
Hatiku bergetar dan jantungku berdetak sangat kencang ketika aku berdiri sejajar dengan Refald. Aku mengepalkan kedua tanganku yang terasa dingin untuk menghilangkan rasa gugupku. Aku tidak lagi menoleh pada Refald karena ia sendiri tidak mau melihatku. Sudah kuputuskan untuk melakukan apa yang juga Refald lakukan padaku. Bersikap cuek, dan diam tanpa bicara. Pandangan mata, hanya lurus ke depan.
Aku juga harus bisa melakukan semua itu. batinku.
Pintu ruangan mulai terbuka dan kami pun berjalan bersama. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku lihat di depan mataku. Ini adalah pesta termegah yang pernah aku lihat disepanjang hidupku, sampai aku tidak bisa menggambarkan dengan detail seperti apa dekorasi ruangan ini yang tidak mungkin bisa di dekor oleh tangan manusia biasa.
Ada banyak sekali orang bertubuh manusia hadir di sepanjang sisi kanan dan kiri kami yang sedang berjalan di atas karpet berlapiskan emas. Tidak ada pak Po, tidak ada mbak Kun. Mereka semua memakai pakaian pesta bergaya modern yang sesuai dengan seperti yang aku dan Refald kenakan saat ini. Dan wajah mereka? Mereka semua terlihat glowing, tampan dan cantik, tidak ada yang jelek sama sekali.
Benar-benar amazing pesta pernikahan ghaib ini. Aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Terlalu banyak kata pujian yang ingin aku ucapkan tapi aku tidak bisa mengeluarkannya.
Diujung karpet berlapis emas ini, aku melihat kakek Refald sudah berdiri di singgasananya dan mulai melangkahkan kakinya turun menyambut kedatanganku dan Refald.
“Ini, adalah ritual terakhir, sebelum kalian benar-benar resmi menjadi pasangan suami istri di dunia lain ini,” terang Kakek Refald sambil mengamati kami secara bergantian saat kami sudah berdiri dihadapannya. “Refald, kau sudah boleh melihat dan bicara pada pengantinmu.”
Deg!
Aku tersentak mendengar kalimat terkahir yang diucapkan kakek Refald pada cucunya. Apa maksudnya Refald sudah boleh bicara padaku? Apa sebelumnya ia tidak boleh bicara? Itukah alasannya kenapa Refald selalu diam dan tidak mau bicara padaku bahkan tidak mau melihatku sejak dimulainya ritual ini? batinku.
Aku menoleh pada Refald yang juga langsung menyambutku dengan senyuman mautnya. Dia terus menatapku dengan tatapan yang sama sekali tidak aku mengerti.
Refald masih diam dan semua orang yang ada di sini juga hening. Entah kenapa tatapan sendu Refald dan senyumannya yang kurindukan membuatku merasa bahwa Refald benar-benar sangat tampan. Dia memang luar biasa tampan, tapi hari ini, dia jauh lebih tampan dan juga ... mempesona.
“Cium! Cium! Cium!” teriak semua orang tiba-tiba. Dan hal itu membuatku semakin gugup apalagi tatapan mata Refald tidak pernah berpaling dariku.
“Kau tidak ingin bicara dengan pengantinmu? Apa kita langsung saja?” tanya Kakek pada Refald.
Hening, tidak ada suara, tapi Refald masih saja menatapku.
__ADS_1
“Fey." Akhirnya Refald membuka suaranya. "Lafeysionara.” Entah kenapa suara Refald terdengar sangat merdu ditelingaku. Aku bahkan serasa meleleh mendengar suaranya saat memanggil namaku. “Menikahlah denganku, kita berdua akan menjadi satu. Meski hanya pernikahan di dunia lain, tapi aku akan menjadikanmu satu dalam jiwaku. Sampai pernikahan kita di dunia nyata juga diresmikan. Tidak ada yang bisa kujanjikan padamu selain kebahagiaan. Dengan segenap hati dan jiwaku, Aku ... Andi Refald Dilagara, memintamu menjadi bagian dihidupku sebagai istriku untuk selamanya.” Kata-kata Refald begitu dalam dan tatapan matanya semakin membuatku terharu.
Aku akui, aku tidak begitu paham maksud dibalik ucapan Refald. Tapi, situasi ini benar-benar membuat jantungku berdetak sangat kencang. Mulutku, bahkan sampai terkunci rapat.
“Jawablah Fey,” pinta kakek Refald.
Aku masih gugup, haruskah aku menjawab, iya? Atau kata-kata yang lainnya? Aku tidak tahu, aku hanya menatap wajah Refald yang masih setia menunggu jawaban dariku.
Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini. Namun, dengan cinta yang kumiliki terhadap Refald, tidak akan ada kata lain, selain kata ‘iya’.
Perlahan, aku melangkahkan kakiku mendekati Refald dan menengadah menatapnya. Aku yakin, Refald sekarang bertambah lebih tinggi dariku. Sambil berjinjit, aku mencoba mencium bibir orang yang kini menjadi suamiku di dunia lain ini sebagai ganti jawaban yang aku berikan padanya ... bahwa aku juga bersedia menjadi istrinya, karena aku ...sangat sangat mencintai Refaldku.
Refald menyambut mesra ciuman dariku dan kami berdua memejamkan mata satu sama lain untuk menikmati momen sakral ini.
Tepuk tangan dan suara riuh ricuh, terdengar menggema di seluruh ruangan. Hanya saja, tidak ada hantu yang melayang, karena semua tamu undangan yang terdiri dari para dedemit dan makhluk astral lainnya sedang bergaya layaknya manusia biasa. Aku bahkan melihat mbak Kun memakai gaun yang indah sekali. Dia duduk di kursi paling depan bersama dengan seseorang yang tidak asing lagi bagiku. Sepertinya aku kenal dengan sosok laki-laki yang memakai setelan jaz warna hitam. Laki-laki itu adalah ... pak Po? Aku yakin sekali, dia pak Po.
“Fey, Refald, makanlah buah Celing ini,” ucap kakek sehingga semua kembali tenang. “Dengan memakan buah ini, maka pernikahan ghaib yang kalian lakukan telah selesai dan kalian berdua, resmi menjadi sepasang suami istri?” kakek memberiku satu buah berwarna merah menyala terang berukuran sebiji kelereng. Refald pun juga mendapatkan buah yang sama sepertiku.
“Dengarkan aku baik-baik,” ujar kakek Refald lagi, dan kami pun siap mendengarkannya. “Pernikahan ghaib yang kalian lakukan ini, hanya ada di dunia yang tak akan bisa dilihat oleh manusia lainnya. Di dunia nyata kalian, status kalian masih sama seperti sebelumnya. Tidak terikat oleh ikatan apapun. Kalian masih bertunangan dan baru benar-benar menjadi suami istri di dunia nyata jika sudah diresmikan sesuai dengan peraturan yang ada di sana.
Sedangkan di sini, peraturannya berbeda, jika di dunia nyata kalian harus menikah sah secara negara dan agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Hal itu tidak berlaku di dunia lain ini, pernikahan di dunia ini, tidak terikat dengan aturan itu, tak peduli apapun agamamu dan darimana negara asalmu, begitu buah celing itu kalian makan, maka secara resmi, kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri di dunia lain ini.
Semua makhluk astral di tempat ini pun juga menjadi saksi pernikahan ghaib kalian. Apa kalian mengerti maksudku?” Kakek Refald memberikan penjelasan panjang lebar dan rumit. Tapi, aku bisa mengerti maksud ucapannya.
Refald dan aku saling pandang dan kami pun mengangguk tanda kami mengerti.
“Sekarang makanlah,” perintah kakek Refald.
__ADS_1
Pak Po berjalan maju dan berdiri di belakang Refald yang sedang berdiri menghadapku, sedangkan mbak Kun, juga berjalan maju dan berdiri dibelakangku sambil menghadapkan tubuhku di depan Refald. Jadi, kami berdua saling berhadapan agar memakan buah yang bernama celing itu bersama-sama.
Yang menjadi pertanyaanku adalah, kenapa pak Po berdiri di belakang Refald dan mbak Kun berdiri dibelakangku. Mereka sepertinya sedang bersiap-siap melakukan sesuatu yang tidak aku tahu, tapi mungkin yang lainnya sudah tahu.
Refald mengaitkan lengannya dilenganku dan kamipun memakan buah celing itu bersamaan dengan kedua tangan saling terkait satu sama lain. Aku tidak menyangka, buah celing berbentuk mungil ini rasanya begitu enak ketika dimakan dan membuatku ketagihan. Sayangnya, setelah buah itu masuk ke dalam perutku, mataku jadi berkunang-kunang dan aku pun pingsan seketika. Aku ... tiba-tiba saja tidak sadarkan diri.
BERSAMBUNG
***
Happy New Year ... semoga di tahun baru 2021 ini menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua ....
Maafkan jika dunai haluku ini berlebihan ya ... love you all
mudah mudahan suka dengan visualnya ya....
visual mbak Kun yang cantik banget ...
visual pak Po yang cakep banget ...
__ADS_1