Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 119 Surat


__ADS_3

Refald menuntunku untuk kembali duduk di ranjang Refald sementara ia mengambilkan air untukku. “Minumlah, Honey.” Refald menyodorkan sebotol air mineral padaku dan aku pun langsung menghabiskannya hanya dalam satu teguk saking gugupnya bisa melihat makhluk paling fenomenal komplit dengan wajah yang selalu memerankannya. Sayangnya, aku tidak berani menyebutkan namanya. Sungguh ini seperti mimpi.


“Katakan apa yang ingin kau bicarakan dengan istriku?” tanya Refald mulai menginterogasi sosok yang tiba-tiba saja, aku mengaguminya, bukan karena sosoknya, tapi kerena wajahnya yang memang mirip dengan orang yang selalu memerankan sosok putih berambut panjang ini.


Ingin rasanya aku mengambil kamera dan memotretnya lalu kubagikan dengan teman-temanku, tapi itu jelas tidak mungkin bisa kulakukan. Lagipula, Refald pasti akan marah jika aku mengabadikan sosok ini.


“Saya cuma ingin meminta bantuannya yang mulia, untuk menyampaikan pesan terakhir saya pada wanita yang tadi datang kemari,” ujar sosok putih itu.


Aku terkejut mendengar jawaban mbak Sun ini. Wanita? Sejauh ini, Satu-satunya wanita yang datang kemari hanyalah aku dan ... suster itu! Tunggu! Apa mbak Sun ada hubungannya dengan suster itu? Jadi, sosok yang tadinya aku kira mbak Kun tadi adalah dia? Aku mencoba menganalisa situasi.


“Kau pikir istriku ini tukang pos apa? Yang bertugas menyampaikan pesan? Kenapa kau tidak menyampaikan pesanmu sendiri padanya?” Refald tidak setuju dengan permintaan makhluk putih itu.


“Saya tidak bisa melakukannya, karena dokter itu terus saja menempelinya, saya sudah sering merasuki suster itu agar dokter itu tidak mendekatinya lagi, tetapi tetap saja dia terus menempeli putriku kemana-mana,” terang mbak Sun.


“Apa?” teriakku seketika. Lagi-lagi Refald memelototiku, karena terkejut mendengar teriakanku. “Maaf, aku kelepasan, lanjutkan!” nadaku lirih saat menatap Refald.


Ternyata suster itu adalah Putri dari mbak Sun ini, pikirku.


“Mbak Sun, aku melarang Fey istriku untuk ikut campur urusan pribadimu atau sejenismu. Aku tidak ingin Fey dalam bahaya jika sampai ia mencampuri urusan makhluk seperti kalian. Kau tahu maksudku, kan?”


Aku agak sedikit keberatan dengan keputusan Refald. Aku tahu niat Refald melindungiku, tapi pasti ada cara lain untuk membantu menyampaikan pesan mbak Sun ini, meski kami tidak tahu apa alasan sosok ini menjauhkan putrinya dari dokter itu.


“Tidak, Honey. Resikonya terlalu besar.” Sepertinya Refald tahu apa yang ada dipikiranku. “Jika sampai para hantu lain tahu niatmu, mereka juga pasti meminta hal yang sama padamu. Itu akan memimbulkan kekacauan dan ketidakseimbangan alam. Kau paham maksudku?”


“Tidak, ehm ... maksudku sedikit paham, aku tahu itu ... tapi pasti ada cara membantu mbak Sun supaya tidak diketahui yang lainnya. Bagaimana dengan surat?” usulku.


Refald berpikir sejenak, dia berjalan mondar-mandir didepanku sampai akhirnya ia mendapat ide dan langsung menatapku. “Baiklah, ada satu cara yang bisa kita lakukan untuk menolong mbak Sun. Tapi, ini adalah yang pertama dan yang terakhir. Jangan sampai ada lagi.”

__ADS_1


Aku mengangguk senang menatap Refald. Refleks, aku langsung memeluknya dan memberi hadiah kecupan kecil di bibir Refald.


“Kau mulai merayuku!” Refald membalas ciumanku.


“Terimakasih yang mulia, terimakasih Putri, anda baik sekali.” Mbak Sun pun ikut tersenyum melihat kami. Aku jadi tidak enak karena sudah mengumbar kemesraan didepannya. Tapi sepertinya dia mengerti dan tidak mempermasalahkan apa yang kami lakukan.


“Pergilah, dan temui kami satu jam lagi di kafe!” perintah Refald, dan mbak Sun pun langsung menghilang seketika.


Aku hanya penasaran, apa yang sedang Refald rencanakan, kenapa ia harus meminta bertemu di kafe? Dan kafe mana yang dia maksud?


****


Dokter datang kembali untuk memeriksa keadaan Refald dan Refald sendiri mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sudah mulai sadar. Perlahan, Refald membuka matanya dan dokter langsung mengecek semua kondisinya.


Aku terus memerhatikan suster yang berdiri di belakang dokter, dia sibuk memeriksa Refald dan mencatat semua data kesehatan Refald yang diutarakan dokter tersebut.


“Mr. Refald, kau bisa mendengar suaraku? Kedipkan mata jika kau bisa,” ujar dokter Raska pada Refald.


Refald mengedipkan matanya sementara aku ingin tertawa. Beberapa menit yang lalu ia bahkan bisa berlari dan menciumku, sekarang ia harus berpura-pura lemah seakan terlihat baru sadar dari komanya. Aku pun juga harus bersandiwara pura-pura terkejut melihat reaksi Refald. Entah bagaimana aktingku saat ini, karena aku tidak pandai berakting seperti Refald.


“Bagus, sepertinya kau sudah melewati masa kritis. Kalau begitu, aku akan mengecek lagi besok.” Dokter itu beralih menatap suster yang ada disampingnya. “Suster, terus berikan vitamin tambahan pada pasien ini selain obat yang aku sebutkan tadi. Jangan lupa kontrol setiap makanannya, dia tidak boleh memakan makanan kasar terlebih dulu karena tubuhnya masih dalam masa pemulihan.


“Baik, Dok,” jawab suster itu.


“Jadi, suami saya akan segera sembuh, Dok?” tanyaku pura-pura.


“Sepertinya begitu, anda selalu menemaninya, tentu saja suami anda pasti akan sembuh. Saya permisi dulu, saya akan kembali besok.” Dokter itu pergi diikuti oleh suster di belakangnya.

__ADS_1


Refald mencopot semua selang yang menempel ditubuhnya begitu pintu ruangan tertutup. “Ayo kita pergi sekarang,” ajak Refald langsung.


“Hah, memang harus sekarang ya?” tanyaku pada Refald yang tiba-tiba saja bangun dari tempat tidurnya dan mengajakku keluar.


Refald memakai jaket dan kacamata hitam serta topi untuk menyamar dan aku pun memakai pakaian yang sama dengannya. Sekarang aku merasa seolah jadi detektif dadakan.


Penyamaran kami keluar dari rumah sakit dan menuju sebuah kafe terdekat dari rumah sakit ini berhasil. Refald mengajakku duduk di salah satu sudut ruang kafe sambil menunggu kedatangan Mbak Sun yang tiba-tiba saja sudah ikutan duduk disebelahku. Tentu saja, aku langsung terkejut. Tidak berteriak saja sudah untung.


“Yang mulia, apakah saya harus merasuki tubuh istri anda untuk menuliskan pesan saya di kertas kosong itu?” Mbak Sun menunjuk kertas kosong yang sudah ada di depanku lengkap dengan amplop dan bulpennya. Sejak kapan ada kertas kosong dan bulpen hitam itu? batinku.


“Tidak! Rasuki tubuhku saja!”


“Tidak!” aku tidak setuju jika makhluk halus ini merasuki tubuh Refald, itu artinya jiwa mbak Sun menyatu dengan Refald, dong. Dan tentu saja aku tidak akan membiarkannya. “Rasuki tubuhku saja!”


“Tidak!” Refaldpun juga tidak setuju dengan usulanku. Sepertinya, pemikirannya sama dengan pemikiranku.


“Baiklah, saya tidak akan merasuki tubuh kalian.” Mbak Sun menghilang dan merasuki tubuh salah satu pelayan wanita yang ada di kafe ini. Pelayan itu meminta duduk di sebelahku dan mulai menuliskan sesuatu di kertas kosong tersebut lalu memasukkannya dalam amplop yang sudah tersedia.


Begitu semua selesai, mbak Sun pun keluar dari tubuh pelayan itu dan tentu saja, si pelayan langsung pingsan. Semua orang jadi panik melihat seorang pelayan tiba-tiba saja pingsan di depan kami. Aku dan Refald juga pura-pura terkejut. Refald mengambil amplop yang berisi pesan dari mbak Sun dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya lalu mengajakku keluar dari kafe begitu pelayan itu dipindahkan ke dalam untuk disadarkan.


****


Maaf jika jiwa haluku terlalu berlebihan .. apa daya inilah yang ada di otakku ... no bully ya ... hehe



__ADS_1


omegot mataku meleleh melihat mas Refald ...


__ADS_2