
Setelah memakan makanan yang dibawakan Laura untuknya, Shena jadi merasa lebih baik dari sebelumnya. Ia bersyukur ditempat seperti ini masih ada orang yang mau berteman dengannya. Tadinya, Shena kira akan sulit mendapatkan teman yang baik seperti Laura dilihat dari latar belakang Shena yang tidak sepadan dengan semua penghuni kampusnya saat ini.
Shena kehilangan orang tuanya sejak kecil dan tinggal bersama dengan paman, bibi serta saudari sepupunya yang selalu memperlakukannya dengan tidak baik. Untunglah ia memiliki seorang guru yang mau menjaga, membimbing dan membantunya sampai akhirnya Shena berhasil meraih beasiswa dan bisa kuliah di universitas favoritnya.
Dari sinilah kisah Shena dimulai bersama dengan Leo yang nantinya, mereka berdua akan menjadi pasangan fenomenal dengan julukan pasangan ‘nggak ada akhlak’. Sayangnya, untuk saat ini Refald menghapus sebagian ingatan Shena agar gadis itu melupakan Refald dan Fey serta kejadian yang Shena alami selama berada di dunia lain. Semua itu juga demi kebaikan Shena sendiri.
“Apa kau sudah baikan?” tanya Laura.
“Ehm, jauh lebih baik dari sebelumnya. Terimakasih banyak sudah mau menemani dan merawatku di sini. Senang rasanya punya sahabat sepertimu.” Shena tersenyum manis pada Laura.
“Aku juga senang bisa berteman denganmu. Kau begitu sederhana dan apa adanya, baru pertama kali ini aku punya teman seunik dirimu. Semua teman-temanku hanya mau berteman denganku karena ayahku kaya. Dan aku tidak suka dengan orang-orang munafik seperti mereka.”
Shena tidak bisa berkata banyak tentang apa yang baru saja dikatakan Laura, karena setiap orang punya sifat dan karakter yang berbeda-beda. Yang namanya sahabat itu harus saling mengerti dan mendukung satu sama lain.
“Selama ini, aku tidak punya banyak teman.” Shena mulai bercerita singkat tentang teman yang ia punya. “Dikampung, hanya ada beberapa orang saja yang mau berteman denganku. Bagiku, itu tidak masalah karena semua teman-temanku tulus padaku. Mereka selalu mensuport dan menyemangatiku. Mereka juga terus mendukungku supaya bangkit lagi jika aku jatuh.
"Aku tidak butuh banyak teman, sedikit tidak apa-apa, yang penting kami bisa saling memahami dan menghormati satu sama lain. Itu sudah lebih dari cukup untukku. Aku tidak akan berada di sini tanpa dukungan dari teman-temanku yang ada dikampung. Mereka semua menyayangiku begitu juga aku. Dan aku sangat berterimakasih padamu, Ra. Karena di tempat ini, kau satu-satunya orang yang mau berteman dengan orang sepertiku.”
“Kau ini bicara apa? Kau sangat baik, pasti akan ada banyak teman yang mau berteman dengan kita. Sekarang berhenti ngelantur kemana-mana, topik ini membuatku jadi ingin nangis saja, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?”
“Ke mana?” tanya Shena.
“Keliling desa ini. Udara di sini sangat sejuk dan ini adalah salah satu desa yang tidak terkena bencana.”
“Bencana?” tanya Shena. Ia mengerutkan dahinya. “Apa terjadi bencana? Kapan?”
“Kau tidak tahu?” Laura terkejut karena Shena tidak tahu kalau tempat mereka ospek baru saja dilanda bencana yang dahsyat.
“Aku tidak tahu,” ujar Shena bingung. “Pantas ada yang aneh saat aku sadar tadi, aku kira kita sedang ada di rumah sakit, tapi aku merasa heran saja, saat melihat ada banyak sekali teman-teman kita yang wara wiri di sini. Ternyata ini alasannya. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi, Ra?” Shena menatap wajah sedih Laura.
Laura semakin yakin, bahwa Shena kehilangan ingatan sementara. Bisa jadi Shena terlalu depresi melihat bencana datang selama ia menghilang waktu itu, lalu Leo datang menyelamatkannya, tapi begitu sadar Shena kehilangan ingatannya yang mengerikan tentang bencana yang terjadi ditempat ini. Itulah asumsi sementara Laura setelah melihat reaksi Shena. Tidak mungkin Shena tidak tahu apa-apa soal bencana yang melanda kawasan ini.
Namun, itu juga belum pasti karena ia belum mendengar penjelasan langsung dari Leo. Laura sangat ingin tahu bagaimana Leo bisa menemukan Shena dan apa yang terjadi pada mereka berdua dimalam mereka menghilang. Sebab, hilangnya mereka bertepatan dengan datangnya bencana.
Kalau ditelusuri lagi, banyak hal aneh dan janggal yang terjadi pada Leo dan Shena. Begitu bencana itu selesai melanda dan meluluhlantakkan perkampungan setan, keduanya datang dalam keadaan selamat tanpa mengalami luka sedikitpun, bahkan Leo yang menggendong Shena saat sahabatnya pingsan itu terlihat segar bugar.
Secara logika, itu tidak mungkin terjadi pada manusia biasa seperti Leo dan Shena. Kecuali kalau keduanya berada diluar kota. Sedangkan bencana yang melanda sudah menghancurkan banyak akses jalan yang tidak mungkin orang luar bisa masuk ke dalam desa dengan mudah ataupun sebaliknya.
Lalu, ada dimana Shena dan Leo saat itu? Bagaimana mereka bisa selamat dari bencana sedahsyat itu? Hal inilah yang membuat Laura semakin penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
“Aku akan menceritakan apa yang terjadi saat kau menghilang dan ditemukan pingsan oleh Leo, tapi tidak di sini, kita bicara sambil jalan-jalan. Siapa tahu kau bisa fresh lagi. Pemandangan di tempat ini indah sekali.”
Laura mengajak Shena jalan-jalan keluar menikmati pemandangan indah yang ada di desa sambil menceritakan apa yang terjadi selama Shena tidak ada di lokasi ospek di malam terjadinya bencana. Lokasi desa ini sebenarnya adalah tempat dimana nenek Fey tinggal. Artinya, Refald dan Fey juga sering datang kemari. Namun, saat ini mereka berdua ada di rumah Fey sendiri, jadi untuk sementara Leo dan Shena tidak akan bertemu dengan mereka.
__ADS_1
Desa ini termasuk salah satu desa yang tidak terkena dampak bencana. Karena itulah semua mahasiswa direlokasikan kemari sampai benar-benar aman.
Tanpa sengaja, Shena dan Laura melihat Leo dan beberapa wanita berjalan beriringan bersama dengannya sambil bercanda ria dari arah yang berbeda. Mata keduanya saling menatap satu sama lain, tapi Leo tak banyak bicara dengan Shena begitu juga sebaliknya.
Sebenarnya, ada sesuatu yang mengganjal dihati Shena, tapi ia tidak tahu apa itu. Tiba-tiba saja perasaannya campur aduk tak karuan saat bertemu dengan Leo, ingin sekali gadis itu berbicara dengan Leo, tapi ia tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Alhasil, Shena hanya diam saja saat Leo berjalan melewatinya.
Namun tidak demikian dengan Laura. Meski Roy sudah memperingatkannya agar tidak mendekati Leo, tetap saja Laura ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Leo dan Shena malam itu. Laura sudah tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya.
“Oey, Leo!” panggil Laura dengan penuh percaya diri. Para wanita yang mengelilingi Leo pun ikut berhenti dan menatap sinis Laura. “Jelaskan pada kami apa yang terjadi malam itu? Bagaimana kau bisa menemukan Shena? Shena tidak bisa mengingat apapun dimalam kau menyelamatkannya. Katakan padaku! Apa kau menemukannya dalam keadaan pingsan? Kau tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, bukan?” tanya Laura dengan lantang. Semua wanita yang ada disekeliling mereka menatap Leo dan Shena secara bergantian.
“Ra? Kamu bicara apa? Ayo kita pergi dari sini! Jangan berurusan dengan dia!” Shena mengajak Laura pergi, tapi sahabatnya itu tidak bergeming dari tempatnya. Gadis itu malah menunggu jawaban dari Leo atas semua teka teki yang diberikan Roy padanya.
“Nggak, Shena! Hari ini kita harus dengar apa yang dilakukan cecunguk ini sama kamu!” seru Laura. Wajahnya penuh dengan emosi.
Enak saja Leo ketawa ketiwi dengan wanita lain dan tidak berbicara pada sahabatnya Shena setelah apa yang mereka alami berdua. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Leo darinya. Batin Laura.
Perlahan, Leo berjalan sambil tersenyum mendekat ke arah Shena, bukannya Laura yang mengajukan pertanyaan padanya. Cowok itu menatap Shena lekat-lekat sehingga Shena agak sedikit takut juga melihat Leo memandangnya seperti itu.
“Apa yang dimaksud sahabatmu dengan kata ‘memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan?” tanya Leo pada Shena sambil menatap bagian bawah tubuh Shena dengan genitnya. “Kau merasakan sesuatu?” tanya Leo lagi karena Shena tidak mau menjawab.
“Sesuatu apa?” Shena bingung dan tidak mengerti dengan pertanyaan Leo. Laura pun juga pernah menanyakan hal yang sama seperti yang Leo tanyakan barusan.
Leo maju selangkah lagi dan mulai berbisik ditelinga Shena dengan pelan. “Kalau apa yang dituduhkan temanmu padaku itu benar, harusnya kau merasakan sakit dibagian itu, kau tahu maksudku, kan? Apa perlu aku sebutkan nama organnya? Jelaskan pada sahabatmu, kau merasakan sakit di bagian itu atau tidak, supaya ia tidak menuduhku sembarangan lagi. Dituduh itu sakit, tahu!” Leo menegakkan kembali tubuhnya dan menatap wajah Shena yang menegang. Mukanya menjadi merah padam karena menahan amarah yang begitu besar. “Kenapa kau diam saja? Jelaskan padanya!” Leo menunjuk Laura dengan dagunya.
Tiba-tiba saja sebuah tamparan keras mendarat mulus dipipi kiri Leo. Cowok itu berpaling menahan sakit dari tamparan wanita yang ia cintai.
Tamparan dadakan Shena di wajah Leo sukses membuat kaget semua orang yang ada disekitar mereka. Salah satu wanita yang tadi berjalan dengan Leopun maju dengan penuh emosi dan hendak menggampar balik wajah Shena, tetapi belum sempat tangan itu mendarat di wajah Shena, Leo langsung menahannya.
“Apa yang kau lakukan?” geram Leo pada wanita yang hendak menggampar Shena.
“Dia menamparmu! Akan aku balas wanita ini karena sudah berani melukai wajah tampanmu! Auww ... sakit, lepaskan tanganku! Kenapa kau malah menyakitiku?” erang wanita itu akibat tangannya dicengkeram kuat oleh Leo.
“Siapa suruh kau ikut campur urusanku! Tidak ada yang boleh menyakiti Shenaku. Kalau kau berani menyakitinya, aku akan membunuhmu. Ingat itu baik-baik, pergi kau dari hadapanku! Sebelum aku berubah pikiran!” bentak Leo sambil menghempaskan tangan wanita itu hingga tubuhnya terdorong ke belakang.
“Kenapa kau malah membelanya? Dia sudah berani menamparmu?” teriak wanita itu tidak terima diperlakukan kasar oleh Leo. Padahal, ia sudah berniat membantu.
“Bukan urusanmu!” tandas Leo dengan mata merah menyala. “Pergi kau dari sini!”
Mata elang Leo begitu menakutkan sehingga wanita itu dan teman-temannya langsung lari meninggalkan Leo dan juga yang lainnya. Roy yang melihat kejadian itu langsung mendekat ke arah Shena dan Leo.
“Ada apa ini?” tanya Roy, tapi Leo menghalau Roy supaya tidak ikut campur urusannya dengan Shena. Roy hanya menatap tajam Laura yang berdiri dengan cemas atas kekacauan yang sudah ia buat.
“Kau pikir kau itu siapa, ha?” cetus Shena masih marah dengan kata-kata Leo yang menurutnya sudah melewati batas. “Pantaskah kau bicara seperti itu pada wanita? Kau pikir aku cewek apaan? Kau cowok paling kurang ajar yang pernah aku temui selama hidupku! Dasar brengseek!” Shena menggamit lengan Laura dan pergi meninggalkan Leo dan Roy dengan kesal.
__ADS_1
“Memangnya apa yang kau katakan pada Shena sampai ia marah seperti itu?” tanya Roy sambil mengamati kepergian dua wanita itu.
“Aku hanya bertanya, itunya sakit apa tidak? Kalau tidak, ya jelasin ke temennya supaya aku tidak dituduh yang bukan-bukan sama si Laura,” jawab Leo memasang wajah sok polos.
“Itunya, apa?” Roy memicingkan mata tanda tidak mengerti.
“Bulan, tempat wadah kecebongku!” jawab Leo.
“Apa?” geram Roy.
“Adauw!” teriak Leo dengan kencang. “Kenapa kau menjitakku, ha? Kau mau mati?”
“Kau pantas digampar? Shena bukan tipe wanita yang pantas kau ajak bicara mesum seperti itu? Hadeuh, bagaimana aku bisa punya teman seb0odoh dirimu. Berada diluar negeri terlalu lama membuatmu menjadi orang yang tidak bermoral, Dasar! Masih untung kau cuma ditampar! Kalau aku jadi Shena sudah kupatahkan tulang-tulangmu itu! Dasar, bengek!” Roy pun ikut kesal dengan Leo. “Bagaimana si b0odoh itu bisa berkata begitu pada wanita yang ia cintai?” gumam Roy sambil pergi meninggalkan Leo.
“Memangnya salah, kalau aku bilang begitu? Kan aku tidak langsung sebut merek!” teriak Leo pada Roy yang hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Jangan banyak bicara! Cepat susul Shena dan minta maaflah padanya!” teriak Roy dari kejauhan.
“Kenapa aku harus minta maaf padanya?”
“Karena kau salah? Kalau kau tidak mau disebut ‘banci’! Cepat minta maaf, sana? Kau ini benar-benar bikin malu saja! Kalau sampai kak Refald tahu, kau pasti bakal dicincang habis-habisan olehnya!”
“Dia pasti sudah tahu, wilayah ini adalah areanya. Tidak ada yang tidak diketahuinya!”
“Kalau begitu cepat lakukan apa yang aku bilang tadi, sebelum kak Refald datang kemari dan membunuhmu! Sebagai adiknya kau sudah mencoreng nama baiknya!” ujar Roy sambil berlari pergi. Leo berdecak kesal, ia menendang-nendang angin dengan kakinya. Pada akhirnya, ia pun mengikuti saran dari sahabatnya.
Laura yang sedikit mengerti kenapa Shena marah seperti itu jadi merasa bersalah sendiri. Harusnya ia mendengarkan Roy, tidak seharusnya ia membangkitkan singa Leopard yang sedang tidur. Kemarahan Leo membuat Shena jadi kena imbasnya.
“Maafkan aku, Shena. Aku nggak bermaksud ....”
“Dasar, berengsek dia!” Shena memotong kata-kata Laura dan bergumam sendiri meluapkan amarahnya. “Berani-beraninya dia berkata seperti itu pada wanita? Dimana moral cowok itu? Bikin emosi saja? Huh, bagaimana bisa orang seperti itu digandrungi banyak wanita? Memang apanya yang dibanggakan darinya? Menyebalkan sekali!” gerutu Shena dengan kesal dan penuh amarah. Tanpa sadar, ia melepaskan genggaman tangannya pada Laura.
Tiba-tiba saja dari belakang ada yang membekap mulut Laura dan menyeretnya ke suatu tempat menjauh dari Shena. Shena sendiri tidak tahu, kalau sahabatnya sudah raib duluan dibawa seseorang, gadis itu malah terus nyelonong pergi begitu saja.
****
Mulai seru lagi ...
__ADS_1