
Tentu saja Refald tidak mengerti arti kata sandi itu, karena kata itu menggunakan bahasa jawa. Apalagi, Refald ini kan tinggalnya di luar negeri dan baru kali ini ia datang kemari meski aku akui, ia mahir juga berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Namun, aku sangsi ia mengerti bahasa khas suku Jawa seperti kata sandi yang baru saja diucapkan salah satu seniorku.
Aku terlalu khawatir berlebihan. Aku lupa kalau Refald adalah bule yang hanya bisa berbahasa Indonesia. Ia tidak akan mengerti bahasa jawa, yaitu bahasa yang menjadi bahasa campuran kami di sini.
“Dia bule, mana mungkin dia tahu arti kata sandi dalam bahasa jawa seperti itu.” aku menjelaskan sambil tersenyum senang.
Yoshi terkejut. “Oh iya? Dia bule darimana?”
Aku bingung harus menjawab apa, sebab sampai hari ini aku masih belum tahu asal muasal Refald yang sebenarnya. Aku lupa menanyakan ke mana Refald dan keluarganya pergi waktu itu setelah mereka dideportasi dari Jepang.
Melihatku yang kebingungan karena tidak langsung bisa menjawab pertanyaannya, Yoshi langsung marah padaku. “Jangan bilang kalau kau sendiri tidak tahu dari mana suamimu itu berasal, yang benar saja? Istri macam apa kau ini? Tidak tahu apapun tentang suamimu?”
“Bukan begitu ....” aku membela diri. “Aku sendiri ... sebenarnya ... ah sudahlah, ceritanya sangat panjang dan aku tidak ingin menceritakannya pada kalian. Lagi pula berhenti menyebutku istrinya! Kami berdua belum sah! Sangat aneh bagiku kalian selalu menyebutku dengan panggilan seperti itu,” tukasku agak sedikit kesal dengan mereka.
“Kau ingin kami mengesahkan kalian di sini? Aku bisa menjadi penghulu kalian dan semua orang yang ada di sini jadi saksinya. Alex yang akan jadi walimu!”ujar Yoshi yang sepertinya keranjingan menggoda hubunganku dengan Refald.
“Kenapa aku?” Alex mulai protes karena namanya ikutan disebut-sebut.
“Karena kau suhunya di sini Aceng ...!”
“Nggak! Aku nggak mau ikutan urusan kenegaraan kalian. Cari yang lain aja sana! Enak aja bawa-bawa namaku!”
“Kalian semua bener-benar nggak waras, ya?”aku menyela perdebatan mereka.
“Lagian kamu itu aneh, Fey? Latar belakang calon suamimu sendiri aja nggak tahu, kalian ini pasangan macam apa sih?”
“Macam kucing dengan singa!” sahut Joni disambut dengan tawa yang lainnya.
Semua orang memandangiku dengan tatapan heran. Mungkin mereka berpikir kalau aku tidak pantas menjadi tunangan Refald karena aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Bagaimana aku bisa tahu apapun tentang Refald? mengetahui ternyata dia adalah tunanganku saja baru kemarin. Kenapa mereka menatapku seperti itu? menyebalkan sekali.
Aku heran, biasanya Refald akan membelaku kalau aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi, tapi kali ini ia hanya diam seolah sedang memikirkan sesuatu. Aku bahkan ragu ia sedang mendengar pembicaraan kami. Refald mengacuhkan kami.
Apa yang Refald pikirkan sekarang? Ia seakan acuh saja pada kami semua semenjak Yoshi memberitahunya kata sandi itu.
“Siapa yang membuat kata sandi itu?” tanya Refald tiba-tiba. Ia terlihat sedang menahan amarah karena kedua tangannya mengepal kuat.
“Entahlah, kami lupa. Itu sudah lama sekali. Memangnya kenapa? Ada masalah, kah?”
Refald menunduk menyembunyikan ekspresi wajahnya. Aku tidak tahu kenapa Refald menanyakan hal itu.
Kenapa dengan Refald? Apa ia mengerti arti kata sandi itu?
“Tidak ada apa-apa. Aku permisi dulu.” Refald bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
“Ada apa dengan suamimu? Sepertinya dia sedang marah.”
“Dia mungkin marah karena kau bercanda berlebihan, Kak!” jawabku menyalahkannya.
“Berlebihan bagaimana? Biasanya dia sangat antusias jika kami berniat menikahkan kalian di sini!”
“Mungkin dia bingung dengan arti kata sandi itu,” komentar Joni.
"Bisa jadi! Kau tidak ingin menyusulnya?” tanya Yoshi padaku.
Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi aku sendiri juga penasaran apa yang terjadi dengan Refald, rahasia apa yang ia sembunyikan dariku dan apa alasan ia bersikap seperti itu.
Aku harus mencari tahu.
__ADS_1
Aku bangkit dari tempat dudukku dan berlari menyusul Refald yang tampak pergi menuju sungai. Matahari sudah terbenam, kenapa Refald pergi ke sungai lagi? Apa yang ia lakukan di sana?
“Refald?” teriakku. Aku mencari keberadaan cowok itu ke sana kemari, tapi tidak menemukannya di mana-mana.“Kemana cowok itu? cepat sekali dia menghilang, barusan dia ada di sini?” gumamku sambil terus berjalan dan memandang sekeliling.
Aku terus melangkah mencari keberadaan Refald sampai akhirnya aku melihat dan mendengar ada seseorang yang sedang berbicara. Aku mencoba mendekati orang itu tapi tiba-tiba saja ada yang membekap mulutku dari belakang menggunakan tangan. Aku berusaha berteriak dan memberontak, namun tenaga orang ini terlalu kuat. Aku tidak bisa melawannya.
Orang itu terus menyeretku ke belakang untuk menjauhi orang yang kulihat sedang berbicara itu. Kepalaku susah sekali digerakkan karena cengkeramannya terlalu kuat sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Padahal aku ingin tahu siapa orang yang membekapku ini.
Siapa orang ini? Kenapa ia membawaku jauh dari orang yang baru kulihat tadi?
Aku terus melawan dan melawan, tetapi tetap saja aku masih kalah kuat dengan tenaganya, sampai aku menyadari sesuatu.
Lengan kanannya terbalut dengan perban. Itu artinya pemilik tangan ini ... tangan Refald?
Aku berhenti memberontak dan bersikap tenang. Tangan yang membekap mulutkupun juga perlahan dilepaskan. Aku berbalik arah untuk memastikan bahwa dugaanku benar. Orang yang membekapku barusan memanglah Refald.
“Apa yang sedang kau lakukan?” bentakku.
Refald langsung membekap mulutku lagi dengan tangannya. “Sssssttttttt ... diamlah!” perintahnya.
“Kenapa?” aku berusaha melepaskan tangannya dari mulutku dengan paksa.
“Kau akan merusak acara mereka.”
“Mereka? Mereka siapa?” aku penasaran siapa yang dimaksud Refald.
Refald menggait tanganku dan menuntunku berjalan ke sebuah tempat sambil membungkuk. Ia mengintip di balik jajaran bebatuan. Aku pun mengikuti gerakannya dan ikut menunduk bersamanya.
“Lihat mereka dan dengarkan saja apa yang mereka bicarakan.”
“Kau mengajakku menguping pembicaraan orang lain? Aku baru tahu kalau kau ternyata orang yang seperti itu,”protesku.
“Suka menguping pembicaraan orang lain! Kau penguntit!”
“Diam dan lihat saja! Jangan banyak protes kalau masih ingin hidup! Aku bisa memakanmu di sini.”
Aku mendengus kesal. Bisa-bisanya Refald berkata seperti itu padaku. Sebenarnya aku tidak menyangka kalau orang sekeren Refald ternyata suka menguping pembicaraan orang lain.
Aku mengikuti ke mana arah mata Refald memandang. Betapa terkejutnya aku setelah tahu siapa orang yang Refald maksud. Akhirnya aku mengerti alasan kenapa Refald bersikukuh supaya aku mengikutinya untuk menguping pembicaraan orang.
“Bukankah mereka adalah Yua dan Epank? Apa yang mereka lakukan di tempat yang sepi seperti ini?”
“Menurutmu apa?”
“Aku tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan di sini.”
Ternyata orang yang kulihat tadi adalah Epank. Ia berdiri dihadapan Yua sehingga menghalangi pandanganku. Aku tidak tahu kalau Yua tadi ada di depan orang yang tadi aku lihat, dan orang itu ternyata adalah Epank.
Apa yang sedang mereka bicarakan di tempat ini? aku mencoba mencuri dengar pembicaraan keduanya. Biasanya aku tidak suka ikut campur urusan orang lain, Tao gara-gara Refald, aku sekarang terpaksa menjuluki diriku sendiri sebagai penguntit.
“Kau harus tetap di sini. Jangan coba-coba kau berlari ke sana dan ikut campur urusan mereka!” Refald mencoba mengingatkanku seolah tahu apa yang sedang kupikirkan.
Aku mengacuhkan omelan Refald dan fokus pada apa yang sedang Yua dan Epank bicarakan.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu, Epank?”tanya Yua.
“Jangan pura-pura lagi. Aku tahu semua perasaanmu padaku,”jawab Epank
__ADS_1
“Jika kau sudah tahu, kenapa kau masih menanyakannya padaku?”
“Aku hanya ingin memastikan dan mendengarnya langsung darimu. Jika semua itu benar, maka ....”
“Kau akan meninggalkan Via? Begitu? Lalu menjalin hubungan denganku? Apa kau sudah gila? Kau pikir Via akan menerima keputusanmu begitu saja? Apa kau tidak berpikir apa yang akan terjadi padaku jika kau meninggalkan Via seperti itu?”Yua terlihat mulai emosi.
“Tapi ... aku bisa melindungimu seperti Refald yang melindungi Fey!“
Hei hei ... kenapa Epank membawa-bawa namaku dan Refald? batinku.
Aku beralih menatap Refald yang terlihat serius menguping pembicaraan Epank dan Yua.
“Aku tidak ingin di cap perebut pacar orang, Epank! Kau berbeda dengan Refald. Kau tidak akan bisa melindungiku. Maafkan aku, aku harap kau bisa menjaga hati Via.” Yua pergi meninggalkan Epank yang berdiri terpaku karena cintanya ditolak mentah-mentah oleh Yua.
“Apa yang Yua lakukan?” gerutuku dengan nada kesal. Aku gemas sendiri dengan sikap Yua. “Bisa-bisanya dia meninggalkan Epank seperti itu.”
Refald hanya melihatku sambil tersenyum. “Tidakkah kau merasa dia mirip dengan seseorang?”
“Apa maksudmu?”
“Dia mirip sekali denganmu? Apa kau lupa? Saat di vila waku itu? Aku memintamu untuk jatuh cinta padaku tapi kau malah pergi meninggalkanku.”
Aku serasa tertampar mendengar ucapan Refald. Bagaimana mungkin dia masih mengingat kejadian waktu itu.
“Apa benar begitu?” tanyaku pura-pura tidak ngeh.
“Yua mirip denganmu, sebab itulah kalian berdua bisa bersahabat. Dia terlalu baik hati.”
Aku setuju dengan Refald. Yua memang orang yang baik, bahkan ia jauh lebih baik dariku. Aku jadi teringat tujuan awalku datang kemari.
“Kenapa kau tiba-tiba saja pergi tadi? Apa yang terjadi?”tanyaku mulai mengubah topik.
Senyum dibibir Refald langsung menghilang begitu mendengar pertanyaanku. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju sebuah pohon beringin besar yang berdiri kokoh di depan kami lalu ia berhenti dibawahnya. Aku baru menyadari kalau ada pohon sebesar itu di sini. Refald menengadahkan wajahnya sambil menatap pohon beringin yang menari-menari karena tertiup hembusan angin malam.
“Kata sandi itu, telah membangunkannya,” ucap Refald pelan.
Aku tidak mengerti apa yang Refald maksud. “Membangunkan? Siapa? Apa maksudmu?”
Refald tidak menjawab pertanyaanku, tapi malah mengajukan pertanyaan lain padaku. “Apa setelah kau mengucapkan kata sandi itu kau merasakan ada sesuatu yang terjadi setelah itu?”
“Aku tidak mengatakan kata sandi itu. Aku salah mengucapkannya karena waktu itu aku ketakutan. Aku melihat dua sosok hitam berdiri membelakangiku. Aku kira mereka berdua adalah seniorku, jadi untuk mengetahuinya, aku mengucapkan kata sandi yang tanpa sadar aku telah salah mengucapkannya. Aku tidak pernah merasakan apa-apa setelah kejadian itu. kehidupanku berjalan dengan normal sampai akhirnya kau datang. Hanya saja ....”
“Hanya saja apa?”
“Sejak datang ke hutan ini, ada saja kejadian demi kejadian aneh yang tidak bisa kumengerti dengan akal sehatku. Bahkan juga menghantui teman-temanku. Saat datang kemari, Nura dan Mia melihat sosok naga. Lalu aku mengalami mimpi seolah kau dan aku tersedot ke lubang hitam yang menyeramkan. Kau sendiri juga sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Ada apa sebenarnya? Katakan padaku? Apa yang kau ketahui? Kau mengerti arti kata sandi itu, kan?”
“Tentu saja aku mengerti, jangan pernah kau mengucapkan kata sandi seperti itu di sini. Ingin sekali aku menjelaskan semuanya padamu. Tapi tidak di tempat ini. Akan sangat berbahaya bagi kita jika aku menceritakan semua yang kuketahui padamu di sini. Kau mengerti?”wajah Refald terlihat sangat serius sekali.
“Akan aku usahakan. Pantas saja waktu itu ....” aku tiba-tiba teringat insiden kegiatan caraka yang aku ikuti tahun lalu.
“Apa?” Refald penasaran.
“Kegiatan caraka tahun lalu, saat aku menjadi junior ... aku hampir saja kehilangan nyawaku.”
“Apa maksudmu? Jelaskan padaku!” Refald menatapku dengan wajah serius.
“Baiklah! Dengarkan aku baik-baik, jangan menyela sebelum aku selesai bercerita.”
__ADS_1
Seperti biasa Refald hanya diam menatapku.
****