
Setelah perkenalan singkatku dengan para pasukan yang ada di hutan itu, Refald mengajakku kembali sambil berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, ia hanya diam membisu. Ia bahkan tidak menggandeng tanganku. Kemungkinan Refald masih marah karena aku mengidolakan Ryuk. Salah satu makhluk astral pasukannya sendiri.
“Kau marah padaku?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Kau bicara padaku? Bicara pada Ryukmu sana!” seru Refald dengan muka manyun yang menggemaskan. Aku baru sadar kalau Refald terlihat cute kalau sedang marah.
“Aku tidak mengidolakan Ryuk, aku hanya takjub melihat dewa kematian benar-benar ada, aku kira itu hanya ada di film dan cerita novel saja. tidak kusangka aku benar-benar bisa melihat Ryuk di dunia ajaibmu ini.
“Sebenarnya, dia bukan dewa kematian. Dia hanya arwah dengan wujud super duper aneh. Aku tidak tahu film apa yang kau maksud karena aku tidak pernah menonton film apapun.
“Pantas saja kau tidak tahu siapa Edward, Spiderman, Superman, Ironman ataupun Batman.” Aku bergumam sendiri dan terus berjalan di sisi Refald. “Jadi, bagaimana?” tanyaku memastikan.
“Apanya?” Refald malah balik bertanya.
“Apa kau masih marah padaku?”
“Aku tidak marah, aku kesal!” jawab Refald meniru kata-kataku. Aku pun tersenyum melihat Refald berubah jadi sepertiku.
Aku berhenti berjalan dan melihat Refald dari belakang. “Dilihat dari sisi manapun, kau tetap saja keren,” gumamku lirih.
Refald langsung menoleh ke arahku karena baru sadar, kalau aku berhenti berjalan dan mengamatinya dari belakang. Saat Refald menghadapku, aku berlari menyongsongnya dan langsung memeluk erat tubuh Refald. Aku tahu ia pasti terkejut dengan apa yang aku lakukan sekarang.
“Masih kesal?” tanyaku bersandar di bahunya.
“Sedikit!” jawabnya lirih.
Tanpa peringatan, aku langsung mengecup lembut bibir suamiku. “Kalau sekarang?”
Refald tersenyum sambil berkata, “Tidak lagi.” Refald membalas ciumanku.
Di bawah pohon, laki-laki yang amat sangat aku cintai ini memberikan hadiah ciuman lembutnya dengan mesra. Angin bertiup lembut seakan ikut menari merasakan betapa bahagianya kami saat ini. Sungguh aku tidak menginginkan hal lain lagi asal Refald ada disisiku selamanya. Kami berdua akan menjalani kehidupan ini dengan penuh cinta sampai akhir hayat hidup kami.
***
Sorenya, kami semua tiba di bandara. Keluargaku, keluarga Refald dan keluarga besar Sauran, berkumpul di bandara Tokyo untuk bersiap terbang ke tempat tujuan kami masing-masing. Tentu saja Sakura, Sauran dan keluarganya akan berangkat ke Hongkong untuk persiapan resepsi pernikahan mereka.
Sementara aku, ayahku, Refald dan mertuaku akan berangkat ke Jerman untuk bertemu dengan keluarga besar Refald sekaligus meresmikan pertunangan kami yang dulu belum sempat dipublikasikan.
__ADS_1
“Sampai jumpa lagi minggu depan, jaga dirimu baik-baik,” ujarku sambil memeluk erat kakakku Sakura sebelum kami berpisah.
“Kau juga, maaf aku tidak bisa datang diacara peresmian pertunangan kalian, tapi aku janji aku akan datang diacara pernikahan kalian nanti.” Sakura masih memelukku dengan erat juga.
“Itu memang harus. Kalau sampai kau tidak datang, aku akan mencincang kalian berdua hidup-hidup. Pergilah, sebentar lagi pesawat kalian akan berangkat. Sampai jumpa lagi.” Aku melepaskan pelukanku.
“Aku sayang padamu, adikku. Semoga kau bahagia bersama dengan Refald.”
“Aku juga menyayangimu. Sauran adalah pria yang paling tepat untukmu. Buatkan aku keponakan yang banyak, ya?” godaku.
“Kau bisa buat sendiri nanti! Dasar kau ini, bisa-bisanya kau bicara begitu? Kalau sampai ayah tahu kau pasti akan langsung dinikahkan olehnya!”
“Itu yang selalu ditunggu Refald, dan aku tidak suka!” kilahku.
Kami berdua saling tertawa, rasanya enggan berpisah dari kakakku setelah sekian lama kami baru bertemu. Namun, inilah takdir yang harus kami jalani saat ini. Bagaimanapun juga, Sakura sudah menikah dan aku harus menghargai kehidupan barunya. Lagipula, kami masih bisa bertemu kapan saja, tidak ada lagi beban sekarang, yang ada hanya kebahagiaan.
Aku memeluk Sauran yang kini sudah resmi jadi kakak iparku sambil berbisik pelan di telinganya. “Jaga kakakku baik-baik, buat dia bahagia. Kalau sampai kau membuatnya menangis, akan aku balas kau sampai mengeluarkan air mata darah!” ancamku lembut.
“Kau bisa membunuhku jika aku melanggar janjiku, adik ipar!” ujar Sauran sambil tersenyum padaku. Sauran juga membisikkan sesuatu di telinga Refald sehingga ia menoleh padaku. Aku tidak bisa mengartikan arti tatapan Refald itu.
****
“Ada di mana kita saat ini?” tanyaku pada Refald begitu kami masuk ke dalam mobil limosin milik ayah Refald.
“Bavaria atau Bayern, sebentar lagi kita akan sampai di kota Gamisch-Partenkirchen.” Refald mengamati setiap jalan yang kami lewati. Aku bisa merasakan kalau ia merindukan tempat ini. Kalau dipikir-pikir, sudah lama juga Refald tidak pernah datang kemari.
Bayern, merupakan negara bagian Jerman selatan. Gamish-Partenkircchen persis berada di jantung pegunungan Alpen yang berbatasan dengan Austria. Kota tersebut mudah dijangkau karena dekat dengan kota Munich.
Pemandangan di kota ini juga tak kalah memesona. Perpaduan kota modern dan pedesaan dengan panorama memukau, layaknya gambar di buku dongeng. Dan yang paling mengesankan adalah saat membuka jendela, pemandangan gunung akan menjadi sajian utama.
“Bagus sekali pemandangannya, apa selama ini kau tinggal di sini? Bukankah kau bilang kalau rumahmu di Swiss?” tanyaku memecah kesunyian.
“Aku menghabiskan masa Inligua ku di sini bersama dengan adik sepupuku Leo sebelum aku memutuskan untuk pindah sekolah ke tempat dimana kau berada.” Refald menatapku dan akupun semakin terharu mengingat betapa besar pengorbanan yang ia lakukan untukku.
“Kalian seumuran?” tanyaku agar tidak terbawa emosi mengingat kami tidak hanya berdua di dalam mobil.
__ADS_1
“Tidak, aku 5 tahun lebih tua darinya. Kita akan segera bertemu dengan mereka.” Refald menggenggam erat tanganku seolah tahu kalau aku sedang gugup.
Kamipun mulai memasuki kawasan rumah-rumah di kota ini. Rumah-rumah ini sangat memikat mata. Mulai dari rumah-rumah desa khas pegunungan sampai rumah di pusat kota. Rumah yang berada di kaki gunung masih tradisional, bertingkat. Dengan jendela besar berjajar. Terbuat daru kayu bak rumah dalam negeri dongeng. Sedangkan yang dipusat kota lebih modern tapi tidak meninggalkan ciri khas kebudayaan mereka.
Akhirnya, kami sampai di sebuah rumah besar bergaya upper Bavarian yang sangat indah. Meski berbahan beton, ada keunikan pada dinding luar rumah. Dindingnya dihiasi dengan lukisan cantik dan rangkaian bunga pada balkon di jendela yang didominasi dengan warna krem. Rumah ini adalah salah satu kediaman rumah Refald dan keluarganya.
“Kita sudah sampai,” ujar ayah mertuaku begitu kami masuk ke dalam rumahnya. Beberapa pelayan langsung menyambut kedatangan kami.
“Selamat datang kembali, Tuan dan Nyonya besar serta anda tuan muda Refald.” Wanita paruh baya dan beberapa orang yang ada dibelakangnya menundukkan kepala memberi hormat untuk menyambut kedatangan majikannya.
“Siapkan makan malam untuk kami semua,” perintah ibu mertuaku.
“Baik Nyonya.” Semua pelayan itu menunduk lagi dan pergi menjalankan apa yang diperintahkan majikannya.
“Refald, antarkan Fey ke kamarnya,” seru ayah Refald. “Mari Mr. Kinomoto, ikutlah denganku, akan aku tunjukkan dimana anda bisa beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Anggap saja rumah sendiri, katakan padaku jika anda membutuhkan sesuatu.”
“Baik terimakasih Mr, Dilagara. Saya sangat nyaman di sini. Semoga acara kita nanti bisa berjalan dengan lancar dan sukses.” Ayahku mulai berjalan mengikuti langkah ayah Refald.
“Aku harap juga begitu, aku sudah tidak sabar ingin menimang cucu,” ujar ayah Refald sambil tertawa.
“Ah, saya juga sependapat dengan anda.” Keduanya tertawa bersama membicarakan hal-hal yang tidak ingin aku dengar.
“Mereka itu bicara apa, sih?” tanyaku pada Refald. Ia berjalan dan menggandeng tanganku menuju kamarku yang ternyata ada dilantai dua.
“Mereka membicarakan soal cucunya. Ayo kita buatkan untuk mereka, supaya mereka senang,” ujar Refald sambil tersenyum mencurigakan.
“Hadeuhh.” Aku menghela napas panjang dan memutuskan untuk tidak menanggapi kegilaan Refald.
BERSAMBUNG
***
maaf up nya telat semoga suka ya ... lope youuu all
__ADS_1