin melihat pemandangan yang memalukan itu.


“Sssssttttt ... jangan berisik! Kau hanya akan mengganggu kesenangan mereka,” ucap Refald sambil tersenyum setelah ia melepaskan bekapan tangannya dari mulutku.


“Kenapa kau melarangku bersuara?” aku hampir saja berteriak tapi jari telunjuk Refald mengunci mulutku.


“Karena kita datang ke sini bukan untuk mencampuri urusan mereka. Dari sini kau bisa menemukan sebagian jawaban yang kau butuhkan. Lagi pula mereka hanya kelepasan saat bermesraan, jadinya ya ... begitu.” Refald masih fokus melihat ke bawah.


“Meskipun mereka kelepasan memadu kasih tak semestinya mereka melakukannya di sini juga, kan? Apa tidak ada tempat yang lain? Dan kenapa kau juga malah melihat mereka? Kau senang karena ini adalah tontonan gratis?” aku agak sedikit kesal pada Refald yang lebih memilih melihat dua sejoli mesum itu ketimbang melihatku saat berbicara padanya, dan yang lebih parah lagi, tatapannya malah semakin fokus ke bawah.


“Dasar mesum!” gerutuku dengan kesal.


“Kau salah paham padaku, Honey. Aku tidak sedang melihat mereka, dan aku tidak mesum.”


“Bohong, ucapan dan perbuatanmu berbeda.” Aku masih memalingkan wajahku supaya tidak mengikuti mata Refald yang masih saja melihat ke bawah.


“Sungguh, aku tidak bohong, Honey. Aku melihat ada banyak sekali dedemit yang sedang mengelilingi mereka berdua. Sayangnya mereka tidak menyadari itu.”


“Apa?” aku terkejut mendengar kata ‘dedemit’ lagi.


Aku terdiam, ingin rasanya aku ikut melihatnya, tapi aku tidak akan bisa melihat seperti apa yang dilihat Refald, sebab ia bisa melihat makhluk tak kasat mata sedangkan aku tidak.

__ADS_1


Aku bisa gila jika aku terus berada di dalam hutan ini.


****


__ADS_2