Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 37 Mimpi


__ADS_3

Aku merasa seperti berada disebuah pinggiran sungai yang aliran airnya lumayan besar. Orang yang nekat menyeberangi sungai ini pasti akan langsung tenggelam karena terseret arusnya yang deras. Ini bukan sungai yang ada di dekat lokasi perkemahan kami. Meski aku sudah pernah menjelajahi banyak sungai, aku tidak pernah melihat sungai yang arusnya sederas ini.


Ada di mana aku? Kenapa tiba-tiba aku ada di sini? Dan kenapa aku seolah-olah mencari-cari sesuatu yang tidak kumengerti? Ada apa ini?


Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi diriku saat ini seolah sedang gelisah dan cemas mencari sesuatu sambil berlari kencang. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Serasa seperti ada yang mengendalikanku tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Sesekali aku memerhatikan aliran sungai sampai aku terkejut dengan apa yang kulihat tepat di tengah derasnya sungai itu mengalir.


Ada sesuatu yang bergerak di sana. Aku memicingkan mata untuk memastikan apa yang kulihat dan betapa terkejutnya diriku sampai tidak sadar mataku terbelalak dan mulutku langsung menganga. Refleks aku menutup mulutku dengan kedua tanganku tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini.


Refald ada di tengah arus sungai itu. Ia berdiri disebuah rakit kecil dengan kondisi tangan terikat pada balok kayu besar yang ditancapkan pada rakit tersebut. Ia bediri membelakangiku sehingga aku tidak tahu seperti apa ekspresinya. Ia hanya diam tanpa bisa bergerak sedikitpun.


Dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah, aliran air ini mengalir menuju air terjun yang jaraknya kurang lebih lima meter dari tempat Refald berada. Dan tujuh meter lebih dari posisiku berdiri saat ini. Tidak mungkin aku bisa menyelamatkan Refald tepat waktu. Dan dalam hitungan detik, Refald pun berakhir jatuh ke dalam air terjun yang tidak kuketahui seberapa tinggi kedalamannya.


“REFALD!!” teriakku seketika begitu melihat orang yang kucintai jatuh dan menghilang dari hadapanku.


Aku terbangun dengan peluh dimana-mana. Aku melihat sekelilingku, dan mulai bernapas lega setelah tahu aku masih di dalam tenda.


"Ahhhh! Itu hanya mimpi. Lagipula apa yang dilakukan Refald di tengah sungai seperti itu? ” gumamku sambil mengusap keringatku.


Aku berusaha menenangkan diriku agar tidak terlarut dalam mimpi yang menegangkan dan menguras tenaga itu. Bagaimana bisa aku memimpikan Refald seperti itu? Mungkin saja karena aku terlalu lelah dan bisa jadi karena Refald berhasil mengejutkanku lagi dengan kehadirannya semalam, sehingga aku memimpikannya yang bukan-bukan.


Matahari mulai bersinar pertanda hari sudah mulai berganti dengan pagi. Burung-burung berkicau dengan merdu membuatku sadar bahwa aku sudah kembali kedunia nyata. Bukan dunia mimpi lagi.


“Syukurlah! Tadi itu hanya mimpi.”


Aku meliukkan tubuhku supaya otot-ototku merenggang dan bisa memulai aktivitasku dipagi hari. Aku sangat menyukai suasana seperti ini, hening, sejuk dan menyegarkan. Aroma hutan pinus begitu menyengat membuatku menjadi lebih bersemangat. Untuk sesaat, aku berhasil melupakan mimpi itu.


Aku mengambil peralatan mandiku dan bersiap membersihkan muka. Namun, aku begitu terkejut sampai tubuhku terperanjat melihat Refald sudah berdiri di depan tendaku.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku agak sedikit kesal. Moodku langsung hilang melihatnya cengar-cengir tanpa merasa bersalah sedikitpun.


“Menunggumu bangun!” ia menatapku. “Ini pertama kalinya aku melihat tunanganku baru bangun tidur dengan rambut gorila seperti itu!”


“Apa?” aku baru sadar kalau rambutku belum kusisir dan masih awut-awutan.


Aku langsung melengos pergi meninggalkan Refald sambil menahan malu. Aku lupa kalau ini tempat umum di tengah hutan. Tapi ini masih sangat pagi. Bagaimana bisa Refald bangun sepagi ini sedangkan yang lainnya masih terlelap dengan tidurnya. Padahal, mereka semua habis begadang untuk jaga malam.

__ADS_1


“Kau mau ke mana?” teriaknya.


Aku tidak mau menjawab. Aku terus melanjutkan langkahku tanpa menoleh sedikitpun. Aku harus cepat bersiap-siap karena sebentar lagi seluruh teman-teman organisasiku akan datang bersamaan dengan para rombongan junior. Sekilas, aku teringat mimpi itu. “Bagaimana mungkin aku menangisi dan mencemaskan seseorang yang menyebalkan seperti dia. Berani-beraninya dia mengataiku gorila. Tidak ada gorila manapun yang secantik aku. Dasar Refald bodoh!”


“Aku akan menemanimu!” tidak kusangka Refald berhasil menyusulku. Padahal aku berharap ia meninggalkanku sendirian. Karena aku kesal sekali dengannya.


“Kau tidak perlu menemaniku. Pergi sana! Aku tidak ingin melihatmu!”


“Kenapa? Kau malu? Aku sama sekali tidak keberatan seperti apa dirimu ketika bangun tidur. Bagiku kau sama saja, tetap terlihat cantik!”


“Aku tidak butuh komentarmu! Tinggalkan aku!”


“Aku tidak mau. Ini hutan, bukan hotel, bagaimana bisa aku meninggalkan tunanganku sendirian di tengah hutan? Bagaimana kalau ada binatang buas menyerangmu!”


Aku berhenti berjalan dan menatapnya. “Satu-satunya binatang buas di sini adalah kau! Jadi jangan ganggu aku! Kalau kau masih mengikutiku, aku akan berteriak!”


“Teriak saja. Tidak akan ada yang peduli dengan teriakanmu selama kau bersamaku. Semua orang di sini tahu kalau kita sudah bertunangan.” Refald mendekatkan wajahnya padaku. Spontan aku mundur tapi ia meraih pinggangku dengan cepat dan mendekatkanku padanya. Tidak ada sekat apapun untuk kami berdua.


“Lepaskan aku!” aku berusaha memberontak. Tapi pelukan Refald sangat kuat meskipun ia hanya meraihku dengan satu tangan saja. Aku tidak kuat melawannya.


“Aku akan berteriak!” aku mencoba mengancamnya meski aku tahu taktik seperti itu tidak akan mempan pada orang seperti Refald.


“Silahkan!”


Aku mau membuka mulutku dan tepat disaat itu Refald langsung menciumku untuk membungkam mulutku agar tidak lagi bersuara.


Tentu saja aku terkejut hingga jantungku mau meledak. Aku mendorong tubuh Refald sekuat tenagaku supaya ia menjauhiku sebelum aku kehilangan kendali.


“Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila? Ini tempat umum? Bagaimana kalau ada yang melihat kita? Kau cari mati?” aku pergi meninggalkan Refald sambil berlari. Untuk sementara, aku tidak ingin melihatnya. Tanpa terasa air mataku mengalir dan jatuh membasahi pipiku karena kesal.


“Apa-apaan dia itu! Seenaknya saja melakukan hal sebodoh itu. Dia pikir dia itu siapa? Dasar mesum!” gumamku sambil berjalan setelah memastikan Refald sudah tidak lagi mengikutiku.


Tapi, lagi-lagi dugaanku salah. Refald langsung menghadangku tanpa tahu ia muncul darimana. Ia mengagetkanku sampai aku hampir jantungan setengah mati.


“Kenapa kau suka sekali mengagetkanku? Apa ini hobi barumu? Kau senang jika aku mati jantungan?”

__ADS_1


Refald tertawa dan semakin mendekatiku. Kali ini aku lebih waspada, takut kejadian tadi terulang karena aku lengah.


“Aku hanya ingin memberikan ini!” ia menyodorkanku kertas putih berukuran kecil. Tapi aku belum mau menerimanya sebelum tahu apa maksudnya itu.


“Apa itu?”


“Harusnya aku memberikan ini semalam, tapi aku lupa! Ini pesan dari ayahmu. Beliau memberikanku ini setelah aku mengantarnya ke bandara kemarin.”


Aku langsung menyahut kertas itu begitu mendengar kata ayahku disebut. Dan membuka apa isi pesannya. Aku tertegun membacanya.


~ Dear Shiyuri, putri kecilku, maaf ayah harus segera pergi seperti ini. Tapi ayah janji akan kembali lagi bersama dengan Sakura. Dan mengatur ulang pertunangan kalian berdua. Jangan lama-lama membenci Refald, karena ia sangat mencintaimu sejak dulu. Dan ayah rasa, hanya dia yang pantas untukmu. Ayah harap selama kalian bersama, kau bisa melihat ketulusannya. Karena ayah sudah melihatnya. Mungkin saat ini kau sangat marah, tapi ayah harap kau bisa memahami semua situasinya. Sampai ketemu lagi, sayang! Dari ayah tercintamu! ~


Entah apa Refald tahu isi pesan ayahku ini atau tidak, yang jelas ia masih menatapku dengan tatapan penuh cinta yang belum pernah kulihat sebelumnya.


“Bisa tinggalkan aku sendiri? Aku ingin sendirian saat ini, lokasi di sini aman, jadi kau tidak perlu khawatir.”


Refald menggenggam tanganku dan menciumnya. “Aku mengerti. Pergilah! Maaf untuk yang tadi!”


Aku melangkah pergi meninggalkan Refald yang masih mengawasiku. Mendengar pesan ayah membuatku membuka kembali hatiku untuk bisa menerima cinta Refald meski aku sendiri tidak yakin lagi dengan perasaanku. Karena sampai saat ini Refald sendiri belum pernah menyatakannya secara langsung padaku. Tapi aku mulai berpikir kalau tidak ada salahnya juga untuk mencoba kembali membangun hubungan ini. Aku bersedia menerima cintanya jika kata cinta itu keluar dari mulut Refald secara langsung.


Akhirnya aku sampai juga ditepi sungai. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat kami berkemah. Sepertinya para senior sudah mempersiapkan semuanya. Mereka membuat sekat kecil yang bisa digunakan bagi para wanita untuk membersihkan diri tanpa harus takut diintip oleh para cowok yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sekatnya memang tidak terlalu luas, tapi cukup dan sangat aman jika digunakan. Paling tidak, tubuh mereka tidak akan bisa terlihat dari sisi manapun.


Air di sini sangat bening dan dingin menyegarkan. Menyenangkan sekali bermain-main di sungai sambil melihat ikan-ikan yang mulai bermunculan. Membuatku mendapatkan ide untuk mengisi salah satu kegiatan nanti.


Hanya butuh waktu sepuluh menit untukku membersihkan diri. Tiga kali lipat lebih cepat dari waktuku yang biasanya ketika berada di kamar mandi. Aku sengaja mempercepatnya untuk mencegah segala kemungkinan yang ada. Karena tidak baik juga kalau berlama-lama di sungai apalagi aku sendirian dihari yang cerah ini. Aku harus bergegas kembali ke perkemahan karena sebentar lagi teman-temanku akan datang.


Dan benar juga, begitu aku sampai di lokasi, beberapa temanku seperti Nura dan Mia sudah ada di sana. Kami tidak sengaja bertemu di depan pintu masuk lokasi. Seniorku sengaja hanya membuat satu pintu masuk dan keluar satu jalur untuk mempermudah pengawasan mereka.


Lokasi ini juga dipagari dengan beberapa tali rafia yang sudah disematkan dengan berbagai macam doa dan perlindungan supaya kami tidak diganggu oleh makhluk astral tak kasat mata jika kami mengadakan kegiatan di sini. Dengan catatan, kami tidak boleh keluar apalagi merusak pembatas yang sudah dipasang disekeliling lokasi ini kecuali dipintu masuk dan keluar.


Awalnya aku tidak percaya dengan hal hal mistis seperti ini. Karena selama aku hidup, aku tidak pernah mengalami kejadian diluar nalar sampai akhirnya aku melihatnya sendiri. Kejadian itu terjadi tepat ditahun lalu, saat aku menjadi junior organisasi ini dan sedang berkemah juga di dalam hutan. Sejak saat itu, aku mulai percaya bahwa ada kehidupan lain yang tidak bisa kita lihat selain kehidupan nyata yang penuh fana ini.


Bagi orang yang pernah mengalaminya, mungkin akan percaya dengan mudah kalau ada alam lain selain dunia ini. Tapi, tidak sedikit juga orang yang tidak mau percaya dan terlalu meremehkan hal sensitif semacam ini sampai mereka bisa melihatnya sendiri. Karena itu, aku dan teman-temanku sepakat untuk lebih waspada dan mewanti-wanti semua agar mematuhi peraturan yang sudah tertera agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan apalagi sampai mengganggu dan merusak keseimbangan alam sekitar.


****

__ADS_1


__ADS_2