
Sudah kuduga sebelumnya, tangan Refald tidaklah separah seperti yang pernah ia katakan. Sebenarnya aku sudah mulai curiga saat ia melakukan repling prusik bersamaku pada kegiatan caraka waktu itu. Kecurigaanku semakin kuat setelah ia menyelamatkanku dengan aksi nekat dan gilanya. Tidak mungkin dengan kondisi tangan terluka, ia masih bisa bergelantungan ditali dengan santai dan hanya menggunakan satu tangan sementara tangan yang lainnya membawa beban seberat aku.
Meskipun sekarang aku tahu alasannya apa, tetap saja aku masih penasaran dengan misteri luka Refald. Ternyata, memang jelas sudah semuanya.
“Apa ini?” tanyaku kepada Refald setelah tahu bahwa selama ini ternyata aku dibodohi oleh tunanganku sendiri. “Luka ditanganmu? Kau bilang lukamu sangat dalam dan parah sehingga harus dioperasi gara-gara keteledoranku, tapi lihat bekas luka itu? Ini bukan luka bekas operasi, ini hanya luka gores! ” aku syok mengetahui fakta bahwa Refald telah membohongiku selama ini.
“Honey ... “ Refald menatapku yang masih terkejut, “Jadi ciuman tadi ... hanya untuk mengalihkan perhatianku? Supaya kau bisa melepas perban ini untuk mencari tahu kebenarannya?” Refald memerhatikan lukanya dan kembali lagi menatapku. “Kau mulai bermain nakal rupanya, ya?”
“Kau tidak jujur padaku!” aku mulai kesal dengan Refald tanpa menghiraukan komentarnya.
Refald hanya tersenyum simpul. Ia mengurung tubuhku lagi dengan kedua tangannya lalu menatapku lekat-lekat. Kali ini aku pun juga balik menatapnya, tidak ada lagi rasa malu seperti sebelumnya, yang ada hanya rasa kesal dan emosi.
“Kalau aku jujur padamu,” bisik Refald di telingaku, “Kau tidak akan pernah mau bersamaku dan aku tidak akan pernah tahu bahwa kaulah tunanganku.”
Aku tersentak mendengar kata-kata Refald. Seketika itu aku terdiam dan mencoba mengingat-ingat kembali masa-masa kami saat pertama kali bertemu. Awalnya aku memang tidak ada rasa sama sekali pada Refald, bahkan aku hanya memandang dia sebelah mata karena pertemuan awal kami yang tidak begitu menyenangkan. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai membuka hati dan entah sejak kapan aku jatuh cinta padanya.
“Sudah kubilang, awalnya aku tidak tahu kau itu siapa,” lanjut Refald mulai menjelaskan. “Bagiku, kau hanyalah orang asing yang benar-benar membuatku kesal. Saat aku kesal, aku akan kehilangan kekuatanku untuk beberapa saat. Kau mungkin masih ingat insiden banteng itu. Sebelum banteng itu mengejarku, kau telah membuatku marah dan membencimu. Seketika itu aku langsung kehilangan kekuatanku dan menjadi manusia normal lagi.
"Namun, kebencianku padamu waktu itu hilang, karena kau menyelamatkanku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menjadi orang biasa seperti yang lainnya. Sayangnya, lagi-lagi kau membuatku kesal dengan luka yang kau torehkan dilenganku ini.” Refald mengangkat lengan kanannya yang perbannya baru saja aku lepas tepat didepanku.
“Luka ini, memang akan sangat parah jika saja waktu itu kau tidak memberiku pertolongan pertama dengan mengoleskan dedaunan yang kau ambil untuk mengobatiku. Lem perekat yang kau kira sebagai saleb untuk menyembuhkan lukaku itu, tidak bisa masuk ke sel syarafku karena sudah tertutup oleh zat-zat yang ada dalam daun-daun dan untungnya, sudah lebih dulu sudah kau oleskan. Dengan kata lain, lukaku aman dari zat kimia berbahaya yang terdapat dalam lem perekat itu.”
Aku hanya bisa terpaku mendengar penjelasan panjang lebar dari Refald tanpa tahu harus berkata apa.
“Awalnya aku ingin balas dendam padamu.” Refald melanjutkan lagi penjelasannya karena aku hanya diam tanpa suara. Jarak tubuh kami juga sangat dekat dan Refald terus menatapku, tepat di manik mataku. “Waktu itu aku ingin melaporkanmu ke polisi, tapi aku berubah pikiran setelah foto yang pernah kuambil saat kau menemukan dompetku tak sengaja terjatuh dan Eric yang mengambilnya. Karena itulah aku berencana memanfaatkanmu untuk merawatku supaya aku bisa lebih dekat denganmu, dan di detik itu juga, aku mulai tertarik padamu.
"Padahal niat utamaku datang ke sini adalah mencari tunanganku, tetapi aku malah tertarik dengan wanita lain yang baru saja kutemui. Dan anehnya, aku tidak pernah menyangka bahwa orang yang telah membuatku mengkhianati cintaku adalah orang yang sama. Orang itu adalah kau. Kaulah orang yang sangat membuatku penasaran dan kau juga ternyata ... adalah tunanganku yang selama ini aku cari-cari sepanjang hidupku. Bukankah takdir ini sangat lucu, Honey?” Refald masih menatapku yang terdiam melihatnya, lalu ia mencium bibirku dengan sangat lembut.
__ADS_1
Tanpa sadar air mataku mengalir membasahi pipiku. Tak pernah terbayangkan betapa terlukanya hati Refald saat aku memutuskan menghilang dari kehidupannya tanpa meninggalkan jejak. Saat itu aku hanya memikirkan diriku sendiri tanpa pernah mau tahu bagaimana perasaan orang-orang yang kutinggalkan. Tidak hanya Refald saja, kakakku Sakura, dan juga ayahku, pasti merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Refald saat tahu aku pergi meninggalkan mereka.
“Kenapa kau menangis, Honey.” Refald menyudahi ciuman lembutnya dan menatapku dengan nanar.
Seketika tangisku langsung pecah dan aku menangis tersedu-sedu di depan Refald. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku karena aku merasa begitu bodoh dan naif. Aku merutuk diriku sendiri karena telah salah mengambil keputusan saat itu.
“Maafkan aku, Refald. Aku terlalu egois dan begitu mencintai ibuku, sampai aku tidak bisa melihat orang lain selain ibuku,” ucapku lirih sambil sesenggukan.
Perlahan Refald membuka kedua tanganku untuk melihatku. Namun, aku mencoba berpaling dari Refald. Aku tidak ingin dia melihatku berantakan seperti ini.
Refald mengusap air mata yang mengalir di pipiku, “Kau tidak perlu minta maaf, Honey. Semua yang terjadi bukanlah kesalahanmu. Selalu ada hikmah dibalik semua musibah yang menimpa kita. Tenanglah, oke ... jangan menangis lagi. Kau sangat jelek jika menangis seperti itu. Sekarang aku bersyukur kita sudah bisa kembali bersama. Entah apa yang terjadi jika kita tetap bersama sejak kita masih kecil dulu, mungkin aku akan bosan denganmu dan akan berpaling mencari gadis lain yang lebih menarik darimu.” Refald tersenyum saat mengatakan itu.
“Apa?” aku langsung terkejut mendengar niat Refald. “Jadi jika kau sudah bosan denganku kau akan mencari penggantiku? Begitu?”
“Kenapa? Aku sangat tampan dan keren! Siapapun pasti akan tergila-gila padaku. Tidak ada salahnya, kan?”
Aku melangkah pergi dengan kesal meninggalkan Refald yang cengengesan.
Suasana aneh apa ini? Baru saja aku menangis di depannya, bukannya menghiburku cecunguk itu malah langsung sukses membuatku emosi. Tunggu! Apa ini yang dinamakan cemburu? Hahhh ... dasar Refald sial! Bisa-bisanya aku cemburu dengan hal yang tidak mungkin berani ia lalukan. Awas saja kalau sampai dia berani berbuat seperti itu!
“Kau mau ke mana, Honey?” Refald menarik lenganku sehingga tubuhku berbalik menghadapnya. “Aku belum selesai.” Refald tersenyum mencurigakan.
“Apalagi? Kita harus segera sampai di desa secepatnya, mereka semua pasti mengkhawatirkan kita.” Sejujurnya aku masih sangat kesal dengan ucapan Refald tadi. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu disaat aku merasa bersalah padanya.
“Kita tidak bisa pergi dari sini sebelum kita menyelesaikan apa yang sudah kau mulai.”
“Apa maksudmu?”
__ADS_1
Refald tidak menjawab, ia malah membuka resleting celananya dan melepaskan celana hitamnya. Sontak aku langsung menutup kedua mataku karena Refald melakukan itu sambil terus mendekatiku.
“Kau tidak perlu malu, Honey ... aku sangat ingin sekali!”
Dasar tidak tahu malu! Apa yang dia lakukan?
“Hentikan Refald! Pakai kembali celanamu!” aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. “Kau jangan gila? Apa kau sedang kerasukan salah satu dedemit dari pasukanmu, ha?”
“Tidak, aku masih waras! Aku juga sangat sadar saat ini. Ayolah ... lihat suasananya sangat mendukung, kan? Pagi yang cerah, sepi, sunyi hanya ada kita berdua, sayang sekali kalau moment ini di lewatkan begitu saja.”
Aku bisa merasakan Refald berjalan semakin dekat padaku, namun aku tetap berjalan menjauh darinya sambil masih menutup mata.
Tiba-tiba aku menjadi panik dengan tingkah laku Refald yang menurutku sudah kelewat batas. Pikiranku sudah lari ke mana-mana. Rasanya tidak mungkin jika Refald akan melakukan hal gila seperti itu sekarang.
“Ref ... ehm Sayang, kita bisa melakukannya nanti kalau kita sudah resmi menikah! Tapi aku masih ingin berkarya dan bekerja. Jadi aku mohon ... jangan lakukan ini padaku meskipun kau adalah tunanganku.” Aku berusaha menyadarkan Refald akan etika dan moral sepasang kekasih meski aku tidak yakin apakah Refald mau mendengarku atau tidak.
Refald tersenyum padaku dan tanpa terduga ia tiba-tiba berlari ke arahku. Aku berteriak ketakutan dan langsung meringkuk di kedua lututku membayangkan kalau Refald akan langsung menabrakku dan memaksaku. Aku pikir Refald akan menyerangku dengan ganas tapi ternyata, dugaanku salah besar.
Dia hanya berlari melewatiku begitu saja sambil tertawa terbahak-bahak menuju ke arah sungai, dan ia langsung menerjunkan dirinya ke dalam air yang mengalir di sungai itu.
Aku terkesima oleh apa yang baru saja aku lihat. Aku baru sadar kalau Refald tidak benar-benar telanjang, ia masih memaki celana pendek selutut dan tujuannya bukan untuk melakukan itu ... melainkan, ia mau berenang di sungai.
Untuk kesekian kalinya, lagi-lagi ... aku dikerjai oleh Refald. Wajahku sudah merah padam antara malu dan juga kesal. Bisa-bisanya dia bercanda disituasi seperti ini.
Dasar orang gilaaaaa!
“Refaaaaaaaallld!” teriakku dengan kesal penuh amarah.
__ADS_1
****