
PERINGATAN! YANG BOLEH BACA CUMA YANG BERUMUR 21 ++ YA! HEHE
happy reading
***
Acara resepsipun dimulai, Fey langsung menyambut semua tamu undangan yang datang di acara resepsi pernikahannya dengan Refald. Saking banyaknya tamu undangan yang datang, Fey sampai tidak punya waktu untuk berduaan dengan suaminya. Refald sendiri juga baru saja tiba dari tempat dimana kakek buyutnya ingin berbicara dengannya. Begitu kembali, acara resepsinya sudah dimulai. Namun sepertinya, keluarga besar Refald tidak mengizinkan Refald mencuri waktu berdua dengan Fey, karena itu mereka sepakat menjauhkan Refald dari istrinya dan disibukkan dengan menjamu tamu undangan.
Setiap kali Refald ingin mendekati Fey, beberapa orang menghalanginya dan mengajaknya bicara seolah ikut bahagia dengan pernikahannya. Mereka tidak memberi ruang bagi Refald agar tidak bisa mendekati istrinya sendiri. Awalnya, Refald tidak sadar kalau ia sedang dikerjai seluruh keluarganya, sampai ia akhirnya mengetahui akal bulus keluarga besarnya.
“Refald, kau mau kemana? Ayo, bergabung dengan kami. Sambut tamu kita ini, mereka sengaja datang jauh-jauh hanya demi bisa datang di pesta pernikahanmu,” ujar Byon pada Refald yang tentu saja hendak pergi menemui istrinya.
“Oh, halo semua,” sapa Refald sambil memaksakan tersenyum. Ia tidak bisa fokus karena terus mencari keberadaan Fey. “Terimakasih sudah mau hadir di pesta ini. Ehm, tapi saya harus permisi dulu karena ada yang harus saya lakukan. Silahkan nikmati pesta ini!” Refaldpun berlalu pergi. Ia tidak mau menggubris lagi teriakan Byon serta orang-orang yang berusaha mencegahnya mendekati Fey.
Refaldpun pergi dengan buru-buru mencari sosok Fey diseluruh ruangan. Namun sialnya, ia sudah tidak bisa menemukan istrinya dimana-mana. Refald memejamkan mata untuk membaca pikiran Fey tapi ia tak bisa mendengar apa-apa. Wajah Refald mulai berubah panik karena ia juga tak bisa lagi merasakan hawa keberadaan Fey. Laki-laki itu segera berlari ke tempat yang sepi dan memanggil semua pasukan dedemitnya agar membantu mencari dimana Fey berada saat ini.
“Ini aneh, baru saja Fey ada ditempat ini, kenapa ia menghilang? Ada dimana dia sekarang?” gumam Refald berusaha tenang meski ia merasakan memang ada yang aneh.
“Pangeran,” seru pak Po yang datang tiba-tiba.
“Kau sudah tahu dimana istriku?” tanya Refald seketika.
“Saya akan beritahu dimana tuan putri dengan satu syarat.” Pak Po menatap tajam mata pangerannya.
“Aku tahu syarat apa yang kau minta, pertemukan aku dengan istriku sekarang. Akan aku penuhi syaratmu nanti! Aku juga akan mengabulkan permintaanmu dan yang lainnya, tepat disaat aku dan Fey selesai melakukan malam pertama.”
“Tidak Pangeran, bukan begitu. Masalahnya adalah ....” pak Po menjelaskan syarat yang harus disetujui Refald sehingga ia langsung tertegun seketika setelah pak Po berbicara.
“Apa?” seru Refald tak percaya. “Pak Po, kau sadar dengan apa yang sudah kau katakan? Aku kira ... kau dan mbak Kun ....” Refald tak bisa melanjutkan kata-katanya karena terlalu terkejut mendengar pernyataan pak Po padanya.
Tapi janji adalah janji, Refald harus segera menepati janjinya pada semua pasukan dedemitnya. Hanya saja, ia tidak menyangka bakal jadi separah ini. “Baiklah, akan aku pikirkan jalan keluarnya setelah aku bertemu dengan istriku. Fey mungkin juga punya solusi untuk masalahmu! Dia jauh lebih mengerti dirimu daripada aku.” Refald menatap mata pak Po yang menunduk dihadapannya.
“Maafkan saya, Pangeran. Sama halnya dengan anda yang jatuh cinta dengan tuan putri. Saya pun juga merasakan hal sama pada gadis ini, meskipun kami ... berbeda dunia.” Pak Po tidak berani menatap Refald lagi. Ia terus menundukkan kepalanya.
“Pertemukan aku dengan Fey sekarang juga,” ujar Refald tanpa berkomentar apa-apa mengenai masalah pak Po.
“Baik, Pangeran.” Pak Po pun menghilang bersama Refald menuju sebuah dimensi lain dimana sudah ada Fey yang menunggu kedatangan suaminya sejak tadi.
“Honey,” seru Refald ketika ia sudah ada dibelakang Fey.
Istrinya itu sedang memandang lurus pemandangan indah yang ada di depan matanya. Dilihat dari dekorasinya, sepertinya tempat ini adalah kamar pengantin istimewa yang khusus disiapkan untuk keduanya di malam pertama mereka.
“Silahkan menikmati malam pertama anda dengan tuan putri yang mulia, saya permisi dulu!” Pak Po pun menghilang tanpa menunggu respons dari pasangan pengantin baru itu.
“Ada apa dengan pak, Po?” tanya Fey sambil memeluk suaminya dengan erat. Refald pun langsung membalas pelukan istrinya lebih erat lagi.
“Dia hanya sedang jatuh cinta, sama seperti kita.” Refald langsung mencium mesra bibir merah delima wanita yang kini sudah halal baginya. “Bagaimana bisa kau ada disini, Honey? Siapa yang membawamu kemari?”
“Pak Po yang menculikku! Dia tahu keluarga besar kita tidak membiarkan kita bersama, karena itu anak buah kesayanganmu itu menculikku dan membawaku kemari.” Fey menatap wajah tampan suaminya yang sejak tadi menatapnya.
“Dimana kau diculik?” tanya Refald, tatapan mata suaminya itu benar-benar membuat Fey meleleh.
“Di toilet!”
“Gawat,” ujar Refald sambil tersenyum.
“Ada apa?”
“Mereka semua pasti heboh sekarang.” Refald mengusap lembut pipi merah merona istrinya. Feypun mulai mengerti apa maksud ucapan suaminya.
“Kau benar, mereka semua pasti kelabakan mencariku, dan pastinya mencarimu juga karena kau sudah ada disini bersamaku.” Fey tersenyum membayangkan keluarga besarnya heboh mencari keberadannya dan Refald.
Refald tersenyum manis pada Fey, matanya tak henti-hentinya menatap wajah cantik istrinya di malam pertama mereka. Tanpa suara, Refald menggendong tubuh Fey dan membaringkannya di atas tempat tidur yang dipenuhi dengan taburan bunga mawar segar. Semerbak harum bunga-bunga itu menambah kesan romantis malam syahdu keduanya.
“Aku harus membayar mahal untuk semua ini, Honey. Persiapan pak Po dan pasukanku yang lain benar-benar sempurna. Lihatlah, mereka bahkan memilih warna putih untuk dekorasi ruangan pengantin kita. Dan bunga-bunga ini ... darimana hantu pocong itu mendapat ide mendekorasi ruang pengantin sebagus ini?” ujar Refald yang berada diatas tubuh Fey sambil tersenyum simpul. Matanya tetap tak beralih dari wajah istrinya.
Jantung Fey langsung berdetak dengan cepat. Ia yakin, Refald pasti bisa mendengar degup jantungnya ini.
__ADS_1
“Kau akan membayarnya dengan apa?” tanya Fey mengulur waktu agar Refald tidak langsung memakannya. Sebab, Fey tahu saat inilah yang paling ditunggu-tunggu suaminya.
“Menikahkannya dengan ....”
“Mbak Kun?” tebak Fey, pelukan Refald semakin erat sehingga ia agak sedikit kesulitan bernapas, Refald bahkan merebahkan kepalanya didada Fey sehingga jantungnya semakin kencang lagi berdetak.
Jantungku bisa copot jika Refald terus-terusan seperti ini, batin Fey. Ia hanya bisa menggigit bibir.
Refald hanya tersenyum geli mendengar suara hati istrinya, tapi ia pura-pura tidak dengar dan semakin erat memeluk Fey. “Bukan, Pak Po tidak ingin menikah dengan mbak Kun, mereka berdua hanya teman dekat saja. Lagipula, mbak Kun punya kekasih bule Jepang, kau ingat kan, Honey?” Refald kembali mengangkat kepalanya, ia ingin tahu seperti apa wajah istrinya saat ini.
“Owh. Lalu ... siapa yang ingin dinikahi pak, Po?” Fey semakin gugup ditatap Refald seperti itu. Sedangkan Refald sendiri mati-matian menahan tawa melihat sikap grogi istrinya dimalam pertama mereka.
“Kau benar-benar ingin tahu?” tanya Refald.
“Ehm.” Fey mengangguk pelan. “Aku ingin tahu.” Fey sendiri mati-matian menyembunyikan rasa gugupnya dan berusaha bersikap tenang.
“Kau siap, Honey. Aku akan memberitahumu.” Lagi-lagi Refald menatap tajam mata Fey seolah ada makna lain dibalik ucapannya.
Dengan pelan tapi pasti, Refald membuka pakaian yang dikenakan Fey dan membuat gadis itu semakin terkejut. “Tunggu, apa yang akan kau lakukan? Ke-kenapa pakaianku ka-kau buka juga?” Fey semakin gugup melihat aksi Refald.
“Aku akan memberitahumu siapa yang ingin pak Po nikahi tepat setelah kita ... melakukan malam pertama kita,” bisik Refald ditelinga Fey sehingga gadis itu bergidik geli.
Matilah aku sekarang, batin Fey.
“Aku Tidak kan membiarkanmu mati sebelum kita selesai melakukan malam pertama, Honey.” Refald tersenyum manis semanis madu sambil terus melanjutkan aksi jailnya.
Tak perlu waktu lama bagi Refald untuk melepas helai demi helai semua kain yang melekat ditubuh istrinya. Begitu juga gilirannya, Refald mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang dikenakannya dan melemparkannya ke sembarang arah. Kini, keduanya bak dua orang bayi yang tak mengenakan sehelai kain pun. Fey benar-benar malu habis dan hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Kau siap, Honey?” tanya Refald. Perlahan, ia membuka kedua tangan Fey yang menutupi wajahnya.
“Aku sangat gugup, dan juga takut.” Akhirnya Fey mengaku juga.
“Aku tahu, tapi ... bukankah ini yang kita tunggu selama ini? Untuk ini pula aku dan kau sudah menghadapi semua hal yang menyakitkan dan juga menyedihkan. Kau tidak perlu takut, Honey. Aku akan melakukannya pelan-pelan.” Refald mulai mencium mesra kening Fey. Gadis itu hanya memejamkan mata tanda pasrah dan siap sedia menyerahkan semuanya pada suaminya. Kerena kini, Refald sudah berhak sepenuhnya atas jiwa dan raga Fey.
Melihat reaksi tubuh istrinya, Refald pun tersenyum bahagia. “Aku mencintaimu, Honey. Jangan lupa bernapas, karena ini akan sedikit lebih lama dari biasanya,” bisik Refald lirih dan menggoda. Suaranya benar-benar membuat Fey terbang di atas awan.
Ciuman memabukkan Refald mulai mendarat di bibir ranum istrinya, jari jemari Refald juga aktif disetiap bagian intim tubuh Fey. Fey sendiri mulai merasakan ada sensasi kenikmatan seksual yang membangkitkan hormon kewanitaannya. Tak dapat dipungkiri, Fey menikmati setiap sentuhan lembut Refald. Bahkan tanpa terasa, ia pun mendesah dan napasnya mulai tersengal-sengal. Suaminya ini benar-benar pandai melakukan pemanasan sehingga gadis itu mengalami palepasan pertama yang baru kali ini Fey rasakan.
“Kau sudah terangsang, Honey.” Refald mengecup pelan kening Fey yang hanya bisa memejamkan mata karena malu menatap wajah suaminya. “Mungkin ini agak sedikit sakit, Honey. Tapi ... kau harus menahannya, aku ingin kita segera punya anak.” Ucapan Refald benar-benar membuat Fey tak bisa berkata apa-apa lagi. Fey pasrah srah srah srah pada suaminya tanpa berkutik sedikitpun.
Malam ini, Fey adalah milik Refald sepenuhnya, tidak ada penolakan, yang ada hanyalah malam yang syahdu dan penuh cinta. Malam pertama mereka akan menjadi bukti penyatuan cinta dari kedua tubuh dalam satu jiwa antara Fey dan Refald.
Mereka berdua, bergumul dengan mesra diatas tempat tidur. Refald mulai menancapkan kerisnya dengan pelan kedalam mahkota berharga milik Fey. Awalnya gadis itu merintih kesakitan, tapi Refald memberikan ciuman mautnya untuk mengalihkan rasa sakit yang nikmat agar wanita yang ia cintai ini terbuai dengan cintanya dan melupakan rasa sakitnya karena melakukan hubungan intim untuk pertama kalinya.
Beberapa menit sudah berlalu, hentakan-hentakan pelan yang dilakukan Refald saat memainkan kerisnya di dalam mahkota milik Fey akhirnya sampai pada puncaknya. Mereka berdua mengalami pelepasan bersama-sama. Refald benar-benar sukses menjebol gawang istrinya. Rona bahagia terpancar di wajah keduanya tatkala ada setitik noda merah menghiasi seprai putih mereka.
Dengan senyum mengembang, Refald memeluk erat tubuh Fey dalam balutan selimut putih yang hangat.
“Maafkan aku, Honey. Apa terasa sakit?” tanya Refald sambil mencium rambut Fey.
Jantung Fey masih berdegup dengan kencang, napasnya juga masih belum kembali normal, tapi ada senyum bahagia terpancar di wajah Fey yang membuatnya semakin ingin terus dipeluk Refald seperti ini.
“Tidak apa-apa suamiku, aku menikmatinya. Kau melakukannya dengan baik. Aku bisa merasakan cintamu, begitu besar padaku. Aku ... sangat mencintaimu.”
Refald menatap wajah istrinya dan langsung menciumnya lagi. “Aku juga sangat mencintaimu melebihi apapun. Aku bahagia, Honey. Aku benar-benar bahagia.”
Fey memberanikan diri menatap wajah suaminya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat mata Refald berubah warna dan jadi berbeda dari sebelumnya. “Sayang, ada apa dengan matamu?” tanya Fey mulai sedikit bingung.
“Mataku, berubah. Inilah kekuatan baruku, Honey. Aku sudah pernah bilang padamu dulu, mataku akan berubah begitu aku selesai melakukan malam pertama denganmu.” Refald memeluk tubuh Fey dengan erat lagi. “Ayo! Ikut denganku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!” Refald mengajak Fey bangun dan membantu mengenakan pakaian baru untuk istrinya.
“Kita mau kemana?” tanya Fey heran melihat betapa antusiasnya Refald kali ini. ditambah lagi suaminya itu benar-benar terlihat bahagia dengan kekuatan baru dari matanya. Ini pertama kalinya Fey melihat Refald sesenang itu. Seolah bukan Refald saja.
Buru-buru Refald memakai pakaiannya sendiri dan langsung menggendong Fey keluar ruangan sambil tertawa riang.
***
__ADS_1
Kembali ke pesta resepsi pernikahan Refald dan Fey. Apa yang dipikirkan Fey dan Refald memang benar, begitu semua orang menyadari bahwa Fey hilang di toilet. Beberapa keluarga besarnya langsung panik kerena tidak menemukan Fey dimana-mana. Hanya Leo saja yang santai sambil menikmati red winenya sementara beberapa orang dan seluruh pengawal Refald berlari kesana-kemari mencari keberadaan sepasang pengantin baru yang hilang entah kemana.
“Kenapa kau santai sekali, Leo? Kakak sepupumu dan istrinya hilang?” tanya saudara Leo yang lain.
“Kalian ini seperti tidak tahu Refald saja, tidak perlu panik begitu. Saat ini, mereka berdua pasti sedang menikmati malam pertama,” ujar Leo sambil meletakkan gelasnya yang kosong diatas meja. Cowok itu pun berlalu pergi meninggalkan pesta pernikahan kakaknya dan memilih keluar ruangan untuk mencari udara segar. “Tempat ini benar-benar membuatku stres, seandainya saja Shena mau menerima cintaku kemarin, pasti aku sudah datang ke tempat membosankan ini dengannya. Haishh, menyebalkan sekali! Berani sekali dia menolak orang setampan dan sekeren diriku!” Leo memukul dinding koridor dengan kuat saat berjalan kearah balkon.
Tiba-tiba dari kejauhan, Refald muncul sambil terbang menggendong Fey melompat masuk kedalam melewati Leo yang berdiri bengong melihat kedatangannya. Seolah sedang kesetanan, Refald terbang kesana kemari dengan cepat mengelilingi ruangan pesta resepsi pernikahannya sehingga membuat semua orang termasuk Byon, ayah Fey dan ayah Refald terbengong-bengong melihat aksi gila Refald saat berputar-putar diatas kepala semua para tamu undangan yang hadir dipesta ini.
“Ada apa dengan anak itu?” tanya Byon pada ayah Refald.
“Dia sedang kesurupan,” jawab ayah Refald seenaknya.
“Bukan, Refald sudah berhasil membobol gawang, Shiyuri! Makanya dia jadi sesenang itu,” tebak ayah Fey.
Ketiga pria tangguh saling pandang satu sama lain karena jawaban ayah Feylah yang paling masuk akal sampai membuat Refald jadi kongslet nggak jelas seperti itu. Mereka bertiga hanya manggut-manggut senang melihat tingkah gila Refald yang melayang-layang di udara bersama dengan istrinya.
“Kalau begitu, selamat untuk kalian berdua, sebentar lagi kalian akan mempunyai cucu. Aku harap si tengil Leo juga segera menemukan wanita pujaan hatinya sehingga bisa mengikuti jejak Refald.” Byon mengajak bersulang 2 orang lelaki yang berdiri dihadapannya. Mereka semuapun saling bersulang satu sama lain untuk merayakan hari bahagia ini.
“Biarkan Leo menyelesaikan pendidikannya, bukankah kau sudah punya calon untuknya, kau hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Ada banyak hal yang harus dilakukan Leo sebelum ia menjadi seorang suami dan seorang ayah. Sama seperti kau waktu itu!” ujar ayah Refald pada adik iparnya, Byon. Mereka bertiga tertawa ria mengenang masa muda mereka masing-masing.
Setelah puas membawa Fey terbang kesana kemari, Refaldpun melompat lagi keluar ruangan dan pergi kesebuah tempat di dunia lain. Sebuah dunia, dimana ada banyak sekali hamparan padang bunga berwarna warni yang sangat luas dan indah. Bunga-bunga tersebut terlihat menakjubkan bila dilihat dari atas. Refald menurunkan istrinya tepat di atas tebing agar bisa menyaksikan keindahan hamparan bunga-bunga didepannya.
“Wauuu, sugoi! Daebak. Tempat apa ini, Suamiku? Indah sekali!” Fey langsung kagum melihat banyaknya bunga-bunga berwarna-warni bermekaran di dihadapannya. “Bawa aku kesana, aku ingin sekali memetik bunga-bunga itu,” seru Fey sambil tertawa senang.
“Tunggu, Honey. Perhatikan ini baik-baik! Kau harus baca setiap kata yang aku lukiskan dihamparan bunga itu!” Refald merentangkan kedua tangannya dan mulai membuat tulisan dihamparan bunga tersebut menjadi sebuah rangakain kalimat yang mengharukan sama seperti saat ia membuat tuisan di atas langit ketika ia menikah dengan Fey didunia lain waktu itu.
Kali ini, Refald menuliskan kalimat lain lagi tapi tidak dilangit-langit, melainkan dihamparan bunga-bunga seolah membentuk tulisan Crop Circle dengan menggunakan kekuatan barunya.
“Naiklah kepunggungku, Honey. Bacalah tulisan itu dari atas.” Refald jongkok di depan Fey dan istrinya itu langsung naik kepunggungnya.
Tak bisa dijelaskan betapa terkejutnya Fey setelah membaca tulisan yang dibuat Refald diatas hamparan bunga yang entah berapa puluh hektar luasnya sehingga bisa menjadi sebuah crop circle puisi sebagus dan seindah ini.
Kau dan aku saling mencintai
Aku akan menjelaskan pada dunia, seperti apa cinta kita
Tanpamu ... aku hidup seolah jantungku tidak berdetak
Bila kita berpisah satu sama lain, maka kita akan mati karena tak dapat bernapas
Di jalan cinta ini, begitu banyak sungai yang sudah dilalui
Bahkan di tengah-tengah berjuta badai yang menghantam, kita bisa melaluinya bersama entah bagaimana caranya
Ada banyak kekuatan di dalam hati
Kita tetap berjalan dari ombak lautan menuju tepian pantai
Dengan kekuatan cinta yang kita miliki
Kini saatnya sudah datang
Aku bisa melihat seperti apa cinta kita setelah kita bersama
Karena kita saling jatuh cinta
Itulah yang tertulis di takdir hidup kita
Cinta kita berdua abadi selamanya dalam ikatan suci dihari pernikahan kita
Itulah tulisan puisi cropcirkle yang dibentuk Refald dengan menggunakan kekuatan baru dari matanya. Saking bahagianya, Fey sampai menetesakan air mata. Ia sama sekali tidak menyangka, Refald bisa seromantis ini padanya. Fey bahkan tidak tahu lagi harus berkata apa. Menjadi istri seorang Refald adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidup Fey.
Gadis itu hanya bisa memeluk leher suaminya dengan erat sambil berkata, “Aku ... mencintaimu, selamanya.”
BERSAMBUNG
***
__ADS_1
aku gak pandai bikin adegan ++ . yang sudah menikah pasti tahu sendirilah. Yang belum menikah, silahkan berimajinasi sendiri. hehe .. love you all ...