
Mata pak Po tak bisa berhenti memandang paku hitam berukuran 7 cm beserta palu yang ada digenggaman tangan Fey. Makhluk itu punya firasat buruk mengenai apa yang sebentar lagi dilakukan istri pangerannya itu. Pak po beralih menatap Refald berharap apa yang ia pikirkan itu salah, tapi Refald hanya membalas tatapannya tanpa ekspresi sehingga pak Po pun jadi semakin bingung.
“Putri, apa itu?” tanya Pak Po terkejut sekaligus ngeri. Semoga apa yang dipikirkan pak Po salah besar.
“Ini adalah hadiahnmu!” jawab Fey santai.
“Maksud saya ... untuk apa paku itu?”
“Untuk memaku kepalamulah!” ujar Fey sambil memukulkan palu pada paku yang ada digenggaman tangannya sehingga terdengar bunyi yang menakutkan telinga.
“Apa?” mata pak Po melotot seolah ingin melompat keluar.
“Putri, saya bukan mbak Sun atau mbak Kun? Kenapa anda ingin memaku kepala saya?”
Fey berhenti memukulkan palunya pada paku tersebut sambil mengambil napas dalam-dalam lalu membuang napas itu pelan-pelan.
“Pak Po ... apa yang kau inginkan setelah pernikahan ini?” tanya Fey berubah serius.
“Tentu saja kami berdua akan hidup bahagia, Putri,” jawab pak Po sambil melirik istrinya.
“Jangan menjawabku sebagai hantu, pak Po. Jawab sebagai manusia. Apa yang diinginkan manusia setelah menikah dengan orang yang dicintai? Tentu saja sebagai pelengkap kebahagiaan pasangan suami istri pasti.”
Meski awalnya tidak tahu kemana arah pertanyaan yang diajukan Fey saat ini, pak Po pun mulai mengerti apa maksud dari pertanyaan tersebut.
“Malam pertama? Hubungan suami istri?” tebak pak Po.
“Kau ini mesum sekali?” geram Fey. Dasar dedemit mesum! Batin Fey sambil menatap tajam pak Po.
“Lah, kan tujuannya orang menikah adalah untuk itu kan ... itu ....” Pak Po melirik istrinya yang wajahnya sudah jadi merah semerah semangka.
“Kau tidak bisa melakukan malam pertama dengan istrimu meski kalian berdua sudah menikah. Aku rasa, kau pun juga sudah tahu apa alasannya. Kalian berbeda dunia, tidak mungkin bisa kau bersenggama dengan istrimu?” tandas Fey langsung tanpa basa basi.
“Hah? Tapi Di bisa menyentuhku, Putri.”
“Pak Po, apa kau lupa? Kau bukan manusia? Kau tidak punya nafsu birahi seperti yang dimiliki pangeranmu? Sedangkan istrimu, Di ... pasti butuh nafkah batin darimu? Tapi kau tidak bisa mememenuhi kewajibanmu jika kau tetap menjadi hantu. Kau paham maksudku?”
“Tunggu, Honey. Kenapa aku dibawa-bawa ....” protes Refald ketika namanya disebut istrinya.
“Diam, Suamiku sayang. Aku sedang dalam mode kesal dengan dedemitmu ini! Dasar dedemit tak sadar diri dia!” Fey menatap tajam pak Po, sedangkan Refald sendiri mengamati semuanya dalam diam tapi penuh waspada dan siap siaga. Sebab, Refald merasakan ada sesuatu yang bakal terjadi disekitar mereka.
__ADS_1
“Rosalinda adalah manusia, pak Po.” Lanjut Fey lagi. “Mungkin setahun dua tahun, atau bahkan sampai puluhan tahun kedepan, kalian masih bisa bahagia walau tanpa berhubungan badan, itukah yang kalian inginkan? Tidakkah kalian berpikir untuk memiliki keturunan? Bagimu mungkin tidak masalah pak Po, tapi bagaimana dengan Rosalinda yang nantinya akan bertambah tua? Sementara kau masih awet muda karena kau mati diusia belia. Apa kau ingin dia mati dan menyia-nyiakan hidupnya yang berharga sekarang?”
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Fey padanya membuat pa Po tersentak dan tidak pernah menyangka bahwa pernikahannya akan menjadi serumit ini. Pernikahan beda agama, adat istiadat dan berbeda suku saja banyak sekali mengalami maslah dan tak sedikit akhirnya memilih berpisah, apalagi berbeda dunia?
“Maksud anda ... anda ingin menjadikan saya manusia? Tidak Putri, anda tidak bia melakukan ini pada saya? Bagaimana dengan Pangeran? Tugas saya adalah melindungi anda berdua. Jika saya menjadi manusia, maka saya tidak bisa melindungi anda dan Pangeran lagi. Tidak, saya tidak bisa melakukan itu.”
Untuk sesaat, semuanya terdiam termasuk Refald, cowok itu menyerahkan semua keputusan pada istrinya sendiri. Tak dapat dipungkiri, memang ada rasa sedih juga dalam hati Fey. Tapi keputusan yang ia ambil sudah final dan tidak bisa diubah lagi.
“Pak Po. Refald bukan anak kecil lagi yang akan selalu kau jaga disepanjang hidupnya. Dia dan aku sudah semakin kuat sekarang. Kami tidak butuh perlindungan lagi. Kau sudah mengawal Refald selama puluhan tahun dan bertahun-tahun bersamaku tanpa peduli dengan kehidupanmu sendiri. Kini, sesuai janji yang diberikan Refald padamu, kau berhak bahagia. Kau punya kesempatan kedua menjadi manusia dan hidup bahagia bersama dengan wanita yang kau cintai, memiliki keturunan dan bermain-main dengana mereka layaknya manusia pada umumnya. Bukankah itu yang selama ini kau inginkan?”
“Tapi, Putri ... Pangeran ....”
“Keputusanku sudah final, pak Po. Aku yang mengambil alih tugasmu. Akulah yang akan melindungi suamiku, Refald. Jangan cemaskan dia lagi. Kau sudah punya istri sekarang. Kau tidak boleh bersikap egois. Pikirkan masa depan istrimu juga. Kau hanya punya dua pilihan, Di yang mengakhiri hidupnya demi bisa bersamamu, atau kau yang menjadi manusia agar kalian bisa mengarungi bahtera rumah tangga yang bahagia selamanya. Pilih salah satu!” tandas Fey.
Tentu saja pak Po tidak bisa langsung memberikan jawaban apa yang akan dia pilih. Dua pilihan itu bagai buah simalakama bagi pak Po. Sangat sulit dan rumit.
Sementara Rosalinda sendiri juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membantu suaminya. Semua keputusan, ia serahkan sepenuhnya pada Pak Po. Seandainya suaminya menginginkan ia mati, maka Di sama sekali tidak kebaratan melakukannya. Dengan senang hati, istri pak Po itu bersedia mati untuknya. Sungguh kisah cinta yang ironi sekali.
“Aku bersedia mati untukmu suamiku, tanpa ragu dan aku tidak akan menyesal. Asal bisa bersamamu selamanya, aku rela melakukan apa saja.” Rosalinda berharap dengan kata-kata yang ia ucapkan barusan, pak Po bisa mengambil keputusan yang tepat.
Bukannya mendapat pencerahan, pak Po malah semakin galau akut. Mati diusia muda, bukanlah solusi terbaik. Apalagi pak Po sendiri sudah pernah mengalaminya. Ada banyak penyesalan yang pak Po alami setelah mati. Oleh sebab itu, dia tidak ingin istrinya itu mengalami hal sama seperti yang dialaminya waktu itu. Sedangkan pilihan yang kedua, lebih menyedihkan lagi karena ia harus menjadi manusia. Jika begitu, maka ia sudah tak bisa mengawal dan melindungi Refald serta Fey lagi.
“Kau mungkin bukan hantu lagi, pak Po. Tapi kau masih bisa menjadi bodyguard kami. Apalagi yang kau tunggu?” ujar Refald seketika seolah tahu kegalauan yang sedang dirasakan pak Po.
“Tentu saja, akan lebih menyenangkan bagimu jika kau menjadi manusia kembali. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini.” Refald menatap pak Po dengan senyuman khasnya.
Suami Fey ini sama sekali tidak keberatan jika salah satu pasukan dedemit kesayangannya berubah menjadi manusia kembali. Kemungkinan besar, waktu kebersamaan mereka juga pasti bakal berkurang karena pak Po akan sibuk di dunianya sendiri. agak aneh memang, tapi keputusan yang diambil Fey adalah pilihan yang tepat sebagai hadiah pernikahan pak Po atas apa yang sudah dedemit itu lakukan selama ini.
“Baiklah, sudah diputuskan, kau akan menjadi manusia lagi, pak Po. Bersiaplah, aku akan memaku kepalamu!” Fey kembali mencairkan suasana yang tadinya haru, berubah menjadi tegang. Gadis itu mulai memukul-mukul paku dengan palunya sehingga pak Po jadi merasa terintimidasi dengann bunyi ketukan palu tersebut.
“Tunggu, Putri? Apa rasanya sakit?” tanya pak Po gugup.
“Mana aku tahu? Ini juga pertama kalinya bagiku memaku kepala hantu,” ujar Fey menakut-nakuti pak Po. Padahal, Fey sendiri juga grogi. Ia melirik suaminya yang langsung berpindah tempat dengan cepat ke belakang pak Po.
“Tunggu, Honey.” Refald beralih menatap istri pak Po. "Nyonya Di ... tutup matamu dan jangan dibuka sampai ritual ini selesai. Apapun yang terjadi, jika kau mendengar suara keributan atau kebisingan disekitarmu. Jangan pernah sekalipun membuka matamu sebelum mendengar aba-aba dariku. Begitu juga denganmu pak Po, jangan buka matamu jika aku belum menyuruh membukanya. Kalian berdua mengerti?” terang Refald.
“Mengerti, Pangeran,” ujar pak Po dan Di bersamaan.
“Pangeranku ... sepertinya ... ada yang mengawasi kita.” Fey merasakan bulu kuduknya berdiri.
__ADS_1
Fey mulai melihat sekeliling dan benar saja, ada begitu banyak makhluk astral dari berbagai jenis mulai dari sundelbolong, kuntilanak, pocong, gerandong, genderuwo, jin iprit dan banyak jenis makhluk tak kasat mata lainnya datang berkumpul disekitar mereka. Tentu saja wajah-wajah mereka sangat menakutkan dan menyeramkan. Sangat berbanding terbalik dengan para pasukan Refald yang berwajah rupawan meski mereka semua berasal dari golongan sama, yaitu sama-sama makhluk astral tak kasat mata.
“Mereka berasal dari klan lain. Sepertinya, ritual ini menarik perhatian mereka, Honey. Makhluk-makhluk itu menjadi sensitif dengan ritual yang akan kau lakukan sebentar lagi. Bagaimanapun juga, pak Po adalah salah satu dari mereka meski mereka berbeda klan. Mereka mungkin tidak terima dan akan menggagalkan upaya yang kau lakukan agar pak Po tak berubah jadi manusia. Namun, sebagian dari mereka juga ada yang menginginkan keuatan pak Po jika dia berubah menjadi manusia biasa.” Mata Refald menatap sekeliling penuh waspada.
“Lalu bagaimana?” Fey terlihat takut dan juga cemas.
Sedangkan pak Po dan Di sudah memejamkan mata daritadi. Mereka berdua pura-pura tidak mendengar pembicaraan Refald dan Fey.
“Jangan takut, Honey. Itulah gunanya aku disini. Tidak akan aku biarkan siapapun menyakitmu. Lakukan saja ritualnya dan jangan pedulikan apapun yang ada disekitarmu. Kau aman bersamaku.” Refald mengedipkan salah satu matanya pada Fey sambil tersenyum senang.
Sepertinya suami Fey itu sangat menikmati suasana menegangkan sekaligus menyeramkan ini. Refald langsung merentangkan kedua tangannya dan membuat sebuah penghalang untuk melindungi Fey dan yang lainnya dari serangan makhluk astral yang datang tak diundang selain pasukan Refald sendiri tentunya. Penghalang itu bertujuan agar para makhluk ghaib yang entah datangnya darimana itu tidak mengganggu proses berlangsungnya ritual pak Po menjadi manusia.
Tak menuntut kemugkinan, para dedemit diluar pasukan Refald itu akan memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan kekuatan lebih sebagai pengganti hilangnya kekuatan pak Po ketika ia berubah wujud menjadi manusia biasa. Tentu saja Refald tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia akan melindungi Fey dan semua pasukan dedemitnya yang ada disini.
“Kalian semua!” seru Refald pada seluruh pasukan dedemitnya. “Tetaplah siap siaga dan jangan coba-coba mendekati penghalang yang sudah aku buat ini. Tutup mata kalian semua dan jangan dengarkan suara apapun sampai menunggu aba-aba dariku. Jika kalian melanggar, maka kalian akan lenyap dengan sendirinya. Apa semua mengerti?” seru Refald dengan lantang.
“Mengerti, Pangeran!” jawab semua pasukan dedemit Refald secara serentak.
“Kau bisa memulainya sekarang Honey,” ucap Refald dengan lembut pada istrinya.
Sebisa mungkin, Fey menghilangkan rasa grogi, takut dan juga gugupnya. Gadis itu mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya untuk menenangkan hati dan pikirannya.
“Fokus Fey, Fokuslah! Kau pasti bisa!” guman Fey pada dirinya sendiri.
Rasa tegang, terus saja menyelimutinya, tapi Fey harus bisa dan berusaha menguasai diri dan mengontrol emosi. Jangan sampai melakukan kesalahan meski hal semacam ini baru pertama kali terjadi dalam hidupnya.
Pelan tapi pasti, Fey mulai menjulurkan tangan kirinya dan menancapkan paku itu diatas kepala pak Po. Tangan kanannya sedikit gemetar karena ini adalah pengalaman mistis pertama yang dilakukan Fey. Ia tidak tahu, apakah ritual ini berhasil atau tidak.
Refald ikut mengamati istrinya dalam diam. Ia percaya, Fey pasti bisa melakukannya. “Kau bisa, Honey. Jangan ragu, karena kau adalah ... istriku. Permaisuri dari raja Mirza Banta. Tidak ada yang perlu ditakuti. Kau adalah seorang wanita keturunan raja yang mewarisi kekuatan kakeknya. Kau adalah wanita istimewa. Seorang wanita ... yang amat sangat aku sayangi. Aku ... mencintaimu Honey,” ujar Refald menyemangati istrinya dengan kata-kata indahnya yang sukses membuat Fey langsung bersemangat 45.
Dengan kekuatan cinta yang keluar dari mulut manis suaminya, Fey seolah mendapat kekuatan cinta yang tak terkira. Tanpa rasa ragu lagi dihatinya, paku sepanjang 7 cm ia tancapkan tepat ditengah-tengah kepala pak Po. Fey memejamkan matanya saat menancapkan pakunya, dan kembali membuka matanya setelah yakin tak ada reaksi apapun dari pak Po.
“Lanjutkan, Honey. Palu pakunya tiga kali!” seru Refald dan Feypun melakukan seperti apa yang diberitahukan Refald padanya.
BERSAMBUNG
***
PERINGATAN: Ini hanya cerita fiksi fantasi terinspirasi dari film si ratu horor Susana. Tahu kan judul filmnya apa. Bedanya yang dipaku bukan mbak Sun, atau mbak Kun, tetapi pak Po. Kok aku merasa ngeri sendiri ya ... pokoknya ini cuma halu ... (no bully). Kalaupun jika ada kesamaan cerita yang terjadi di dunia nyata, berarti itu hanya kebetulan. Atut ah ... kira-kira apa yang terjadi selanjutnya ... tunggu di episode berikutnya ya ...yang takut, jangan baca malam-malam. Hehe ...
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya ... love you all ...