Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 70 Misteri dari Secercah Cahaya


__ADS_3

Aku sangat terganggu dengan suara ceplok-ceplok dan desahan pasangan sejoli tak senonoh itu. Suaranya membuat telingaku sakit, meski aku tidak mau melihatnya tapi aku bisa membayangkan bagaimana mereka bergumul dan saling mengeluarkan hasrat masing masing tanpa peduli apa yang ada di sekeliling mereka.


“Ahhhhh ... uhhhhh ... yesss ... wauuuww ... ahhh ....”


Suara rintihan si wanita semakin terdengar keras, aku sungguh tidak tahan dan ingin segera pergi dari tempat ini. Namun, aku tidak bisa melakukannya karena Refald masih saja mengawasi mereka.


Refald terlihat seolah sedang mewaspadai sesuatu. Aku memang tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Refald saat ini, entah ia benar-benar melihat makhluk astral itu atau sedang ikut menikmati tontonan gratis yang ada di depan kami, yang bisa kulakukan saat ini hanyalah mengamati gerak gerik Refald sekaligus mengalihkan perhatianku atas apa yang tidak ingin aku lihat.


“Aku sudah mau keluar, Sayang ... bagaimana denganmu?” ucap si lelaki dengan napas ngos-ngosan karena terlalu kuat menceplok-ceplok si wanita.


Aku yang bisa mendengar pembicaraan mereka langsung menutup telingaku. Refald menatapku sambil memberiku kode supaya aku tidak bersuara. Padahal, jelas-jelas dia tahu kalau aku lagi dongkol akut padanya. Bisa-bisanya dia mengajakku melihat live streaming action adegan dewasa di hutan yang aku cintai ini.


“Aku belum Sayang, bagaimana kalau kita lakukan ronde kedua setelah kau keluar?” tanya si wanitanya tanpa punya malu sedikitpun.


“Dasar ******, jangan-jangan laki-laki itu suami orang? Pantas saja para dedemit itu marah, aku saja yang masih hidup kesel banget apalagi yang udah mati?” aku menggerutu sendiri. Sedangkan Refald hanya tersenyum mendengar gerutuanku.


Cecunguk Refald itu masih bisa tertawa?Dasar mesum!


Aku benar-benar kesal pada Refald yang sudah membawaku kemari dan harus berada di situasi yang aneh ini. Padahal baru saja aku membayangkan adegan romantis saat Refald mengajakku terbang ke atas pohon ini. Namun, nyatanya semua tidak seperti yang kubayangkan. Bukannya hal romantis yang kudapatkan tetapi malah hal yang sangat menjengkelkan.


“Kau masih kuat, Sayang? Ramuan apa yang kau gunakan sehingga kita bisa bermain lama seperti ini?” tanya si lelaki sambil menarik maju mundur pedangnya dari lubang sumur si wanita.


“Itu rahasia keluarga Sayang,” jawab si wanita sambil mendesah semakin keras membuatku semakin risih dan ingin sekali beranjak dari sini.


“Refald!” bisikku pada Refald.


“Apa?”


“Bisakah kita pergi dari sini? Untuk apa kita di sini? Tidak ada gunanya menyaksikan orang gila seperti mereka? Tidakkah kau merasa bahwa kita belum saatnya menyaksikan ini?”

__ADS_1


“Sudah ku bilang aku tidak melihat mereka. Lagipula kita sudah boleh tahu karena usia kita sudah 17 tahun, dan di pelajaran IPA juga ada ilmu semacam ini.”


“Kau jangan ngelantur, IPA tidak mengajarkan hal tak senonoh seperti ini!”


“Tapi prosesnya yang diajarkan, mau ku jelaskan teorinya?”


“Tidak terima kasih, aku bisa mempelajarinya sendiri, nanti. Aku tidak butuh penjelasanmu.”


Refald tersenyum manis. “Kita akan segera mempraktekannya Honey, segera setelah kita menikah.”


“Tidak dalam waktu dekat! Jadi, silahkan bermimpi!” jawabku ketus. “Bisa kita pergi dari sini? Untuk apa kau mengawasi para dedemit itu? Apapun yang akan dilakukan makhluk astral pada orang-orang gila itu juga bukan urusan kita, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku sudah tidak tahan lagi!”


“Apa? Kau ingin melakukannya sekarang, Honey?”


“Melakukan apa?” tanyaku bingung.


“Seperti yang mereka lakukan itu?”


“Jangan berisik, Honey ... kalau kita ketahuan, para dedemit itu juga akan menyerang kita. Mereka pasti berpikir kita juga salah satu dari mereka. Jadi, tolong diamlah sampai pasukanku bisa datang kemari baru kita pergi dari sini untuk menunaikan hasratmu juga.”


Aku semakin dongkol dengan Refald yang menuduhku ikut terangsang oleh aksi plus-plus orang gila yang ada di bawah kami. Padahal, sama sekali tidak. “Sekali lagi aku tegaskan! Aku tidak tertarik ataupun berhasrat seperti yang kau tuduhkan. Maksud ucapanku tadi adalah aku tidak bisa berada di sini lebih lama lagi. Aku tidak ingin mata dan telingaku ternodai oleh aksi tak pantas mereka ini?”


Refald hanya diam tidak bergeming, dan juga tidak bersuara. Ia tetap fokus memandang ke bawah tanpa peduli bahwa aku sedang berbicara dan memerhatikannya. Aku jadi semakin kesal sekaligus penasaran dengan apa yang di lihat Refald.


“Apa pasukan dedemitmu sudah ada diantara mereka yang sedang kau lihat?”


“Tidak, mereka hanya bisa mengawasi kita dari jauh. Mereka baru akan datang jika kita dalam bahaya. Selama kita aman, mereka tidak bisa mendekati kita saat di siang hari.”


“Aku baru tahu kalau ada peraturan aneh seperti itu. Apalagi peraturan semacam itu dibuat bagi para dedemit yang manjadi pasukanmu.”

__ADS_1


“Ada alasan di balik semua peraturan itu, nanti pasti kau akan mengerti sendiri, yang jelas tujuannya adalah menjaga keseimbangan alam.”


“Lalu, sampai kapan kita akan berada di sini?”


“Sampai twilight, rembang petang. Saat itulah pasukan ku terbebas dan bisa mengawal kita pergi dari sini.’


“Apa para dedemit itu juga menyadari keberadaan kita?”


“Tidak selama dua insang yang memadu kasih itu mendengar suaramu yang berisik itu. Jika kau terus saja berbicara, cepat atau lambat kita akan ketahuan. Aku ingin sekali mencium bibirmu agar kau tidak bersuara lagi.” Kali ini Refald yang terihat kesal. Sedangkan aku hanya terdiam menahan amarah.


“Ahhhh ... oh ... ahhhh, teruskan Sayang, aku sudah mau keluar.” Teriak si wanita. Sedangkan si lelaki semakin mempercepat ceplokannya.


Aku hanya diam dan menutup telingaku serapat mungkin agar tidak bisa lagi mendengar suara desahan-desahan gila mereka.


Mereka berdua benar-benar gila! Dan aku juga semakin gila bila terus terusan berada di sini. Oh astagah ... kenapa juga aku mau tadi saat Refald mengajakku kemari? Harusnya aku tidak banyak bertanya pada Refald jika tahu akan seperti ini jadinya, seandainya aku diam saja dan menyimpan pertanyaan itu sendiri dalam hatiku, mungkin saat ini kami sudah ada di desa berkumpul dengan yang lainnya. Aku sangat ingin tahu bagaimana keadaan Yua dan teman-temanku. Kenapa aku malah terjebak di tempat seperti ini? Bodohnya aku!


Suara desahan dan teriakan semakin terdengar lantang saat pasangan dua sejoli yang beradegan mesum itu akan mencapai puncak kenikmatan mereka. Namun, sesuatu hal tak terduga tiba-tiba saja terjadi.


Secercah cahaya terang tiba-tiba datang dari bawah dan menyilaukan penglihatan kami. Dengan gesit Refald memelukku dari belakang dan megarahkan tubuh kami membelakangi arah cahaya itu datang.


“Jangan menoleh,” perintah Refald dari belakang rambutku. “Jika kau sampai melihat cahaya itu, kau bisa buta.”


Deg ...


“Apa?” aku terkejut dan juga syok. “Ada apa lagi ini?”


****


This is for you kaka @Lidya dan ka @Permaisuri. Penulis dengan malu-malu kucing sudah mengeluarkan apa yang kalian inginkan. Mam @Luna aku sendiri juga tertawa saat menulisnya mam dan @Sasa jangan di skip karena favoritmu masih aman.

__ADS_1


Salam manis dari penulis untuk semua yang sudah bersedia meluangkan waktunya membaca kisah konyol antara Fey dan Refald.


😙😙😙😙😙


__ADS_2