
Mata Fey terus menatap ke bawah dan tidak berani melihat wajah suaminya yang mengurungnya dalam rentangan kedua tangan Refald disebuah batang pohon besar. Entah berapa meter tinggi pohon ini, yang jelas, jika terjatuh dari atas sini sudah dipastikan nyawa Fey bakal melayang saat itu juga. Gadis itu benar-benar tak bisa berkutik sekarang. Inilah cara yang dimaksud Refald untuk menjinakkan istrinya karena sudah berani mengeluarkan kata-kata mutiara andalan para istri jika para suami tidak memberikan uang yang sang istri inginkan.
Untuk beberapa saat, Refald memang membiarkan Fey berkutat dengan pikirannya walau dalam hati, ia geli sekali melihat istri cantiknya itu tak berani menatapnya. Setidaknya, dengan begini, Refald bisa beromantis ria lagi dengan Fey setelah beberapa waktu lalu dipusingkan dengan tingkah konyol pak Po dan juga urusan menegangkan lainnya.
“Kenapa diam saja, Honey? Bicaralah!” Refald mendekatkan bibirnya di bibir Fey seolah ingin menciumnya, tapi tidak ia lakukan.
Refald sengaja ingin bermain-main dengan istri tercintanya ini. Sebab, ia sangat suka mendengar detak jantung Fey yang berdebar kencang saat ia mendekatinya seperti ini.
Hembusan napas Refald mulai terasa dileher Fey sehingga membuat gadis itu merasa geli sendiri. Tak dapat dipungkiri, Fey memang menyukai aroma tubuh Refald dari dulu hingga sekarang, tapi kali ini ia tak bisa menikamti aroma itu karena rasa takutnya berada diatas ketinggian sangatlah besar. Hanya tinggal menunggu waktu saja kapan ia jatuh dari sini.
“Bisa ... kau menjauh dariku? Aku kesulitan bernapas,” ujar Fey gugup dan masih belum berani menatap wajah suaminya.
“Bernapaslah, aku bahkan belum menciummu. Kenapa kau sangat gugup, Honey. Jantungmu ... berdetak dengan sangat kencang. Padahal, Kita sudah sering melakukan lebih dari ini.” Mata Refald tak pernah berhenti menatap wajah istrinya. Ia seolah melahap buas ekspresi Fey yang jadi gugup karena kedekatan mereka yang sangat dekat dan tepat berada diatas ketinggian. Lengah sedikit saja, keduanya bisa saja langsung jatuh.
“Kenapa kau seperti ini, Refald? Tadi itu ... aku cuma bercanda, bisa kita turun ke bawah? Aku sangat tidak nyaman.” Fey melihat pemandangan disekitarnya yang jadi berubah mengerikan, padahal seharusnya alam disekitar sini sangatlah indah. Namun, Kemarahan Refald sepertinya membuat keindahan ini jadi terlihat menyeramkan.
Refald menurunkan rentangan salah satu tangannya dan membelai lembut pipi istrinya. “Honey, sudah lama kita tidak bertengger diatas pohon seperti ini sejak kita menikah. Aku merindukan masa-masa indah semasa kita masih berpacaran dulu. Seperti ini ....” Refald mencium mesra bibir istrinya, lembut dan penuh cinta.
Rasa gugup yang tadi dialami Fey, mendadak luntur seketika kerena mendadak dicium oleh vampir Refald. Ciuman suaminya kali ini benar-benar memabukkan dan pastinya membuat hati siapapun meleleh bila dicium semesra itu ditempat yang tak biasa pula.
__ADS_1
“Aku juga merindukan masa indah itu Pangeran Refald, tapi sekarang ... kekuatanmu sangat terbatas. Jangan gunakan terlalu berlebihan. Kau harus cepat pulih agar kita bisa kembali pulang kerumah. Dan sebelum itu ... kita bantu pak Po disini agar ia bisa menjalani kehidupan layaknya manusia normal lainnya. Setidaknya, jangan sampai pak Po kesulitan finansial. Itulah kenapa aku butuh banyak uangmu. Kali ini ... biarkan aku menjadi matre dan membuatmu bangkrut. Kau bilang kau bisa mencari lagi jika uangmu kuhabiskan.”
Untuk sesaat, Refald sempat tersenyum. “Semua itu sudah kusiapkan, Honey.” Setelah bicara seperti itu, ekspresi Refald jadi berubah serius seolah sedang memikirkan sesuatu. “Kau jangan khawatir. Karena semua yang kau cemaskan itu ... tidak akan terjadi.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?” Fey merasa kata-kata Refald ambigu sekali.
“Aku sudah membaut cetak biru sebuah bangunan perusahaan yang nantinya akan dikelola oleh seseorang untuk kelangsungan hidup semua penduduk yang ada di desa ini. Sayangnya, orang itu ... bukanlah pak Po.” Kali ini Refaldlah yang menunduk sehingga membuat Fey semakin bertambah bingung. Refald langsung menggendong tubuh Fey dan melayang turun ke bawah dengan pelan.
Begitu Refald menginjakkan kaki di tanah, ia tak langsung menurunkan Fey dan malah mendudukkannya di atas cap mobil canvasanya sambil melingkarkan kedua tangan Refald dipinggang istrinya. Refald menatap tajam wajah seoalh ada hal genting yang harus ia sampaikan..
“Honey ... kau harus bersiap mulai sekarang. Kehidupan ini hanyalah sementara, begitu juga dengan takdir yang digariskan untuk pak Po dan istrinya. Meski ini terdengar tidak adil, tapi hidup mereka tak semudah seeprti yang kita harapkan. Akan tetapi, mereka msih bisa bahagia apapun kondisinya.” Refald mencoba menjelaskan pada Fey apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Tidak bisakah kau mencegah hal itu terjadi? Pasti ada cara untuk mencegahnya. Pak Po baru saja menikmati indahnya kehidpan berumah tangga? Kenapa harus berakhir begitu cepat? Bagaimana dengan, Di? Apa yang akan terjadi padanya? Tidak bisakah kau membuat pak Po bersumpah untuk tidak melakukannya? Bagaiman jika suatu hari Di hamil? Tidak, Refald! Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Di tidak boleh membesarkan anaknya sendirian. Pak Po harus bersamanya.” mata Fey terus berkaca-kaca membayangkan gambaran yang akan terjadi tentang pak Po.
“Honey, kau tahu sendiri, aku tidak bisa mengubah takdir. Sampai detik ini, yang bisa kulakukan hanyalah menghadapi takdir itu. Aku tidak bisa mengubah, ataupun mencegahnya. Kau harus bisa menerima semua ini, karena itu adalah takdir yang sudah digariskan. Kau juga tak bisa menentang takdir itu.” Refald mengusap lembut sisa bulir air mata Fey yang amsihmengalir deras membasahi pipinya.
Apa yang dikatakan Refald memang benar. Seperti apa yang terjadi sebelum-sebelumnya, kejadian menydihkan yang menimpa mereka selama ini adalah takdir yang harus Fey dan Refald terima meski bukan mereka sendiri yang mengalami kepediahan itu.
“Berapa lama waktu yang dimiliki, pak Po?”
__ADS_1
“Seminggu, atau bisa juga lebih cepat dari itu, tergantung apa yang akan terjadi malam ini.”
“Tidak bisakah kau membunuh orang itu? Orang yang akan menjadi bencana untuk kita? Kau bisa membunuhnya karena kau sudah tahu apa yang akan dia lakukan?” tandas Fey karena Refald tadi sudah menjelaskan apa yang akan terjadi malam ini.
“Mana ada seorang istri meminta suaminya membunuh orang?” goda Refald.
“Aku sedang tidak bercanda, Refald.”
“Aku bukan mafia atau gengster seperti Leo dan paman Byon, Honey. Aku tidak bisa membunuh orang sembarangan apalagi mereka tidak ada kaitannya dengan kita. Itu melanggar peraturan. Pak Po pun tahu itu, karena dia lah saksi saat almarhum kekekku membuat peraturan tentang kekuatan yang aku miliki sekarang.
“Lagipula, saat itu terjadi, para iblis jahat yang mengincarmu akan datang kemari. Aku tidak bisa meninggalkanmu hanya untuk membunuh orang tak berguna itu. Kau lebih penting bagiku, dan juga bagi pak Po ... tidakkah kau merasa ia lebih menyayangimu dan menuruti semua perintahmu daripada aku yang lebih lama bersamanya? Meski kau berusaha mencegahnya, pak Po tetap akan melakukannya. Dia melakukannya untuk melindungi kita. Mungkin dia akan mengalami kesulitan karena kesetiaannya pada kita, tapi percayalah ... Di dan pak Po tetap bisa berakhir bahagia lebih dari yang kau bayangkan.” Ada guratan senyum di wajah Refald seolah ia melihat sesuatu membahagiakan seperti yang baru saja ia katakan.
Fey diam terpaku mencerna penjelasan suaminya. Meski ia sangat bersedih, tapi Refald sudah menjanjikan pak Po dan Di bahgia walau bagaimanapun keadaannya. Gadis itu tak bisa berkata apa-apa lagi kalau Refald sudah memutuskan begitu.
BERSAMBUNG
***
Udah dulu part ngakaknya. Sekarang sudah mulai masuk fantasi romantis dan juga .... sedikit horor. Ada yang bisa nebak apa yang bakal terjadi selanjutnya? Hehe ....
__ADS_1