
Fey sedang berdiri disamping mobil volvo milik Refald tepat di depan rumah Nura. Ia memang sengaja akan mengajak Nura ke tempat yang dulu pernah ditunjukkan Refald padanya. Refald sudah membawa Eric ke tempat itu, sekarang tinggal giliran Fey yang membawa Nura. Tentu saja, apa yang direncanakan Fey tak diketahui oleh Nura.
“Sebenarnya kita mau ke mana?” tanya Nura yang keluar dengan memakai baju santai.
Gadis itu hanya memakai kaos oblong warna biru muda dan celana jins dengan warna serupa. Rambutnya juga dikucir kuda ala kadarnya. Benar-benar sederhana dan apa adanya, itulah Nura. Dia memang tidak terlalu memerhatikan penampilan. Itulah kenapa diantara semua teman-temannya, cuma dia yang belum punya pasangan, ditambah lagi dengan kepercayaannya yang terlalu over menjadi fans fanatik aktor senior China Johnny Yan, akhirnya semua orang menganggap Nura tidak tertarik pada pria.
Berkali-kali, Nura dijodohkan dengan pria pilihan keluarganya, tetapi gadis itu selalu menolak dengan alasan tidak ingin menikah. Namun, pandangan itu berubah saat ia bertemu dengan Eric. Pemikiran Nura tentang cinta mulai berbeda. Eric adalah orang pertama yang membuat Nura bisa jatuh cinta dengan kecerdasan dan kepribadian mengagumkan yang dimiliki seorang Eric.
Bisa dibilang, Eric adalah sosok suami idaman setiap wanita yang penyayang dan sabar. Ia selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang wanita dan tentunya punya prinsip hanya setia pada pasangannya. Sayangnya, tanpa sepengetahuan siapa-siapa, ternyata Eric sudah berkeluarga meski hanya sesaat dan langsung menyandang status duda tepat dihari pernikahannya.
Kisah cinta rahasia Eric memang miris dan menyakitkan, tapi yang lebih nyesek lagi adalah cinta Nura yang belum bisa dipastikan apakah berbalas atau tidak.
“Fey!” gertak Nura karena sejak tadi sahabatnya itu hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Nura. “Kau dengar aku tidak?” tanya Nura lagi.
“Ayo, kita pergi, jangan sampai kita kemalaman.” Fey tidak menjawab gertakan Nura, ia malah langsung membuka pintu mobilnya dan menyalakan mesinnya.
Fey melirik pak Po dan mbak Kun yang sudah ada dibelakang mobilnya sambil melaporkan kejadian yang tadi mereka lakukan belum datang kesini. Mendengar keterangan 2 pasukan kesayangan Refald tentang Leo dan Shena, Fey hanya tersenyum simpul.
“Apa ada yang lucu?” tanya Nura yang sudah duduk disebelahnya sambil mengencangkan sabuk pengaman.
“Tidak ada,” jawab Fey santai. Tidak mungkin ia bilang pada temannya yang penakut ini kalau dibelakang jok mereka ada sepasang makhluk astral yang sedang tertawa cekikikan menceritakan seperti apa wajah paniknya Leo dan betapa romantisnya adik sepupu pangerannya itu saat sedang bersama dengan wanita pujaan hatinya.
“Kau belum jawab pertanyaanku. Kita mau ke mana?”
“Kau akan tahu begitu kita sampai di sana.”
__ADS_1
Nura tak bisa berkata-kata lagi dan hanya memerhatikan gerak gerik sahabatnya. Hari ini, Fey tampak sedikit berbeda, ia terlihat misterius seperti Refald. Mungkin karena Refald tidak ada, makanya gadis tengik ini jadi berubah seperti suaminya.
Tunggu! Kenapa bulu kudukku berdiri ya? Merinding disko seolah ada sesuatu yang lain di sini, batin Nura dalam hati.
Fey yang mengerti gelagat Nura hanya bisa berdeham agar pak Po dan mbak Kun berhenti memancarkan aura mereka.
“Ehem!” deham Fey sambil terus fokus menyetir. Seketika 2 makhluk astral pun langsung diam.
***
Di tempat yang berbeda, Leo dan Shena tepaksa harus mencari kendaraan umum yang bisa mereka gunakan untuk pulang kembali ke kampusnya, tapi ternyata tidak mudah mendapatkan kendaraan di tempat seperti ini. Ditambah lagi, Leo sama sekali tidak bisa menghubungi siapapun karena tidak ada sinyal. Untungnya, ada sopir mobil pick-up yang berasal dari penduduk desa setempat menawarkan tumpangan untuk Leo dan Shena karena sopir tersebut hendak pergi ke kota.
Shena pun menyetujui tawaran itu tanpa curiga sedikitpun. Namun, tidak dengan Leo. Beberapa kejadian yang ia alami di desa akhir-akhir ini membuat Leo jadi semakin waspada terhadap siapapun.
Rambut bocah itu acak-acakan dan banyak tindikan dimana-mana. Ada banyak tato juga ditangannya dan tidak menuntut kemungkinan dibagian tubuhnya yang lain pasti juga ada. Meski Leo seorang gengster, tapi nggak gitu-gitu amat seperti penampilan lebay ala sopir pick up ini. Menurutnya, penampilan anak muda yang sok ala anak punk itu malah terlihat kudet dan kampungan.
“Kita tidak punya pilihan lain kalau ingin cepat sampai dikampus. Kalau kau tidak mau, aku pergi sendiri saja.” Shena berbalik arah tapi lengannya langsung dicekal oleh Leo.
“Bukannya tidak mau, apa kita tidak menunggu Roy atau Laura datang menjemput kita saja? Aku yakin mereka akan kembali kemari begitu mereka sadar kalau kita tertinggal. Kau tidak bisa percaya dengan orang lain yang tidak kau kenal begitu saja.”
“Jika kita menunggu mereka bisa-bisa memakan 4 sampai 5 hari baru mereka datang kemari,” sanggah Shena. “Apa yang akan kita lakukan selama itu? Akan lebih baik jika kita terima tawaran anak itu, setidaknya sampai ada transportasi yang bisa membawa kita ke kota. Itu jauh lebih cepat.” Shena menatap manik mata Leo lekat-lekat. Lebih cepat, itu lebih baik, dengan begitu secepatnya aku bisa segera melupakanmu, batin Shena.
“Oey, kalian berdua! Jadi numpang, nggak? Aku nggak bisa nunggu kalian seharian di sini!” seru sopir pick up itu.
“Jadi kok, jadi!” Shena masih menatap Leo yang juga sama menatapnya. Sayangnya, Leo tidak bergeming dan juga tidak berbicara.
__ADS_1
Sebenarnya, dalam hati Shena berharap Leo mau ikut bersamanya dan menemaninya naik mobil tumpangan tersebut. Sebab, gadis itu yakin, jika bersama dengan Leo, maka dirinya akan aman dan baik-baik saja. Namun, melihat reaksi Leo yang hanya diam saja, Shena mengira cowok itu tidak akan ikut dengannya. Walaupun kecewa, Shena hendak meraih gagang pintu mobil dan hendak membukanya, tapi gagang itu sudah diraih terlebih dulu oleh Leo sehingga Shena tak jadi membuka pintunya.
“Kami akan naik dibelakang, tidak apa-apa, kan?” tanya Leo minta izin pada pemilik pick-up.
“Silahkan, kebetulan dibelakang tidak ada apa-apa. Kalian berdua bisa naik diatasnya,” jawab sopir tersebut.
Tanpa bicara lagi, Leo menarik tangan Shena ke dalam bak pick up setelah Leo melompat ke atasnya lebih dulu. Ia pun mulai duduk diikuti Shena sambil menikmati pemandangan alam disekitar jalan yang mereka lewati. Shena benar-benar terkejut sekaligus senang karena ternyata Leo bersedia ikut dengannya.
Sepanjang perjalanan, Shena dan Leo saling curi pandang. Keduanya tidak saling bicara. Dalam hati Shena, ia merasa lega karena ada Leo bersamanya, sementara Leo sendiri memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa menatap Shena sepuasnya sebelum Refald kembali dan menghapus ingatannya.
Saat melintasi jembatan penyeberang yang menghubungkan antar desa dengan desa yang lain, Leo dan Shena disuguhkan dengan pemandangan bekas bencana banjir bandang yang beberapa waktu lalu melanda kawasan ini. Sekilas, Leo teringat seluruh kejadian yang terjadi saat ia dan kakak-kakaknya termasuk juga Shena berada didunia lain. Bayang-bayang Shena yang kerasukan dan kalap terlintas jelas dimata Leo. Tentu momen ciuman mereka juga tidak akan pernah bisa Leo lupakan begitu saja meski Shena, tidak akan pernah tahu momen romantis tersebut untuk selamanya.
Leo tersenyum saat mengingat bagaimana mata merah Shena menghilang begitu ia mencium gadis yang kini ada didepannya. Refald bilang, ciuman Leo adalah bentuk cinta sejati yang dimiliki Leo untuk Shena sehingga bisa membawa kembali Shena dari pengaruh iblis jahat yang merasukinya. Meski awalnya Leo tidak percaya, tapi akhirnya ia bisa membuktikan bahwa ucapan Refald memang benar.
Tiba-tiba, ditengah jalan mobil pick-up itu berhenti mendadak dan bagian cup depannya mengeluarkan asap tebal. Leo langsung melompat turun dan berdiri disamping sopir. Tapi matanya terbelalak tak percaya saat mengetahui sopir pick up muda tadi sudah tidak ada lagi ditempatnya.
“Ke mana anak itu?” tanya Leo.
BERSAMBUNG
****
Yang kangen Refald habis ini dia muncul dengan keren. Tunggu ya ... dunia fantasiku mulai muncul kembali.
__ADS_1