Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 194 Latihan Penyempurnaan Ritual Terakhir


__ADS_3

Refald tersenyum senang menatap wajah pucat wanita cantik yang sebentar lagi menjadi istrinya ini. Ia tidak menyangka Fey bakal bereaksi berlebihan seperti itu. Padahal, Refald hanya menggodanya saja. Ia suka sekali membuat Fey kesal padanya, sebab Refald semakin jatuh cinta dengan ekspresi lucu istrinya bila sedang marah atau kesal padanya.


"Kenapa kau tertawa seperti itu?" tanya Fey bingung.


"Lihat wajahmu itu? Kau pucat seperti mayat? Kau sungguh berpikiran aku akan memakanmu malam ini, Honey? Menunggu 3 tahun saja aku kuat, apalagi hanya tinggal beberapa hari, itu tidak jadi masalah bagiku. Aku masih bisa tahan agar tidak menyentuhmu meskipun kau selalu ada di dekatku." Refald menatap mesra Fey yang mulai cemberut karena untuk kesekian kalinya, ia dikerjai Refald lagi.


"Aku tidak mau bicara padamu lagi," cetus Fey dan ia langsung mendapat ciuman manis dari Refald.


"Katakan sekali lagi," tatap Refald.


Fey sudah tahu jika ia bersuara satau huruf saja, maka Refald akan menciumnya lagi. Gadis itu hafal betul seperti apa calon suaminya ini. Jadi, sebelum Refald menyerangnya, Fey lebih dulu mencium Refald dengan mesra.


Tentu saja awalnya Refald sangat terkejut, rupanya calon istrinya itu bisa bersikap agresif juga, dan ia pun membalas ciuman mesra dari wanita yang amat sangat dicintainya ini. Lama juga mereka saling mengisap bibir satu sama lain dan mengeluarkan hasrat terpendam mereka berdua. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Fey bisa mengatur napasnya dengan baik karena sudah sering latihan dengan Refald.


"Kau bisa ganas juga, Honey. Siapa yang mengajarimu," komentar Refald setelah keduanya selesai bersyahdu ria.


"Kau yang mengajariku. Sekarang cuci piring sana! Aku mau tidur dulu." Fey melepas pelukan Refald dan membelakanginya sambil menarik selimut.


Bukannya beranjak dari tempat tidur, Refald malah ikut tidur dibelakang Fey sambil memeluknya dengan erat.


"Kenapa masih di sini, kau sendiri tadi yang bilang mau menggantikan aku cuci piring?"


"Sudah ada pasukanku yang mengerjakannya, jadi tugasku sekarang adalah memelukmu, seperti ini." Refald semakin mengeratkan pelukannya. Sedangkan Fey hanya bisa menghela napas panjang.


"Lagi-lagi kau menyuruh pasukanmu menggantikanmu, kenapa tidak kau sendiri saja yang mengerjakannya?"


"Mereka sendiri yang mau, aku tidak menyuruh mereka."


"Pasti kau yang menyuruhnya, kau itu lebih menakutkan daripada pasukanmu sendiri."

__ADS_1


"Aku memang menakutkan dan juga tampan. Makanya kau cinta mati padaku."


"Dasar narsis!"


"Dasar sinis!"


Mereka berdua saling mengolok-olok dan juga berdebat hal-hal yang tidak penting. Namun, hal itu malah semakin menambah romantis suasana malam mereka hari ini.


"Sudahlah, jangan mendebatku terus, aku bisa kehilangan kendali dan benar-benar akan memakanmu. Tidurlah, Honey. Besok siang kita akan pulang ke Indonesia untuk menikah."


"Bagaimana dengan persiapannya?" tiba-tiba saja, Fey menjadi gugup memikirkan hari pernikahannya dengan Refald yang hanya tinggal menghitung hari saja.


"Leo dan yang lainnya, sudah menyiapkannya untuk kita, kau tidak perlu khawatir."


"Aku masih belum menyelesaikan ritual terakhir pernikahan kita waktu itu." Fey mulai menguap dan mengantuk dipelukan Refald.


"Itulah kenapa kita harus kembali besok dan menyelesaikan ritual terakhirmu. Aku akan menemanimu sampai akhir."


***


Leo sedang disibukkan dengan acara persiapan pernikahan kakaknya Refald yang akan digelar di dua tempat yang berbeda. Satu untuk tempat ijab kabul yang akan digelar di Masjid Camii Tokyo, Jepang, yaitu masjid yang juga pernah digunakan beberapa artis untuk melangsungkan proses ijab kabul saat menikah. Sedangkan yang satunya lagi, adalah tempat resepsi yang akan dirayakan di kediaman Leo sendiri dan tentunya dihadiri oleh tamu undangan yang diundang di pesta pernikahan Fey dan Refald.


Leo sengaja memilih masjid itu karena kakak iparnya lahir di Jepang dan negara ini juga merupakan saksi bisu dimulainya hubungan kedua keluarga Refald dan Fey sejak keduanya masih kanak-kanak. Namun, sebelum melangsungkan pernikahan di Jepang, Fey harus menyelesaikan ritual terakhir di desa tempat neneknya tinggal.


Tepat pukul 13.00 WIB pesawat yang ditumpangi oleh Refald dan Fey mendarat sempurna di bandara pribadi milik keluarga besar Leo. mereka berdua disambut hangat oleh keluarga besar Refald dan Fey yang berkumpul jadi satu di kediaman Leo. Sedangkan ayahnya Fey sudah kembali ke Jepang untuk menyiapkan proses ijab kabul putrinya.


"Bagaimana persiapannya?" tanya Refald pada Leo begitu mereka sampai di rumah.


"Kau hanya tinggal menikah saja," jawab Leo dengan santai sambil memeriksa beberapa dokumen yang ada ditangannya. "Kau bisa cek lagi undangan yang sudah disebar, mungkin saja ada yang kurang." Leo menyerahkan daftar list nama-nama tamu undangan untuk acara resepsi pernikahannya serta segala persiapan yang sudah ia siapkan untuk Refald dalam berbagai macam hal.

__ADS_1


"Kau mengatur semuanya dengan baik. Terimakasih Leo, kau adikku yang sempurna. Cepat temukan wanita yang kau cintai dan biar aku yang mengatur pernikahanmu nanti. Jangan gonta ganti pacar terus."


"Aku baru akan memulainya begitu acara pernikahanmu selesai. Kau lihat saja, sebentar lagi aku juga akan menyusulmu," ujar Leo sambil tersenyum senang karena dokumen yang ia periksa itu adalah daftar semua kelemahan teman-teman Shena.


Refald yang sudah tahu apa yang akan dilakukan adiknya, ia hanya tersenyum simpul melihat hal gila yang akan dilakukan Leo untuk mendapatkan wanita yang dicintainya. "Dasar gengster, kau benar-benar nggak ada akhlak!" Refald pun pergi meninggalkan Leo yang sibuk mengurusi rencananya untuk Shena. Ia menemui Fey yang sedang bersiap-siap melakukan ritual terakhir tradisi keluarga yang harus Fey laksanakan sebelum acara pernikahan dilangsungkan.


"Kau sudah siap, Honey? Apa tidak sebaiknya kau Istirahat dulu? Kita baru saja menempuh perjalanan jauh," tanya Refald setelah ia berada di dalam kamar calon istrinya.


"Selama dalam perjalanan tadi, aku sudah banyak tidur. Aku tidak ingin buang-buang waktu, aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya sehingga tidak ada beban lagi."


Refald diam dan menatap wajah cantik Fey. Ia selalu mendukung apapun keputusan yang diambil wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya ini.


"Baiklah, tunggulah sebentar lagi." Refaldpun menghilang dan pergi entah kemana. Sepertinya, ia menuju lokasi tempat yang akan digunakan untuk Fey melakukan ritual terakhirnya dan memastikan bahwa semuanya aman terkendali. Tak lupa ia pun memerintahkan seluruh pasukan dedemitnya untuk menjaga lokasi ini agar tidak disalahgunakan makhluk lain.


"Jangan biarkan, siapapun atau apapun mendekati tempat ini. Kalau sampai ada yang nekad, pindahkan saja mereka ke pulau tak berpenghuni."


"Baik, Pangeran." Semua pasukan dedemit Refald menjawab dengan kompak.


Refald pun menghilang lagi dan kembali ke kamar Fey untuk memberitahu bahwa persiapannya sudah selesai dan Fey bisa mulai sekarang.


"Ayo, Honey. Kau bisa mulai dari sekarang."


Fey pun mengangguk senang dan ia langsung meraih tubuh suaminya. Refald menggendong istrinya dan menghilang menuju danau dimana Fey harus melaksanakan ritual terakhirnya yang dulu sempat tertunda.


BERSAMBUNG


***


__ADS_1



__ADS_2