Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 276 Gadis Penjaga Goa


__ADS_3

Harimau itu sudah mendekat dan tahu kalau mangsanya sedang terjepit. Binatang tersebut memerhatikan buaya yang juga sedang mengepung Rey. Suara auman harimau yang seolah menyatakan bahwa sang mangsa hanyalah miliknya tak membuat mundur para buaya yang juga ingin merasakan empuknya daging manusia pertama yang akan mereka makan.


Namun sepertinya, harapan para binatang-binatang buas ini harus kukus ditengah jalan saat sebuah anak panah melesat cepat kearah mereka. Seorang gadis berambut hitam panjang dan bergelombang dengan memakai pakaian kebaya ala khas orang desa, berdiri di atas sebuah tebing dimana pinggir tebing tersebut terdapat goa besar. Gadis cantik berkulit putih itu siap memanah kembali semua binatang yang mengepung Rey karena anak panah pertama yang ia tembakkan tadi sengaja ia pelesetkan agar tidak mengenai tubuh semua binatang itu.


Anak panah tadi hanya menancap kuat di batang pohon tepat dimana harimau itu berdiri mengintai mangsanya. Hal serupa juga terjadi pada para buaya, anak panah tadi hanya mengenai air tepat di samping perut salah satu buaya terbesar di sungai ini. Tujuan gadis cantik itu hanyalah menakut-nakuti semua binatang agar pergi meninggalkan sungai ini dan menjauh dari pria asing tak dikenal yang sejak tadi berdiri terbujur kaku dipinggiran sungai. Siapa lagi kalau bukan Rey.


Mata Rey tak bisa berpaling dari aksi menakjubkan yang baru saja dilakukan seorang gadis desa karena tanpa perlawanan, para binatang buas itu langsung pergi menjauh meninggalkannya seolah mereka semua tahu maksud dari gadis itu menembakkan anak panahnya sebagai bentuk peringatan agar tidak menyakitinya.


“Wuah, daebak. Siapa dia?” gumam Rey. Matanya berbinar-binar menatap betapa cantiknya gadis pemanah itu. “Dia sangat sangat sangat cantik,” gumam Rey lagi. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan sangat kencang dan ini pertama kalinya Rey berdebar-debar melihat seorang wanita. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah merasakan hal aneh seperti ini.


Dengan lincah, gadis itu melompat dari batu-batu kecil yang berada disekitar sungai tanpa mengalami kendala hingga akhirnya ia sampai di seberang sungai dimana Rey berada saat ini. ia melihat sekeliling dan memastikan bahwa binatang buas tadi tidak kembali lagi.


“Kau tidak apa-apa?” tanya gadis pemanah itu pada Rey.


Rey masih belum bisa berkata-kata. Sebenarnya, ia tidak mengerti dengan situasi yang terjadi, bagaimana bisa binatang-binatang buas itu langsung pergi begitu saja. Padahal tembakan gadis pemanah ini meleset dan tidak mengenai tubuh mereka.


Ini memang bukan pertama kalinya Rey melihat hal aneh terjadi diluar nalar manusia. Ia tahu ayah dan ibunya bukanlah orang biasa seperti manusia pada umumnya. Hanya dirinyalah manusia normal di dalam keluarganya. Tapi ... melihat ada orang lain yang serupa dengan kedua orang tua Rey, hal itu cukup membuat Rey tercengang.


“Siapa kau?” tanya Rey penasaran. Bagaimana bisa di dalam hutan yang lebat dan banyak binatang buas ini ada seorang gadis cantik membawa panah berkeliaran di dalam hutan sendirian. Rey jadi merasa, ia saat ini seolah berada di negeri dongeng. Kalau saja ia tidak merasakan sakit karena lukanya, mungkin saja Rey bakal menganggap ini cuma mimpi.


Bukannya menjawab pertanyaan Rey, gadis cantik itu malah pergi meninggalkan Rey. Bukan benar-benar pergi sih, tapi gadis itu sedang berkeliling kesana kemari mencari-cari sesuatu dan setelah memukan apa yang dicari, ia kembali ke tempat Rey berdiri dan memintanya duduk disebuah batu besar.


“Duduklah!” pinta gadis cantik itu. Ia langsung menumbuk daun-daun yang tadi ia pungut dengan batu berukuran segenggam tangannya.


Awalnya Rey tidak mengerti apa yang dilakukan gadis asing itu, tapi kaki dan tangannya terasa sakit sekali sekarang. Biasanya jika ia terluka, ayah dan ibunya langsung datang menyembuhkannya. Namun kali ini, entah kenapa kedua oranguanya itu tak kunjung datang meski berkali-kali Rey memanggil mereka berdua.


Dimana ayah dan ibu? Kenapa tidak datang menyelamatkanku? Batin Rey sambil terus memerhatikan gadis cantik yang kini berdiri dihadapannya.


Darah diluka Rey tak kunjung berhenti mengalir sejak tadi. Rey terus memerhatikan setiap gerakan yang dilakukan penyelamatnya tanpa suara. Di depan gadis ini Rey kehilangan kata-kata. Ia hanya bisa mengagumi kecantikan paripurna seorang wanita tercantik di desa ini.


“Kau bisa jatuh cinta padaku kalau kau terus menatapku seperti itu.” gadis itu merasa risih karena Rey sejak tadi menatapnya.


“Huh, kau GeEr sekali!” Rey mencoba berkilah. Jantungnya terus saja berdetak dengan kencang. Ia berpaling ke segala arah untuk enghindari tatapan menghanyutkan gadis asing yang tak ia kenal itu.


“Setiap hari aku selalu menerima pengakuan cinta dari pria yang berbeda. Kau tahu kenapa? Karena mereka melihatku seperti caramu melihatku sekarang.”


“Kau gadis ter-PeDe yang pernah kutemui.”


“Ya sudah kalau tidak percaya, kau sendiri sepertinya juga termasuk tipe perayu wanita. Wajahmu itu wajah playboy banget. Yang jadi kekasihmu adalah wanita tersial yang pernah ada dimuka bumi ini karena punya pasangan playboy sepertimu.”


“Kau meledekku?” tanya Rey tak percaya.


Seketika rasa kagum pada gadis cantik ini mendadak sirna. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani meledeknya seperti ini seolah Rey bukanlah apa-apa baginya.


Untung dia cantik, kalau nggak udah aku gibeng dia hidup-hidup, batin Rey kesal.


“Aku tidak meledekmu, kenyataannya memang seperti itu. Sudah berapa banyak wanita yang permainkan? Ratusan? Ribuan?” tanya gadis itu sehingga membuat emosi Rey semakin terpancing.


“Entah kau ini siapa dan dariman asalmu, aku nggak perlu jawab pertanyaanmu. Dasar sok tahu!” geram Rey menujukkan wajah juteknya.


Reaksi gadis itu terlihat cuek mendengar nada suara Rey yang kesal padanya. Setelah selesai menumbuk, gadis tersebut langsung mengoleskan hasil tumbukannya diluka Rey.


“Buka jaketmu!” pinta gadis itu.


“Mau apa kau, ha? Dasar mesum!” Rey terkejut tiba-tiba saja dirinya disuruh buka jaket.


“Siapa yang mesum, ha? Aku hanya ingin mengobati lukamu! Dasar!” gadis itu jadi ikutan kesal dengan Rey kerena dituduh yang bukan-bukan.


“Tapi tidak harus buka jaket, kan? Kita ... hanya berdua di hutan ini, bagaiamana kalau kau ... bernafsu padaku!”


“Hey bodoh! Aku harus membersihkan lukamu dulu sebelum kuobati. Kau harus melepaskan jaketmu supaya tidak bikin ribet. Kau ini menyebalkan sekali, ya! Sudah untung aku mau menolongmu tapi kau malah menuduhku yang bukan-bukan. Kau pikir aku wanita apaan, ha? Dan juga ... kau itu bukan tipeku! Nggak mungkin aku nafsu sama playboy laaknat sepertimu! Dasar buaya darat!” gadis itu mengumpati Rey habis-habisan sehingga Rey hanya menganga tak percaya karena baru kali ini ia diumpat seperti itu.


“Ka- kau ... berani mengataiku apa?”


“Diam atau kusumpal mulutmu! Kau lepas sendiri jaketmu atau kupaksa!” ancam gadis itu.

__ADS_1


“Dasar tukang paksa!” Rey memelototi gadis yang juga mendelik melihatnya.


Mereka berdua sedang dalam suasana perang dingin, tapi si gadis cantik tidak bisa berbuat apa-apa karena ia harus menolong sipa saja yang butuh pertolongannya. Itu adalah janji yang sudah ia ucapkan pada ayah dan ibunya juga pada raja dan ratu yang menyelamatkan hidupnya.


Dengan wajah dongkol akut, Rey melepas jaketnya. Ia tidak mau menatap gadis yang membuatnya kesal sekaligus membuat jantungnya berdegup semakin kencang.


“Ini hanya menghentikan darahnya agar tidak terus keluar serta mencegah infeksi.” Kau punya sapu tangan atau kain yang tak terpakai?” tanya gadis cantik itu dengan suara merdunya.


“Tidak punya, kalau aku berkeringat, para gadislah yang akan datang mengusap keringatku dengan saputangan mereka. Jadi, pakai saputanganmu saja!” Rey baru mau menatap tajam wajah gadis cantik yang berdiri dihadapannya.


“Cuaca di hutan ini sangat dingin, aku juga tidak pernah membawa saputangan karena aku tidak mungkin berkeringat. Lagian saputangan yang kutanyakan bukan untuk mengusap keringatmu, tapi untuk membalut lukamu. Di hutan ini tidak ada perban dan jauh juga dari apotek. Aku tidak mau merobek pakaianku pada orang asing yang tidak aku kenal. Tapi ... aku bisa meminjamkanmu selendang yang aku punya. Begitu kau keluar dari hutan ini, kau harus mengembalikannya padaku, karena selendang itu sangat berarti bagiku.” Gadis cantik itu melepaskan selendang transparan berwarna-warni yang selalu ia ikatkan dipinggangnya lalu membalutkan selendang itu di lengan Rey yang terluka.


“Memangnya ada apa dengan selendang ini?”


“Bukan urusanmu, pokoknya kembalikan saja besok!”


“Bagaimana caraku mengembalikan selendang ini? Apa kita akan bertemu lagi, besok?” tanya Rey.


Gadis cantik itu memerhatikan kaos olahraga yang dipakai Rey. Kaos tersebut adalah seragam olahraga tempat Rey sekolah. Ia dan teman-temannya memang sengaja janjian memakai seragam olahraga sekolah agar bila tersesat, mudah untuk dicari dan dikenali.


“Ehm, kita akan bertemu lagi besok,” jawab gadis cantik itu sambil masih terus membalut luka Rey dengan selendangnya.


“Bagaimana kau bisa tahu? Memangnya kau Cenayang? Dan apa yang kau lakukan di hutan seperti ini sendirian? Apa kau tidak takut para binatang buas itu menyerangmu?” tanya Rey sudah tak bisa lagi menahan rasa penasarannya sejak tadi. Walaupun si cantik ini membuatnya kesal, tapi ia ingin tahu kenapa gadis secantik dirinya berada di tempat berbahaya sepertti ini.


“Kenapa aku harus takut? Mereka semua yang ada di hutan ini temanku!” jawab gadis itu santai.


“Apa?” tanya Rey terkejut. “Bagaimana bisa kau menganggap para binatang buas itu sebagai temanmu? Apa kau tidak waras? Atau jangan-jangan kau ... bukan manusia?”


Gadis cantik itu langsung tertawa terbahak-bahak. “Apa kau pernah melihat hantuk secantik diriku? Aku tidak melayang, lihat kakiku, aku berjalan ditanah.”


Rey baru sadar kalau si gadis cantik ini tidak memakai alas kaki. Anehnya, kakinya yang ramping dan mungil terlihat baik-baik saja. Tidak ada lecet sedikitpun dikakinya. Rey yang tidak tega akhirnya melepas sepatunya dan memberikannya pada gadis itu.


“Pakai sepatuku, cuaca semakin dingin, kau bisa terluka jika tidak memakai alas kaki.” Dengan cuek Rey menggeser sepatunya dengan kakinya ke arah kaki gadis yang ada dihadapannya.


“Tidak perlu, aku sudah terbiasa tidak memakai alas kaki bila berada di hutan ini. Kau saja yang pakai karena kau bisa mati kedinginan bila tak memakai sepatu.” Gadis itu mengembalikan sepatu pemberian Rey.


“Apa kau pernah melihat hantu manusia yang sangat cantik? Kenapa kau terus saja menuduhku yang bukan-bukan?”


“Pernah!” jawab Rey cepat.


“Siapa?”


“Ibuku, dia jauh lebih cantik dari hantu manusia manapun, kau pun kalah cantik dengannya.”


“Kau ini sedang memuji atau mengatai ibumu, sih? Kau menyamakan ibumu dengan hantu? Kalau aku jadi ibumu, akan kugantung kau diatas pohon dengan tangan dan kaki terikat lalu posisi kepala ada di bawah! Dasar berandal, beraninya kau berkata seperti itu mengenai ibumu.”


“Dasar Tarsani!” Rey balas meledek.


“Kau ini menyebalkan sekali, apa mengatai orang itu adalah pekerjaanmu?”


“Biasanya sih begitu ... Tarsani! Aku tidak tahu namamu, jadi kupanggil kau Tarsani saja.”


“Aku tidak percaya ini, bagaimana bisa aku bertemu dengan orang paling menyebalkan sepertimu. Bukannya berterimakasih karena sudah menyelamatkanmu, kau malah mengataiku dan ibumu yang bukan-bukan.” gadis cantik itu menatap lurus wajah Rey yang juga menatapnya.


“Aku suka.” Rey tersenyum.


Ini pertama kalinya bagi Rey tertarik pada seorang wanita yang unik dan juga menarik. Pakaiannya memang kampungan, tapi wajahnya sungguh cantik dan mempesona serta memiliki kepribadian beda dengan gadis manapun yang pernah Rey kenal. Bahkan Rey merasa kalau gadis ini, 11 12 dengan ibunya.


“Matahari sudah mulai terbenam, sebaiknya kita bergegas pergi dari tempat ini. Kau masih bisa berjalan kan?” tanya gadis itu memerhatikan luka Rey.


“Bisa, tapi agak pincang.” Rey bangun dari atas batu dan mencoba latihan berjalan.


“Jika kau berjalan seperti itu kita baru bisa sampai di desa bulan depan.” Gadis itu menghela napas panjang.


“Ayo, pegang tanganku. Aku antar kau pulang.” Gadis cantik itu mengulurkan tangannya pada Rey lalu membantu memapahnya berjalan.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara auman serigala yang memekikkan telinga. Seketika, Rey terkejut dan langsung memeluk gadis yang sedang memapahnya dengan erat. Tubuh Rey langsung gemetar ketakutan, sebab ia tidak menyangka bakal mendengar suara lolongan itu lagi di daerah sini. Mata Rey berkunang-kunang dan kepalanya berputar-putar. Perlahan, tubuhnya lemas tak berdaya lalu Rey langsung pingsan tanpa sebab.


"Hei! Kau kenapa? Apa yang terjadi?" tanya gadis itu sambil menepuk-nepuk pelan pipi Rey, tapi cowok itu masih belum mau bangun juga. "Haishh, orang ini benar-benar merepotkan sekali." Gadis itu berdiri sambil berkacak pinggang memerhatikan Rey yang terkapar.


***


“Aku dengar kau membawa manusia kemari? Siapa? Dimana dia sekarang?” tanya mbak Kun dan juga iblis Arka saat datang ke dalam goa dimana gadis cantik itu tinggal.


Salah satu pasukan dedemit Refald itu sengaja datang ke goa setelah diberitahu rekannya bahwa gadis cantik yang tak lain adalah Rhea, membawa pria asing tak dikenal ke goa tempat tinggalnya tepat disaat pak Po dan Di pergi ke suatu tempat untuk melaksanakan tugas dari Refald. Rupanya, baik Rhea ataupun Rey sama-sama tidak tahu kalau ternyata mereka berdua adalah pasangan yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Hal itu karena mereka berdua belum pernah bertemu satu sama lain meskipun mereka sudah dijodohkan.


“Dia pingsan Bibi, dan ini sudah malam, makanya aku bawa dia kemari,” terang Rhea yang menenangkan bibinya agar tidak marah.


“Apa? Berapa kali aku harus bilang, berhenti berkeliaran di dalam hutan. Kau baru saja sembuh dari lukamu. Jangan melakukan hal-hal yang bisa menghilangkan kekuatanmu!” bentak mbak Kun, ia masih mencari-cari sekeliling goa untuk melihat seperti apa pria asing yang dibawa Rhea tapi tak juga menemukannya.


“Tapi dia sedang dalam bahaya, Bi. Masa aku hanya diam dan melihat saja? Dia hampir diterkam harimau dan dicabik-cabik buaya di bawah sana!” jelas Rhea.


“Dasar gadis tengil, kau tidak bisa membawa sembarang pria ke tempat ini. Ingat! Kau sudah punya calon suami, apa yang akan dilakukan raja dan ratu bila mereka tahu kau membawa pria asing kerumahmu?” teriak mbak Kun. Ia heran bagaimana bisa Rhea bertindak gegabah seperti itu.


“Bibi, aku rasa raja dan ratu bisa memahami tujuanku. Aku hanya menolongnya, tidak lebih.”


“Kau tidak mencintainya, kan? Biasanya dalam drama, adegan seperti ini akan membuat kalian berdua saling jatuh cinta.” Arka sang penggila drakor mulai mengeluarkan pendapat ala drakornya.


“Tidak Paman, aku sama sekali tidak tertarik dengan pria menyebalkan itu. Apa yang aku lakukan hanya murni membantunya. Dia terluka dan juga tersesat di dalam hutan sendirian, ditambah lagi dia penakut sekali, tidak mungkin aku meninggalkannya di tengah hutan begitu saja meskipun dia sangat menyebalkan. Namun, aku tidak punya pilihan lain selain membawanya kemari apalagi hari sudah malam.”


“Kau masih menjadi incaran iblis jahat itu. Raja dan ratu mati-matian menjagamu dan melindungimu. Jangan sia-siakan pengorbanan mereka.” Mbak Kun mengingatkan Rhea.


“Aku mengerti Bibi. Bibi tenang saja, yang aku cintai hanyalah calon suamiku meski kami belum pernah bertemu. Sedangkan pria yang aku tolong itu sangat menjengkelkan. Bagaimana kalau kalian menakaut-nakutinya. Dia berani mengatai orangtuanya sebagai gembongnya hantu, bukankah dia anak yang durhaka? Dia bahkan tidak mau berterimaksih padaku dan malah mengataiku tarsani?”


“Oh, iya? Siapa pria bengal itu? Berani-beraninya dia mengataimu seenaknya walaupun itu benar, kau itu calon istri pangeran. Apa dia tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?” teriak Arka menggebu-gebu.


“Apa maksud dengan kata ‘itu benar’, Paman? Paman mau mengataikau juga? Siapa yang menyuruhku tinggal di goa?”


“Rhea, tempat ini adalah satu-satunya tempat teraman untukmu, iblis jahat itu tidak akan pernah berani datang kemari selama kau tinggal disini.” Lagi-lagi mbak Kun mengingatkan Rhea.


“Aku mengerti, Bibi. Cepat beri pria bengal itu pelajaran, sepertinya dia sudah bangun, masuklah ke kamarku, dia ada disana!” Rhea tersenyum senang, sebentar lagi ia bakal menyaksikan si playboy lakknat berteriak ketakutan karena bertemu dengan makhluk astral tak kasat mata sahabat kedua orang tuanya.


“Oke!” Arka bersemangat. Kalau urusan takut-menakuti, Arka jagonya.


“Tunggu! Kau bilang apa tadi?” tanya mbak Kun berharap dia salah dengar.


“Apanya?” tanya Rhea.


“Kau memasukkan pria asing ke dalam kamarmu?” teriak mbak Kun histeris.


“Memangnya kenapa? Di goa ini hanya ada dua kamar, masa aku masukkan dia ke kamar ayah dan ibuku? Ayah bisa marah padaku.”


“Astaga, dasar gadis tengik! Aku sudah kehilang akal menghadapimu. Justru ayahmu bakal lebih marah lagi bodoh! Apa kata keluarga calon suamimu kalau sampai mereka tahu bahwa kau memasukkan pria asing yang harusnya hanya suamimu saja yang boleh masuk ke kamarmu! Kau ini benar-benar ya ....” mbak Kun melayang kesana kemari menahan emosi.


“Dia hanya kuletakkan di kasurku, setelah itu aku keluar dan belum masuk lagi sampai sekarang. Kami tidak melakukan apa-apa?” terang Rhea dengan polosnya.


“Tetap saja bodoh! Dasar gadis tengil!” mbak Kun emosi tingkat dewa bila berbicara dengan Rhea. Ia sampai kehabisan kata-kata karena Rhea selalu saja membantahnya jika sedang mengomelinya. “Aku tidak tahu apa yang dimakan pak Po dan Divani sewaktu mereka masih jadi manusia sehingga terciptalah gadis bengal sepertimu,”gumam mbak Kun lagi dan ia pun melayang bersama Arka menuju kamar Rhea yang sudah mbak Kun anggap seperti keponakannya sendiri.


BERSAMBUNG


***


Hai hai maaf episode kali ini panjang buanget, habis mau stop nggak bisa sampai Leo jadi tertunda, hehehe .... terimakasih atas dukungannya kemarin karena sudah memberikan voting tentang visual mana yang aku pakai.


Dan aku pilih suara terbanyak, jadi aku pakai visual Gibran Dirgantara, mirip nama Refald Dilagara ya ..omegot haluku. tapi memang agak sedikit mirip Refald sih ... ada bule dan asianya juga. Yang kemarin gak setuju, maaf ya ... dan jangan berkecil hati. Visual itu bule masih bisa dipake untuk adiknya Byon nanti. Hehe kan mirip sama visual papa Byon.


Btw, ada yang bisa nebak nggak? Kelanjutan ceritanya kayak gimana? tunggu episode beriktnya ya ... mulai masuk komedi fantasi dulu. love you all ....



Rhea

__ADS_1



Rey


__ADS_2