Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 275 Aku, Seorang Putra Raja


__ADS_3

Hari ini, Rey dan teman-temanya bersiap berangkat ke hutan yang sudah mereka tentukan untuk melakukan survey. Kebetulan, lokasinya tak jauh dari tempat tinggal Rey yang lokasinya memang tak jauh dari desa nenek buyut Rey sendiri. Semua teman-teman Rey yang terpilih sepakat berkumpul di rumah Rey. Bahkan, mereka memarkir semua mobil mereka di halaman rumah Rey.


“Kenapa ada banyak ceweknya?” tanya Rey agak keki karena ternyata teman-temanya ada yang membawa pasangannya dan pasangan teman Rey yang bernama Malco itu mengajak komplotannya juga. Ada sekitar lima orang cewek yang ikut Malco. Sepertinya para cewek-cewek itu sengaja ikut karena ingin lebih dekat dengan Rey.


“Cewekku maksa ikut, kalu aku nggak nurutin apa maunya, aku bakal diputus, gimana dong?” ujar Malco.


“Kau bisa cari cewek lain kalau kau putus dengan pacarmu, gampangkan? Buat apa mempertahankan wanita egois yang tidak mau menghargaimu. Memangnya kegiatan kita ini main-main apa?” Rey asal memberi saran tapi ngena cukup ngena juga dihati.


“Masalahnya aku cinta dia Rey, kau gampang aja bilang kayak gitu karena kau belum pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Tunggu aja sampai kau merasakan apa yang aku rasakan, kau pasti bakal lebih bucin dariku!”


“Huh, itu tidak akan pernah terjadi, tidak ada satupun cewek yang menarik disini!” ujar Rey dengan sombongnya dan ia mulai berjalan keluar pagar diikuti para cewek-cewek yang berjalan berkerumun dibelakangnya.


“Kau belum melihat si cantik dari goa hantu!” teriak teman Rey yang lain. Ia sempat mendengar obrolan Rey dan juga Malco.


“Kau bilang apa tadi? Goa hantu? Nama yang aneh,” ledek Rey. Ia menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Kevin.


“Ehm, dia sendiri yang meminta dipanggil seperti itu meski kami tidak mengerti apa alasannya. Nama panggilan dia sebenarnya kalau di sekolah sih Iran, tapi ia lebih suka dipanggil si cantik dari goa hantu. Kalau kau sudah bertemu dengannya, kau pasti akan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Lihat saja!” terang Kevin dan mulai berjalan mendahului Rey.


“Bagaimana kau bisa seyakin itu? Sudah kubilang, tidak ada satu wanitapun disini yang bisa menarik perhatianku. Memanganya kau dukun, apa?” Rey menertawai ucapan temannya.


“Rey, semua cowok di sekolah kita, jatuh cinta pada si cantik dari goa hantu itu. Sungguh, bahkan akupun juga menyukainya, tapi semua cowok yang nembak dia langsung ditolak mentah-mentah ... dia bilang sudah ada seseorang yang dia suka. Tidak ada yang tahu siapa orang yang dia maksud karena dia tak pernah memberitahu siapa orang itu dan seperti apa wajahnya,” terang Kevin yang terdengar seolah sedang patah hati.


“Benarkah? Aku jadi penasaran, cantik menurut kalian, belum tentu sama dengan cantik versiku!”


Rey masih saja tak percaya dengan apa yang dikatakan temannya ini. Sebab, selama sebulan di tempat ini banyak teman-temannya yang mengatakan bahwa si A cantik, si B juga cantik, si C tak kalah cantik, tapi bagi Rey mereka semua hanya biasa-biasa saja, tidak ada cantik-cantiknya. Jelas-jelas pendapat mereka tentang kecantikan seorang wanita sangat berbeda dengan pandangan Rey.


Beberapa wanita yang ada di belakang Rey langsung berbisik-bisik tentang wanita yang dibicarakan Kevin barusan. Dan tanpa sengaja, Rey mendengar pembicaraan mereka karena para cewek-cewek genit itu terus saja menempel dan mengikuti kemanapun Rey pergi.


“Apa kalian mengenal siapa wanita yang dimaksud Kevin, tadi?” tanya Rey jadi penasaran.


“Jangan dengarkan dia Rey,” ujar salah satu cewek yang paling tinggi diantara semua gadis-gadis yang ada disini. “Wanita yang dimaksud Kevin itu aneh. Ia suka menyendiri dan tidak terlalu banyak bicara, galak dan juga menyebalkan. Ia suka sekali menghajar orang. Sudah sebulan ia tidak masuk karena mengalami kecelakaan. Huh, aku rasa itu adalah karma karena gadis tengil itu suka sekali membuat onar,” cewek tinggi centil itu sengaja menjelek-jelekkan wanita yang dimaksud Kevin.


Sebenarnya, apa yang dikatakan gadis tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun, wanita yang mendapat julukan si cantik dari goa hantu itu punya alasan tersendiri kenapa ia harus bersikap seperti itu. Dan kini, si wanita dari goa hantu itupun sedang dalam masa pemulihan akibat aksi ekstrim yang dilakukannya. Karena itulah ia belum muncul di sekolah sejak kedatangan Rey pertama kali.


Rey sendiri memilih tak menanggapi apa yang dikatakan cewek tinggi bernama Anita itu dan malah pergi begitu saja menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam hutan.


Selama perjalanan, Rey menikmati semua pemandangan yang disuguhkan di tempat ini. Ia baru sadar, ternyata desa tempat tinggal kedua orang tua Rey sangatlah indah dan menakjubkan. Rey tak henti-hentinya mengabadikan semua panorama alam yang ia lewati dengan menggunakan kamera Nikon D810. Kamera ini menjadi salah satu kemera DSLR terbaik kerena dilengkapi dengan kualitas gambar D810 sehingga Rey bisa memotret pamandangan indah di depan matannya dalam format gambar kesukaan Rey agar terlihat nyata bila sudah dicetak.


“Wauw, kameramu bagus sekali?” ujar Kevin yang memerhatikannya sejak tadi.


“Ehm, adikku Yeon yang membelikannya khusus untukku karena aku suka sekali memotret,” jelas Rey sambil terus mengambil gambar semua hal yang ia lihat.


“Enaknya jadi anak Sultan,” ujar Kevin.

__ADS_1


“Siapa bilang aku anak Sultan? Aku ... seorang putra raja! Ingat itu baik-baik.” Rey menyeringai dan itu membuat Kevin semakin tidak mengerti dengan Rey.


“Kenapa aku merasa, bocah itu sangat mirip dengan gadis dari goa hantu itu, ya?” pikir Kevin, tapi ia langsung menepis pikiran itu jauh-jauh.


Perjalanan Rey dan teman-temannya ternyata tak bisa dibilang berjalan dengan mulus seperti apa yang ia harapkan. Para gadis-gadis manja itu selalu saja mengeluh ini dan itu sehingga Rey cs harus bolak balik menghentikan perjalanan. Belum lagi ada yang pingsan. Akhirnya teman-teman Rey dibuat repot sendiri oleh cewek-cewek manja itu.


“Oey, Rey. Bantuin, dong! Jangan berdiam diri gitu aja disitu!” teriak Malco mencoba menyadarkan Monica yang sudah pingsan untuk kesekian kalinya.


“Ogah! Siapa suruh kalian mengajak mereka ikut! Tanggung sendiri akibatnya! Huh, bikin repot saja! Kita tidak akan pernah selesai kalau seperti ini terus,” tolak Rey mentah-mentah dan malah asyik sibuk memotret sana-sini.


“Dasar egois!” gumam Malco, ia juga tidak bisa memaksa Rey untuk membantunya, sebab Rey sendiri sudah memperingatkannya untuk tidak mengajak wanita saat mereka melakukan survey bersama, tapi malco malah mengindahkan larangan temannya. Terpaksa kini ia dan beberapa teman pria lainnyalah yang mengurus para gadis-gadis manja ini.


“Bagaimana ini, Sayang. Apa yang harus kita lakukan?” Mita, pacar Malco mulai cemas sendiri melihat semua teman-temannya terkapar tak berdaya.


“Lain kali, jangan pernah ikut kegiatan kami lagi! Kalian ini benar-benar merepotkan, tahu nggak! Dan kau Mita! Kalau kau memaksa ikut lagi kegiatanku, maka sebaiknya kita putus!” bentak Malco dengan kesal. Untuk sesaat Malco membenarkan apa yang dikatakan Rey tadi.


Kalau putus, tinggal cari saja cewek lain yang bisa mengerti dan memahami dirinya. Bukan cewek manja yang hanya mementingkan dirinya sendiri.


“Loh, Coo ... kok gitu sih? Katanya kamu cinta sama aku, masa kamu mau mutusin aku cuma gara-gara masalah ini?” protes Mita karena tiba-tiba saja Malco berani berkata seperti itu padanya. Padahal, beberapa waktu lalu pacarnya yang bucin padanya merengek-rengek minta supaya tidak diputus bila keinginannya tidak dipenuhi Malco.


“Itu karena kamu nggak mau menghargai aku. Asal kamu tahu, kenapa aku nggak ngajak kamu? Karena kegiatan ini bukan acara pergi ke mall atau nonton bioskop. Medan disini berat dan hanya cowok yang bisa melakukan kegiatan seperti ini. Kalaupun ada ceweknya, mereka itu cewek-cewek tangguh! Nggak lemah kayak kamu dan teman-teman manja kamu itu!” Malco benar-benar emosi kali ini.


Rasa lelah dan perjalanan yang tak kunjung sampai ditambah harus direpotkan oleh para gadis-gadis manja ini membuat Malco sudah tidak bisa bersabar lagi, bodo amat dengan yang namanya cinta. Jika terus memaksakan diri melanjutkan perjalanan bersama mereka, maka sudah dipastikan acara survei hari ini tidak akan bisa terselesaikan dengan baik. Bahkan bisa saja, mereka harus bermalam dihutan ini.


Malco setuju saran dari Kevin dan ia sendiri yang mengajukan diri untuk kembali ke desa terlebih dulu bersama dengan para gadis-gadis manja ini demi kebaikan bersama. Sementara Rey dan beberapa temannya yang tersisa, melanjutkan perjalanan mereka menyurvei sungai untuk persiapan kegiatan susur sungai yang akan diadakan bulan depan.


***


Rey dan temannya-temannya memasuki kawasan pedalaman hutan yang lumayan lebat. Semua pohon-pohon yang ada di tempat ini berukuran besar dan tinggi menjulang sehingga tak banyak cahaya matahari yang menembus area tempat Rey cs berada.


“Hey gaes, kalian merasa nggak, sih? Kalau kita salah jalan? Kenapa suasananya aneh begini, ya?” tanya Kevin pada teman-temannya.


Rey mengamati keadaan sekitar, ia jadi teringat kata-kata ibunya semalam. “Haish, sial. Apa ini yang dimaksud, ibu? Sungguh ini memang hari yang berat dan melelahkan,” gumam Rey lirih.


“Kau mengatakan sesuatu, Rey?” tanya kevin yang berdiri tidak jauh dari tempat Rey berdiri.


“Tidak,” jawab Rey cepat, tapi matanya langsung terpaku pada suatu hal. “Gawat!” ujarnya penuh waspada ketika tahu apa yang ada di depan mata.


“Ada apa?” tanya Kevin saat melihat Rey bediri tegang dengan ekspresi yang tak bsia digambarkan. Ia pun menoleh ke arah mata Rey memandang dan betapa terkejutnya ia setelah tahu juga apa yang Kevin lihat. “Ha ... i-itu ... bukannya ... ha-harimau?” Kevin sangat gugup dan juga panik. Tubuhnya langsung gemetar ketakutan begitu juga dengan beberapa temannya yang lain. Sedangkan Rey, hanya bersikap waspada saja. sebab, ini bukan pertama kalinya ia dihadapkan dengan bahaya.


Rey memutar otak untuk mencari jalan keluar dari masalah ini. Harimau itu sudah melihat mereka dan hanya dalam hitngan detik binatang buas itu bisa saja menerkamnya tanpa ampun. Artinya, saat ini mereka semua yang ada disini sedang dalam bahaya besar.


Sial! Aku tidak bisa memanggil ayah jika ada teman-temanku disini. Sebaiknya, aku memisahkan diri dari mereka dulu baru memanggil ayahku, batin Rey. Dan sepertinya idenya cukup masuk akal untuk menjaga identitas ayahnya agar tidak diketahui oleh teman-temannya yang lain.

__ADS_1


“Hei kalian semua, dengarkan aku. Dalam hitungan ketiga, larilah ke arah kanan. Aku akan mengalihkan perhatian harimau itu agar mengejarku ke arah kiri, kalian paham?” usul Rey pada teman-temannya.


“Apa kau sudah gila, ha? Apa kau berlagak mau jadi superhero? Jangan berkata yang aneh-aneh. Kita lari bersama-sama.” Kevin menolak usulan Rey.


“Sudah kubilang, aku adalah seorang putra raja! Aku tahu apa yang harus aku lakukan! Lakukan saja apa yang aku katakan tadi dan jika kalian berhasil keluar dari sini, cepat cari bantuan. Meski aku hanya manusia biasa, tapi lariku cukup cepat dibandingkan dengan kalian semua. Kita akaan bertemu lagi, jangan khawatir.” Dalam keadaan seperti ini, Rey masih sempat-sempatnya tersenyum.


Kevin dan yang lainnya ragu dengan apa yang dikatakan Rey barusan. Mereka semua jadi terharu karena Rey rela mengorbankan dirinya demi keselamatan mereka semua. Padahal, bukan itu maksud Rey sebenarnya. Ia sengaja ingin memisahkan diri dari teman-temannya supaya bisa memanggil ayahnya untuk menyelamatakannya.


“Kau yakin dengan apa yang kau katakan? Bukankah akan lebih baik kalau kita terus bersama-sama?” usul Kevin, ia tidak ingin Rey mengorbankan diri.


“Jika kita tetap bersama-sama, kita semua akan mati sia-sia disini. Namun, jika berpencar, maka salah satu dari kita bisa segera meminta bantuan. Entah kalian atau akau dulu yang sampai di desa, kita harus segera mencari pertolongan. Percayalah, aku bisa menjaga diriku dengan baik.” Rey menatap serius wajah-wajah tegang seluruh teman-temannya untuk meyakinkan mereka bahwa Rey bisa mengatasi harimau itu.


Saat ini, memang tidak ada pilihan lain selain mengikuti usulan Rey. Meski berat, tapi apa yan dikatakan Rey memang benar. Berpencar adalah satu-satunya jalan agar mereka semua bisa selamat dari hutan ini.


“Jaga dirimu, baik-baik Rey. Kami pasti akan segera meminat bantuan untkmu, kau harus bertahan sampai kami tiba.”


“Oke,” jawab Rey singkat dan terus menatap wajah harimau keaparan itu.


Perlahan, Rey maju selangkah demi selangkah kedepan. Sedangkan temana-teman Rey mengawasinya dari keajauhan sambil menunggu aba-aba.


“Satu ... dua ... Tiga! Cepat lari!” teriak Rey dengan kecang.


Seluruh teman-teman Rey berlari ke arah kanan dan hariau itupun hendak mengejar mereka, tapi Rey yang sudah tahu pergerakan binatang buas itu langsung melempari tubuh harimau tersebut dengan batu besar yang ia pungut di bawah kakinya agar perhatian harimau besar itu teralihkan pada Rey. Begitu tubuh harimau terkena lemparan batu dari Rey, binatang yang tadinya mengejar Kevin dan yang lainnya jadi mengurungkan niatnya. Harimau itu berbalik arah mengejar Rey.


Melihat rencananya berhasil, Rey langsung berlari sekencang-kencangnya menjauh dari harimau yang mengejarnya. Kecepatan berlari Rey memang seimbang dengan harimau. Sayangnya, Rey harus bolak balik jatuh bangun saat ia berlari dari kejaran sang raja hutan. Bahkan ia sempat jatuh terguling-guling menuruni bukit untungnya tidak terlalu terjal.


“Ayaaah! Tolong aku!” teriak Rey, tapi orang yang dipanggil-pangil tak kunjung datang sehingga Rey harus semakin mempercepat larinya.


Tak terasa, Rey sampai dipinggiran sungai yang airnya lumayan dalam. Permukaan air sungai itu tenang layaknya permukaan air danau. Hanya ada beberapa batu kecil menghiasi seluruh isi sungai tersebut. Rey hendak menyeberang sungai itu tapi beberapa buaya berukuran besar tiba-tiba saja muncul dihadapannya dan mendekatinya. Nah loh ... Rey tidak bisa berkutik lagi sekarang.


Dibelakang Rey, ada si raja hutan yang siap menyerangnya. Sedangkan dihadapannya, ada sekumpulan buaya lapar yang juga mulai bersiap-siap menjadikan Rey santapan makan siang mereka. Rey tidak punya pilihan lain sekarang, kaki dan tangannya juga sedang terluka akibat berlari terlalu kencang tadi. Kemanapun Rey melangkah, putra Refald itu kalau tidak dimakan buaya, ya pasti diterkam harimau.


"Hadeuh, inilah makna pepatah yang sebenarnya, keluar dari kejaran harimau, masuk perangkap buaya." Rey menatap dua binatang itu saling bergantian.


BERSAMBUNG


***


Ada perubahan visual untuk visual Rey. Kasih pendapat ya ... lebih cocok dan gantengan yang mana?



tolong bantu pilihkan .. aku galau .. cocok yang pertama atau yang ini .... hehehe ..

__ADS_1


__ADS_2